29.10.07

Kebaktian di Pengkolan Kampung

Aku, baru saja menemukan sebuah tulisan yang ternyata sudah lama antri. Rasanya baru saja kemarin, tapi ternyata sudah 1,5 bulan yang lalu aku tulis. Untungnya, tulisan terakhirku tidak terlalu lama, kok, tapi memang tulisan itu gak penting banget ya.

Pertengahan september lalu, aku kembali mengunjungi Manado. Kali ini, aku memutuskan untuk menyepi. Menginap agak di luar pusat kota Manado, sekitar 1 jam perjalanan dengan mobil pribadi, karena kondisi jalan yang agak macet. Aku memilih Hotel Santika Resor. Foto-foto di website cukup menggoda, dan aku dapat tawaran harga yang lebih bikin menggoda. Sebagai pembenaran, aku pakai kondisi badan yang memang sedang sangat tidak sehat sebagai alasan untuk memilih akomodasi yang sedikit terlalu nyaman (Tidak sepenuhnya pas, karena aku harus bekerja diantara tamu lain yang jelas-jelas sedang menikmati libur, sebagian besar para penyelam, tanpa ada orang Indonesia lain).

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPerjalanan kali ini dilakukan di akhir pekan. Berarti, hari Sabtu dan Minggu aku harus bekerja (bertambah lagi alasan untuk memilih resor sebagai tempat menginap). Minggu, 16 September 2007, aku mengunjungi sebuah gereja kecil kurang lebih 500 meter dari Hotel Santika. Itu sama dengan sepuluh menit berjalan kaki dengan mempergunakan sendal dengan hak kurang lebih 3,5 sentimeter. Serius! Bukan siksaan, karena perjalanan itu menyenangkan sekali. Di kiri kanan ada rumah penduduk, dengan pagar bambu dan bunga-bunga ditanam disisi kiri dan kanan jalan. Aku tidak berjalan sendiri, karena ada beberapa orang yang berjalan kaki, dari pakaian dan buku tebal yang dibawa (Alkitab, sudah pasti), bisa aku tebak bahwa tujuan aku dan mereka sama.

Gereja itu kecil. Setidaknya dibandingkan dengan beberapa gereja yang sering aku datangi di Bandung, atau di Jakarta. Gedung gereja tengah dalam perbaikan. Batu bata merah yang masih telanjang menjadi dindingnya. Itupun sebagian masih bertopang pilar-pilar baja yang sudah ditutup semen. Kerangka untuk jendela di lantai dasar sudah ada, tetapi jendela belum terpasang. Di salah satu sudut, ada seng yang tampaknya diletakkan sebagai pengganti tembok sementara, sayang sekali, seng itu tampak begitu terlalu kecil dibandingkan dengan lubang yang menganga.

Kursi plastik berwarna putih menghiasi ¾ ruangan. Sisanya diisi oleh kursi kayu sederhana, beberapa dicat putih, sebagian dibiarkan berwarna asli kayu, coklat. Lantai semen sedikit berdebu. Tempat sampah. Tidak heran, masih ada anak-anak kecil yang ke gereja sambil makan jajanan mereka yang dibungkus plastik. Untuk jajanan, sama saja kok sama berbagai tempat di Indonesia. Sigh. Urusan yang satu ini, mau warung di pusat kota Bandung, sampai pedalaman Sulawesi, sama saja.

Tiga kotak persembahan diletakkan di ruangan. Pendidikan. Diakonia. Pembangunan. Mengingatkan aku dengan gereja di Banda Aceh, dan juga Rotterdam. Harus berdiri dan berjalan langsung ke depan kotak untuk memberikan persembahan. Seorang bapak pernah memberitahu aku, di sebuah gereja, kegiatan ini menjadi ajang bisik-bisik. Pakaian, atau cerita-cerita tidak penting tentang orang yang sedang berjalan memberi persembahan. Sedih, ya.

Sebuah spanduk terpangpang di mimbar. Rasanya itu spanduk dari pesan akhir tahun PGI. Soalnya itu spanduk yang cukup akrab. Aku melihat tulisan itu di Bandung."Berubahlah oleh pembaruan budimu". Berwarna ungu.

Tidak ada alat musik. Jemaat bernyanyi dipimpin oleh seorang perempuan. Ini dia yang betul-betul seru. Soalnya, untuk aku, terasa sangat aneh. Maklum, aku terbiasa mendengar intro dari piano atau organ sebelum menyanyi. Bagaimana cara tahu kunci yang harus dipakai untuk bernyanyi? Tidak bisa aku bayangkan kalau bisa ada 5 nada dasar, semua bernyanyi pada saat yang sama. Aduh! Bagaimana dengan ketukan? Tapi aku salah besar. Semua berjalan lancar. Aku malah mengagumi kemampuan jemaat bernyanyi dengan cepat, langsung tahu mau bernyanyi di nada apa. Tentu saja, cenderung lebih rendah daripada kalau pakai iringan alat musik. Aku ingat, satu waktu, di sebuah gereja di Bandung, pianis tidak masuk dan sampai setengah kebaktian, kami harus bernyanyi tanpa iringan musik. Mudah diduga, semua kacau balau. Jemaat bingung memulai nyanyian, padahal sudah ada pemimpin nyanyian, loh.

Masih urusan bernyanyi, ternyata sebagian besar jemaat mengandalkan ingatan untuk bisa bernyanyi. Beberapa memang punya buku nyanyian, barangkali harga buku seperti itu tidak murah, jadi lebih baik lagu-lagu itu dihafal saja. punya buku nyanyian atau menghafal. Itupun hanya dinyanyikan bait pertama dari tiap lagu. Untunglah mereka memakai Kidung Jemaat dan Nyanyian Kidung Baru, aku cukup bisa mengingat sebagian besar lagu-lagunya, tapi suara sember membuat aku tidak bisa bernyanyi.

Terus, sebelum dan sesudah kebaktian ada nyanyian kelompok. Ibu pendeta memanggil kolom-kolom tertentu. Aku menduga, kolom ini kelompok-kelompok kecil yang biasanya didasarkan pada tempat tinggal, untuk memudahkan persekutuan rumah tangga dilakukan. Cara mereka bernyanyi begitu sederhana. Mereka maju kedepan, memegang buku lagu, memilih lagu, dan bernyanyi bersama. Iya, seperti itu saja. Tidak ada pembagian suara. Tidak ada iringan musik. Tidak ada aransemen khusus. Seru!

Untungnya tidak ada "pemain tambahan" lain ikut bergabung di kelompok bernyanyi itu. Misalnya anjing. Bukan bermaksud menghina, tapi memang anjing-anjing sekitar bisa keluar masuk dengan santai ke dalam gereja. Aku cuman membayangkan, kalau mendadak anjing itu maju ke depan, dan malah menggonggong. Uh, bisa bubar jalan kebaktian itu.

Hanya saja, khotbahnya panjang sekali. Iya, panjang. Ibu pendeta hanya membacakan ulang catatan khotbahnya. Maaf ibu pendeta, tapi aku tidak sanggup berkonsentrasi mendengar isi khotbah. Bisa jadi, hanya aku saja yang berpikir seperti itu. Jemaat lain cukup serius mendengarkan ibu pendeta.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketSeusai kebaktian, setiap jemaat asik ngobrol dengan jemaat lain. Ya, semua orang tahu semua orang di gereja ini. Aku sudah pasti diidentifikasi sebagai orang baru disana. Berhubung aku ada janji, aku agak menghindar berbasa-basi dan bergegas kembali ke hotel. Cukup menyesal, ini kebiasaan bergereja di Bandung, begitu terburu-buru. Jemaat lain, menikmati hari Minggu mereka di gereja, tokh rumah hanya 5 menit berjalan kaki.

Barangkali ini rasanya punya tempat ibadah di “tiap pengkolan” dalam skala lingkungan. Kesederhanaan, kemudahan, dan kedekatan yang nyata aku rasakan. Kemewahan yang tidak pernah aku punya.

ps: aku tidak punya foto gereja itu, sebagai ganti, aku kasih foto suasana di sekitar Santika ya


5.10.07

Aku Manusia Aneh?

Mia mendorong aku menulis delapan hal yang aneh tentang aku. Sebetulnya, aku sudah pernah tulis lima diantaranya. Jadi, aku musti tambah tiga lagi, atau bikin delapan ya? Buat Mia, aku kasih delapan deh, mumpung bulan puasa (loh? emang ada hubungannya ya?)

  1. Aku malas balas sms, dan lebih suka langsung menelepon. Beberapa teman membuat aku jadi lebih terbiasa untuk ber-sms. Jadi, jangan heran dan jangan marah kalau sms yang dikirim lama direspon. Jangan marah juga kalau responnya hanya: OK.
  2. Tapi, aku sangat suka bertelepon. Kalau pulsa tidak harus bayar, barangkali aku akan menghabiskan sebagian besar waktuku hanya untuk bertelepon! Sekarang, aku sering bertelepon dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah. Menyetir atau tidak menyetir, kegiatan bertelepon tetap dilakukan.
  3. Kalau tidur, aku butuh selimut, setidaknya untuk menutup perutku. Tidak ada selimut, kain apapun jadi.
  4. Aku tidak suka pakai sandal. Di rumah, aku selalu bertelanjang kaki. Sepatu ditinggal di mobil, dan dari mobil ke rumah (juga sebaliknya dari rumah ke mobil) biasanya aku jalan tanpa sepatu. Di kantor, kalau lupa, kadang-kadang berjalan ke meja teman kerja tanpa alas kaki.
  5. Aku selalu bermimpi. Setiap hari. Karena itu, hal pertama yang aku pikirkan waktu bangun adalah,"tadi aku mimpi apa, ya?" Aku tidak bisa mengartikan mimpi, dan mimpiku sebagian besar dapat dipastikan adalah bunga tidur. Oya, ada yang bilang mimpi aku itu "lucid dream" karena aku bisa mengontrol mimpi aku. Kalau sudah bosan, aku tinggal bangun. Kalau dikejar orang, aku bisa terbang atau terkadang aku bisa berubah jadi orang ketiga. Gampang saja. Rasanya ini pernah aku menulis tentang ini, tapi malas mencari tulisan itu.
  6. Aku suka berjalan kaki. Tidak ada penjelasan. Aku hanya suka.
  7. Dalam kondisi normal, aku tidur terlentang, tanpa bantal, tanpa alas kepala. Kalau aku tidur pakai bantal, waktu bangun leherku suka sakit.
  8. Rambutku adalah salah satu hal yang paling sering berubah. Keriting sampai masuk sekolah dasar, lurus sempurna selama sekolah dasar, mengembang bergelombang selama SMP dan SMA, bergelombang di bagian depan ketika kuliah. Saat ini, rambut ini cukup bersahabat, bisa bergelombang atau lurus, sesuai kebutuhan.
Ah, Mia, tidak sesulit yang aku bayangkan. Lebih sulit cari waktu di tengah tagihan-tagihan dari boss *wink*. Sekarang musti cari 8 korban baru ya? Dinda, Dita, Kiki, Sahat, Bie, Geget,Hagi dan Silverlines (translation available..hehehe)

ps: ada dua tulisan terkait dengan tidur, itu sudah jadi pertanda tertentu tidak ya?