11.6.07

Jalan-Jalan: Antara Untung dan Buntung

Jarang sekali aku kesal disuruh ke daerah. Biasanya malah antusias berlebihan. Aku tuh, gak tahan kalau harus lama-lama berada di belakang meja. Jadi, setiap kesempatan untuk "jalan" selalu dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Tapi tidak untuk 1,5 bulan terakhir ini. Sejak kursus narasi di Bulan Mei lalu, aku selalu membuat jadwal bepergian aku tidak bentrok dengan hari kursus, yaitu Selasa. Sayangnya, walaupun aku punya cukup wewenang untuk memberi masukan "siapa pergi kemana dan kapan", aku tidak bisa sewenang-wenang menentukan hal seperti itu, apalagi demi kepentingan pribadi (baca: kursus). Tahukah kamu, sebetulnya aku bisa saja meminta rekan lain yang pergi ke daerah. Urusan "justifikasi" bisa diatur. Tapi aku tidak bisa, aku tahu pasti, ada pertimbangan lain yang membuat aku harus memutuskan bahwa akulah yang harus berangkat, bukan dia.

Ha! Siapa bilang punya kuasa (walaupun sedikit) itu menyenangkan.

Walhasil, besok aku harus berangkat ke Kendari. Padahal besok, aku harus les (belum termasuk jadwal olahraga yang juga sudah dibuat susah payah), dan aku sudah menunggu-nunggu pertemuan ini. Lebih parah lagi, minggu berikutnya, aku juga tidak akan bisa hadir, karena aku harus berada di Gorontalo.

Kesal dan marah rasanya. Rugi besar. Dua kali pertemuan pula. Berharap-harap tidak ada kejutan menyenangkan di dua pertemuan itu. Berharap-harap, aku tetap bisa tahu diskusi