16.4.07

Klepto Barang (di) Kantor

Satu tren masa SD yang aku ingat adalah label nama. Dibuat dari kertas sticker, dengan bentuk persegi (biasanya warna latar emas, tulisan hitam gitu), sampai yang pake tema walt disney atau tema tokoh kartun lainnya. Cukup nama dan alamat. Waktu itu, telepon rumah aja belum ada, apalagi nomer telepon genggam atau bahkan email. Delapan puluhan gitu loh.

Sebagian besar label nama itu ditempel hampir di seluruh barang milikku. Buku sekolah, sampai ke pensil dan pulpen. Semua ditempel label nama. Sebagian dari label nama itu ditukar dengan label nama orang lain.

Sayang, sekarang aku sudah tidak punya label nama lagi. Butuh banget. Maklum baru diingetin nih dengan satu ciri bekerja kantoran. Itu loh, barang seperti bolpen atau pensil itu sering sekali menghilang (dan terkadang muncul lagi sih, pada waktu tidak terduga di tempat tidak terduga). Barusan, bahagia banget bertemu dengan spidol-spidol tersayangku. Lokasi penemuan: tetangga sebelah (pssssttt, jangan bilang-bilang, aku embat balik diem-diem sih). Jangan tanya deh, berapa kali dalam sebulan, aku harus ambil pensil atau bolpen dari admin.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketYah, kalau pensil atau bolpen menghilang masih bisa diterima deh. Tapi mudah-mudahan mug(-mug) tersayangku ini jangan ikut hilang, deh. Mug tinggi untuk air putih itu hadiah dari salah satu toko sepatu dan mug super kecil mungil untuk minum kopi, hadiah dari sobatku.

ps: iseng-iseng gak berhadiah. coba deh cek ada gak barang (pensil, pulpen, penghapus, gunting atau apapun deh) yang bukan milik sendiri di meja kerja?

Rapat di Hotel

"Kamu belum tahu ya, kalau pertemuan mereka itu biasanya sampai malam banget. Biasa tuh, kalau orang atas yang ngadain pertemuan. Lagian, mumpung mereka pada ada loh, sekalian aja sampe malem"

Itu komentar admin ke aku, waktu dia melihat agenda yang aku susun untuk satu pertemuan.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketAku tahu, seringkali ada diskusi atau pertemuan yang dimulai dari pagi hari dan berakhir di tengah malam. Karena itu, biasanya pertemuan diadakan di hotel. Tidak perlu pulang ke rumah. Langsung tidur di hotel. Eits! Itu kalau bisa tidur, loh.

Aku tahu, seringkali ada begitu banyak agenda dalam satu pertemuan, dan karena itu waktu 8 jam sehari seringkali tidak cukup. Aku tahu, seringkali peserta tersebut punya kesibukan tingkat tinggi atau berasal tidak dari satu kota, sehingga "mumpung ketemu" semua dihajar beybeh biar selesai.

Tapi, sebetulnya seberapa efektif pertemuan yang berlangsung sampai tengah malam itu?

Apakah seseorang baru terlihat bekerja (keras) ketika dia pulang malam? (Katakanlah, paling cepat pulang jam 10 malam) Apakah pertemuan baru bisa dinilai sukses ketika itu dilakukan seharian dan menghasilkan catatan hasil pertemuan setebal beberapa puluh centimeter?

Jangan salah. Aku pernah berada di sebuah kamar hotel, bersama beberapa orang, harus berdiskusi tentang satu kegiatan, sampai lewat tengah malam. Kondisi menuntut aku berbuat seperti itu. Aku hanya ada di kota itu selama 2 malam, untuk kemudian terus berpindah kota sedangkan ada begitu banyak hal yang harus dilakukan. Tapi pertemuan itu sendiri memang baru berlangsung lewat makan malam. Sepanjang siang, aku harus bertemu dengan lebih banyak orang yang hanya bisa ditemui pada jam kerja normal.

Rapat, seminar, pelatihan dan begitu banyak bentuk lain sepatutnya dipersiapkan dengan lebih baik. Bahan pertemuan harus disiapkan jauh sebelum hari H dan sudah dibaca dan dipahami pada saat pertemuan. Kalau memang tidak cukup semalam, dan tidak ada hambatan untuk dibuat tiga malam, kenapa harus ngoyo menjadikannya pertemuan semalam? (kecuali kalau, itu bisa jadi alasan supaya tidak masuk kantor besoknya...huhuy)