10.5.07

Yang Terhormat Anggota Dewan

Sepenggal kalimat yang begitu sering aku dengar selama seminggu kemarin. Di Bitung, di Barru, di Parepare.

Gemes banget. Sampe aku gak tahan untuk tidak mengirimkan sms berisi kekesalan dan berjuta pertanyaan yang tidak sanggup aku lontarkan di dalam forum.

Untuk bisa duduk bersama dengan mereka yang merupakan anggota DPRD setempat, adalah sebuah kemewahan. Bagian dari pekerjaan yang tengah aku lakukan antara lain untuk mendorong hal itu mungkin dilakukan.

Salah satu ketentuan dalam kegiatan ini adalah tidak ada honor untuk menghadiri kegiatan. Penggantian transportasi memang diberikan. Jumlahnya tidak besar. Hanya 75 ribu rupiah.

Seorang pegawai Bappeda Kota Bitung berkata,"Bu, malu aku hanya kasih 75 ribu ke anggota dewan, mana bisa seperti itu, Bu."

Seorang bapak lain berkata,"Ibu ini yang benar saja, masak anggota Dewan hanya dibayar segini," sambil menunjukkan angka yang tercantum dalam RAB kegiatan.

*GEDUBRAK*

Menurut aku, nilai itu memang terlalu kecil. Tapi itu buat nelayan yang harus datang ke kegiatan ini. Buat dia, tidak melaut sehari ditambah biaya kapal dari pulau tempat dia tinggal ke Bitung itu membuat dia "hilang" duit lebih dari 75 ribu rupiah.

Tetapi untuk seorang anggota Dewan?

Aku pernah menulis berapa sih gaji mereka. Belum lagi tunjangan segede-gede gaban. Dengan kondisi seperti itu, apalah arti 75 ribu rupiah. Apalagi ini adalah bagian dari pekerjaan, untuk datang ke kegiatan seperti itu.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Mungkin, itu untuk membeli kehormatan seorang anggota dewan, sehingga dia harus dipanggil sebagai yang terhormat anggota dewan. Jelas angka 75 ribu itu tidak cukup untuk membeli kehormatan. Tidak akan pernah cukup. Tetapi, dia membutuhkan itu. Panggilan untuk membesarkan hati, bukan panggilan yang menyatakan fakta. Karena tanpa itu, tidak ada kehormatan.