30.11.07

Kembali keluar dari rutinitas. Kembali melakukan perjalanan. Dari satu kota ke kota lain. Untuk urusan pekerjaan yang lebih membuat aku terus menerus berbicara dan bertemu begitu banyak orang dalam satu hari. Menyenangkan sekali.

Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya.

Setahun sekali, dalam 5 tahun terakhir aku melakukan perjalanan ini. Bergerak dari kota ke kota. berpindah dari hotel ke hotel. Packing, unpacking. Bus dan pesawat menjadi sahabat yang akrab.

Aku masih menikmati Yogya. Bangun pagi, jalan kaki, berbelanja di Pasar Beringharjo melewati jalan-jalan belum pernah kulewati.

Sebentar lagi aku akan berangkat ke Surabaya, nanti aku tulis lebih banyak lagi.

22.11.07

Tidak Tepat Waktu

Justru di saat aku harus menunggu selama 3 jam, aku mendapat informasi ini


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

21.11.07

Mental Proyek

  • Setiap pekerjaan diartikan sebagai proyek. Ini berarti ada sekumpulan uang yang siap dipergunakan.
  • Tujuan proyek adalah ada uang yang dapat dimanfaatkan. Eh, sudah ditulis ya? Ada tujuan khusus di proposal? Itu semua bisa diatur!
  • Proyek berarti pekerjaan tambahan. Tidak perduli kalau proyek itu sebetulnya merupakan pekerjaan harian yang kebetulan saja mendapat tambahan judul "proyek" karena ada sponsor/ dana tambahan/ pihak lain yang terlibat. Proyek adalah pekerjaan tambahan (walaupun tidak ada yang baru dan ditambah kedalam tugas dan beban kerja!), dan itu berarti gaji tambahan.
  • Proyek ada karena ada orang yang membawa proyek, membuka jalan untuk proyek, memperkenalkan dengan lokasi proyek. Ini berarti ada uang terimakasih yang harus diberikan.
  • Proyek adalah pemberian, dan karena itu, segala aset, perlengkapan, prasarana yang ada bersamaan dengan proyek itu adalah milik orang yang terlibat dengan proyek, langsung atau tidak langsung (ini tergantung tingkat kekuasaan dan daya persuasi).
  • Menyelesaikan proyek harus dengan menciptakan proyek baru. Ini dilakukan demi kesejahteraan bersama.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

14.11.07

Terjemahkan

Aku bukan penterjemah yang baik. Semua tergantung situasi. Ketika pekerjaan lebih banyak menuntut aku untuk menulis dalam Bahasa Inggris, aku menjadi lebih terbiasa. Sebaliknya, ketika Bahasa Indonesia yang menjadi bahasa utama untuk laporan, aku lebih sering menulis dalam Bahasa Indonesia. Di saat-saat seperti itu, kemampuan menulis dalam Bahasa Inggris suka turun, terkadang ke titik terendah.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket Paling berat, kalau menterjemahkan menjadi bagian dari penyusunan laporan. Jujur saja, masih lebih mudah menulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris, ketimbang menterjemahkan. Apalagi kalau diburu-buru. Tapi, sampai sekarang, aku masih menghindari pemakaian software terjemahan yang banyak dipasaran. Hasilnya, aku musti bekerja ekstra untuk menterjemahkan. Wajib hukumnya untuk membaca hasil terjemahan dua sampai tiga kali bahkan lebih. Selalu ada saja yang tidak pas. Begini deh nasib kemampuan bahasa pas-pasan.

Hari ini, aku baru saja terbengong-bengong. Aku menerima sebuah tulisan dalam Bahasa Inggris yang harus aku ulas. Tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku. Jadi sebetulnya tidak ada keharusan untuk melakukan review, tapi tokh aku lakukan juga. Sungguh, aku bingung sekali membaca tulisan itu. Sampai sempat berpikir, apa barangkali kemampuan membacaku juga sekarang jadi jeblok? Semakin aku amati, semakin banyak hal aneh yang aku temukan.

Aku menyerah.

Aku kontak orang yang menyusun tulisan, dan terutama orang yang memberi input untuk tulisan itu. Hasil obrolan sementara membuat aku sampai pada kesimpulan bahwa dia membaca tulisan Bahasa Inggris, kemudian menterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, mencari kata-kata kunci, dan menulis kembali ulang dalam Bahasa Inggris. Dan, ya, terjemahan Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris mempergunakan software.

Sebentar.

"Pertemuan [bahwa/yang] prosedur untuk kembangkan MSP proposal akan bersifat diperumit lebih sempit dibanding [yang] diperlukan untuk proposal" adalah hasil terjemahan software yang kemudian diterjemahkan balik (tetap pakai software) menjadi procedure to develop the MSP proposals would be a little more complicated than required for proposals


Maksud Lo?



Bukan sekedar kualitas terjemahan tetapi, TOLONG, ada yang bisa bantu aku, kenapa tulisan berbahasa Inggris itu harus diterjemahkan ke Bahasa Indonesia untuk kemudian diterjemahkan balik ke Bahasa Inggris?


Ugkh, aku jadi teringat tulisan tentang terjemahan yang lain, nih

7.11.07

Pindahan

Satu minggu kemarin, sibuk bolak balik pindahan rumah. Dari rumah kontrakan kembali lagi ke rumah yang selama 5 bulan terakhir direnovasi. Bukan rumah sendiri tetapi rumah adik yang aku tumpangi. Sebetulnya, yang lebih banyak bolak balik adalah adikkudan keluarga ketimbang aku (yang lebih sering pulang malam karena cari kopi ketimbang pulang malam karena ngangkut barang).

Rumah itu awalnya hanya tempat persinggahan. Kalau ada anggota keluarga yang kebetulan harus bekerja di Jakarta, bisa tinggal disini. Ketika adikku memutuskan untuk tinggal disitu, rumah dirasa tidak cukup menampung anggota keluarga lain yang datang dan pergi ke Jakarta. Ditambah beberapa alasan lain, keputusan dibuat bahwa rumah perlu dibenahi. Renovasi yang memakan waktu dan biaya yang tidak kecil.

Masa-masa melelahkan. Memikirkan apakah rumah bisa seperti yang diinginkan. Kuatir apakah punya cukup biaya. Tidak sabar kapan rumah tersebut selesai dikerjakan. Tetapi ketika semua selesai, tidak sabar memasuki rumah baru dan mendandaninya.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketRumah, adalah dimana hatimu berada. Menurutku, diri sendiri adalah rumah yang paling nyaman. Hanya saja, selalu ada saat dimana rumah itu tidak bisa lagi menampung hal baru yang terjadi dan menjadi tidak lagi nyaman. Rumah tersebut harus bebenah. Itu butuh biaya dan waktu, kan? Barangkali, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki sedikit, ada yang harus diganti, ada yang harus dirubah atau bahkan musti dihancurkan dan membangun yang baru.

Aku mencoba melihat diriku, membandingkannya dengan diriku di tahun-tahun sebelumnya. Ada beberapa hal yang secara sadar aku benahi, ada yang secara tidak sadar berubah untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Seperti renovasi rumah, ada harga yang harus dibayar, ada waktu yang tidak sedikit, ada yang hilang, ada yang berubah, ada yang baru.

Atau barangkali, lebih baik rumah lama dijual dan beli rumah baru saja ya?

1.11.07

Tips Berkonsentrasi

Selama (terutama) 4 tahun terakhir, aku terbiasa bekerja dengan gaya kebut-kebutan, karena pekerjaan yang memang semua harus selesai secepatnya. Kerja 24 jam sudah biasa, tapi paling lama hanya sekitar 2 sampai 3 bulan dan kemudian berlibur (selama sebulan dua bulan juga, jangan sirik ya). Sekarang aku bekerja kantoran (lagi). Bertemu dengan beberapa pekerjaan rutin dan sering kali bertemu pekerjaan dengan target waktu yang tidak selalu mepet. Tidak jarang, aku sendiri yang buat target waktu itu. Catatan: kondisi ini sama sekali tidak berlaku dengan masa-masa laporan kuartal dimana semua "COB TODAY", seperti kata Dias. Bikin pusing kepala, deh.

Biar begitu, enak juga kalau pekerjaan itu sudah "deadline", mau tidak mau musti selesai sesegera mungkin. Bekerja jadi sangat fokus, dan pekerjaan lain bisa dikepinggirkan dengan alasan itu.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketKalau tenggat waktu masih jauh, dan ada beberapa pekerjaan dengan tingkat prioritas sebelas dua belas alias mirip-mirip, baru deh masalah bermunculan. Mana duluan yang mau dikerjakan? (Dulu aku gila jadwal dan ngotot banget bekerja sesuai jadwal, kesering dapat order dadakan membuat jadwal bisa dikesampingkan, deh) Walhasil, badan ada di kantor, duduk di meja kerja, mata menatap monitor komputer, tapi di layar yang terlihat malahan facebook. Hai, jangan ketawa, nanti ketularan, loh!

Kalau sudah kayak begitu, aku ingat beberapa tips dari Matthew Stibbe, terutama tulisan dia tentang cara berkonsentasi dalam menulis. Sebagian besar yang dia tulis, dan komentar terhadap artikel itu berguna sekali. Dari situ aku punya beberapa tips favorit dan ditambah dari pengalaman aku sekarang punya daftar beberapa hal yang bisa dilakukan supaya bisa lebih konsentrasi bekerja
  1. Datang sepagi mungkin ke kantor. Kalau jam kerja adalah jam 8, coba deh datang jam 7. Masih sepi, dan segar (di kantorku ditambah wangi lantai baru dipel). Cara ini cocok dengan pegawai kantor di Jakarta. Jalanan belum berubah jadi neraka jahanam yang menguras energi dan emosi. Kalau kerja di rumah, bisa bangun jam 5 pagi atau jam 6 pagi, tuh.
  2. Datang tidak dengan otak kosong. List pekerjaan sudah disusun di otak selama perjalanan ke kantor yang makan waktu 30 sampai 40 menit.
  3. Pakai metoda 15-5-3 yang aku dapat dari aspiring spirit. Kerja selama 15 menit tanpa interupsi, hadiahi diri sendiri dengan 5 menit break (biasanya aku pakai cek email, bloglines atau facebook), dan ulangi selama 3 kali. Dalam sejam, lumayan tuh ada 45 menit yang terpakai dengan baik. Ini cocok banget dengan aku yang fokusnya terlalu gampang berpindah *tersipu-sipu*. Bisa saja ini dirubah jadi 20 menit atau 30 menit ya.
  4. Tadi aku bilang, kalau break 5 menit aku pilih cek email, blogwalking atau facebook. Ini pilihan kegiatan yang sedikit ambisius memang. Lebih sering niat 5 menit berubah jadi 50 menit. Kalau aku sadar, aku lagi lemah niat, aku memilih 5 menit itu untuk melemaskan otot badan, jalan-jalan ke lantai bawah. Aku menghadiahi diriku dengan facebook di waktu makan siang atau setelah jam 5 sore nanti. Kadang, aku kasih sogokan untuk diri sendiri dengan email satu jam sebelum bekerja. Ini bisa dilakukan kalau aku datang jam 7. Syaratnya, di jam 8 aku sudah harus kembali bekerja.
  5. Beberes meja. Ini terbukti manjur. Terutama ketika konsentrasi betul-betul payah. Pada dasarnya, aku cukup rajin membereskan timbunan kertas, tapi tokh selalu ada ada saja kertas yang sudah tidak terpakai teronggok di atas meja atau bindex. Aku susun ulang kertas-kertas itu. Jangan ambisius membereskan kertas kalau tumpukan kertas itu setinggi satu meter. Bisa-bisa satu hari hanya membereskan kertas. Oya, pernah intip laci meja kerja? Coba lihat, ada berapa banyak sampah atau barang yang tidak pernah digunakan nongkrong disana.
  6. Membuat minuman penambah semangat. Tiap orang berbeda. Untuk aku, pagi hari paling manjur pakai kopi aroma. Kalau cuaca agak mendung, aku lebih memilih segelas hot chocolate, swissmiss pilihan utamaku. Teh (terutama mint) suka juga menemani aku, sayangnya teh mint kan jarang dijual dipasaran.
  7. Pergi berolahraga. Buat keringat sebanyak-banyaknya. Aku biasa memilih jam makan siang untuk kabur ke tempat fitness. Latihan kardio 40 menit biasanya malah membuat aku cespleng. Sehabis latihan, mandi air dingin. Ah, bayangkan jam 1 siang, tapi badan segar sehabis olahraga dan mandi. Siap tempur buat beresin pekerjaan deh.
  8. Kalau sudah mentok, mendingan sore-sore ketemu teman. Ini kegiatan paling menyenangkan yang tidak butuh alasan lagi mentok sama pekerjaan tetap sah dilakukan. Bisa sambil mengeluarkan sumpah serapah dari tempat kerja. Buat aku, ini cukup membuat aku berenergi untuk kembali ke kantor besok paginya, selama pulangnya tidak kemalaman. Tips ini bisa diganti dengan bermain dengan keponakan. Ah!
  9. Kalau masih mentok, cuti saja. Satu hari. Bisa dipakai berjalan-jalan, atau kalau aku bisa juga dipakai bekerja di Bandung. Ini resep personal yang manjur buat diri sendiri.
  10. Tips dari kamu deh. Punya cara favorit biar ada yang dihasilkan dari meja kerja dan bukan cuman menambah aplikasi di facebook?