3.5.07

Kursus Narasi

Kesenanganku membaca blog membawa aku ke blog Andreas Harsono. Aku terpikat. Pada tulisannya. Pada kejelasan tulisannya. Pada kemampuannya membuat aku membaca satu artikel penuh, walaupun itu cukup panjang untuk ukuran blog yang biasa (dan bisa) aku baca.

Aku memutuskan untuk ikut kursus narasi. Awalnya aku senang sekali diberi kesempatan ini. Kemudian, aku gamang. Apa betul aku bisa. Ketika Dinda bilang,"booo, serius," (atau kata-kata yang agak mirip, lupa, Din) waktu dia melihat silabus kursus, aku panik. Bagaimana mungkin aku nekad mengambil kursus, yang bukan saja mahal untuk ukuran kantong aku, tapi juga menuntut kedisplinan untuk membaca, dan terutama karena akan berlangsung selama 4-5 bulan.

Kursus adalah kegiatan yang paling aku hindari karena aku cepat bosan. Coba kursus Bahasa Belanda, hanya bertahan 3 minggu. Sisanya, aku memilih nonton sinetron bahasa Belanda. Tidak heran, aku hanya mampu mengucapkan angka dan beberapa kalimat standar dalam Bahasa Belanda. Pernah mau ikut komputer, hanya 2 kali aku bosan. Menurut aku, kelas komputer itu terlalu lambat. Kursus vokal, justru berhasil aku lakukan ketika aku menggantikan orang yang sebetulnya kursus. Ketika aku yang mengambil kursus, bahkan untuk datang pun aku gagal (Rin, malu banget untuk bikin pengakuan ini).

Jadi, ketika aku harus pergi ke Pantau, di lokasi yang tidak aku ketahui berbekal peta sederhana tanpa skala, aku berusaha menekan semua perasaan yang ada. Senang, penasaran, takut, gamang, semuanya aku redam. Aku harus pergi kesana. Ketika aku dengan ceroboh melewati satu belokan yang harusnya aku ambil, dan nyasar ke satu jalan buntu, aku melihatnya sebagai tantangan untuk berhasil mencari jalan keluar. Berbekal instruksi via telepon, dan "feeling" terhadap arah yang harus aku tempuh, aku berhasil keluar dari kompleks dengan banyak kata simpruk, menuju permata hijau dan akhirnya sampai ke Pantau.

Dua jam aku jalani tanpa rasa bosan sedikitpun. Malah, aku tidak sadar kalau 2 jam sudah berlalu. Satu-satunya yang ingin aku ulang di pertemuan pertama itu adalah saat aku harus memperkenalkan diri. Aku tidak akan berkata seperti apa yang aku katakan saat itu. Aku hanya akan bilang, aku bukan wartawan dan bukan jurnalis. Aku hanya senang menulis. Karena itu aku ikut Kursus Narasi.


Tulisan ini, awalnya, tidak akan aku masukkan kesini, mau bikin pojok khusus untuk cerita-cerita kursus. Sial, di Manado ini, koneksi internet superduper tidak bersahabat, jadi daripada lupa, aku posting disini dulu aja.