23.12.07

Rindu Natal

Desember selalu menjadi salah satu bulan yang paling aku tunggu. Natal dan Tahun Baru merupakan puncaknya.

Di keluargaku ritual dimulai dengan memasang pohon natal di awal bulan, biasanya diikuti dengan kegiatan bersih-bersih. Gorden yang diturunkan dan dicuci bersih, terkadang sampai membuat aku heran kok bisa aku tidak sadar warna gorden itu bisa seputih itu! Setiap anak akan mulai membereskan kamar masing-masing. Ini kegiatan penuh keringat, dan tidak jarang berakhir dengan keputusasaan pemilik kamar untuk membereskan kamar. Kondisi kamar sudah berantakan, tapi energi sudah habis di proses "ngeberantakin". Untuk kue-kue, ibuku sudah lama meninggalkan kebiasan membuat kue sendiri. Aku tidak bisa ingat, kapan terakhir kami masih membuat kue sendiri. Semua kue datang dalam kotak, dengan kuitansi pembayaran di atasnya. Kalau beruntung, kue-kue itu datang dalam keranjang cantik dengan kartu ucapan.

Sampai sekitar sepuluh tahun lalu, aku masih membuat secara khusus setiap kartu natal. Tidak membeli. Setiap orang memperoleh kartu yang aku buat dengan membayangkan orang tersebut. Inipun kebiasaan yang sudah lama ditinggalkan. Aku lebih banyak membeli kartu dan membubuhkan tandatangan sebelum mengirimkan lewat pos. Aku masih suka melakukan ini, sampai tahun lalu. Tidak jarang, ini juga bagian pekerjaan menjadi anak. Untuk mengirimkan kartu ucapan dari keluarga kepada sanak famili dan rekan kerja orangtuaku. Ibuku termasuk orang yang sulit menulis apapun di kartu apapun. Tulisan yang buruk selalu menjadi alasan klasik. Aku sendiri, tidak terlalu sabar melayani permintaan ibuku untuk urusan kartu natal. Adik perempuanku menjadi korban untuk menyelesaikan semua itu.

Bulan Desember adalah bulan yang ramai. Khususnya untuk isi kulkas. Beragam makanan akan mengisi setiap ruang di dalam lemari pendingin itu. Bukan hanya daging dan sayur mayur, tetapi beragam buah, es krim dan tentu saja minuman ringan mulai dari Coca Cola, Fanta, dan Bir Bintang dan sesekali ditambah botol wine. Semua menjadi menu wajib.

Pagi hari akan diisi dengan lagu-lagu natal. Lumayan bikin pekak telinga. Ibuku tampaknya bertekad menjadikan lagu-lagu ini menjadi weker di pagi hari. Volume maksimal yang menjamin lagu itu bisa didengar oleh orang-orang yang melintas di depan rumah. Untungnya selama beberapa tahun terakhir, kami anak-anaknya bisa mempengaruhi pilihan lagu natal dengan penyanyi-penyanyi yang lebih "sekarang". Lebih untung lagi karena koleksi itu terus bertambah. Bayangkan kalau harus mendengar 2 buah CD diputar berulang-ulang selama sebulan penuh!

Ibuku memang salah satu yang paling bersemangat menghadapi natal. Salah satunya adalah semangat berbelanja. Waktu kecil dulu, membeli pakaian baru menjadi agenda utama. Termasuk membeli sepatu. Aku selalu menolak, tapi tak pernah kuasa. Kalau tidak mau ribut, lebih baik turuti saja keinginan ibuku untuk membelikan aku ini itu. Ini masih menjadi rutinitas sampai beberapa waktu lalu. Barangkali usia kami yang sudah lewat 20 membuat kami lebih mampu menolak dan juga membuat kami lebih merasa tidak perlu memperlengkapi diri dengan pakaian serta sepatu baru untuk ke gereja dan merayakan natal.

Beberapa tahun terakhir, kegiatan yang selalu membuat heboh di keluarga kami adalah perburuan kado natal. Sebetulnya, proses ini agak lucu. Karena kami tidak berbelanja dengan uang kami. Ayahku akan memberikan uang sama besar kepada kami semua untuk membeli kado natal untuk semua. Beberapa di antara kami akan menambahkan dengan uang masing-masing, tapi ada juga sih yang malah membuat strategi pembelian kado sedemikian rupa supaya uang jatah masih bisa bersisa. Namanya juga usaha.

Ini adalah kegiatan yang paling aku suka, walaupun juga yang paling bikin senewen. Bayangkan, kami sekeluarga ada tujuh, eh sekarang sih delapan orang. Tahun lalu, sampai tanggal 24, kami semua belum membeli kado. Kami pergi ke sebuah tempat. Kami semua, di satu tempat, berburu kado. Terkadang, ayah dan ibuku harus diam di sebuah tempat kopi, aku dan adik-adikku berburu kado untuk mereka. Di lain waktu, salah satu adikku mengajak aku, mencari kado untuk adikku yang lain sambil memasang mata, jangan sampai dia melihat kami membeli kado untuknya. Sambil minum kopi, dua adikku saling berbisik memikirkan kado terbaik untuk aku. Rusuh, tapi seru. Ramai sekali. Kami pulang dengan kantong-kantong belanjaan. Buat kami bukan nilai rupiah yang menjadi patokan dalam membeli kado. Justru proses membeli kado, memikirkan memberi yang terbaik sambil hitung-hitung jumlah rupiah di dompet, berdiskusi dengan anggota keluarga lain, pergi kesana dan kesini, merupakan bagian terindah. Selama proses itu berlangsung, kami bisa saling ngobrol, cela-mencela, dan tertawa-tawa.

Tahun ini semua berbeda. Salahkan pekerjaan kalau memang perlu cari kambing hitam. Adik iparku harus tetap bekerja sampai tanggal 24, di luar kota Bandung. Sama dengan adik bungsuku yang masih harus "ngamen" di sebuah tempat, juga bukan di Bandung. Untuk pekerjaan ini, adik bungsuku sudah minta ijin beberapa bulan sebelumnya. Adik perempuanku masih asik membangun jaringan pertemanan dengan entah siapa lagi. Pekerjaanku menumpuk, semua dengan catatan tanggal 27 sudah harus siap.

Pagi ini, rasanya sepi sekali. Tidak ada lagu natal berkumandang, karena CD player ibuku rusak dan tidak ada yang punya cukup waktu dan usaha untuk memperbaiki atau mengganti dengan player lain. Ibuku belum berbelanja karena tidak ada yang bisa mengantar. Ayahku tidak sanggup cukup santai untuk menghadapi banyak hal, termasuk rumah yang tengah direnovasi dan belum selesai-selesai sampai sekarang.

Aku punya harapan, salah satunya untuk bisa menikmati natal ini. Tidak hanya sekedar beramai-ramai kumpul, tetapi untuk mengingat betapa DIA sudah begitu baik padaku. Bahwa DIA sudah datang, untuk kemudian mati dan bangkit untukku, dan juga kamu.

Selamat Natal, dengan siapapun kamu habiskan natal kali ini.


Keajaiban Natal
Natal di 2005
Romantisme Natal