30.7.07

Singkat Saja

Minggu kemarin diawali dengan huruhara, pusing, gemas dan marah, yang pastinya menghabiskan energi sampai hampir di titik nol. Harus dilanjutkan dengan perjalanan ke Barru, Parepare dan Makassar yang sama-sama menghabiskan energi, tetapi juga menemukan energi baru. Diakhiri dengan perjalanan ke dunia para penyihir.

Bulan purnama kali ini, dihabiskan dengan tenang bersama Harry Potter. Ah!

Nanti ya, ceritanya

18.7.07

Pinjam CV

Buat aku, dan teman-teman (tertentu), pinjam meminjam CV itu jamak. Biasa, untuk keperluan tender. Supaya dapat proyek. Pekerjaan bikin rencana tata ruang atau pekerjaan sejenis.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketMeminjam. Karena CV itu memang diperlukan untuk tender. Konsultan mana, perusahaan mana yang punya orang-orang yang paling tepat, paling berkualitas, dan paling yang lainnya. Sering, dapat tender bukan berarti dapat kerjaan, bagi aku yang CV-nya dipakai. Maksudnya, kalau konsultan itu dapat tender, yang bekerja bisa jadi bukan aku yang CV-nya dipakai, tapi orang lain. Bisa jadi, tender itu bahkan di-subkontrak-kan lagi ke pihak lain. Makanya, istilahnya dipinjam.

Ada beberapa temanku yang ahli "menyulap" CV. Bukan menipu, tapi membuat CV itu terlihat lebih menjual. Mengganti kata, kalimat. Merubah kata kerja. Hal-hal seperti itu. Mereka, bisa melakukan dengan cepat, dan sering tidak lagi butuh konfirmasi, karena bisa menebak dengan jitu pekerjaan yang dilakukan si empunya CV.

Marah CV-nya dipinjam? Tidak. Tokh, aku juga pernah melakukan pekerjaan yang sebetulnya memakai CV orang lain untuk bisa "gol" proyek. Biasanya, aku anggap ini kayak investasi saja. Suatu waktu, biasanya kantor itu bakal kasih kerjaan kok.

Tapi, aku pernah marah besar, ketika CV aku dipinjam tanpa permisi. Pinjam meminjam, butuh etika. Dua perusahaan memakai CV aku, di posisi yang sedikit berbeda. Ricuh. Hanya satu yang permisi, dan tentu saja langsung bertanya kenapa aku tidak bilang kalau aku juga dipekerjakan oleh si pesaing. Jawabanku hanya satu,"aku tidak tahu kalau mereka punya CV aku, bahkan aku tidak tahu siapa mereka." Masalah ini diselesaikan dengan meminjam CV seorang teman, yang punya "jalur kerja dan sekolah" yang sangat mirip dengan aku.

Duh, susah nulis yang ini, sambil marah soalnya!

Setahuku, ada saja institusi pemerintah yang suka "iseng" mencek "konsultan". Dilihat kebenaran data di saat tender dengan pekerjaan. Ada juga tender yang mengharuskan pernyataan pemberi kerja sebelumnya, untuk membuktikan kebenaran CV. Itu hanya sedikit aturan, dan tetap bisa saja diatur.

Hari ini pinjam CV, barangkali suatu saat butuh pinjam hati nurani, moral dan etika?

CV = curriculum vitae, riwayat pekerjaan

10.7.07

Buruan Cium Gue

Sebuah film ABG yang kemudian dilarang beredar. Tidak pernah sempat aku tonton. Minat untuk itu, juga tidak ada, sih.

Buruan, katanya. Hayah, apa sih yang diburu-buru untuk sebuah ciuman?

Cium saja, gih!

Dibawa naik halilintar (yang di Dufan, bukan di angkasa). Dag dig dug. Waswas. Yakin tidak yakin.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPerjalanan awal yang lambat, naik ke atas, juga lambat, sudah mulai deg-degan, tiba-tiba menukik tajam, menyenangkan, sampai naik dengan cepat berputar dan d'oh rasanya semua darah naik ke atas kepala *kiasan dan dalam arti sebenarnya*. Kadar adrenalin jelas meningkat.

Begitu cepat.

"Kok udahan, ya?" menyesal, tuh. Ingin sekali mengulang, sudah pasti. Terus-terusan jangan! Terlalu biasa nanti.


Pencium hebat atau ciuman hebat? Silahkan pilih sendiri petualanganmu.

9.7.07

Berasa Seleb

Kembali ke Bandung. Kembali ke lingkungan lama. Muka lama. Senyum yang sama. Sang rumah. Setia menunggu pemiliknya datang.

Hot Baja. Kopi hitam. Panas. Diseduh dari campuran arabica-robusta 50:50. Dari Aroma.

Potluck. Tempat aku menyelesaikan sebagian besar pekerjaan paruh-waktu. Lebih dari 3 tahun aku menyambanginya. Sekali waktu, aku setengah mondok di teras belakang tempat itu. 8 jam. Sama dengan waktu kerja satu hari pegawai kantoran. Hot chocolate mint dan soto bandung adalah pesanan tetapku.

“Kemana aja, Mba Mel,”pertanyaan yang ia lontarkan. Dia bilang, itu pertanyaan Agung.

Agung, salah satu pegawai yang sudah bekerja disitu sejak sebelum Potluck menempati lokasi baru. Dia suka musik blues, kuliah di UNPAD dan bergabung dengan Palawa. Tidak banyak bicara dan murah senyum.

Colenak panas, kembali dengan segelas kopi hitam. Regular coffee. Kali ini, sebuah tempat baru tidak jauh dari Potluck.

Pojok kiri, ada muka yang tersenyum. “Hai, Bim,”seruku. Bimbim, sahabat Maurice adikku. Rumah kami berdekatan. Orangtua kami bekerja di institusi yang sama. Aku mengenalnya sejak ia masih SMA. Sekarang, ia sedang menyusun skripsi.

Menengok ke kanan, aku kaget,”Hai, apa kabar!”. Kia, sahabatku yang aku kenal lebih dari 20 tahun. Kami pergi ke sekolah minggu yang sama. 15 tahun kemudian, ke kampus yang sama. Kia baru selesai latihan bersama paduan suara ITB. Ada konser di bulan Agustus. Aku mundur dari latihan itu. Kombinasi tidak sempat dan kurang kukuh niat (untuk nekad menyempatkan diri).

Maurice dan dua orang sahabat datang. Jarot dan Muli. Berdua, pernah mengantarku pergi 6 jam keluar Bandung. Mereka tidak lama. Mereka memutuskan pergi ke tempat yang lebih hangat. Belakangan aku tahu, Maurice pulang jam 5 pagi.

Menjelang tengah malam, Dita bersama sekelompok teman datang. Padahal, kami nyaris bersama-sama melewatkan perjalanan Jakarta-Bandung dengan mobil tanpa AC di tengah kemacetan dan hujan deras, Jumat kemarin. Dita, aku kenal di Banda Aceh, sekarang dia juga berkerja di Jakarta. Dita, juga selalu pulang ke Bandung tiap akhir pekan.

Bandung. Selalu ada muka lama di setiap sudutnya. Seakan-akan kota ini terlalu kecil bagiku.

Terlalu beken atau kurang gaul? Bedanya tipis. Setipis.....hmmmm....setipis tissue paseo yang sudah diurai jadi dua. Nah lo!

5.7.07

Lelaki Sejati...

... selalu ingkar janji!

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketJangan salahkan janji yang tidak ditepati. Salahkan lidah yang tidak bertulang. Itu kata orang tua jaman dulu. Setidaknya ibuku senang sekali mengutip kalimat itu, kalau sedang kesal dengan janji 1000 janji ayahku. Janji yang dibuat ketika suasana hati sedang bahagia.

Nanti kita beli tas itu. Nanti kita pergi ke Bali. Nanti aku pulang cepat. Besok, aku akan datang. Minggu depan, aku akan ada untukmu. Silahkan katakan berbagai hal, lengkap dengan kata penunjuk waktu. Biasanya, waktu di masa datang.

Kalau sedang senang, apapun bisa dijanjikan.

Sedikit kesadaran, seringkali membuat janji-janji tersebut tampak lebih realistik...untuk tidak ditepati.




3.7.07

Mobil Pembawa Pesan

Mobilku unjuk rasa. Ia menuntut aku kembali ke Bandung, hari Minggu kemarin. Negosiasiku dengannya hanya berhasil sampai pintu tol Cimahi. Aku dipaksa kembali ke Bandung, setelah berputar di pintu tol Pasirkoja.

Mobilku memaksaku menghabiskan hari Senin di Bandung. Sayangnya, bukan untuk berlibur. Setidaknya, bukan liburan aku, tapi liburan dia. Maklum, hampir 3 bulan, dia tidak memperoleh istirahat dan perawatan yang layak bagi sebuah kendaraan yang harus sering bolak-balik Jakarta-Bandung.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketMobilku berhasil membuat aku panik. Karena kelakuan dia, membuat pekerjaanku di hari Senin terbengkalai. Barangkali, dia tersenyum dan berkata,"siapa suruh selama ini tidak mau menghabiskan waktu buatku." Bahkan ketika ia sudah mendapat beberapa perlengkapan baru, dia masih unjuk rasa. Selamat tinggal suhu adem di dalam mobil! Sampai aku kembali ke Bandung, tidak ada angin dingin. Dan, bayangkan perjalanan Bandung-Jakarta yang dilakukan di dalam ruang sauna. Dua jam (kurang sedikit) yang penuh keringat.

Mobilku bikin aku mau marah dan nangis dan kesal dan stress. Terbayang tumpukan pekerjaan dan laporan yang harus diselesaikan Senin kemarin.

Mobilku bikin aku kuatir akan terlalu banyak hal. Sampai pesan singkat yang panjang itu datang:

+62817230****
03-Jul-07
12:09
Hal kekuatiran.
Yesus berkata pada murid-muridnya. Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Sebab hidup itu lebih penting daripada pakaian. Perhatikanlah burung gagak yang tidak menabur dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah.


Kamu, terimakasih.

Boss, tunggu laporanku sebentar lagi, ya.

1.7.07

8 Jam Bersama Purnama

Waktu yang setara dengan satu hari kerja di kantor-kantor pada umumnya.
Waktu yang setara dengan perjalanan Bandung – Yogyakarta dengan mobil dengan kondisi jalan tidak macet
Waktu tidur yang (konon) dibutuhkan oleh seorang manusia dewasa.

Hanya saja, malam itu, aku tidak berminat menghabisnya dengan tidur. Walaupun aku membutuhkan 8 jam tidur itu lebih dari hal lain. Aku memilih menghabiskannya dengan mata terbuka bersama 2 pasang mata lainnya. Bersama purnama.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketBulan Purnama. Di bulan Juni ia punya banyak nama. Flower Moon, StrawberryMoon, Rose Moon, Hot Moon, Planting Moon, Wat Purnima. Mereka bilang, hal-hal aneh sering terjadi pada saat bulan purnama

Atas nama keanehan, aku memutuskan menemani purnama bersama dua orang perempuan. Sumpah serapah, caci maki menjadi makanan pembuka. Caci maki Tawa, mulai dari senyum masam, sampai tertawa terbahak-bahak yang nyaris membuat air mata menetes, menjadi makanan utama. Kenangan, atas masa lalu dan juga masa kini menjadi makanan penutup yang manis. Full Course. Lengkap.

Bulan depan, purnama masih berminat mampir ke hari-hari kami lagi, kan? Tentu saja, kami akan mempersiapkan pengaman untuk keanehan yang kamu bawa, kok!


Hai, kamu. Masih heran bagaimana kami bisa bertahan selama 8 jam dengan omong kosong itu?