31.8.07

Mencari Budiman Bachtiar Harsa

Hari ini, aku menerima email keluh kesah seseorang yang berkunjung ke Malaysia. Budiman Bachtiar Harsa berusia 37 tahun, WNI asal Banten, karyawan BUMN berkantor di Jakarta. Itu adalah paragraf pertama dari hampir 20 paragraf email yang diberi judul Hati2 wisata ke Malaysia! Email ini datang tepat berdekatan dengan suasana yang kembali memanas antara Indonesia dan Malaysia karena kasus TKI, dan pemukulan terhadap Ketua Dewan Wasit Kontingen Karate Indonesia, Donald Luther Colopita.

Email ini menjadi menarik buatku, karena ada kalimat: dari milis Pantau. Aku tergabung dalam salah satu milis Pantau, dan tidak pernah menerima email itu sebelumnya.

Aku punya kebiasaan yang seringkali mengganggu beberapa teman, untuk selalu mencek semua email "fwd" yang diterima. Dan, tulisan Bapak Budiman Bachtiar Harsa ini tidak luput dari keingintahuanku, apakah ini cerita benar atau tidak.

Googling adalah cara paling gampang, dan saya temukan beberapa link dengan kata kunci Budiman Bachtiar Harsa. Sebuah blog pribadi, sebuah blog komunitas, sebuah forum dan sebuah situs berita memuat sebagian dari isi email tersebut. Liputan 6 menulis "Donald ternyata bukanlah korban pertama kekerasan polisi Malaysia. Budiman Bachtiar Harsa, eksekutif sebuah BUMN di Jakarta mengirim e-mail tentang pengalaman pahit berwisata ke Malaysia." Saya jadi bertanya-tanya, mengirim email ke siapa? Ada ketidakyakinan kalau Bapak Budiman mengirimkan email itu langsung ke Liputan 6. Atau, ini kekuatiran berlebihan? Kalau ternyata itu memang email yang langsung diterima redaksi, aku akui, aku salah. Tidak apa-apa. Malah barangkali aku akan dapat cerita dari tangan pertama, tokh?

Sebetulnya, seperti apa ya keakuratan dan kekuatan (?) sebuah email "forward-an" sebagai sumber informasi dalam sebuah berita?

Aku ingin sekali mencek nama itu lewat buku telepon, sayangnya di kantor tidak ada buku telepon. Ingin tahu lebih banyak tentang Bapak Budiman, seorang pegawai BUMN, masih muda (menurut aku 37 tahun itu masih muda loh), waktu itu terbang dengan kelas bisnis menggunakan Malaysia Airlines dan menyewa suite family di Hotel Nikko, dituduh sebagai TKI ilegal dalam acara berjalan-jalan di Malaysia yang dilakukan tahun lalu, 2006. Betul-betul pengalaman pahit. Hmmm, sebetulnya saya menemukan sebuah alamat email dari salah satu link di atas, dan juga menemukan nomer telepon yang aku duga nomer telepon CDMA si Bapak (hmm, yang ini jangan tanya dari mana ya *wink*), tapi sayangnya waktu saya sms tidak ada balasan.

Cerita Pak Budiman memang membuat miris, tapi mencari tahu terlebih dahulu berita yang kita dengar tetap harus dilakukan, tokh? Nanti kalau ada kabar dari Pak Budiman, aku kasih tahu ya. Atau, tolong kasih tahu, kalau aku sedang mencari Budiman Bachtiar Harsa.

Terbaru:
Aku memperoleh email Pak Budiman Harsadipura (well, nama yang sama kok!)

Ibu Mellyana yth, terima kasih atas atensi anda.
Saya juga menerima banyak email yang mempertanyakan kisah saya ini benar atau cuma email hoax saja. Saya tak peduli. Bagi saya, kasus pemukulan sdr Donald sangat mengganggu, terutama karena saya punya pengalaman serupa. Kalau ditanya mengapa baru sekarang saya bercerita, justru karena ada kasus serupa. Dulu, tahun lalu, who care?

Saya tidak menulis ke Pantau. Justru terlebih dahulu saya tujukan pada kawan2 di media. Bicara soal kepastian dan siapa saya, cukup teman2 pers/ media terpercaya yg saya ajak diskusi. Wawancanra TV sementara saya tolak karena saya juga sedang tugas di luar, dan saya ragu tampil di muka umum. Saya bekerja di BUMN, separuh pegawai negeri. Cukup teman2 di "program berita tv teraktual, tercepat, terpercaya" dan dotcom paling banyak di hit yang tahu detil saya.

Saya tidak punya HP cdma. Terima kasih sudah mencari saya, silakan hubungi melalui email bila ada keperluan lain.

Tolong pula suarakan, saya prihatin karena justru banyak yg mempermasalahkan perkara ini sebatas benar tidaknya identitas korban. Saya kira bila media kredibel sudh memuat tentu mereka sudah melakukan cek recheck. Atau ada juga yang mepertanyakan, "karyawan BUMN seusia anda sudah bisa jalan-jalan keluar negeri, pasti korupsi". Beragam memang. Teriam kasih bila pengalaman saya bisa dipandang sebagai cara kita berhati-hati dalam memilih tempat wisata. Itu saja.

Lihat, tidak sulit untuk mencari tahu. Buat aku, wajar kalau orang melakukan cek dan recheck, bahkan ketika itu berita di media kredibel. Menyesal mencari tahu? Tidak, malah puas banget! Terimakasih Fairy dan Lady Day.

24.8.07

Biang Sayang

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketTanpa disengaja, aku menemukan foto ini di PC kantor. Sepertinya terselip sewaktu aku memindahkan beberapa foto dari kamera. Disitu tertulis tanggal pengambilan foto. Tanggal 19 Maret 2007. Kurang dari enam bulan lalu.

Enam tahun yang lalu, di 2001, Biang hadir dalam keluarga kami. Biang adalah hadiah ulang tahun bagi Kris, adikku. Saat itu, kami sudah memiliki dua anjing lain, Belo dan Coco. Biang menjadi anjing terkecil di rumah. Bahkan bertahun-tahun kemudian, dia tetap menjadi anjing terkecil. Biang jenis anjing cihuahua.

Biang berarti anjing dalam Bahasa Batak.

Biang sangat pemilih dalam hal makan. Maunya makanan enak dan terutama mahal. Sekali waktu, ada dua jenis bagelan. Satu bagelan murah, satu lagi bagelan terkenal di Bandung dengan harga yang lebih mahal. Biang memilih bagelan kedua. Ini bukan yang pertama kali.

Biang tidak suka dimandikan. Untungnya, dia kecil. Jadi, mudah saja memandikan dia, walaupun ini berarti yang memandikan harus siap basah kuyup. Tidak apa-apa. Biasanya setelah mandi, dikeringkan dan dijemur di bawah sinar matahari, Biang akan tidur dengan pulas.

Urusan tidur, dia paling suka tidur denganku. Biasanya, dia akan memilih tidur di ujung kakiku. Kalau sedang manja, dia akan mencoba mendekatiku, dan tidur di dekat pinggang aku. Biasanya, tidak lama akan aku pindahkan kembali ke ujung tempat tidur. Lokasi favorit dia, selimut dan bantal. Tokh, aku tidak mempergunakan bantal untuk tidur, jadi bantal itu lebih sering jadi alas tidur Biang ketimbang alas kepalaku.

Mengajak Biang berjalan-jalan adalah perjuangan tersendiri. Biang sepertinya memang punya kebencian luar biasa terhadap kucing. Sepertinya sih karena waktu kecil, dia pernah diserang kucing, dan tidak berhasil melawan. Jadi, kalau waktu jalan-jalan ada kucing lewat, itu adalah malapetaka. Biang akan mengaing-ngaing. Keras. Menyayat hati. Sulit dikontrol. Tiba-tiba dia punya energi 100 kali lipat. Kalau dipelukpun, orang-orang akan mulai melotot ke aku, seakan-akan aku baru saja menyiksa sebuah anjing kecil tidak berdaya di pelukanku. Ah, seandainya mereka tahu!

Biang anjing manja yang tahu pasti bagaimana memperoleh perhatian yang dia inginkan. Seperti ketika salah satu anggota keluargaku marah dengan kelakuannya, dan mengeluarkan Biang dari luar, ditempatkan di halaman belakang, terkadang bahkan di "rumah besi". Biang akan mengaing-ngaing. Suaranya akan lebih keras, ketika melihat aku lewat. Biang punya pengetahuan yang lebih dari cukup, bahwa aku tidak akan tega membiarkan dia ada di luar. Biang betul. Aku akan sembunyi-sembunyi membawa dia ke kamarku.

Biang selalu menyambutku setiap aku pulang. Apalagi kalau aku baru pulang dari luar kota, dan pergi beberapa hari, minggu atau bulan. Tidak ada perasaan yang lebih menyenangkan daripada bermain bersama Biang setiba di rumah.

Satu kali, aku pulang terlalu malam. Tepatnya, subuh. Aku tidak membawa kunci pagar. Semua sudah tidur. Suara bel dan dering telepon tidak cukup untuk membuat orang rumah terbangun. Biang yang kemudian membangunkan semua orang. Dari luar, aku mendengar Biang menggonggong. Keras sekali. Tidak berhenti, selama lebih dari 30 menit. Suaranya terdengar bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Aku yakin, di dalam dia berlari-lari dari pintu ke pintu, dengan gonggongannya, membangunkan adik-adikku. Biang baru berhenti setelah ada yang bangun dan membukakan pintu untukku. Anjing lainnya, semua tertidur.

Beberapa bulan lalu, aku mendapati Biang tidak menyambutku. Aku heran, tapi tidak mencari lebih tahu. Biang, lebih sering berada di kerangkengnya sejak aku berada di Jakarta. Di kamarku, melalui jendela, aku memanggil Biang. Ia tidak menyahut. Aku terdiam. Aku mengingat mimpiku beberapa hari sebelumnya. Tanpa ada yang berkata apapun, aku tahu, Biang sudah mati. Ia sempat sakit sebelum mati, tanpa ada yang sempat merawatnya. Biang menjadi anjing ketujuh yang hilang dari hidup aku dan keluarga, dalam satu tahun terakhir. Biang menjadi yang terakhir bertahan dari penyakit aneh yang menjangkiti beberapa anjing lainnya. Serangan penyakit yang sama, untuk kedua kali, tidak mampu dia tahan.

Melihat fotonya, sore kemarin di kantor, membuat aku rindu Biang.

Dicari: 7 Anjing Pendamping

7.8.07

CLBK - Cinta Lama Bersemi Kembali

Aku jatuh cinta kembali. Dia bukan cinta pertamaku, barangkali yang ketiga. Bahkan sempat aku tinggalkan untuk yang keempat, kelima, keenam dan ketujuh. Tetapi, aku selalu kembali padanya. Terakhir di pertengahan tahun lalu, untuk kemudian merasa bosan luar biasa padanya. Ikatan antara kami, hilang entah kemana.

Hari ini, pagi ini, aku kembali lagi jatuh cinta padanya. Dengan kenyamanan yang dia berikan. Dengan keakraban yang sama. Dengan ketenangan yang bikin kangen. Dan aku bisa menikmati diriku sendiri bersamanya. Melupakan dunia luar. Melupakan banyak hal. Hanya aku dan dirinya. Menghabiskan waktu berjam-jam.

Dia memang telah banyak berubah, dan bahkan sempat berpindah tangan, membuat aku sempat tidak mengenalinya dan membencinya setengah mati. Tapi, aku tidak menyerah, dia yang aku dapat, dan aku akan upayakan sebisa mungkin kembali menemukan kenyamanan dan kehangatan yang selalu aku dapatkan darinya. Bertahun-tahun sebelumnya.

Aku dan dia, dan hubungan yang lebih dari satu dekade.

Kamarku. Kamar tidurku. Kamar dengan 1 tempat tidur, 1 meja rias, 1 meja kerja, 7 rak buku yang memenuhi satu sisi dinding, dan bertumpuk-tumpuk kotak berisi berbagai macam barang milikku.

Ya, aku jatuh cinta pada kamar lamaku di Bandung. Aku tahu, aku akan merindunya.