9.7.07

Berasa Seleb

Kembali ke Bandung. Kembali ke lingkungan lama. Muka lama. Senyum yang sama. Sang rumah. Setia menunggu pemiliknya datang.

Hot Baja. Kopi hitam. Panas. Diseduh dari campuran arabica-robusta 50:50. Dari Aroma.

Potluck. Tempat aku menyelesaikan sebagian besar pekerjaan paruh-waktu. Lebih dari 3 tahun aku menyambanginya. Sekali waktu, aku setengah mondok di teras belakang tempat itu. 8 jam. Sama dengan waktu kerja satu hari pegawai kantoran. Hot chocolate mint dan soto bandung adalah pesanan tetapku.

“Kemana aja, Mba Mel,”pertanyaan yang ia lontarkan. Dia bilang, itu pertanyaan Agung.

Agung, salah satu pegawai yang sudah bekerja disitu sejak sebelum Potluck menempati lokasi baru. Dia suka musik blues, kuliah di UNPAD dan bergabung dengan Palawa. Tidak banyak bicara dan murah senyum.

Colenak panas, kembali dengan segelas kopi hitam. Regular coffee. Kali ini, sebuah tempat baru tidak jauh dari Potluck.

Pojok kiri, ada muka yang tersenyum. “Hai, Bim,”seruku. Bimbim, sahabat Maurice adikku. Rumah kami berdekatan. Orangtua kami bekerja di institusi yang sama. Aku mengenalnya sejak ia masih SMA. Sekarang, ia sedang menyusun skripsi.

Menengok ke kanan, aku kaget,”Hai, apa kabar!”. Kia, sahabatku yang aku kenal lebih dari 20 tahun. Kami pergi ke sekolah minggu yang sama. 15 tahun kemudian, ke kampus yang sama. Kia baru selesai latihan bersama paduan suara ITB. Ada konser di bulan Agustus. Aku mundur dari latihan itu. Kombinasi tidak sempat dan kurang kukuh niat (untuk nekad menyempatkan diri).

Maurice dan dua orang sahabat datang. Jarot dan Muli. Berdua, pernah mengantarku pergi 6 jam keluar Bandung. Mereka tidak lama. Mereka memutuskan pergi ke tempat yang lebih hangat. Belakangan aku tahu, Maurice pulang jam 5 pagi.

Menjelang tengah malam, Dita bersama sekelompok teman datang. Padahal, kami nyaris bersama-sama melewatkan perjalanan Jakarta-Bandung dengan mobil tanpa AC di tengah kemacetan dan hujan deras, Jumat kemarin. Dita, aku kenal di Banda Aceh, sekarang dia juga berkerja di Jakarta. Dita, juga selalu pulang ke Bandung tiap akhir pekan.

Bandung. Selalu ada muka lama di setiap sudutnya. Seakan-akan kota ini terlalu kecil bagiku.

Terlalu beken atau kurang gaul? Bedanya tipis. Setipis.....hmmmm....setipis tissue paseo yang sudah diurai jadi dua. Nah lo!