18.6.07

Emas Kendari

Kota Kendari, ibukota Propinsi Sulawesi Tenggara yang terbentuk di awal 1960. Kedatanganku disambut hangat oleh polisi lalu lintas yang tengah melakukan operasi malam itu. Pencegatan oleh polisi, tidak jauh dari bandara. Sebuah operasi rutin, yang ditujukan untuk pengendara kendaraan bermotor, tapi entah kenapa, malam itu, mobil Pak Firman, mitraku disana, menjadi salah satu sasaran operasi. Tampaknya, akulah penyebabnya. Soalnya, menurut Pak Firman, mata polisi muda itu terus menerus ke arah penumpang dan bukan ke SIM dan STNK yang ada di tangannya. Ups.

Tiga Kota di Kendari
Dengan sekitar 200 ribu jiwa, kota ini lebih cocok disebut sebagai kota menengah, bukan kota besar. Tapi sebetulnya, kota ini merupakan kota besar, dilihat dari luas wilayahnya. Lebih dari itu, Kendari merupakan sebuah kota yang terdiri dari 3 kota!

Kota 1 terdiri dari deretan ruko, rumah toko, dengan campuran gaya China, Belanda dan Indonesia. Tidak jauh beda dengan pusat kota yang banyak aku temukan di di Indonesia. Jaraknya bersebelahan satu sama lain, dengan pedestrian yang cukup lebar, tetapi sebaliknya jalan-jalan di kawasan ini tidak terlalu lebar. Tidak ada tanda-tanda kemacetan di kawasan pusat kota lama ini, kecuali satu dua angkot yang berhenti sembarang untuk mengambil penumpang. Satu pemandangan yang menarik adalah deretan toko emas. Bukan sesuatu yang hanya ada di Kendari, hampir di semua kota-kota di Indonesia, pusat kota lama biasanya merupakan pusat penjualan emas. Konon, emas kendari itu terkenal. Ibuku saja sampai nitip oleh-oleh emas yang satu ini,”kalau kau ada duit sedikit, Kak.” Rasanya bukan kebetulan ketika Pak Firman, juga bercerita tentang pamor emas Kendari. Emas Kendari kualitas terjamin, tidak dicampur.

Sepasang anting bermotif daun berukuran sedang menjadi pilihan oleh-oleh untuk mami, ibuku.

Kota 2 lebih modern, mirip sekali dengan kota-kota yang dilewati jalan propinsi, jalan antar kabupaten yang banyak ditemukan di tempat lain. Inilah Kota Kendari yang paling ramai. Deretan ruko berwarna-warni menghiasi jalan-jalan utama. Ruko, menjadi ciri utama berbagai kota yang aku kunjungi di Sulawesi. Model dan warna yang beranekaragam. Ramai sekali. Tidak sedikit yang tertutup, entah toko tersebut memang sedang tutup, atau dipergunakan sebagai rumah tinggal, atau malah belum terjual.

Di bagian kota ini terletak pusat pemerintahan Kota Kendari. Kompleks pemerintah kota Kendari merupakan hasil ruislag, tukar guling antara pemerintah kota dengan pemerintah propinsi Sulawesi Tenggara. Kompleks itu berada di lahan yang dahulu merupakan kompleks pemerintahan propinsi Sulawesi Tenggara.

Jalan lebar dan luas, dan kendaraan bermotor tidak terlalu banyak. Pepohonan terdapat hampir di semua jalur utama. Pohon tersebut besar dan rindang. Di beberapa persimpangan besar, ada papan yang bertuliskan “belok kiri langsung”. Tidak terlihat becak. Mobil-mobil besar model SUV mendominasi. Motor banyak ditemukan, tetapi pengendara motor tersebut, terutama penumpang yang berada di boncengan lebih sering terlihat tidak mempergunakan helm.

Kota 3 ditandai oleh keberadaan Pasar Baru. Terletak di sebuah perempatan, cukup besar dan banyak dipakai oleh penduduk kota yang berada di luar kota 1 dan kota 2. Pasar itu hanya satu level, tidak ada lantai 2. Berbentuk menyerupai ruko sederhana dengan atap berwarna kuning di setiap ruko.

“Dulu daerah ini seperti hutan, jalan tidak ada,” Pak Firman memberi informasi. Saat ini, daerah tersebut terlihat sedang berkembang. Daerah terbangun mulai terbentuk. Pemerintahan Propinsi Sulawesi Tenggara juga dipindahkan ke daerah ini. Dengan dibangunnya jalan raya yang lebar dan dalam kondisi baik, pembangunan perumahan mulai tampak berkembang.

Kota tahap 3 ini yang menjadi pintu masuk aku ke Abeli. Abeli, sebuah kecamatan yang terletak di perbatasan Kota Kendari dengan sebuah kabupaten. Karakteristik kota sama sekali tidak ada di Abeli. Bukan saja perjalanan 45 menit sepanjang jalan aspal yang sudah rusak berat, bukan saja sudah berlubang tetapi penuh dilapisi tanah yang yang terkena air hujan. Mobil jenis sedan, sangat tidak dianjurkan melakukan perjalanan ke tempat ini. Tidak heran kalau memang sebagian besar kendaraan yang aku temukan di Kendari adalah kendaraan-kendaraan besar, semodel panther, kijang dan taft.

Kalau tidak punya kendaraan pribadi, ada kendaraan umum yang bisa jadi pilihan. Ada dua. Pertama angkutan umum berwarna biru. Bisa muat sekitar 10 orang. Tidak ada jadwal kapan angkutan ini akan lewat. Dari terminal ke Abeli, uang sebesar 3000 rupiah harus disiapkan. Pilihan lain memakai bus damri. Keberadaannya diprotes oleh supir angkutan umum karena bus dapat menampung lebih banyak orang. Ini, menyebabkan penumpang angkutan umum berkurang. Apalagi ongkos bus damri lebih murah 1000 rupiah. Bukan angka yang kecil. Bayangkan saja, seorang guru di SD 9 Abeli harus mengeluarkan 10000 rupiah perhari untuk transportasi, padahal ia hanya seorang guru bantu dengan honor yang minim. Nilai 1000 rupiah, perbedaan bus damri dan angkutan umum, dalam sebulan menjadi sebuah angka yang penting.

Abeli, memang bagian kota yang terlupakan, seperti yang diungkapkan Pak Firman. Maklum, secara administrasi, Abeli adalah salah satu kecamatan di Kota Kendari, tetapi karakteristik kota sama sekali tidak ada. Rumah kayu mendominasi, itupun tidak rapat, tetapi satu dua di pinggir jalan. Halaman-halaman rumah itu masih cukup luas. Kambing, anjing, dan ayam adalah binatang yang sangat mudah ditemukan di pinggir jalan. Di malam hari, penduduk lebih memilih untuk tidak menyalakan lampu di luar rumah. Penghematan, itu alasah yang diberikan.

Abeli, kecamatan dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai nelayan. Masih cukup homogen. Kelompok lain setelah nelayan adalah petani. Umumnya petani palawija. Di luar kelompok itu, paling hanya ada segelintir orang yang bekerja entah sebagai pegawai negeri, pedagang atau pekerjaan lain. Pasti sangat kecil. Karena beberapa guru yang bekerja di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di sanapun ternyata tinggal di kota Kendari.

Sekolah di Abeli
SMP 11 Kendari, terletak diantara dua sekolah dasar yaitu SD 9 Abeli dan SD 12 Abeli. Terletak di sudut sebuah jalan tanah, dengan pemandangan laut di belakang sekolah. Tidak ada pantai pasir putih, karena ini adalah pantai bakau. Sedikit lebih jauh, akan tampak pemandangan rumput laut yang ,”kelihatan seperti sampah di tengah sana,” begitu seseorang berkata padaku.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

“Dulu ini lapangan sepak bola” Mba Kiki, salah seorang guru SDN 12 Abeli berucap. Dia menemani aku berjalan-jalan melihat sekolah-sekolah itu. Kiki adalah angkatan pertama SMP 11 Kendari, dia masuk tahun 1994. Saat itu,”kami sering membantu sekolah membereskan sekolah, termasuk meratakan tanah yang ada di lingkungan sekolah,” tutur guru kelas 4 SD ini sambil menunjuk ke tanah yang tampaknya sekarang menjadi lapangan upacara. Aku mengalihkan mata ke arah laut, melihat tembok benteng pembatas sekolah dengan laut yang sudah rusak. Pondasi benteng itu tampaknya tidak dibuat dengan mempertimbangkan bahwa benteng terletak di pantai. Tanah bergerak, tergerus air laut.

Sekarang, sudah ada satu lapangan basket di tengah sekolah. Di belakang lapangan basket tersebut sekarang ilalang hijau, padahal dulu, itu adalah tempat siswa menanam berbagai tanaman sebagai praktek berkebun. Alur tanaman masih tampak diantara rimbunnya rerumputan. Batas tempat yang dulu adalah kebun adalah benteng yang memisahkan sekolah dengan rumah penduduk. Itu pun dulu adalah bukit yang kemudian di”potong” untuk dijadikan permukiman. Tidak terlalu besar, hanya ada sekitar 10-20 rumah di belakang sekolah.

Lantai sekolah masih mempergunakan ubin sederhana berwarna hitam. Seharusnya. Soalnya, saat aku tiba, warna hitam itu sudah mulai memudar, sebagian abu-abu, sebagian putih. Tergerus umur. Tidak sedikit bagian dari lantai yang itu yang tercoel-coel. Tidak heran pihak sekolah menginginkan tegel baru, mereka membayangkan lantai porselen putih, yang entah kenapa tidak pernah aku sukai.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Satu unit kelas telah berubah fungsi menjadi musholla. Tidak ada kursi maupun papan tulis. Hanya selembar karpet biru, itupun hanya menutupi satu pertiga bagian lantai ruang kelas itu. Berbatasan dengan musholla, terdapat sebuah ruangan yang dipergunakan sebagai ruang guru.

Gambaran yang tidak jauh berbeda, bahkan lebih mengkhawatirkan lagi juga terlihat di dua sekolah dasar yang mengapit SMP 11 Abeli. Termasuk minimnya kondisi toilet di sekolah tersebut.

Tapi minim sarana prasarana tidak membuat keceriaan anak sekolah dasar hilang. Ditemui setelah selesai ulangan umum, segerombolan anak kelas 3 dan kelas 4 SD 12 Abeli penuh semangat berpose. “Woi, foto dulu foto dulu,” salah seorang anak yang paling berani memanggil teman-temannya yang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Anak-anak itu membuat pagi yang mendung dan gerimis tampak cerah buatku. Mereka tersenyum dan tertawa-tawa melihat foto mereka di digicam milik kantor. Senyum mereka seperti pengganti matahari yang pagi itu agak malas muncul di Abeli. Tidak terlihat sedikitpun, wajah kelelahan karena mereka baru saja menyelesaikan ulangan umum.

“Aku paling suka pakai baju muslim,” dengan semangat seorang anak bercerita.

Dulu, murid SD datang dengan berbagai pakaian dalam kondisi seadanya, dan tanpa alas kaki. Saat ini, mereka punya 5 jenis seragam. Baju SD merah putih, baju olahraga, baju pramuka, baju batik dan baju muslim. Saat itu, sebagian besar dari mereka memakai baju olahraga. Ada beberapa anak yang memakai baju merah putih, dan beberapa campuran antara baju olahraga dan baju merah putih. Menurut Mba Kiki, “kami tidak bisa memaksakan orangtua untuk membeli seragam,” kalau tidak punya uang, pakaian apapun diperkenankan dipakai.

Seorang anak perempuan kelas 3 SD itu tersenyum. Kaos olahraga dipakai rapi. Rambut hitam sebahu. Tangannya memegang sebuah buku tulis yang tidak bersampul dengan sebuah bolpoint. Di telinga, terpasang sepasang anting cantik berwarna merah muda. Sangat kontras dengan kulitnya yang gelap. Ia tersenyum.

Lebih dewasa beberapa tahun, sebagian besar anak SMP tampak lebih sungkan untuk berfoto. Satu anak, dengan berani berpose sendiri. Tidak perduli olokan teman-teman yang menertawakan keinginan dia untuk berpose. Dua kali klik, dan teman-teman lain mulai tertarik untuk berfoto. Satu anak perempuan dengan jilbab putih dan deretan gigi putih yang rapi mengajukan diri untuk belajar memotret. Aku berikan kamera itu padanya setelah memberitahu petunjuk mempergunakan kamera. Sekali jepret saja, foto berhasil dibuat dengan tajam dan fokus. Dia lebih senang diminta memotret ketimbang dipotret. Mudah-mudahan suatu waktu, dia akan memiliki kamera sendiri untuk dipakai. Seperti hari itu, dia memakai kamera Canon A710 milik proyek, menghasilkan gambar yang berisi senyum teman-teman sekelasnya.

Banyak Siswa Banyak Rejeki
Satu unit kelas di SD 12 Abeli terdiri dari 20-30 siswa. Kelas 3 hanya terdiri dari 26 siswa. Kelas 4, bahkan lebih sedikit. “Enak ya, Bu, kelas lebih kecil,” itu yang aku ungkapkan kepada seorang ibu guru. Dia tersenyum,”iya.” Hanya saja, rona mukanya mengatakan hal lain.

Rupanya, dinas pendidikan selalu mempertanyakan jumlah siswa yang dibawah 30 di setiap kelas. Itu terlalu sedikit. “Itu kan berarti program KB berhasil, ya, Mba” seorang bapak guru menimpali. Berdasarkan program dinas kesehatan, ini sebuah kemajuan. Tidak ada lagi banyak anak banyak rejeki. Jumlah anak dalam satu keluarga tidak sebesar dulu.

Hanya saja, dana BOS, bantuan operasional sekolah, diberikan berdasarkan jumlah siswa di sebuah sekolah. Tidak heran, sekolah berupaya memiliki siswa sebanyak mungkin. Padahal saat ini ada 3 sekolah dasar di Abeli. Lebih banyak sekolah, memudahkan orang tua dan murid untuk dapat bersekolah di tempat yang lebih dekat dari rumah. Itu bagi orang tua dan murid. Bagi sekolah, lebih banyak sekolah, berarti lebih banyak pesaing dalam meraih murid. Buat sekolah, banyak siswa tentu saja banyak rejeki, dari dana BOS.

Puskesmas Abeli
Kunjungan pertama, lagi-lagi, seperti biasa, aku selalu mengunjungi puskesmas setelah hari sudah sore. Bukan jam normal kunjungan pasien. Aku dsambut oleh lebih banyak petugas puskesmas ketimbang pemakai puskesmas. Satu lagi kekecewaanku, aku tidak pernah punya kesempatan untuk sekedar ngobrol ngalor ngidul dengan mereka yang mengunjungi puskesmas. Bagaimana mungkin, karena petugas puskesmas langsung akan menempel. Jengah aku. Begitu menginjakan kaki di puskesmas, semua orang langsung bergegas. Tampak panik. Seorang petugas langsung terlihat sibuk menelepon. Belakangan aku tahu, ia menelepon kepala puskesmas.

Puskesmas itu memiliki poli umum, kesehatan ibu dan anak, unit gawat darurat dan poli gigi dengan fasilitas dokter gigi yang jauh lebih baik daripada dokter gigiku di Poliklinik Unpad di Bandung. Bisa jadi, kontribusi kepala puskesmas yang juga dokter gigi memainkan peranan besar disini.

Puskesmas itu bersih sekali. Dengan lantai porselen putih. Sandal, sepatu dan alas kaki lain harus dilepas di muka puskesmas. Aku juga. Rasanya adem, bisa menjejakan kaki di lantai. Tokh, aku lebih suka tidak memakai alas kaki kalau berjalan.

Puskesmas itu, tidak seperti rumah sakit. Tidak ada bau obat yang menyolok. Bau obat hanya terasa di ruang tertentu dan tidak terlalu menyengat. Tapi sebetulnya, aku tidak keberatan mencium bau obat. Menyenangkan.

Terdiri dari dua bangunan utama. Satu bangunan rawat jalan, dan satu bangunan lain untuk rawat inap. Dalam waktu dekat, akan ada satu ruang tambahan untuk unit gawat darurat. Saat ini sedang dalam pembangunan. Dua orang tukang bangunan bolak-balik membawa semen. Hari itu sudah lewat jam 3 sore.

Di ruang rawat inap, dua tempat tidur tampak kosong tanpa kasur. Seorang anak kecil sedang terkena diare, ditunggui sang ibu. Dia terbaring di sebuah tempat tidur. Ada beberapa anak lain di ruang itu, tidak sakit tetapi menemani orang tua yang sakit. Satu diantaranya ikut berbaring dengan sang ibu di tempat tidur sederhana dari kayu, yang diberikan oleh Dinas Kesehatan kepada Puskesmas Abeli.

“Karena ada rawat inap, kami buka 24 jam,” perawat menerangkan, ketika aku mengkonfirmasi waktu buka puskesmas. Pantas, mereka mengenal jam aplusan. Satu hari dibagi ke dalam 3 shift. Bergantian berjaga ruang rawat inap. Sayang sekali, sekarang, dokter tinggal 1. Untuk itu, dokter harus siap sedia, “on call,” begitu istilah kepala puskesmas.

Awalnya ada 3 dokter di Puskesmas Abeli, satu dokter PPT ikut suami keluar Kendari. Dokter itu cantik. Masih muda. Campuran Menado Makassar. Pernah dipanggil untuk mendatangi seorang pasien yang dikatakan tidak bisa ke puskesmas, padahal ternyata kondisi pasien tidak parah. Waktu itu, seluruh dokter sering menginap bersama di rumah dinas, persis di sebelah puskesmas. Bawa perlengkapan lengkap, "seperti mau kemping," kata kepala puskesmas.

Pastinya, tidak separah seorang pemuda yang dibawa oleh teman-temannya sore itu. Darah di pelipis. “Mabuk,” bisik Pak Firman. Hari itu, belum lagi jam 4 sore. Emosi kuat terlihat di teman-teman yang mengantar. Berteriak, cara komunikasi yang mereka lakukan. Pegawai puskesmas memilih diam dan segera membopong pemuda itu ke ruang gawat darurat. Satu diantara pengantar dipanggil untuk diperiksa, karena terlihat ada lecel di tubuhnya.

Tuak lokal menjadi penyebab utama. Tidak kenal waktu. Bukan pertama kali. Hampir setiap minggu selalu ada pasien seperti ini. Apalagi kalau ada pesta dengan musik dan acara joged. Dengan menenggak tuak, mereka merasa berani, tetapi tanpa pertimbangan logis. Kecelakaaan terjadi. Puskesmas selalu menerima dengan tenang, walaupun mereka kesal, mengingat kebodohan pasien tersebut.

Esok pagi, bukan pasien mabok yang tiba-tiba menarik perhatian. Seorang ibu yang tengah mengandung. Hampir melahirkan anak kelima. Tidak bisa dilakukan di puskesmas karena tekanan darah ibu yang tinggi. Sudah sampai 150. Harus dirujuk ke RSUD. Ibu tersebut memang punya sejarah tekanan darah yang tinggi. Ia kurus, untuk seorang ibu yang tengah hamil tua.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketHari itu, puskesmas Abeli harus merujuk seorang pasien ke RSUD Kendari yang terletak di tengah kota. RSUD itu ramai sekali. Deretan motor dan mobil memenuhi pelataran parkir. Kursi tunggu penuh terisi pasien. Bukan hanya kursi, bahkan gang-gang di depan rumah sakit juga penuh, bukan hanya oleh pasien tetapi pedagang berbagai jenis barang, majalah dan makanan bahkan beberapa ada yang menjual mainan.


Kepala Daerah
Gubernur, kepala daerah propinsi Kendari, bukan saja berbadan besar, tetapi berumah besar. Ali Masi namanya. Kaget aku ketika diantar melihat rumah dinas gubernur Kendari. Cukup yakin, ini adalah rumah dinas gubernur terbesar di Indonesia. Rumah itu besar. Sekilas seperti gedung pertemuan atau hotel berbintang. Berdiri di area yang luas sekali. Benteng besar mengelilingi rumah tersebut.

Kemarin, gubernur baru divonis bebas dari tuduhan korupsi terkait dengan ijin Hotel Hilton. Koran setempat penuh dengan iklan ucapan selamat kepada gubernur. Lebih dari 3 lembar dipenuhi ucapan selamat. Dari institusi, partai politik sampai individu. Tidak mau ketinggalan, televisi setempat juga dipenuhi iklan yang berisi ucapan selamat atas vonis bebas bagi gubernur. Padahal, jaksa masih mau menuntut banding atas putusan hakim tersebut.


Hujan
Tiga malam di Kendari, hujan terus ada setiap hari. Terkadang berhenti sejenak dan matahari muncul. Lebih sering hujan tersebut bertambah deras, barang 5 sampai 10 menit, kemudian kembali ke ritme awal. Hujan sudah menyambut sejak langkah pertama aku di bandara, membangunkan aku pagi-pagi buta untuk menikmati suara hujan. Bahkan sampai aku meninggalkan kaki dari bandara Wolter Mongonsidi, hujan terus mengguyur lebat.

Tidak apa, aku merasa hangat. Aku pergi meninggalkan Kendari dengan tambahan sekardus oleh-oleh dan sepasang anting terbuat dari emas Kendari.