28.6.07

Rindu

Mendengar dering telepon. Melirik ke nomer pengirim. Senang sekali. Papi. Berarti mereka sudah sampai di bandara. Setelah lebih dari 3 hari tanpa komunikasi dengan orangtuaku, dan kurang lebih dua minggu tanpa sempat bercengkerama seperti biasa. Aku kangen mereka.

Salahkan hujan, kalau aku kangen terhadap banyak orang hari ini. Kangen banget. Kangen papi. Kangen mami. Kangen adik-adikku. Kangen abang. Kangen kamu, sahabat-sahabatku yang entah ada dimana saat ini.

Pulang dulu, bertemu mereka. Melepas rindu.

Basah

Hujan, aku sangat suka. Kenanganku terhadap titik-titik air itu sangat kuat. Tapi, kadang hujan memang bisa bikin loyo loh!

Bangun pagi dengar suara hujan membuat aku tersenyum. Menikmati kehangatan kamar. Sambil bersyukur karena semalam sempat menukar jam latihan dari 7.30 menjadi 12.00. Melirik lemari pakaian dan berpikir,"Asik, saatnya bisa pakai baju hangat tebal itu!"

Secangkir coklat panas di atas meja kerjaku, menjadi pengganti kopi hitam aroma. Boleh dong, lain sedikit pagi ini. Hujan soalnya. AC dimatikan. Jaket tidak dilepas. Dan, pakai kaos kaki. Sambil bekerja. Enak loh bekerja selagi hujan, lebih konsentrasi.

Untunglah, aku tidak perlu berada di luar ruangan. Berlari-lari menghindari hujan. Berteduh di bawah atap bangunan. Membatalkan kepergian karena sulit dapat kendaraan umum dan taksi sulit diperoleh. Payung tidak aku butuhkan, selagi aku ada di dalam ruangan ini.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketTapi, kita tidak pernah tahu. Ada saat-saat dimana hujan deras datang disaat kita tidak siap. Karena itu, harus sedia payung sebelum hujan. Dalam hidup, ada saat-saat hal-hal yang kita nikmati (disaat kita siap untuk itu) menjadi hal-hal yang kita hindari (disaat kita sama sekali tidak siap untuk itu). Seperti hujan. Supaya tidak terlanjur basah, harus dihindari dengan berlindung di tempat yang aman. Ah, harus siap payung, dong!