8.6.07

Maurice

Kemarin, 7 Juni, adalah hari ulang tahun Maurice, adikku nomor 4.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketDia ini, dari kecil sudah tahu dan ngerti uang. Aku masih ingat waktu Moy, nama panggilan dari aku, mau beli mainan dari serbuk magnet yang bisa disusun untuk membentuk wajah. Harganya kalau tidak salah 4 ribu rupiah. Besar loh, karena waktu itu belum lagi tahun 1990. Papi bilang, dia tidak punya uang, jawaban Maurice, "dikredit saja, Pi, bisa kok, kalau sekarang ada 1000 bulan depan bisa bayar lagi sisanya."

Rasanya dia belum lagi 7 tahun waktu itu.

Menurut banyak orang dia punya muka cakep. Tidak heran banyak yang suka titip salam, tapi sedikit yang bisa bertahan lama. Tapi, psst, yang titip salam tidak cuman perempuan, dan ini suka bikin dia sewot.

Jangan pernah kasih sesuatu yang dia tidak suka, lebih baik tanyakan saja langsung dia mau apa. Maurice gak sungkan untuk bilang,"gak suka," dan betul-betul tidak akan memakai barang itu, loh! Sejak itu, aku memilih selalu bertanya apa mau dia. Walhasil, pernah satu hari, aku sampai mau putus kaki rasanya, ngubek-ngubek Rotterdam untuk mencari stik drum untuk jazz yang dia ingin dengan merk yang sudah dia minta.

Maurice tidak secara spesifik gila jazz, tidak seperti kecintaannya bermain drum, tapi kami berdua pernah menghabiskan beberapa hari berseliweran di java jazz festival. Berdua kami menginap di hotel, terus pulang nyaris pagi hari dengan kelelahan tapi kenikmatan tingkat tinggi. Waktu itu, kami berdua masih tinggal di Bandung.

Setelah kami berdua lebih banyak tinggal di Jakarta, kami berbagi kamar tidur, dan juga kendaraan, walaupun aku tetap memegang kendali (tentunya!). Hanya saja, masalah dia untuk bisa bangun pagi, sering membuat aku mengomel sepagian hanya menunggu dia bangun (weker sih jam 6 pagi, tapi bangun bisa 2 jam kemudian), terus ritual kamar mandi yang bisa sampai 30 menit. Waktu kantor berada di salah satu lantai di BEJ, dia lebih sering pulang larut malam. Bagus juga, aku bisa fitness dulu baru kemudian kita janjian bertemu di Blora. Lebih sering aku jemput dia, sih.

Dalam banyak hal, kami mirip. Dia sangat rapi, dan tidak mau memakai apapun yang sedikit cacat. Awalnya dia tidak suka minum kopi, tapi teracuni virus kopi aroma dari aku. Kalau aku nongkrong seorang diri di Potluck, biasanya untuk bekerja, dia dan teman-temannya akan menemani aku. Hmmm, sebetulnya tidak tepat dibilang "menemani", karena walaupun mereka duduk di meja sebelah aku, tujuan utama hanya 1, meminta aku membayari minuman mereka. Maklum, waktu itu, dia masih anak kuliah. Sekarang sih berbeda, dia gak segan untuk mengeluarkan duit mentraktir kakaknya ini.

Perbedaan utama kami ada di penghargaan terhadap waktu. Dia selalu terlambat. Sangat terlambat. Terjemahan dari,"iya, gue jemput sekarang," berarti satu jam lagi dia akan berangkat menjemput. Bayangkan kalau dia bilang,"iya, iya, gue jemput bentaran lagi, lah!"

Sekarang, dia tengah berada di Bali. Ini perjalanan seorang diri dia yang pertama. Maurice berulang tahun kemarin, tanggal 7 Juni. Dia memutuskan menghabiskan hari itu seorang diri di Bali.


Selamat ulang tahun, Moy! I miss you. Buruan balik dan jangan lupa oleh-oleh yang aku minta.