24.8.07

Biang Sayang

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketTanpa disengaja, aku menemukan foto ini di PC kantor. Sepertinya terselip sewaktu aku memindahkan beberapa foto dari kamera. Disitu tertulis tanggal pengambilan foto. Tanggal 19 Maret 2007. Kurang dari enam bulan lalu.

Enam tahun yang lalu, di 2001, Biang hadir dalam keluarga kami. Biang adalah hadiah ulang tahun bagi Kris, adikku. Saat itu, kami sudah memiliki dua anjing lain, Belo dan Coco. Biang menjadi anjing terkecil di rumah. Bahkan bertahun-tahun kemudian, dia tetap menjadi anjing terkecil. Biang jenis anjing cihuahua.

Biang berarti anjing dalam Bahasa Batak.

Biang sangat pemilih dalam hal makan. Maunya makanan enak dan terutama mahal. Sekali waktu, ada dua jenis bagelan. Satu bagelan murah, satu lagi bagelan terkenal di Bandung dengan harga yang lebih mahal. Biang memilih bagelan kedua. Ini bukan yang pertama kali.

Biang tidak suka dimandikan. Untungnya, dia kecil. Jadi, mudah saja memandikan dia, walaupun ini berarti yang memandikan harus siap basah kuyup. Tidak apa-apa. Biasanya setelah mandi, dikeringkan dan dijemur di bawah sinar matahari, Biang akan tidur dengan pulas.

Urusan tidur, dia paling suka tidur denganku. Biasanya, dia akan memilih tidur di ujung kakiku. Kalau sedang manja, dia akan mencoba mendekatiku, dan tidur di dekat pinggang aku. Biasanya, tidak lama akan aku pindahkan kembali ke ujung tempat tidur. Lokasi favorit dia, selimut dan bantal. Tokh, aku tidak mempergunakan bantal untuk tidur, jadi bantal itu lebih sering jadi alas tidur Biang ketimbang alas kepalaku.

Mengajak Biang berjalan-jalan adalah perjuangan tersendiri. Biang sepertinya memang punya kebencian luar biasa terhadap kucing. Sepertinya sih karena waktu kecil, dia pernah diserang kucing, dan tidak berhasil melawan. Jadi, kalau waktu jalan-jalan ada kucing lewat, itu adalah malapetaka. Biang akan mengaing-ngaing. Keras. Menyayat hati. Sulit dikontrol. Tiba-tiba dia punya energi 100 kali lipat. Kalau dipelukpun, orang-orang akan mulai melotot ke aku, seakan-akan aku baru saja menyiksa sebuah anjing kecil tidak berdaya di pelukanku. Ah, seandainya mereka tahu!

Biang anjing manja yang tahu pasti bagaimana memperoleh perhatian yang dia inginkan. Seperti ketika salah satu anggota keluargaku marah dengan kelakuannya, dan mengeluarkan Biang dari luar, ditempatkan di halaman belakang, terkadang bahkan di "rumah besi". Biang akan mengaing-ngaing. Suaranya akan lebih keras, ketika melihat aku lewat. Biang punya pengetahuan yang lebih dari cukup, bahwa aku tidak akan tega membiarkan dia ada di luar. Biang betul. Aku akan sembunyi-sembunyi membawa dia ke kamarku.

Biang selalu menyambutku setiap aku pulang. Apalagi kalau aku baru pulang dari luar kota, dan pergi beberapa hari, minggu atau bulan. Tidak ada perasaan yang lebih menyenangkan daripada bermain bersama Biang setiba di rumah.

Satu kali, aku pulang terlalu malam. Tepatnya, subuh. Aku tidak membawa kunci pagar. Semua sudah tidur. Suara bel dan dering telepon tidak cukup untuk membuat orang rumah terbangun. Biang yang kemudian membangunkan semua orang. Dari luar, aku mendengar Biang menggonggong. Keras sekali. Tidak berhenti, selama lebih dari 30 menit. Suaranya terdengar bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Aku yakin, di dalam dia berlari-lari dari pintu ke pintu, dengan gonggongannya, membangunkan adik-adikku. Biang baru berhenti setelah ada yang bangun dan membukakan pintu untukku. Anjing lainnya, semua tertidur.

Beberapa bulan lalu, aku mendapati Biang tidak menyambutku. Aku heran, tapi tidak mencari lebih tahu. Biang, lebih sering berada di kerangkengnya sejak aku berada di Jakarta. Di kamarku, melalui jendela, aku memanggil Biang. Ia tidak menyahut. Aku terdiam. Aku mengingat mimpiku beberapa hari sebelumnya. Tanpa ada yang berkata apapun, aku tahu, Biang sudah mati. Ia sempat sakit sebelum mati, tanpa ada yang sempat merawatnya. Biang menjadi anjing ketujuh yang hilang dari hidup aku dan keluarga, dalam satu tahun terakhir. Biang menjadi yang terakhir bertahan dari penyakit aneh yang menjangkiti beberapa anjing lainnya. Serangan penyakit yang sama, untuk kedua kali, tidak mampu dia tahan.

Melihat fotonya, sore kemarin di kantor, membuat aku rindu Biang.

Dicari: 7 Anjing Pendamping