29.6.07

Kompor

13 February 2007
23:50
Ari Rumah
Happy Birthday, semoga selalu diberkati Tuhan dan menjadi Madah bagiNya. Amin. Bahagia selalu ya, Kak. Syalom *hayah, masih kurang 10 menit, ini pasti orang yang jam-nya dipercepat 10 menit!*

14 February 2007
00:47
Osta
Happy Birthday Kakakku Sayang, semoga panjang umur, cepat dapat jodoh, dan sukses selalu. Salam ama semua keluarga ya, kk. GBU

14 February 2007
00:47
Iya
I pray that God grant you a mind fee of worry, heart free of sadness, soul free of sin & body free of sickness. Happy Birthday Tante Mey! *ini pasti titipan dari si cantik Kiran, anak Iya*

14 February 2007
01:07
Arie New
Mel, happy bday. Smg Tuhan selalu memberkati ya. Tadinya mau tel, tp takut elu udah tidur *padahal biasanya suka hajar beybeh, sekarang lebih mikir nih*

14 February 2007
02:19
Pawel Zimnicki
Happy Birthday Sayangku!! I wish you all the best on this day. Remember – You are the best one. Really!!! HUUUUUUUUGs. Lots of love. P. *Ehm, ada yang gak boleh marah dengan sms ini*

14 February 2007
05:27
Lusi
Happy Birthday.. mudah2an selalu dalam lindungan Tuhan.

14 February 2007
06:26
Tye
Happy Birthday my dear…may all de best be w/ u always. Amien

14 February 2007
06:40
Vera
Mellyyy happy birthday yaaa… ada rencana apa hari ini? Enjoy ya, berharap banget gue ada di Bandung hari ini, kangen

14 February 2007
06:41
Uli Walagri
Happy valentine!!! And..happy birthday mel. May all the blessing n love from God will always be with you

14 February 2007
07:07
Yustina Arlini
Happy Birthday. Wish u success and happiness always

14 February 2007
07:07
Tya
Halo Mel, udah bangun? Met ultah ya bo…have a new ‘life’

14 February 2007
07:12
Kiki IHS
Happy belated birthday Mba Melly. I wish God to make you happy, make you smile, grant you wealth, give you health, guide you safety, and most of all through every mile *ehm kayaknya gak belated, deh, Ki*

14 February 2007
07:15
Okol
Selamat ulang tahun butet sayang! Wihs u got everything u wished for and love eases u throughout the year. Love n hugs

14 February 2007
07:24
Ivan Siregar
Mel ulang tahun. Kasih dan berkat Tuhan Yesus menyertai seumur hidupmu.

14 February 2007
07:34
Hera Bar
There’s only one person whose birthday is the same as valentine’s day. So happy birthday, dear. Many happy returns of the day.

14 February 2007
08:08
Reti
Happy Birthday!! Many happy returns & wish u all the best ya. Semoga makin keren, fun n sukses. Hugs, reti.

14 February 2007
08:23
Mega
Selamat pagi mba meli, met ultah ya. Sukses dalam segala hal.

14 February 2007
08:33
Rita Kakak
Selamat ulang tahun ya, Mel! Tambah umur tambah bijaksana, tambah cinta Tuhan dan sesama, juga tetap sehat jasmani dan rohani

14 February 2007
08:35
Ratna
Mel, met ultah  sukses terus ya! Sori ga telp, suara gue sember he2. Kpn nih ketemuan?

14 February 2007
09:00
Ira
Ka Melly, Happy Birthday ya. Wish u all the best! And happy valentine’s day too
Ira&Albert

14 February 2007
09:07
Febby JRO
Mba Melly, Happy Birthday, ya. I wish you luck will be come true

14 February 2007
09:41
Echie
Met ulang taun ya Mel. Semoga panjang umur, murah rezeki, selalu sehat, tambah sukses, dan yang paling penting cepet nikah. Amin. Hehe

14 February 2007
10:17
Dewiika
Happy Birthday Mel. Semoga panjang umur, sehat, sukses, senang ya jeng!

14 February 2007
10:32
Unieng
Dear Melly, selamat ulang tahun yaaaa (bener kan, hari ini?)…Semoga panjang umur dan tetap ‘alive and kicking’. Semangat kamu adalah inspirasi banyak orang…ditambah baek hatinya kamu, bikin banyak sekali yang sayang sama melly lho! Keep going girl! – unieng

14 February 2007
11:25
Credo NDC
Hohoho, ini Credo a.k.a NDC. Ohw, and happy valentine.hehe (the first message had accidentally deleted)

14 February 2007
11:34
Liyanita
Helo teh melly, hepi bersdey to you. Selamat menempuh umur baru, semoga sehat selalu n banyak rejeki. Amin. Kapan nih makan2? Hehehehe

14 February 2007
12:06
Melly, met ultah! Many happy return. semoga tercapai setiap keingan n cita2. Amiin. *Entah dari siapa*

14 February 2007
12:13
Warih
Happy Birthday Tante Melly, semoga panjang umur, selalu dilimpahi kebahagiaan n karunia ilahi, tercapai segala keinginan, dimudahkan langkahnya. Amin. Warih-Tariq-Nagata Yasaskara

14 February 2007
17:17
Dina
Happy Birthday ya Bu. Baru inget ini valentine- plus ultahmu kan? Wish u all d best. Muah!

14 February 2007
17:40
Iman
Happy Birthday! Bener ga?

14 February 2007
18:02
Rino
Melly, hepi palentine nya. Hepi biday juga. GBU always.

14 February 2007
19:08
Jurisna
Met ulang taun Mel. GBU. Sorry kak jus gak ke Cgdg. O ya Mel, tes alergi kira-kira 300 ribu.

14 February 2007
23:10
Prita
Hai mel, happy birthday ya.  Sorry its almost late. Hehe… Semoga semua yang dicita-citakan terkabul ya

14 February 2007
23:25
Okke
Akyu baru dapet notifikasi dari friendster klo dikau ultau. Gelukkig verjaardag, djeng. All the best 4u!

15 February 2007
01:02
Priska
Life growth with love and God blessing. Today, God’s gift you His promise that He still with you each season and conditions. God never let you far from His sight. Happy Birthday my sister mellyana.

15 February 2007
08:55
Golly Kakak
Happy belated birthday. Hope God will fulfil the desire of your heartlove. You always. Kak Golly and her gang

19 February 2007
19:13
Bunda Nuke
Melly. Aduh kemaren ulang tahun ya? Happy birthday girl. Sorry ya telat. Mudah2an semua cita2nya tercapat ya. Wah aku kirim ini berkali-kali mudah2an sukses ya.

Tidak penting buat orang lain, tapi saat ini, sms-sms itu menjadi sesuatu yang penting buatku.

28.6.07

Rindu

Mendengar dering telepon. Melirik ke nomer pengirim. Senang sekali. Papi. Berarti mereka sudah sampai di bandara. Setelah lebih dari 3 hari tanpa komunikasi dengan orangtuaku, dan kurang lebih dua minggu tanpa sempat bercengkerama seperti biasa. Aku kangen mereka.

Salahkan hujan, kalau aku kangen terhadap banyak orang hari ini. Kangen banget. Kangen papi. Kangen mami. Kangen adik-adikku. Kangen abang. Kangen kamu, sahabat-sahabatku yang entah ada dimana saat ini.

Pulang dulu, bertemu mereka. Melepas rindu.

Basah

Hujan, aku sangat suka. Kenanganku terhadap titik-titik air itu sangat kuat. Tapi, kadang hujan memang bisa bikin loyo loh!

Bangun pagi dengar suara hujan membuat aku tersenyum. Menikmati kehangatan kamar. Sambil bersyukur karena semalam sempat menukar jam latihan dari 7.30 menjadi 12.00. Melirik lemari pakaian dan berpikir,"Asik, saatnya bisa pakai baju hangat tebal itu!"

Secangkir coklat panas di atas meja kerjaku, menjadi pengganti kopi hitam aroma. Boleh dong, lain sedikit pagi ini. Hujan soalnya. AC dimatikan. Jaket tidak dilepas. Dan, pakai kaos kaki. Sambil bekerja. Enak loh bekerja selagi hujan, lebih konsentrasi.

Untunglah, aku tidak perlu berada di luar ruangan. Berlari-lari menghindari hujan. Berteduh di bawah atap bangunan. Membatalkan kepergian karena sulit dapat kendaraan umum dan taksi sulit diperoleh. Payung tidak aku butuhkan, selagi aku ada di dalam ruangan ini.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketTapi, kita tidak pernah tahu. Ada saat-saat dimana hujan deras datang disaat kita tidak siap. Karena itu, harus sedia payung sebelum hujan. Dalam hidup, ada saat-saat hal-hal yang kita nikmati (disaat kita siap untuk itu) menjadi hal-hal yang kita hindari (disaat kita sama sekali tidak siap untuk itu). Seperti hujan. Supaya tidak terlanjur basah, harus dihindari dengan berlindung di tempat yang aman. Ah, harus siap payung, dong!



27.6.07

Biar Lambat Asal Bertambat

Ada begitu banyak yang datang dan pergi yang mengambil hatiku. Ada yang secuil saja, ada yang cukup banyak sampai membuat hatiku terluka *tsah* bahasanya gak kuku banget ya.

Ada yang cepat datang dan cepat pergi. Easy come easy go, cepat datang cepat pergi. Ternyata seringkali ini tidak hanya berlaku bagi duit yang bisa cepat datang cepat pergi (boros itu mah), tapi menurut aku juga berlaku untuk orang-orang yang hadir di hati. Ada yang begitu cepat datang, tapi biasanya juga begitu cepat pergi. Bisa meninggalkan kesan, tapi umumnya berlalu begitu saja. Ada satu dua yang butuh waktu lama sampai bisa mencuri hati, dan mengambil tempat khusus di hatiku, ini yang lebih bikin repot, soalnya butuh waktu lama juga buat mereka buat bisa terusir dari hatiku. Hayayayay.

Buat yang cepat-cepat, biasanya memang seringkali cukup membuatku punya rasa ingin tahu yang lebih dan mengaguminya. Sedikit sekali, yang cepat datang tapi kemudian bisa menjadi sahabat-sahabat terbaik, yang punya tempat khusus di hati, tanpa merasa dimalingi! Buat yang lama, biasanya justru melewati masa-masa pertemanan yang menyenangkan, sampai satu titik, aku tidak sadar bahwa dia sudah duduk dengan tenang di pojokan hatiku.

26.6.07

Si Bungsu Gorontalo

Ke Pohuwato...
Siang itu panas. Pesawatku tepat waktu. Tumben. Justru penjemputku yang terlambat. Terlihat menunggu di depan counter Trigana Air di Bandara Jalaluddin, aku terus menerus ditawari taksi. Aku berkali-kali menggelengkan kepala,”tidak, saya dijemput.”

Karena belum kenal penjemput, aku mengiyakan saja ketika seseorang bertanya apakah aku berasal dari sebuah instansi di Jakarta. Pekerjaanku membuat aku seakan-akan berasal dari dua instansi. Salah satunya, yang disebut oleh seorang pemuda berseragam pegawai negeri sipil yang mengira aku adalah orang yang harus dia jemput. Aku salah. Aku masih harus menunggu beberapa saat lagi.

Tidak lama kok, Pak Piti sudah berada di depanku, dan kami segera melaju ke Pohuwato, sebuah kabupaten ke arah selatan Gorontalo. Kami harus berkendaraan selama hampir 3 jam. Ditemani hujan, mendung, dan matahari. Ya, cuaca terus berubah sepanjang perjalanan. Terkadang hujan lebat, hujan rintik, hanya mendung dan tidak jarang terang benderang. Seberagam topografi perjalanan Gorontalo-Pohuwato. Gunung, ladang, hutan bakau, pantai dan pedesaan.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Pedesaan yang cantik. Mengingatkan aku pada buku-buku pelajaran membaca waktu sekolah dasar. Aku masih ingat dengan buku yang mengajar aku membaca ini budi, ini ibu budi, ini bapak budi, ini iwan, dan tentu saja kakak budi, wati. Rasanya disitu ibu selalu ditulis ke pasar, tapi aku tidak ingat bapak pergi kemana. Disitu, rumah digambarkan begitu asri dengan pagar kayu dan tanaman serta bunga-bunga di pekarangan. Kerbau dan sapi di sekitar rumah. Dan, itulah pemandangan yang menemaniku siang itu.

Bunga kertas di sepanjang jalan. Berwarna-warni. Merah muda, orange, merah tua mewarnai pekarangan rumah. Belum lagi bunga-bunga berwarna kuning dan putih. Pagar kayu dicat putih. Bahkan batu-batu dipinggir jalan dicat putih dan ditata sedemikian rupa. Bahu jalan, yang berupa tanah yang sedikit berpasir itu bersih. Tidak terlihat sampah, bahkan sampah dedaunan kering pun tidak.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Sesekali kami berpapasan dengan bendi, mikrolet dan taksi. Jangan salah, taksi disini adalah mobil pick up yang diberi atap terpal, dan penumpang duduk di belakang. Tidak ada argo. Tidak ada nama perusahaan taksi. Jangan juga heran, kalau tumpukan barang di atas taksi maupun mikrolet bisa lebih tinggi dari truk-truk yang melintas di jalan trans-sulawesi itu. Tinggi sekali. Aku bahkan melihat sebuah mikrolet yang membawa motor di diikat di bagian belakang kendaraan.

Pos polisi juga aku temukan beberapa kali dalam perjalanan. Setidaknya, lebih banyak dari yang biasa aku temui dalam perjalanan-perjalanan sebelumnya. Heran juga. Terjawab ketika beberapa orang berkata padaku, bahwa ini trans-sulawesi. Banyak kendaraan truk atau kendaraan angkut lain membawa berbagai jenis barang dari Sulawesi Utara ke Sulawesi Selatan atau sebaliknya.

Ikan Bakar Pohuwato
Sore itu, jam 3, aku tiba di ibukota Kabupaten Pohuwato. Sore itu, aku belum makan siang. Juga belum makan pagi. Lion Air tidak menyediakan makanan, cemilan ringanpun tidak. Perutku hanya diganjal biskuit yang memang selalu ada di tas. Tapi, aku memang tidak merasa terlalu lapar.

Tadinya, aku pikir, aku tidak terlalu lapar.

Sampai aku duduk di sebuah rumah makan sederhana, terletak di tepi pantai. Ikan bakar dan udang bakar lengkap dengan cah kangkung tersedia di depan meja. Dan aku menjadi sangat lapar.

Aku, Pak Syamsir mitra kerjaku disana, Dokter Agus kepala Puskesmas Marisa, Pak Irfan dari Bappeda Kabupaten Pohuwato, Pak Makmur dari Dinas Kesehatan Pohuwato, Pak Hikmah Kepala Bappeda Kabupaten Pohuwato, Pak Tri Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pohuwato, dan beberapa ibu dari Bappeda Kabupaten Pohuwato.

Ikan itu segar sekali. Aku sudah lupa namanya. Dibakar. Bukan ikan yang sudah diungkep baru kemudian dibakar. Dagingnya kenyal dan empuk. Enak sekali. Lengkap dengan sambal dabu-dabu yang segar. Dan, hal yang sudah mulai aku rasa biasa, bahwa disini memesan ikan itu, satu ikan lengkap itu untuk satu orang. Padahal di Bandung, satu ikan pastinya dimakan beramai-ramai. Aku pun selalu heran, aku kok bisa menghabiskan ikan sebanyak itu ya. Mungkin karena memang rasanya enak. Menulisnya saja bikin lapar!

Gran Puri bukan Grand Puri
Iya, nama penginapan aku malam itu adalah Gran Puri, bukan Grand Puri. Dan, there’s nothing Grand about that place. Terletak di tanah yang luas, bangunan satu lantai itu hampir mirip dengan rumah kos di daerah mahasiswa di Bandung. Sebuah lobi sederhana. Kamar-kamar lengkap dengan tempat tidur, meja rias dan sebuah televisi. Tidak ada bak di kamar mandi, tetapi disediakan ember besar. Airnya payau. Tidak enak rasanya kalau terkena bibir pada waktu mandi. Kamar bersih. Handuk disediakan jika kita minta. Untuk sarapan, sepiring nasi kuning dengan telur rebus dan irisan ikan sudah disiapkan bersama dengan teh yang terlalu manis untuk ukuranku. Teh jawa, kalau pakai istilah aku.

Waktu aku datang, penginapan ini sepi. Pagi hari, terlihat ada setidaknya 5 truk ukuran kecil, dan beberapa mobil kijang parkir di halaman. Tidak heran halamannya luas. Mobil-mobil itu, berdasarkan plat mobil, berasal dari Manado, Gorontalo dan Palu, ada satu dua yang berasal dari Makasar. Pagi itu, kami barangkali orang yang keluar penginapan paling pagi.

Tidak apa-apa. Aku sudah cukup beristirahat, dan tidak sabar untuk melihat sekolah dan puskesmas yang selama ini hanya aku baca nama-namanya.

Simalakama Dana BOS
Dana BOS, Bantuan Operasional Sekolah, diberikan sebagai bantuan kepada sekolah dalam rangka membebaskan iuran siswa, tetapi sekolah tetap dapat mempertahankan mutu pelayanan pendidikan kepada masyarakat (Buku Petunjuk Pelaksanaan 2005), dan di Buku Panduan 2006 dikatakan, program bantuan operasional sekolah bertujuan untuk membebaskan biaya pendidikan bagi siswa tidak mampu dan meringankan bagi siswa yang lain, agar mereka memperoleh layanan pendidikan dasar yang lebih bermutu sampai tamat dalam rangka penuntasan wajib belajar 9 tahun.

Pelaksanaan program ini, seringkali seperti buah simalakama bagi sekolah.

Coba saja googling dengan kata kunci BOS, akan ada sekitaran 20,000 berita tentang itu. Lebih banyak negatif. Berputar di korupsi dan penyalahgunaan dana, ketimbang keberhasilan dan kesuksesan program.

SD Negeri Buntulia Selatan, juga menerima dana BOS. Sangat membantu tetapi juga bisa menghambat. Masalahnya, orangtua tahu tentang dana BOS. Dalam pengertian, sekolah gratis, kan sudah ada dana BOS. Padahal, menurut kepala sekolah, dana itu tidak cukup, tidak betul-betul bisa menutupi biaya-biaya yang dibutuhkan oleh sekolah untuk beroperasi.

Ada 294 siswa dari kelas 1 sampai kelas 6. Kepala sekolah dibantu 7 guru tetap, 1 guru honorer, 1 guru kontrak dan 3 tenaga abis, guru sukarela. Kegiatan belajar mengajar dilakukan di 8 ruang kelas yang ada di dalam kompleks SDN Buntulia Selatan. Ibu Yusran Lasimpala adalah kepala sekolahnya. Seorang ibu dengan pengalaman menjadi kepala sekolah lebih dari 20 tahun!

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Penggunaan dana BOS, dana alokasi khusus (DAK) terpampang di depan ruang kepala sekolah.. Berbagai laporan keuangan yang dijilid plastik mika tersimpan rapi. Siapapun boleh melihat laporan itu. Catatan keuangan rapih dan jelas.

Ini membuat kepercayaan orang tua murid meningkat. Sekarang, Ibu Yusran tidak terlalu repot untuk mengundang orang tua murid ke sekolah. “Tidak ada menyurat-menyurat melulu,” katanya walaupun tidak dipungkiri ada juga orang tua murid yang tidak mau ambil pusing dengan urusan sekolah. Padahal dulu dan sekarang di banyak tempat lain, surat dikirim berkali-kali ke orang tua tetap saja lebih banyak yang tidak hadir ketimbang menerima undangan pertemuan itu.

Tidak heran, orang tua juga bersedia menyumbangkan dana. Berbeda-beda, tergantung pendapatan mereka. Sekolah mempergunakan dana tersebut untuk membangun rumah ibadah, memperbaiki prasarana sekolah, memperbaiki gerbang sekolah. Ini pun harus dilakukan dengan cermat, karena itu tadi, ada dana BOS.

Menjelang penerimaan murid baru, Ibu Yusran mulai kewalahan. Permintaan menjadi siswa baru meningkat. SDN Buntulia Selatan bukanlah SD favorit, tapi tampaknya mulai menarik perhatian banyak pihak. Padahal, ruang kelas dan guru terbatas. Saat ini saja, sudah ada 58 siswa di kelas 1. Beberapa siswa harus duduk bertiga di bangku yang sebetulnya diperuntukan hanya untuk dua siswa. Kepala sekolah tidak bisa memutuskan sendiri. Ibu Yusran lebih ingin agar siswa dibatasi, tetapi komite sekolah berharap semua permintaan diterima. Kalau perlu, menurut komite sekolah, kelas 1 dijadikan 2 unit.

Tidak semudah itu, karena tenaga guru sangat minim. Banyak guru yang ditarik menjadi pegawai negeri sipil, ketika Gorontalo menjadi propinsi baru, dan Pohuwato menjadi kabupaten yang terpisah. Meminta tenaga baru berarti waktu yang panjang. Permintaan sudah dilakukan, tetapi realisasi tampaknya masih jauh di depan mata.

Memang, makin banyak murid berarti jatah dana BOS bertambah. Uang sebesar 117.500 rupiah diberikan per murid, per siswa, per anak untuk tingkat sekolah dasar. Siapa tidak tergiur? Padahal, ada surat edaran dari kepala cabang dinas pendidikan bahwa murid di dalam satu kelas tidak boleh lebih dari 35 siswa.

Ibu Yusran punya PR yang harus diselesaikan dalam satu bulan ke depan. Aku tidak tahu apa keputusan Ibu. Aku hanya tahu, bahwa senyum murid-murid harus selalu ada, dan aku berharap pendidikan akan tetap mereka peroleh dengan kualitas terbaik.

Marisa si Tua Tua Keladi
Kata-katanya selangit, tersenyum penuh misteri. Itu Anggun yang berbicara. Di Marisa, si tua tua keladi ini juga punya senyum yang menarik dan penuh misteri.

Tunggu dulu, ini bukan pria tua yang asik menggoda perempuan, tetapi ini sebuah puskesmas. Nama puskesmas itu Marisa. Sudah tua. Tembok di bangunan depan sudah terkelupas. Lantai sudah tua. Ruangannya kecil-kecil. Agak lembab. Walaupun kalau dari jauh, kekurangan-kekurangan itu tidak terlalu tampak.

Tidak heran jika Dokter Agus, kepala puskesmas, berkata ini seperti tua tua keladi. Dokter Agus memutuskan untuk menukar ruang rawat inap yang berada di bangunan belakang dengan ruang rawat jalan yang awalnya menempati bangunan depan, yang sudah tua itu. Karena,”hanya sedikit yang dirawat inap disini,” dan lebih banyak yang rawat jalan.

Bangunan di belakang lebih bersih, lebih segar dan lebih lapang. Melewati sebuah lapangan voli, akan dihadapkan dengan jejeran ruangan. Untuk mulai memperoleh perawatan, pasien harus menunggu di ruang ketiga dari kanan, ruang pendaftaran.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketHari itu, hari Kamis, hari pemeriksaan untuk ibu hamil. Ada lebih dari 5 ibu hamil. Menggembirakan. Maklum kasus kematian ibu melahirkan masih tinggi. Pemeriksaan rutin bisa membantu menekan angka kematian. Itupun tidak mudah karena sulit sekali mendorong seorang ibu melahirkan di rumah sakit. Mereka lebih suka melahirkan di rumah. Dengan bantuan dukun beranak. Konon, ini masalah budaya, masalah kebiasaan. Suami dan keluarga adalah pihak yang paling keras menolak ajakan untuk melahirkan di rumah sakit. Padahal, sering sekali si ibu punya resiko tinggi untuk melahirkan. Tekanan darah tinggi, posisi bayi yang melintang, pinggul yang sempit adalah beberapa hal yang menjadikan seorang ibu beresiko tinggi. Tidak heran, aku bisa bertemu seorang ibu yang sudah hamil 7 bulan tetapi baru pertama kali memeriksakan kandungannya di puskesmas. Selama ini, tidak pernah diperiksa.”Tidak ada masalah apa-apa, kok, lagi rumah jauh dari puskesmas,” alasan itu yang diberikan. Sang suami, pengemudi ojek, menunggu di depan puskesmas. Jarak puskesmas dan rumah sekitar setengah jam dengan mempergunakan motor.

Tugas Dokter Agus, kepala puskesmas, memang tidak mudah. Dokter yang masih muda ini penuh semangat. Ada-ada saja ide yang dilontarkan untuk mencoba membuat Puskesmas Marisa menjadi lebih baik. “Tidak mungkin semua budaya Jawa dipindahkan kesini, kami ambil positifnya dan disesuaikan dengan kemampuan kami disini,” komentarnya terhadap kunjungan yang dilakukan ke Yogyakarta beberapa waktu lalu. Karena itu, ia tidak serta merta menerapkan begitu saja hal-hal yang ia lihat di Yogya. Apalagi, “kita punya masyarakat dengan akses informasi yang lebih cepat, sedangkan kita tidak sanggup menggimbangi kecepatan itu.” Dokter Agus menyebarkan kuesioner, kepada pasien, kepada pegawai puskesmas. Ia bertanya dan belajar dari semua pihak. Tidak jarang, ia menemukan hal-hal yang membuatnya bertanya-tanya. Antara lain, bahwa masih ada pegawai puskesmas yang memilih menceritakan masalah di puskesmas kepada suami dan istri ketimbang ke kepala puskesmas, yaitu dirinya.

Pekerjaan rumah harus dilakukan dengan tenaga medis yang terbatas dan kualitas pegawai yang juga terbatas. Dokter PTT lagi-lagi menjadi harapan. Bukan saja harus terus bekerja keras membantu ibu hamil untuk bisa melahirkan dengan selamat, tetapi juga mulai harus menghadapi AIDS. Maklum, ada trans-sulawesi. Supir truk dan tempat peristirahatan dan tentu saja bayang-bayang ancaman AIDS mulai menghadang.

Mudah-mudahan semangat Kepala Puskesmas yang masih muda ini, tidak lekas padam

Si Bungsu Gorontalo
Gorontalo, memang propinsi baru. Desember tahun 2000, ia melepaskan diri dari Sulawesi Utara. Makanya, masih banyak Bank Sulut di berbagai tempat di Kota Gorontalo maupun di luar kota.

Kantor gubernurnya besar. Terletak di puncak bukit. Megah. Mewah. Kompleks perkantoran belum selesai. Tapi jalan lebar yang berbelok dan menanjak sudah diaspal. Melewatinya di malam hari, akan ditemani bintang-bintang. Maklum, tidak banyak lampu kecuali dari gedung DPRD dan gedung kantor gubernur.

Gorontalo sendiri kota yang bersih. Kota, tapi masih bisa lihat sapi di beberapa pojok. Kota dengan bentor. Becak motor. Seperti di Banda Aceh, tapi yang ini tertutup, dan supir berada di belakang becak, bukan di samping becak seperti di Banda Aceh. Jangan anggap remeh supir bentor. Menurut Pak Syamsir, ada guru-guru yang “narik” bentor setelah jam mengajar selesai, untuk tambah-tambah penghasilan. Lumayan, mereka bisa memperoleh sekitar 15 ribu rupiah sehari. Dikali setidaknya 20 hari saja, sudah menjadi tambahan lumayan bagi gaji guru yang hanya sekitaran 1 juta rupiah itu.

Aku bisa berjalan kaki di kota ini. Sesuatu yang nyaris jarang aku lakukan selama kunjungan-kunjungan monitoring selama ini. Mencari warnet menjadi alasan, sesungguhnya aku hanya ingin berjalan kaki. Menghirup udara segar tanpa AC. Melemaskan kaki. Melihat berbagai sudut kota. Dan mencoba naik bentor.

Menurut beberapa orang, aku bertambah hitam pulang dari sana. Tidak apa-apa. Aku justru suka itu. Hitam kulit sih tidak apa-apa, asal jangan hati yang hitam. Serem.


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

25.6.07

Senin Semangat

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketSebetulnya tidak betul-betul kejutan, tapi aku tetap tidak menyangka akan melihat paket itu pagi ini di meja kerjaku. Maklum, hampir seminggu meja ditinggal pergi. Memulai pekan baru, memulai hari Senin dengan sesuatu yang menyenangkan betul-betul jadi pemompa semangat. Dan aku tersenyum.

Terimakasih ya. Banget!

ps: Sekarang blogger punya versi Bahasa Indonesia ya. Waw (tapi masih belum terbiasa dengan beberapa istilah seperti: pratinjau. Ah)

20.6.07

Positif

Aku positif terinfeksi! Ah, barangkali karena luka kemarin tidak langsung diobati. Kupikir akan sembuh dengan sendirinya.

19.6.07

Lika Liku Luka

Kakiku kembali biru-biru. Lebam. Sekilas, seperti baru dibabuk orang. Biasanya, kalau kecapekan, pasti deh biru-biru itu keluar. Pssst, ada yang bilang itu berarti dicubit setan. Doh'. Setan suka banget ama aku ya? Aku sih lebih suka manusia dalam wujud laki-laki (yang suka aku, lebih disukai)!

Untungnya biru-biru ini bisa hilang dengan mudah. Tidak seperti luka. Kalau kulitku terluka, bekasnya baru hilang bertahun-tahun. Yah, kecuali satu dua luka yang tidak terlalu dalam dan tidak terlalu besar.

Tidak heran, ada berbagai bekas luka di badan aku. Umumnya di kaki.

Ada satu di betis kiri dalam. Bekas manjat pagar rumah. Heran deh bisa gagal. Aku udah gape banget urusan manjat pagar yang runcing itu. Kali itu, aku manjat pagar karena ompungku sudah melarang aku bermain, dan aku nekad. Pulangnya, entah bagaimana, salah satu ujung pagar mencium betis itu. Luka sekitar 7 cm, dan dalam sekali. Aku takut sekali. Aku langsung tidur, dengan piyama panjang berwarna kuning kecoklatan. Tidak terpikir untuk membersihkan luka. Bangun sore-sore, duduk dekat ibuku, tetap ketahuan. Sekarang, bentuknya hanya sebesar koin 25 perak. Waktu itu aku masih kelas 3 SD.

Masih di betis yang sama, di tulang kering. Itu hasil jatuh dari tangga. Kebiasaan buruk yang berlangsung sampai sekarang adalah lari-lari waktu naik dan turun tangga. Biasanya loncat sekali dua tingkat. Entah kenapa, sulit untuk naik turun tangga sambil jalan dengan tenang. Sekali itu, aku terpeleset, dari tangga paling atas, terus sampai ke paling bawah. Sakit sekali. Aku sudah kuliah.

Masih di bagian kiri, kali ini tangan kiri. Aku sudah agak lupa apa penyebabnya, kalau tidak salah pisau. Kali ini, bekasnya agak tersembunyi.

Telapak tangan bagian kanan, punya satu bekas luka. Kena obeng. Menunggu seorang sahabat memperbaiki komputer, aku bermain dengan obeng. Melamun, dan obeng itu merobek kulit di telapak tanganku. Bekasnya, memotong garis tanganku, tepat di bagian garis kehidupan. Nah loh!

Bekas paling lama, sebetulnya ada di mata. Untungnya sudah semakin tidak terlihat. Bekas kejepit sesuatu, kata ibuku. Soalnya aku sendiri sudah tidak bisa mengingat peristiwa itu. Untuk melihat bekas itu, kamu harus melihat mataku dari dekat. Hmmm (loh, kok jadi hmm ya).

Kadar gula dalam darah sih normal, hanya saja memang kulitku sensitif, jadi bekas apapun sulit sekali hilang.

Itu luka di kulit, kalau luka di hati, apa kabar ya?

PS: gak ada gambar luka-luka deh. Aku parno dengan darah. Bikin pusing kepala dan pengen muntah

18.6.07

Emas Kendari

Kota Kendari, ibukota Propinsi Sulawesi Tenggara yang terbentuk di awal 1960. Kedatanganku disambut hangat oleh polisi lalu lintas yang tengah melakukan operasi malam itu. Pencegatan oleh polisi, tidak jauh dari bandara. Sebuah operasi rutin, yang ditujukan untuk pengendara kendaraan bermotor, tapi entah kenapa, malam itu, mobil Pak Firman, mitraku disana, menjadi salah satu sasaran operasi. Tampaknya, akulah penyebabnya. Soalnya, menurut Pak Firman, mata polisi muda itu terus menerus ke arah penumpang dan bukan ke SIM dan STNK yang ada di tangannya. Ups.

Tiga Kota di Kendari
Dengan sekitar 200 ribu jiwa, kota ini lebih cocok disebut sebagai kota menengah, bukan kota besar. Tapi sebetulnya, kota ini merupakan kota besar, dilihat dari luas wilayahnya. Lebih dari itu, Kendari merupakan sebuah kota yang terdiri dari 3 kota!

Kota 1 terdiri dari deretan ruko, rumah toko, dengan campuran gaya China, Belanda dan Indonesia. Tidak jauh beda dengan pusat kota yang banyak aku temukan di di Indonesia. Jaraknya bersebelahan satu sama lain, dengan pedestrian yang cukup lebar, tetapi sebaliknya jalan-jalan di kawasan ini tidak terlalu lebar. Tidak ada tanda-tanda kemacetan di kawasan pusat kota lama ini, kecuali satu dua angkot yang berhenti sembarang untuk mengambil penumpang. Satu pemandangan yang menarik adalah deretan toko emas. Bukan sesuatu yang hanya ada di Kendari, hampir di semua kota-kota di Indonesia, pusat kota lama biasanya merupakan pusat penjualan emas. Konon, emas kendari itu terkenal. Ibuku saja sampai nitip oleh-oleh emas yang satu ini,”kalau kau ada duit sedikit, Kak.” Rasanya bukan kebetulan ketika Pak Firman, juga bercerita tentang pamor emas Kendari. Emas Kendari kualitas terjamin, tidak dicampur.

Sepasang anting bermotif daun berukuran sedang menjadi pilihan oleh-oleh untuk mami, ibuku.

Kota 2 lebih modern, mirip sekali dengan kota-kota yang dilewati jalan propinsi, jalan antar kabupaten yang banyak ditemukan di tempat lain. Inilah Kota Kendari yang paling ramai. Deretan ruko berwarna-warni menghiasi jalan-jalan utama. Ruko, menjadi ciri utama berbagai kota yang aku kunjungi di Sulawesi. Model dan warna yang beranekaragam. Ramai sekali. Tidak sedikit yang tertutup, entah toko tersebut memang sedang tutup, atau dipergunakan sebagai rumah tinggal, atau malah belum terjual.

Di bagian kota ini terletak pusat pemerintahan Kota Kendari. Kompleks pemerintah kota Kendari merupakan hasil ruislag, tukar guling antara pemerintah kota dengan pemerintah propinsi Sulawesi Tenggara. Kompleks itu berada di lahan yang dahulu merupakan kompleks pemerintahan propinsi Sulawesi Tenggara.

Jalan lebar dan luas, dan kendaraan bermotor tidak terlalu banyak. Pepohonan terdapat hampir di semua jalur utama. Pohon tersebut besar dan rindang. Di beberapa persimpangan besar, ada papan yang bertuliskan “belok kiri langsung”. Tidak terlihat becak. Mobil-mobil besar model SUV mendominasi. Motor banyak ditemukan, tetapi pengendara motor tersebut, terutama penumpang yang berada di boncengan lebih sering terlihat tidak mempergunakan helm.

Kota 3 ditandai oleh keberadaan Pasar Baru. Terletak di sebuah perempatan, cukup besar dan banyak dipakai oleh penduduk kota yang berada di luar kota 1 dan kota 2. Pasar itu hanya satu level, tidak ada lantai 2. Berbentuk menyerupai ruko sederhana dengan atap berwarna kuning di setiap ruko.

“Dulu daerah ini seperti hutan, jalan tidak ada,” Pak Firman memberi informasi. Saat ini, daerah tersebut terlihat sedang berkembang. Daerah terbangun mulai terbentuk. Pemerintahan Propinsi Sulawesi Tenggara juga dipindahkan ke daerah ini. Dengan dibangunnya jalan raya yang lebar dan dalam kondisi baik, pembangunan perumahan mulai tampak berkembang.

Kota tahap 3 ini yang menjadi pintu masuk aku ke Abeli. Abeli, sebuah kecamatan yang terletak di perbatasan Kota Kendari dengan sebuah kabupaten. Karakteristik kota sama sekali tidak ada di Abeli. Bukan saja perjalanan 45 menit sepanjang jalan aspal yang sudah rusak berat, bukan saja sudah berlubang tetapi penuh dilapisi tanah yang yang terkena air hujan. Mobil jenis sedan, sangat tidak dianjurkan melakukan perjalanan ke tempat ini. Tidak heran kalau memang sebagian besar kendaraan yang aku temukan di Kendari adalah kendaraan-kendaraan besar, semodel panther, kijang dan taft.

Kalau tidak punya kendaraan pribadi, ada kendaraan umum yang bisa jadi pilihan. Ada dua. Pertama angkutan umum berwarna biru. Bisa muat sekitar 10 orang. Tidak ada jadwal kapan angkutan ini akan lewat. Dari terminal ke Abeli, uang sebesar 3000 rupiah harus disiapkan. Pilihan lain memakai bus damri. Keberadaannya diprotes oleh supir angkutan umum karena bus dapat menampung lebih banyak orang. Ini, menyebabkan penumpang angkutan umum berkurang. Apalagi ongkos bus damri lebih murah 1000 rupiah. Bukan angka yang kecil. Bayangkan saja, seorang guru di SD 9 Abeli harus mengeluarkan 10000 rupiah perhari untuk transportasi, padahal ia hanya seorang guru bantu dengan honor yang minim. Nilai 1000 rupiah, perbedaan bus damri dan angkutan umum, dalam sebulan menjadi sebuah angka yang penting.

Abeli, memang bagian kota yang terlupakan, seperti yang diungkapkan Pak Firman. Maklum, secara administrasi, Abeli adalah salah satu kecamatan di Kota Kendari, tetapi karakteristik kota sama sekali tidak ada. Rumah kayu mendominasi, itupun tidak rapat, tetapi satu dua di pinggir jalan. Halaman-halaman rumah itu masih cukup luas. Kambing, anjing, dan ayam adalah binatang yang sangat mudah ditemukan di pinggir jalan. Di malam hari, penduduk lebih memilih untuk tidak menyalakan lampu di luar rumah. Penghematan, itu alasah yang diberikan.

Abeli, kecamatan dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai nelayan. Masih cukup homogen. Kelompok lain setelah nelayan adalah petani. Umumnya petani palawija. Di luar kelompok itu, paling hanya ada segelintir orang yang bekerja entah sebagai pegawai negeri, pedagang atau pekerjaan lain. Pasti sangat kecil. Karena beberapa guru yang bekerja di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di sanapun ternyata tinggal di kota Kendari.

Sekolah di Abeli
SMP 11 Kendari, terletak diantara dua sekolah dasar yaitu SD 9 Abeli dan SD 12 Abeli. Terletak di sudut sebuah jalan tanah, dengan pemandangan laut di belakang sekolah. Tidak ada pantai pasir putih, karena ini adalah pantai bakau. Sedikit lebih jauh, akan tampak pemandangan rumput laut yang ,”kelihatan seperti sampah di tengah sana,” begitu seseorang berkata padaku.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

“Dulu ini lapangan sepak bola” Mba Kiki, salah seorang guru SDN 12 Abeli berucap. Dia menemani aku berjalan-jalan melihat sekolah-sekolah itu. Kiki adalah angkatan pertama SMP 11 Kendari, dia masuk tahun 1994. Saat itu,”kami sering membantu sekolah membereskan sekolah, termasuk meratakan tanah yang ada di lingkungan sekolah,” tutur guru kelas 4 SD ini sambil menunjuk ke tanah yang tampaknya sekarang menjadi lapangan upacara. Aku mengalihkan mata ke arah laut, melihat tembok benteng pembatas sekolah dengan laut yang sudah rusak. Pondasi benteng itu tampaknya tidak dibuat dengan mempertimbangkan bahwa benteng terletak di pantai. Tanah bergerak, tergerus air laut.

Sekarang, sudah ada satu lapangan basket di tengah sekolah. Di belakang lapangan basket tersebut sekarang ilalang hijau, padahal dulu, itu adalah tempat siswa menanam berbagai tanaman sebagai praktek berkebun. Alur tanaman masih tampak diantara rimbunnya rerumputan. Batas tempat yang dulu adalah kebun adalah benteng yang memisahkan sekolah dengan rumah penduduk. Itu pun dulu adalah bukit yang kemudian di”potong” untuk dijadikan permukiman. Tidak terlalu besar, hanya ada sekitar 10-20 rumah di belakang sekolah.

Lantai sekolah masih mempergunakan ubin sederhana berwarna hitam. Seharusnya. Soalnya, saat aku tiba, warna hitam itu sudah mulai memudar, sebagian abu-abu, sebagian putih. Tergerus umur. Tidak sedikit bagian dari lantai yang itu yang tercoel-coel. Tidak heran pihak sekolah menginginkan tegel baru, mereka membayangkan lantai porselen putih, yang entah kenapa tidak pernah aku sukai.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Satu unit kelas telah berubah fungsi menjadi musholla. Tidak ada kursi maupun papan tulis. Hanya selembar karpet biru, itupun hanya menutupi satu pertiga bagian lantai ruang kelas itu. Berbatasan dengan musholla, terdapat sebuah ruangan yang dipergunakan sebagai ruang guru.

Gambaran yang tidak jauh berbeda, bahkan lebih mengkhawatirkan lagi juga terlihat di dua sekolah dasar yang mengapit SMP 11 Abeli. Termasuk minimnya kondisi toilet di sekolah tersebut.

Tapi minim sarana prasarana tidak membuat keceriaan anak sekolah dasar hilang. Ditemui setelah selesai ulangan umum, segerombolan anak kelas 3 dan kelas 4 SD 12 Abeli penuh semangat berpose. “Woi, foto dulu foto dulu,” salah seorang anak yang paling berani memanggil teman-temannya yang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Anak-anak itu membuat pagi yang mendung dan gerimis tampak cerah buatku. Mereka tersenyum dan tertawa-tawa melihat foto mereka di digicam milik kantor. Senyum mereka seperti pengganti matahari yang pagi itu agak malas muncul di Abeli. Tidak terlihat sedikitpun, wajah kelelahan karena mereka baru saja menyelesaikan ulangan umum.

“Aku paling suka pakai baju muslim,” dengan semangat seorang anak bercerita.

Dulu, murid SD datang dengan berbagai pakaian dalam kondisi seadanya, dan tanpa alas kaki. Saat ini, mereka punya 5 jenis seragam. Baju SD merah putih, baju olahraga, baju pramuka, baju batik dan baju muslim. Saat itu, sebagian besar dari mereka memakai baju olahraga. Ada beberapa anak yang memakai baju merah putih, dan beberapa campuran antara baju olahraga dan baju merah putih. Menurut Mba Kiki, “kami tidak bisa memaksakan orangtua untuk membeli seragam,” kalau tidak punya uang, pakaian apapun diperkenankan dipakai.

Seorang anak perempuan kelas 3 SD itu tersenyum. Kaos olahraga dipakai rapi. Rambut hitam sebahu. Tangannya memegang sebuah buku tulis yang tidak bersampul dengan sebuah bolpoint. Di telinga, terpasang sepasang anting cantik berwarna merah muda. Sangat kontras dengan kulitnya yang gelap. Ia tersenyum.

Lebih dewasa beberapa tahun, sebagian besar anak SMP tampak lebih sungkan untuk berfoto. Satu anak, dengan berani berpose sendiri. Tidak perduli olokan teman-teman yang menertawakan keinginan dia untuk berpose. Dua kali klik, dan teman-teman lain mulai tertarik untuk berfoto. Satu anak perempuan dengan jilbab putih dan deretan gigi putih yang rapi mengajukan diri untuk belajar memotret. Aku berikan kamera itu padanya setelah memberitahu petunjuk mempergunakan kamera. Sekali jepret saja, foto berhasil dibuat dengan tajam dan fokus. Dia lebih senang diminta memotret ketimbang dipotret. Mudah-mudahan suatu waktu, dia akan memiliki kamera sendiri untuk dipakai. Seperti hari itu, dia memakai kamera Canon A710 milik proyek, menghasilkan gambar yang berisi senyum teman-teman sekelasnya.

Banyak Siswa Banyak Rejeki
Satu unit kelas di SD 12 Abeli terdiri dari 20-30 siswa. Kelas 3 hanya terdiri dari 26 siswa. Kelas 4, bahkan lebih sedikit. “Enak ya, Bu, kelas lebih kecil,” itu yang aku ungkapkan kepada seorang ibu guru. Dia tersenyum,”iya.” Hanya saja, rona mukanya mengatakan hal lain.

Rupanya, dinas pendidikan selalu mempertanyakan jumlah siswa yang dibawah 30 di setiap kelas. Itu terlalu sedikit. “Itu kan berarti program KB berhasil, ya, Mba” seorang bapak guru menimpali. Berdasarkan program dinas kesehatan, ini sebuah kemajuan. Tidak ada lagi banyak anak banyak rejeki. Jumlah anak dalam satu keluarga tidak sebesar dulu.

Hanya saja, dana BOS, bantuan operasional sekolah, diberikan berdasarkan jumlah siswa di sebuah sekolah. Tidak heran, sekolah berupaya memiliki siswa sebanyak mungkin. Padahal saat ini ada 3 sekolah dasar di Abeli. Lebih banyak sekolah, memudahkan orang tua dan murid untuk dapat bersekolah di tempat yang lebih dekat dari rumah. Itu bagi orang tua dan murid. Bagi sekolah, lebih banyak sekolah, berarti lebih banyak pesaing dalam meraih murid. Buat sekolah, banyak siswa tentu saja banyak rejeki, dari dana BOS.

Puskesmas Abeli
Kunjungan pertama, lagi-lagi, seperti biasa, aku selalu mengunjungi puskesmas setelah hari sudah sore. Bukan jam normal kunjungan pasien. Aku dsambut oleh lebih banyak petugas puskesmas ketimbang pemakai puskesmas. Satu lagi kekecewaanku, aku tidak pernah punya kesempatan untuk sekedar ngobrol ngalor ngidul dengan mereka yang mengunjungi puskesmas. Bagaimana mungkin, karena petugas puskesmas langsung akan menempel. Jengah aku. Begitu menginjakan kaki di puskesmas, semua orang langsung bergegas. Tampak panik. Seorang petugas langsung terlihat sibuk menelepon. Belakangan aku tahu, ia menelepon kepala puskesmas.

Puskesmas itu memiliki poli umum, kesehatan ibu dan anak, unit gawat darurat dan poli gigi dengan fasilitas dokter gigi yang jauh lebih baik daripada dokter gigiku di Poliklinik Unpad di Bandung. Bisa jadi, kontribusi kepala puskesmas yang juga dokter gigi memainkan peranan besar disini.

Puskesmas itu bersih sekali. Dengan lantai porselen putih. Sandal, sepatu dan alas kaki lain harus dilepas di muka puskesmas. Aku juga. Rasanya adem, bisa menjejakan kaki di lantai. Tokh, aku lebih suka tidak memakai alas kaki kalau berjalan.

Puskesmas itu, tidak seperti rumah sakit. Tidak ada bau obat yang menyolok. Bau obat hanya terasa di ruang tertentu dan tidak terlalu menyengat. Tapi sebetulnya, aku tidak keberatan mencium bau obat. Menyenangkan.

Terdiri dari dua bangunan utama. Satu bangunan rawat jalan, dan satu bangunan lain untuk rawat inap. Dalam waktu dekat, akan ada satu ruang tambahan untuk unit gawat darurat. Saat ini sedang dalam pembangunan. Dua orang tukang bangunan bolak-balik membawa semen. Hari itu sudah lewat jam 3 sore.

Di ruang rawat inap, dua tempat tidur tampak kosong tanpa kasur. Seorang anak kecil sedang terkena diare, ditunggui sang ibu. Dia terbaring di sebuah tempat tidur. Ada beberapa anak lain di ruang itu, tidak sakit tetapi menemani orang tua yang sakit. Satu diantaranya ikut berbaring dengan sang ibu di tempat tidur sederhana dari kayu, yang diberikan oleh Dinas Kesehatan kepada Puskesmas Abeli.

“Karena ada rawat inap, kami buka 24 jam,” perawat menerangkan, ketika aku mengkonfirmasi waktu buka puskesmas. Pantas, mereka mengenal jam aplusan. Satu hari dibagi ke dalam 3 shift. Bergantian berjaga ruang rawat inap. Sayang sekali, sekarang, dokter tinggal 1. Untuk itu, dokter harus siap sedia, “on call,” begitu istilah kepala puskesmas.

Awalnya ada 3 dokter di Puskesmas Abeli, satu dokter PPT ikut suami keluar Kendari. Dokter itu cantik. Masih muda. Campuran Menado Makassar. Pernah dipanggil untuk mendatangi seorang pasien yang dikatakan tidak bisa ke puskesmas, padahal ternyata kondisi pasien tidak parah. Waktu itu, seluruh dokter sering menginap bersama di rumah dinas, persis di sebelah puskesmas. Bawa perlengkapan lengkap, "seperti mau kemping," kata kepala puskesmas.

Pastinya, tidak separah seorang pemuda yang dibawa oleh teman-temannya sore itu. Darah di pelipis. “Mabuk,” bisik Pak Firman. Hari itu, belum lagi jam 4 sore. Emosi kuat terlihat di teman-teman yang mengantar. Berteriak, cara komunikasi yang mereka lakukan. Pegawai puskesmas memilih diam dan segera membopong pemuda itu ke ruang gawat darurat. Satu diantara pengantar dipanggil untuk diperiksa, karena terlihat ada lecel di tubuhnya.

Tuak lokal menjadi penyebab utama. Tidak kenal waktu. Bukan pertama kali. Hampir setiap minggu selalu ada pasien seperti ini. Apalagi kalau ada pesta dengan musik dan acara joged. Dengan menenggak tuak, mereka merasa berani, tetapi tanpa pertimbangan logis. Kecelakaaan terjadi. Puskesmas selalu menerima dengan tenang, walaupun mereka kesal, mengingat kebodohan pasien tersebut.

Esok pagi, bukan pasien mabok yang tiba-tiba menarik perhatian. Seorang ibu yang tengah mengandung. Hampir melahirkan anak kelima. Tidak bisa dilakukan di puskesmas karena tekanan darah ibu yang tinggi. Sudah sampai 150. Harus dirujuk ke RSUD. Ibu tersebut memang punya sejarah tekanan darah yang tinggi. Ia kurus, untuk seorang ibu yang tengah hamil tua.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketHari itu, puskesmas Abeli harus merujuk seorang pasien ke RSUD Kendari yang terletak di tengah kota. RSUD itu ramai sekali. Deretan motor dan mobil memenuhi pelataran parkir. Kursi tunggu penuh terisi pasien. Bukan hanya kursi, bahkan gang-gang di depan rumah sakit juga penuh, bukan hanya oleh pasien tetapi pedagang berbagai jenis barang, majalah dan makanan bahkan beberapa ada yang menjual mainan.


Kepala Daerah
Gubernur, kepala daerah propinsi Kendari, bukan saja berbadan besar, tetapi berumah besar. Ali Masi namanya. Kaget aku ketika diantar melihat rumah dinas gubernur Kendari. Cukup yakin, ini adalah rumah dinas gubernur terbesar di Indonesia. Rumah itu besar. Sekilas seperti gedung pertemuan atau hotel berbintang. Berdiri di area yang luas sekali. Benteng besar mengelilingi rumah tersebut.

Kemarin, gubernur baru divonis bebas dari tuduhan korupsi terkait dengan ijin Hotel Hilton. Koran setempat penuh dengan iklan ucapan selamat kepada gubernur. Lebih dari 3 lembar dipenuhi ucapan selamat. Dari institusi, partai politik sampai individu. Tidak mau ketinggalan, televisi setempat juga dipenuhi iklan yang berisi ucapan selamat atas vonis bebas bagi gubernur. Padahal, jaksa masih mau menuntut banding atas putusan hakim tersebut.


Hujan
Tiga malam di Kendari, hujan terus ada setiap hari. Terkadang berhenti sejenak dan matahari muncul. Lebih sering hujan tersebut bertambah deras, barang 5 sampai 10 menit, kemudian kembali ke ritme awal. Hujan sudah menyambut sejak langkah pertama aku di bandara, membangunkan aku pagi-pagi buta untuk menikmati suara hujan. Bahkan sampai aku meninggalkan kaki dari bandara Wolter Mongonsidi, hujan terus mengguyur lebat.

Tidak apa, aku merasa hangat. Aku pergi meninggalkan Kendari dengan tambahan sekardus oleh-oleh dan sepasang anting terbuat dari emas Kendari.

15.6.07

Tunggu Aku

Aku mau tarik napas dulu.

Cerita dari Abeli di Kendari. Emak yang ditulis Daoed Joesoef. Kite Runner rekomendasi bunda. Pesawat. SMS. Telepon. Lebih banyak lagi sms. Lebih banyak lagi telepon. Air mata. Ketawa. Senyum anak-anak kecil. Files. Lebih banyak lagi files. Makan siang. Rumah. Bandung. Laki-laki. Sahabat. Perempuan. Fitness. Narasi. CPR. Tiket. Jadwal. Janji. Foto. Kangen. Marah. Mimpi. Cinta. Naik. Turun.

Terlalu banyak.


Tulisan-tulisan siap upload, tapi kok ya di detik-detik terakhir malah semua aku batalkan.

11.6.07

Jalan-Jalan: Antara Untung dan Buntung

Jarang sekali aku kesal disuruh ke daerah. Biasanya malah antusias berlebihan. Aku tuh, gak tahan kalau harus lama-lama berada di belakang meja. Jadi, setiap kesempatan untuk "jalan" selalu dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Tapi tidak untuk 1,5 bulan terakhir ini. Sejak kursus narasi di Bulan Mei lalu, aku selalu membuat jadwal bepergian aku tidak bentrok dengan hari kursus, yaitu Selasa. Sayangnya, walaupun aku punya cukup wewenang untuk memberi masukan "siapa pergi kemana dan kapan", aku tidak bisa sewenang-wenang menentukan hal seperti itu, apalagi demi kepentingan pribadi (baca: kursus). Tahukah kamu, sebetulnya aku bisa saja meminta rekan lain yang pergi ke daerah. Urusan "justifikasi" bisa diatur. Tapi aku tidak bisa, aku tahu pasti, ada pertimbangan lain yang membuat aku harus memutuskan bahwa akulah yang harus berangkat, bukan dia.

Ha! Siapa bilang punya kuasa (walaupun sedikit) itu menyenangkan.

Walhasil, besok aku harus berangkat ke Kendari. Padahal besok, aku harus les (belum termasuk jadwal olahraga yang juga sudah dibuat susah payah), dan aku sudah menunggu-nunggu pertemuan ini. Lebih parah lagi, minggu berikutnya, aku juga tidak akan bisa hadir, karena aku harus berada di Gorontalo.

Kesal dan marah rasanya. Rugi besar. Dua kali pertemuan pula. Berharap-harap tidak ada kejutan menyenangkan di dua pertemuan itu. Berharap-harap, aku tetap bisa tahu diskusi

8.6.07

Maurice

Kemarin, 7 Juni, adalah hari ulang tahun Maurice, adikku nomor 4.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketDia ini, dari kecil sudah tahu dan ngerti uang. Aku masih ingat waktu Moy, nama panggilan dari aku, mau beli mainan dari serbuk magnet yang bisa disusun untuk membentuk wajah. Harganya kalau tidak salah 4 ribu rupiah. Besar loh, karena waktu itu belum lagi tahun 1990. Papi bilang, dia tidak punya uang, jawaban Maurice, "dikredit saja, Pi, bisa kok, kalau sekarang ada 1000 bulan depan bisa bayar lagi sisanya."

Rasanya dia belum lagi 7 tahun waktu itu.

Menurut banyak orang dia punya muka cakep. Tidak heran banyak yang suka titip salam, tapi sedikit yang bisa bertahan lama. Tapi, psst, yang titip salam tidak cuman perempuan, dan ini suka bikin dia sewot.

Jangan pernah kasih sesuatu yang dia tidak suka, lebih baik tanyakan saja langsung dia mau apa. Maurice gak sungkan untuk bilang,"gak suka," dan betul-betul tidak akan memakai barang itu, loh! Sejak itu, aku memilih selalu bertanya apa mau dia. Walhasil, pernah satu hari, aku sampai mau putus kaki rasanya, ngubek-ngubek Rotterdam untuk mencari stik drum untuk jazz yang dia ingin dengan merk yang sudah dia minta.

Maurice tidak secara spesifik gila jazz, tidak seperti kecintaannya bermain drum, tapi kami berdua pernah menghabiskan beberapa hari berseliweran di java jazz festival. Berdua kami menginap di hotel, terus pulang nyaris pagi hari dengan kelelahan tapi kenikmatan tingkat tinggi. Waktu itu, kami berdua masih tinggal di Bandung.

Setelah kami berdua lebih banyak tinggal di Jakarta, kami berbagi kamar tidur, dan juga kendaraan, walaupun aku tetap memegang kendali (tentunya!). Hanya saja, masalah dia untuk bisa bangun pagi, sering membuat aku mengomel sepagian hanya menunggu dia bangun (weker sih jam 6 pagi, tapi bangun bisa 2 jam kemudian), terus ritual kamar mandi yang bisa sampai 30 menit. Waktu kantor berada di salah satu lantai di BEJ, dia lebih sering pulang larut malam. Bagus juga, aku bisa fitness dulu baru kemudian kita janjian bertemu di Blora. Lebih sering aku jemput dia, sih.

Dalam banyak hal, kami mirip. Dia sangat rapi, dan tidak mau memakai apapun yang sedikit cacat. Awalnya dia tidak suka minum kopi, tapi teracuni virus kopi aroma dari aku. Kalau aku nongkrong seorang diri di Potluck, biasanya untuk bekerja, dia dan teman-temannya akan menemani aku. Hmmm, sebetulnya tidak tepat dibilang "menemani", karena walaupun mereka duduk di meja sebelah aku, tujuan utama hanya 1, meminta aku membayari minuman mereka. Maklum, waktu itu, dia masih anak kuliah. Sekarang sih berbeda, dia gak segan untuk mengeluarkan duit mentraktir kakaknya ini.

Perbedaan utama kami ada di penghargaan terhadap waktu. Dia selalu terlambat. Sangat terlambat. Terjemahan dari,"iya, gue jemput sekarang," berarti satu jam lagi dia akan berangkat menjemput. Bayangkan kalau dia bilang,"iya, iya, gue jemput bentaran lagi, lah!"

Sekarang, dia tengah berada di Bali. Ini perjalanan seorang diri dia yang pertama. Maurice berulang tahun kemarin, tanggal 7 Juni. Dia memutuskan menghabiskan hari itu seorang diri di Bali.


Selamat ulang tahun, Moy! I miss you. Buruan balik dan jangan lupa oleh-oleh yang aku minta.

7.6.07

Komunikasi vs Program

"Banyak sekali dari kita berkeinginan mengemukakan apa yang kita mau mereka dengar, dan bukan memberikan apa yang mereka mau dengar. Jadi di sini perbedaan titik pandang orang komunikasi dan orang program/proyek."

Begitulah komentar yang aku terima ketika aku mengkoreksi tulisanku yang diedit dan kemudian aku temukan hal penting yang ada di tulisan itu justru hilang dan beberapa hal mengalami perubahan makna yang mendasar. Dalam koreksi itu, aku menulis, "For us, we would like to see the reader not just know about our achievements, but more on what we are trying to do."

Mana Yang Benar?Aku memang manusia yang percaya pada proses, bukan sekedar hasil akhir. Ini juga yang mempengaruhi pola bekerja aku. Dalam menulis laporan, dan menyampaikan perkembangan program yang aku kerjakan, dan dalam banyak hal lain, aku memberi perhatian pada proses yang terjadi, bukan sekedar hasil akhir. Apalagi program yang memang lebih mendorong perubahan-perubahan cara berpikir dan bertindak, yang tentu saja keberhasilannya tidak bisa sekedar dilihat output. Karena itu, aku ingin orang betul-betul dapat informasi yang benar dan tepat tentang program itu, sebelum melihat hasil yang dicapai. Aku, justru berpikir, tidak mungkin dan tidak bisa seseorang bisa menghargai pencapaian di lapangan, tanpa memahami apa yang dilakukan disana dan kenapa itu dilakukan.

Memberi apa yang mau mereka dengar.

Apa sih yang ingin kamu dengar tentang negara ini? Sesuatu yang baik? Sesuatu yang buruk? Sesuatu yang BENAR? Sesuatu yang menyenangkan hati?

Tidak usah jauh ke negara deh, soal pasangan saja ya, atau teman-teman terdekat kita. Apa sih yang ingin kamu dengar tentang mereka. Fakta tentang teman-teman dan pasangan? Atau hal-hal baik yang membuat kamu senang pada mereka?

Untuk aku, "strategi komunikasi" harus dilakukan bukan sekedar masalah menyampaikan apa yang aku atau mereka mau, tetapi lebih jauh dari itu, menyampaikan fakta dan kebenaran.

Am I sound defensive?


Bad Language, adalah tempat favoritku untuk senyam-senyum melihat berbagai bentuk komunikasi lain. Matthew Stibbe.

6.6.07

Dum Belle

Pagi ini, inbox aku menerima pesan ini


Temans,

Dua hari yang lalu, Rodolfo Delarmente, komposer Dum Belle, memberikan
komentar ini di video Dum Belle-nya ITB Choir di Vimeo:

"Congratulations ITB Choir! This is Prof. Rodolfo Delarmente, the composer
of Dum Bele. This is one of the best interpretations so far that I've
heard from a foreign choir who sang this. Please accept my admiration and
appreciation."

http://vimeo.com/clip:147040

Wah, senangnya :-)
-rino

Langsung buru-buru ke alamat itu, mendengarkan dan nyaris menangis (bo, di kantor, tiadalah mungkin menitik-nitikan air mata!). Mengingat perjalanan disana (yang akhirnya bisa dilakukan, mengingat aku absen latihan 1,5 bulan untuk urusan pekerjaan), tapi terutama teringat kenikmatan dan kepuasan pada saat bernyanyi. Bukan hanya pada saat perlombaan atau konser, tapi justru pada saat latihan. Karena, percayalah, pada saat lomba dan konser, semua terasa begitu cepat. Sep! Latihan berbulan-bulan terbayarkan.

Pada saat bernyanyi, menikmati lirik dari sebuah lagu, menikmati melodi dari sebuah lagu, menerapkan berbagai teknik yang sudah diketahui, secara bersama-sama (catat: paduan suara, musti bareng-bareng dong).

Pada saat Mas Indra, dirigen kami, mulai mengangkat tangan, memberi aba-aba untuk memulai nyanyian. Rasanya, semua berjalan begitu indah. Aku tinggal melihat Mas Indra, merasakan kehadiran (dan suara tentunya) dari teman-teman yang lain, merasakan lagu dan musik, dan bernyanyi. Menyenangkan sekali.

Sungguh, ternyata itu jadi barang mewah untuk aku. Niat ikut les, keinginan berlatih dan ikut konser, akhirnya hilang begitu saja. Aku masih terima email tentang bahan untuk latihan (untuk konser), tetapi tidak ada satupun yang membuat aku begitu sedih seperti surat Rino di atas.

Ya, aku bukan lagi pekerja lepas dengan waktu suka-suka. Ketika sebuah pilihan dibuat, pasti ada harga yang harus dibayar (terutama saat aku tidak begitu kuat mengatur waktu seperti yang aku bayangkan). Saat ini, aku hanya bisa menikmati lagu itu via vimeo.

Terimakasih Rin, ini mengingatkan aku, kenapa aku juga suka bernyanyi.

5.6.07

Dosa Nikmat Saat Ini

Huh, hati lebih kepengen ngulik proyek pribadi, tapi otak menyuruh membereskan order kerjaan yang sama numpuknya.

Cape deh.

Bikin anggaran, inget beresin topik. Beresin profil wilayah kerjaku, kebayang menulis ulang hasil percakapan dengan beberapa narasumber. Menyusun strategi komunikasi, sambil berpikir strategi untuk menyelesaikan bacaan yang dibaca oleh para narasumberku.

Gubrak!

Mau tau rasanya, hati tuh deg-deg-an, kayak mau masuk sekolah baru dan banyak buku baru yang wangi belum terlipat-lipat sekaligus panik memikirkan barang-barang yang harus dibawa dan takut ketinggalan (kalau kamu sepelupa aku, pasti tahu rasanya deh).

Kalau seperti ini, teori bilang, harus tau prioritas. Istilah yang sering aku dengar: First Thing First. Gampang kan jawabannya, jelas pekerjaan harus segera dibereskan, apalagi kalau itu berhubungan dengan orang banyak."Mel, anggaran kuartal 3 ya, anggaran musti masuk segera, supaya dana bisa turun, ditunggu di daerah tuh", ditambah lagi,"udah belum, Mel?" ini pasti pertanyaan atas orderan dari tempat lain, pekerjaan orang yang tunggu komentar aku dan beberapa hal lainnya, deh. Jelas dong, aku musti buru-buru menjawab pertanyaan itu, dan membereskan janji-janji aku.

Sayangnya, otak dan hati, lebih sering tidak sejalan. Setidaknya untuk aku, setidaknya untuk saat ini. Hatiku lebih ingin menulis hal lain, lebih ingin chatting untuk proyek itu, lebih ingin diam dan ngelamun untuk itu. Rasanya, mikir proyek jadi kayak guilty pleasure gitu, deh.

Walhasil, blog ini jadi di-update setelah beberapa hari ditinggal berlibur panjang, dan bolak balik ukur jalan di Jawa Barat.




ps: belum lagi ditambah keinginan ketemu para sahabat lama lagi kenceng-kencengnya. hai kamu, kamu, kamu, kamu, kamu...yuuuukkk ketemu!