8.5.07

Penampilan Untuk Penilaian

Kalau kamu harus duduk diantara dua orang, selama beberapa jam, dan satu diantaranya adalah orang yang super-duper-keren-wangi-dan-bersih sedangkan yang satunya lagi adalah orang yang agak kumuh dengan campuran bebauan yang diproduksi badan di saat keringat dengan pakaian yang rombeng, mana yang akan kamu pilih untuk menitipkan barang bawaanmu?

Aku pasti pilih si keren. Please deh! Kalau aku kemudian harus mengobrol, aku juga pilih si keren.

Di pesawat, siapa juga yang gak ingin punya teman duduk yang menurut kita oke. Tidak usah diajak ngobrol, tapi setidaknya orang sebelah itu penampilannya baik. Lumayan kan, gak ganggu mata.

Dalam pesawat dua hari lalu, aku harus duduk bersebelahan dengan seorang laki-laki yang berbaju kumal dan berbau aneh belum lagi muka yang garang. Untung aku duduk di sisi jendela (selalu meminta dong). Ketika ia tiba, aku hanya menengok sekilas untuk kembali membaca tulisan Lauren Weisberger, Everyone Worth Knowing, sambil mendengar lagu-lagu Kirk Franklin dari iPod tersayang. Dalam hati, aku mengeluh.

Sepuluh menit setelah lepas landas, di saat aku tengah menikmati pemandangan Menado dari udara, aku menengok sekilas ke samping kiri, dan laki-laki itu tengah mendongkakan kepala, mencoba melihat jendela pesawat, menikmati pemandangan yang sama denganku. Aku langsung malu. Malu sekali. Aku tidak merasa kasihan pada dia, aku merasa malu pada diri sendiri yang begitu mudah menilai orang hanya karena penampilan dan bebauan yang memang jauh dari oke. Betapa aku sudah begitu egois dan bodoh menilai dia. Penumpang yang juga sama sama membeli tiket dan punya hak yang sama dengan aku untuk berada di pesawat dan diterbangkan ke Makassar.

Apa salah dia sampai aku harus menganggap dia seakan-akan lebih rendah dari aku. Tunggu, bukan apa salah dia, tapi siapa sih aku, sampai berani menilai orang hanya karena dia sangat tidak sedap dipandang dan diciumi dalam artian menghirup bebauan dari dia ya (bukan cium seperti cium bibir ke bibir. Oh, tidak, kalau yang itu aku tidak mau membayangkannya!)

Padahal, bukan sekali dua kali aku juga marah diperlakukan semena-mena atau dipandang sebelah mata karena penampilanku. Entah itu terlalu muda, terlalu perempuan, terlalu menarik (oh tolong narsisku keluar), atau biasanya dianggap tidak punya cukup duit alias terlalu kere atau terlalu miskin. Sekali waktu, adik iparku bercerita bahwa seseorang yang dia kenal pernah ditegur pegawai toko sebuah merek jeans beken yang berkata,"mba, jeans itu harganya 500 ribu," ketika melihat-lihat dan memegang celana yang tergantung di rak. Seandainya pegawai itu tahu, berapa banyak uang yang dimiliki oleh pengunjung itu!

Aku masih harus banyak belajar. Penampilan seringkali penting, tetapi bukan segalanya, kan?

Mendadak (Jadi) Mayoritas

Jadi minoritas, itu sih biasa. Beragama minoritas. Berasal dari etnik minoritas (setidaknya selamat aku berada di Bandung). Di tempat kerja, sering aku menjadi perempuan satu-satunya diantara para laki-laki. Ini juga membuat aku biasa jadi minoritas.

Tetapi di Manado, tiba-tiba aku menjadi mayoritas!

Melihat salib dimana-mana (konon, sampai memperoleh penghargaan MURI untuk jumlah salib terbanyak). Berdoa bersama menjadi kebiasaan. Tidak perlu diam-diam berdoa sebelum makan. Justru aku sampai heran ketika teman makan siangku melipat tangan, menutup mata dan berdoa, sebelum makan! Bisa mendengar lagu rohani dimanapun. Rutinitas kebaktian di tingkat lokal, disini dikenal dengan istilah ibadah, merupakan kegiatan biasa yang dimengerti oleh semua orang. Sampai bahkan lupa kalau teman seperjalananku masih harus melakukan sembahyang lima waktu.

Itulah kesanku untuk Manado.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketSayang, pantainya nyaris tidak bersisa. Dikalahkan oleh bangunan ruko yang sudah dan sedang dan masih akan terus berlangsung. Rasanya, ruko berada hampir di seluruh garis pantai kota. Bangunan dengan desain dan warna yang jelek, masih ditambah dengan berbagai papan iklan yang menutupi muka bangunan. Pantai ditimbun. Begitu istilah Ibu Syaloom yang mengantar aku. Tidak ada lagi pantai gratisan. Perhatikan gambar ruko disamping ini, pantai terletak persis di belakang deretan ruko ini. Minimal, harus bayar parkir dulu. Duh, mending kalau jajaran ruko itu menarik dilihat. Padahal aku berpikir aku akan disuguhi pemandangan pantai dan orang-orang yang duduk-duduk di pinggir pantai. Harapan yang terlalu romantis dan jauh dari kenyataan.

Hotel tempat aku menginap berada di atas area yang dulunya adalah laut. Hotel ini dibangun di bebatuan dan pasir yang dengan sengaja ditimbun di lokasi itu. Di depan hotel, pemandangan hotel terhalang oleh jajaran warung makan dengan berbagai warna, dan sebagian besar makanan yang tidak halal yang tentu saja pemandangan langka di Bandung.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketUntukku, bagian paling menarik justru kota lama Menado. Mungkin tidak terlalu istimewa. Hampir semua kota di Indonesia punya karakter yang mirip. Bangunan lama, berwarna-warni, berdesak-desakan. Sebagian besar difungsikan sebagai toko. Berbagai jenis toko. Kemacetan menjadi kawan akrab kota tua atau "downtown", kalau memakai istilah Ibu Syaloom. "Beberapa ruas jalan sudah bebas kemacetan", kata Ibu, "walikota berhasil memindahkan pedagang kaki lima", itu penjelasan tambahannya. Memindahkan atau mengusir atas nama kelancaran lalu lintas dan pemandangan yang lebih baik? Tipis batasnya.

Pemandangan menarik justru dari kembang kota, perempuan di Menado. Menurut aku, sedikit sekali kota di luar Bandung yang bisa mengalahkan "kesegaran" mojang parahyangan! Menado, jelas tandingan yang tidak bisa dianggap sepele. Bisa jadi, kulit putih, muka manis, dan keberanian membuat perempuan di Menado menarik untuk dilihat, dan modis. Terlihat bersih. Mata sefa

Bisa jadi, ini sebersih kota Menado dan bahkan sampai ke Bitung. Betul, bersih sekali. Sampai aku dapat bocoran, kalau pada hari ini akan ada penilaian untuk piala Adipura dan bahkan di Kota Bitung, Walikota menghimbau warga untuk kerja bakti. Oya, aku sebetulnya lebih banyak menghabiskan waktu di Kota Bitung. Ada pelabuhan alam yang tidak sempat aku lihat lebih dekat. Pabrik semen besar berada di lingkungan pelabuhan tersebut. Aneh, melihat silinder-silinder berukuran besar berada di pinggiran pelabuhan. Sayang sekali aku tidak sempat ambil foto, hujan gerimis dan jadwal kegiatan yang padat membuat aku sulit mengambil waktu untuk berkeliling dan ambil gambar.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketUntungnya aku sempat ambil gambar makanan ini. Itu juga sudah dalam kondisi nyaris habis. Untuk urusan perut, lidahku cocok dengan makanan Menado. Ikan. Pedas. Bumbu kuat. Favoritku justru pada sambal dabu-dabunya. Pedas dan segar. Campuran tomat, cabai dan cuka dengan irisan bawang. Cocok dengan ikan bakar, ikan sayur atau apapun makanannya. Rasanya aku makan dabu-dabu dengan lauk pauk, bukan makan nasi dengan bumbu dabu-dabu.

Berjalan-jalan di Menado dan sekitarnya, membuat aku teringat Ambon. Barangkali, karena bangunan gereja yang mendominasi pemandangan. Belum lagi, sisa-sisa perayaan Paskah yang masih kental. Hampir di setiap sudut kota ada salib merah dalam berbagai ukuran. Beberapa dalam ukuran besar, tinggi sekitar 1 sampai 1-5 meter, lengkap dengan tulisan Selamat Paskah. Kata Paskah ditulis pada kolom vertikal, berpotongan dengan kata Selamat yang ditulis horizontal.

Ya, aku tidak sempat banyak melihat dan merasakan kehangatan dan senyum Menado. Tapi, aku tahu, ketika aku ingin kembali mencicipi kemewahan sebagai mayoritas,aku tahu kemana aku harus pergi.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket