14.5.07

Pegawai Bayaran

Waktu siaran di radio, aku mendapat upah sesuai jumlah aku siaran. Kalau aku ngajar, seringkali, bayaran juga tergantung berapa kali aku datang ke kelas. Aku juga pernah terima bayaran sesuai pekerjaan, misalnya terjemahan. Pernah dibayar sejumlah halaman yang aku terjemahkan, tetapi terakhir-terakhir sih aku dibayar menurut jam yang aku pakai untuk menterjemahkan tulisan itu.

Tidak ada pekerjaan, ya tidak ada duit.

Kalau kerja kantoran sih enak ya, dibayar tiap bulan. Mau ada atau gak ada kerjaan, tiap bulan terima amplop. Enak ya. Loh, iyalah enak. Giliran lagi tidak ada proyek, tidak ada tugas khusus, apa sih yang dikerjakan. Googling, blogging, chatting, gossiping (ehm).

Makanya (mungkin) orang ingin kerja tetap di kantoran dengan amplop uang yang selalu tetap tiap bulan. Biarpun ngomel gaji kekecilan, kerjaan kebanyakan, tokh sebagian besar dari kita bertahan. Tidak ada pilihan tapi butuh pemasukan tetap, adalah salah satu alasan diantara banyak alasan lain.

Enaknya sih, kalau seperti pegawai negeri sipil. Kepastian tingkat tinggi. Pasti dapat gaji. Pasti dapat pensiun. Lebih asik kalau dapat tambahan dari kiri kanan. Gimana gak asik, rapat dapat duit tambahan, kunjungan lapangan dapat duit tambahan, bikin notulensi dapat duit tambahan. Apa-apa ada duit tambahan.

Mau protes? Pegawai negeri terpaksa melakukan itu karena gaji yang kecil? Pegawai negeri terpaksa melakukan itu karena tidak ada biaya operasional, sehingga sah saja memotong honor jatah pegawai lepasan untuk membiayai kegiatan operasional?

Soal gaji, bukankah dari awal daftar jadi pegawai negeri sipil sudah tahu berapa besar gaji yang diperoleh. Kalau merasa terlalu kecil, ya jangan daftar deh. Aneh.

Atau memang, lebih baik kalau pegawai negeri tidak usah terima gaji bulanan. Sekalian kecil saja, hanya untuk uang absen, uang duduk tiap hari. Sisanya dibayar sesuai output. Rapat dibayar per jam. Perjalanan dinas dibayar per hari. Ketikan dibayar per halaman. Apapun dibayar menurut output. Aturan dibuat di Menteri Keuangan. Beres perkara. Aku tidak pusing untuk menerima tanggapan seperti,"mohonlah dimengerti, darimana duit kami, kan lumayan bisa dapat sedikit tambah-tambah uang dapur".




hai teman-temanku dan kakak-kakakku PNS di luar sana, setiap pilihan pasti ada harga yang harus dibayar bukan. hang on, ya!

No comments:

Post a Comment