19.6.07

Lika Liku Luka

Kakiku kembali biru-biru. Lebam. Sekilas, seperti baru dibabuk orang. Biasanya, kalau kecapekan, pasti deh biru-biru itu keluar. Pssst, ada yang bilang itu berarti dicubit setan. Doh'. Setan suka banget ama aku ya? Aku sih lebih suka manusia dalam wujud laki-laki (yang suka aku, lebih disukai)!

Untungnya biru-biru ini bisa hilang dengan mudah. Tidak seperti luka. Kalau kulitku terluka, bekasnya baru hilang bertahun-tahun. Yah, kecuali satu dua luka yang tidak terlalu dalam dan tidak terlalu besar.

Tidak heran, ada berbagai bekas luka di badan aku. Umumnya di kaki.

Ada satu di betis kiri dalam. Bekas manjat pagar rumah. Heran deh bisa gagal. Aku udah gape banget urusan manjat pagar yang runcing itu. Kali itu, aku manjat pagar karena ompungku sudah melarang aku bermain, dan aku nekad. Pulangnya, entah bagaimana, salah satu ujung pagar mencium betis itu. Luka sekitar 7 cm, dan dalam sekali. Aku takut sekali. Aku langsung tidur, dengan piyama panjang berwarna kuning kecoklatan. Tidak terpikir untuk membersihkan luka. Bangun sore-sore, duduk dekat ibuku, tetap ketahuan. Sekarang, bentuknya hanya sebesar koin 25 perak. Waktu itu aku masih kelas 3 SD.

Masih di betis yang sama, di tulang kering. Itu hasil jatuh dari tangga. Kebiasaan buruk yang berlangsung sampai sekarang adalah lari-lari waktu naik dan turun tangga. Biasanya loncat sekali dua tingkat. Entah kenapa, sulit untuk naik turun tangga sambil jalan dengan tenang. Sekali itu, aku terpeleset, dari tangga paling atas, terus sampai ke paling bawah. Sakit sekali. Aku sudah kuliah.

Masih di bagian kiri, kali ini tangan kiri. Aku sudah agak lupa apa penyebabnya, kalau tidak salah pisau. Kali ini, bekasnya agak tersembunyi.

Telapak tangan bagian kanan, punya satu bekas luka. Kena obeng. Menunggu seorang sahabat memperbaiki komputer, aku bermain dengan obeng. Melamun, dan obeng itu merobek kulit di telapak tanganku. Bekasnya, memotong garis tanganku, tepat di bagian garis kehidupan. Nah loh!

Bekas paling lama, sebetulnya ada di mata. Untungnya sudah semakin tidak terlihat. Bekas kejepit sesuatu, kata ibuku. Soalnya aku sendiri sudah tidak bisa mengingat peristiwa itu. Untuk melihat bekas itu, kamu harus melihat mataku dari dekat. Hmmm (loh, kok jadi hmm ya).

Kadar gula dalam darah sih normal, hanya saja memang kulitku sensitif, jadi bekas apapun sulit sekali hilang.

Itu luka di kulit, kalau luka di hati, apa kabar ya?

PS: gak ada gambar luka-luka deh. Aku parno dengan darah. Bikin pusing kepala dan pengen muntah

No comments:

Post a Comment