25.9.07

Bandung Banting Harga

Salah satu alias Kota Bandung adalah Parisj Van Java. Aku ingat, Paris adalah kota yang juga kerap macet, dan aku pikir yang "Paris" tentang Bandung saat ini hanyalah kemacetan. Selamat tinggal kejayaan Bandung yang mencapai puncak di tahun 1950-an. Tidak ada lagi udara sejuk, kenyamanan, dan keindahan yang menjadi wajah Bandung.

Bandung direncanakan untuk menjadi kawasan plesir. Tempat berlibur orang Belanda yang bekerja di perkebunan di seputaran Bandung. Hal itu menjelaskan jalan yang serba pendek dan banyaknya persimpangan di Kota Bandung. Sampai saat ini, Bandung masih menjadi menjadi pilihan berlibur bagi sebagian orang yang tinggal di sekitar Bandung, terutama dari Jakarta. Akhir pekan dipilih menjadi waktu terbaik menikmati Bandung.

Sayangnya, Bandung seperti toko banting harga untuk meraih pengunjung. Di toko yang sedang banting harga, pengunjung sering panik dan kuatir tidak memperoleh barang yang diinginkan. Mata harus awas mengincar barang idaman. Tidak ada kenyamanan dalam suasana belanja seperti itu.

Dan di Bandung, kenyamanan adalah hal terakhir yang diperoleh mereka yang ada di akhir pekan. Seperti suasana banting harga di pertokoan, Bandung hiruk pikuk dengan berbagai jenis manusia yang umumnya punya satu kesamaan. Haus belanja. Pakaian, makanan, tanaman, dan daftar yang masih terus berlanjut untuk berbagai barang yang bisa dibeli di Bandung.

Manusia berjubel datang mencoba mencicip sedikit Bandung yang tersisa, padahal sudah hampir tidak ada lagi yang tersisa. Bandung semakin penuh, sesak, macet, panas dan mahal!

Lihat Parisj Van Java di kawasan Sukajadi. Nama sebuah pusat perbelanjaan yang terinspirasi dari salah satu julukan Kota Bandung. Cobalah mengujungi PVJ - nama bekennya - pada akhir pekan. Kemacetan sudah menyapa bahkan sebelum masuk ke kawasan PVJ. Antrian untuk mencari tempat parkir pernah membuat aku hampir satu jam tertahan di dalam kendaraan. Maju tidak bisa, mundur pun tidak mungkin. PVJ di malam hari memang begitu memukau, dengan lampu-lampu yang berwarna-warni di seluruh kawasan. Makan malam di restoran yang berjejer menjadi pilihan banyak orang. Mau makanan Indonesia sampai Amerika, semua ada. Tidak sedikit datang sekedar untuk cuci mata. Maklum, pengunjung PVJ itu gaya habis. Aku sendiri sering merasa seperti sedang berada di sebuah runway, menyaksikan peragaan busana. Aku bisa mengetahui apa yang sedang "in" dalam soal pakaian disini, sayangnya beberapa orang betul-betul menjadi korban mode dan akhirnya menjadi korban tertawaan pengunjung lain.

Rasanya Parisj Van Java memang sedikit banyak mewakili Kota Bandung. Kemacetan tidak berhasil meruntuhkan keinginan sebagian besar orang untuk datang kesana. Daya tarik yang cukup kuat, membuat orang rela bersusah-sudah datang dan kemudian menghabiskan uang disana. Perlu diingat, bukan tidak mungkin, satu waktu daya tarik itu hilang. Kalah dengan daya tarik lain, atau sekedar pudar oleh waktu karena tidak mampu mempertahankan daya tarik tersebut.

Ada puluhan studi tentang Bandung, bertumpuk di kampus-kampus favorit yang bertebaran di Kota Bandung, tapi sedikit sekali yang terpakai dan berhasil dimanfaatkan oleh Kota Bandung. Ah, aku merindu Bandung yang lebih baik, yang bisa menjadi tempat tinggal dan tempat berkarya bagi penduduknya, dan bukan sekedar ada untuk melayani pengujung dan bahkan dilakukan dengan banting harga. Lebih baik tahan harga, dan menyortir pengunjung terbaik yang tahu menghargai kualitas.

Selamat Ulang Tahun Kota Bandung!

14.9.07

Menjadi Sahabat

Sahabat adalah salah satu hal terpenting dalam hidupku. Tidak heran, para sahabat sering menjadi inspirasiku dalam menulis.

Persahabatan yang tidak dihitung dari jumlah telepon atau sms yang diberikan perhari, dan juga bukan dari jumlah pertemuan dalam setahun. Persahabatan tidak bisa dibuat dalam hitung-hitungan apapun, karena dalam persahabatan, hati yang punya peranan, dan hati mengatakan apapun yang dia mau.

Berat rasanya, aku kembali harus melepas dua sahabat terbaikku di tahun ini. Bukan putus persahabatan, tetapi karena mereka berdua akan berada beberapa ribu kilometer dari tempat aku berada saat ini. Butuh beberapa juta rupiah untuk bisa menemui mereka setidaknya selama beberapa tahun ke depan. Tidak mudah, walaupun teknologi memungkinkan komunikasi bisa berlangsung dengan lebih mudah ketimbang beberapa tahun lalu.

Aku bersyukur, atas sahabat-sahabat baru yang hadir dalam hidupku. Sahabat memang urusan hati. Sahabat tidak bisa dipaksakan, tidak bisa sengaja dicari, atau sengaja dibuat, sahabat akan menjadi sahabat, tanpa alasan.

Untuk kalian sahabat-sahabatku, aku sayang kalian semua, dan terimakasih sudah menjadi bagian dalam hidup aku (termasuk kamu-kamu yang tidak pernah terlihat disini, tapi justru menjadi sahabat-sahabat terbaikku beberapa bulan kebelakang ini).

Ini sebagian (kecil) tulisan tentang (sebagian) sahabatku :

Sahabat
Teman-Teman
Sahabat (bagian 1)
Sahabat (bagian 2)
Teman Malang
Biar Lambat Asal Bertambat
Muka Baru Teman Lama