23.5.07

Siapa Elu Siapa Gue!

Satu yang sering aku hadapi di daerah adalah pernyataan orang-orang disana tentang pekerjaan mereka. Datang mendekati aku, kemudian berbicara tentang berbagai pengalaman bekerja mereka. Umumnya untuk berkata bahwa mereka pernah bekerja dengan berbagai institusi, dan secara spesifik: lembaga donor.

Dari situ, nanti percakapan berlanjut ke orang-orang yang mereka kenal. "Waktu itu saya pernah kerja dengan lembaga donor itu, dan saya kenal dengan bapak-entah-siapa-itu, saya kenal baik itu." Padahal, beneran deh, aku tidak kenal bapak itu, dan aku sebetulnya juga tidak perduli apakah dia kenal atau tidak. Dan untuk pengalaman kerja yang segudang itu (belum termasuk label yang diciptakan untuk dirinya sendiri seperti,"saya ini ahli monev, mba") juga tidak membuat aku merubah penilaianku, yang biasanya berdasarkan pekerjaan yang dia lakukan saat itu.

Seperti sedang mewawancarai orang yang mau melamar pekerjaan saja.

Beda dengan kalau aku menghadapi orang-orang pusat (Aduh untuk istilah ini: orang pusat, orang daerah!). Mereka tidak akan banyak bercerita tentang apa yang sudah mereka lakukan. Asumsi yang ada, aku harus sudah tahu dong, siapa mereka itu. Jadi, mereka yang akan banyak bertanya."Dulu kerja dimana sebelum disini, sama siapa, kenal siapa?".

Kali ini, rasanya seperti sedang diwawancara untuk melamar pekerjaan.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPusat selalu lebih superior dan daerah selalu inferior? Duh! Kalau daerah akan berteriak,"lihat aku, lihat aku! aku ini punya berbagai pengalaman dan kenal banyak orang," lain halnya dengan pusat yang akan berkata,"lihat dulu diri kamu itu siapa, baru kita bisa lanjut".

Siapa elu. Ngaca dulu!

Sedih sekali. Siapa sih aku ini sampai mereka harus susah payah menjual diri. Aku menghargai mereka. Sangat. Apalagi dalam posisi aku yang datang dari Jawa, apa sih yang aku ketahui tentang daerah mereka? Mereka adalah orang yang paling punya kapasitas untuk berbicara tentang apa yang terjadi di tempat tinggal mereka. Aku ini, hanya membantu. Posisiku tidak lebih tinggi dari mereka. Aku dan mereka punya peran masing-masing, kok.

Di satu sisi, aku juga sedih, dengan sikap yang begitu sembrono dari beberapa teman dari pusat. Aku ini memang bukan orang gedean. Pengalamanku cukup. Aku sebetulnya lebih bersyukur dianggap sebelah mata, untuk kemudian bisa menunjukkan aku mampu. Itu tidak mengecilkan hati aku, tapi aku hanya bertanya-tanya, apa jadinya ketika itu dilakukan kepada orang yang sesungguhnya merupakan orang-orang pintar yang sangat berpengalaman?

Maka itu, aku selalu bahagia, ketika bisa bertemu orang, dimanapun yang percaya diri dengan kemampuan dan kapasitas yang ada, tanpa harus berlebihan menjual diri, dan tanpa harus melecehkan pihak lain. Mereka, dengan latar belakang pekerjaan apapun itu, bisa menghadapi orang dengan bijak, tanpa harus ada embel-embel apapun, karena mereka tulus dan pintar.

Menunggu Kepincut

Pada waktu aku terkena virus friendster, salah satu kegiatan bermain aku adalah otak atik profil. Biasanya bolak balik rubah isi "occupation". Akhirnya aku memutuskan menuliskan et cetera di kolom itu. One of several or many unspecified things. Dan lain-lain. Dan seterusnya.

Aku terlalu banyak mau, makanya bisa menuliskan bahwa pekerjaanku macam-macam. Bukan karena seringnya pindah pekerjaan, tetapi juga karena beragamnya yang aku lakukan.

Tiga tahun lalu, seorang sahabat mengkritik aku,"kamu tuh gak fokus, gimana sih, cobalah untuk fokus." Marah sekali waktu dia berkata seperti itu, di tempat parkir di sebuah warung kopi di Bandung. Dalam hati aku ingin bilang,"siapa sih kamu, baru kenal dua tiga bulan udah bisa bilang aku ini tidak fokus." Karena dia memang baru mengenal aku, waktu itu ya! Setelah emosiku sudah turun, aku bilang aku akan fokus. Serius nih, susah banget.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketTiga hari lalu, seorang rekan kerja dalam perjanan dinas yang untuk pertama kali kami lakukan bersama, dia bertanya tentang pekerjaanku sebelum pekerjaan saat ini. Aku hanya menyebut dua yang pernah aku lakukan, dia sudah berkomentar,"gue bingung, elu itu orang yang membingungkan." Gue cuman bisa bilang,"pegangan dong". Wajar sih, soalnya dua pekerjaan yang sempat aku bilang itu, sangat berbeda dan bertolak belakang dari jenis pekerjaan dan apalagi kalau dikaitkan dengan latar belakang pendidikan formal.


Kalau urusan laki-laki, aku juga banyak minat *wink*. Ya tokh, ada begitu banyak pilihan menarik di luar sana, setiap orang dengan keunikan masing-masing (kamu, jangan marah ya!). Mau coba mencari kesamaan dari laki-laki yang pernah datang dan pergi (dan sebagian tetap tinggal) di hati aku? Boooo, susah deh. Saking bermacam-macam.

Dari berbagai laki-laki yang begitu menarik, dari pertemanan aku bisa menetapkan hati untuk satu orang. Kalau udah suka, kata orang sih, mentok. Bahwa di luar sana banyak yang menarik, sudah pasti. Tapi yang paling membuat aku sulit berpaling hanya satu. Dan itu selalu bisa terjadi terjadi. Satu pada satu masa.

Ya, aku punya begitu banyak minat, dan cukup mudah berubah-ubah. Walhasil waktu aku harus memilih tema penulisan untuk kegiatan ekstra aku, aku kebingungan. Bukan karena tidak ada ide, justru karena kebanyakan ide dan itu pun bisa terus berubah, setiap hari. Untuk bisa datang ke dua topik saja, itu hasil menimbang-nimbang selama dua minggu terakhir. Aku terus berpikir mau ambil dari kerjaanku sekarang, pekerjaanku senang-senang yang sudah aku tinggalkan, pekerjaan sampingan atau apa?

Aku harus terus bergaul dengan berbagai ide di kepala. rasanya, ini bukan tidak fokus, kebanyakan minat sih iya. Tapi aku harus mencoba fokus. Sampai pada akhirnya, ada ide yang membuat aku kepincut habis, dan mentok. Mudah-mudahan.

Oya, ide-ide itu mungkin aku tulis di pojok sebelah saja ya