23.5.07

Siapa Elu Siapa Gue!

Satu yang sering aku hadapi di daerah adalah pernyataan orang-orang disana tentang pekerjaan mereka. Datang mendekati aku, kemudian berbicara tentang berbagai pengalaman bekerja mereka. Umumnya untuk berkata bahwa mereka pernah bekerja dengan berbagai institusi, dan secara spesifik: lembaga donor.

Dari situ, nanti percakapan berlanjut ke orang-orang yang mereka kenal. "Waktu itu saya pernah kerja dengan lembaga donor itu, dan saya kenal dengan bapak-entah-siapa-itu, saya kenal baik itu." Padahal, beneran deh, aku tidak kenal bapak itu, dan aku sebetulnya juga tidak perduli apakah dia kenal atau tidak. Dan untuk pengalaman kerja yang segudang itu (belum termasuk label yang diciptakan untuk dirinya sendiri seperti,"saya ini ahli monev, mba") juga tidak membuat aku merubah penilaianku, yang biasanya berdasarkan pekerjaan yang dia lakukan saat itu.

Seperti sedang mewawancarai orang yang mau melamar pekerjaan saja.

Beda dengan kalau aku menghadapi orang-orang pusat (Aduh untuk istilah ini: orang pusat, orang daerah!). Mereka tidak akan banyak bercerita tentang apa yang sudah mereka lakukan. Asumsi yang ada, aku harus sudah tahu dong, siapa mereka itu. Jadi, mereka yang akan banyak bertanya."Dulu kerja dimana sebelum disini, sama siapa, kenal siapa?".

Kali ini, rasanya seperti sedang diwawancara untuk melamar pekerjaan.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPusat selalu lebih superior dan daerah selalu inferior? Duh! Kalau daerah akan berteriak,"lihat aku, lihat aku! aku ini punya berbagai pengalaman dan kenal banyak orang," lain halnya dengan pusat yang akan berkata,"lihat dulu diri kamu itu siapa, baru kita bisa lanjut".

Siapa elu. Ngaca dulu!

Sedih sekali. Siapa sih aku ini sampai mereka harus susah payah menjual diri. Aku menghargai mereka. Sangat. Apalagi dalam posisi aku yang datang dari Jawa, apa sih yang aku ketahui tentang daerah mereka? Mereka adalah orang yang paling punya kapasitas untuk berbicara tentang apa yang terjadi di tempat tinggal mereka. Aku ini, hanya membantu. Posisiku tidak lebih tinggi dari mereka. Aku dan mereka punya peran masing-masing, kok.

Di satu sisi, aku juga sedih, dengan sikap yang begitu sembrono dari beberapa teman dari pusat. Aku ini memang bukan orang gedean. Pengalamanku cukup. Aku sebetulnya lebih bersyukur dianggap sebelah mata, untuk kemudian bisa menunjukkan aku mampu. Itu tidak mengecilkan hati aku, tapi aku hanya bertanya-tanya, apa jadinya ketika itu dilakukan kepada orang yang sesungguhnya merupakan orang-orang pintar yang sangat berpengalaman?

Maka itu, aku selalu bahagia, ketika bisa bertemu orang, dimanapun yang percaya diri dengan kemampuan dan kapasitas yang ada, tanpa harus berlebihan menjual diri, dan tanpa harus melecehkan pihak lain. Mereka, dengan latar belakang pekerjaan apapun itu, bisa menghadapi orang dengan bijak, tanpa harus ada embel-embel apapun, karena mereka tulus dan pintar.

Menunggu Kepincut

Pada waktu aku terkena virus friendster, salah satu kegiatan bermain aku adalah otak atik profil. Biasanya bolak balik rubah isi "occupation". Akhirnya aku memutuskan menuliskan et cetera di kolom itu. One of several or many unspecified things. Dan lain-lain. Dan seterusnya.

Aku terlalu banyak mau, makanya bisa menuliskan bahwa pekerjaanku macam-macam. Bukan karena seringnya pindah pekerjaan, tetapi juga karena beragamnya yang aku lakukan.

Tiga tahun lalu, seorang sahabat mengkritik aku,"kamu tuh gak fokus, gimana sih, cobalah untuk fokus." Marah sekali waktu dia berkata seperti itu, di tempat parkir di sebuah warung kopi di Bandung. Dalam hati aku ingin bilang,"siapa sih kamu, baru kenal dua tiga bulan udah bisa bilang aku ini tidak fokus." Karena dia memang baru mengenal aku, waktu itu ya! Setelah emosiku sudah turun, aku bilang aku akan fokus. Serius nih, susah banget.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketTiga hari lalu, seorang rekan kerja dalam perjanan dinas yang untuk pertama kali kami lakukan bersama, dia bertanya tentang pekerjaanku sebelum pekerjaan saat ini. Aku hanya menyebut dua yang pernah aku lakukan, dia sudah berkomentar,"gue bingung, elu itu orang yang membingungkan." Gue cuman bisa bilang,"pegangan dong". Wajar sih, soalnya dua pekerjaan yang sempat aku bilang itu, sangat berbeda dan bertolak belakang dari jenis pekerjaan dan apalagi kalau dikaitkan dengan latar belakang pendidikan formal.


Kalau urusan laki-laki, aku juga banyak minat *wink*. Ya tokh, ada begitu banyak pilihan menarik di luar sana, setiap orang dengan keunikan masing-masing (kamu, jangan marah ya!). Mau coba mencari kesamaan dari laki-laki yang pernah datang dan pergi (dan sebagian tetap tinggal) di hati aku? Boooo, susah deh. Saking bermacam-macam.

Dari berbagai laki-laki yang begitu menarik, dari pertemanan aku bisa menetapkan hati untuk satu orang. Kalau udah suka, kata orang sih, mentok. Bahwa di luar sana banyak yang menarik, sudah pasti. Tapi yang paling membuat aku sulit berpaling hanya satu. Dan itu selalu bisa terjadi terjadi. Satu pada satu masa.

Ya, aku punya begitu banyak minat, dan cukup mudah berubah-ubah. Walhasil waktu aku harus memilih tema penulisan untuk kegiatan ekstra aku, aku kebingungan. Bukan karena tidak ada ide, justru karena kebanyakan ide dan itu pun bisa terus berubah, setiap hari. Untuk bisa datang ke dua topik saja, itu hasil menimbang-nimbang selama dua minggu terakhir. Aku terus berpikir mau ambil dari kerjaanku sekarang, pekerjaanku senang-senang yang sudah aku tinggalkan, pekerjaan sampingan atau apa?

Aku harus terus bergaul dengan berbagai ide di kepala. rasanya, ini bukan tidak fokus, kebanyakan minat sih iya. Tapi aku harus mencoba fokus. Sampai pada akhirnya, ada ide yang membuat aku kepincut habis, dan mentok. Mudah-mudahan.

Oya, ide-ide itu mungkin aku tulis di pojok sebelah saja ya

14.5.07

Pegawai Bayaran

Waktu siaran di radio, aku mendapat upah sesuai jumlah aku siaran. Kalau aku ngajar, seringkali, bayaran juga tergantung berapa kali aku datang ke kelas. Aku juga pernah terima bayaran sesuai pekerjaan, misalnya terjemahan. Pernah dibayar sejumlah halaman yang aku terjemahkan, tetapi terakhir-terakhir sih aku dibayar menurut jam yang aku pakai untuk menterjemahkan tulisan itu.

Tidak ada pekerjaan, ya tidak ada duit.

Kalau kerja kantoran sih enak ya, dibayar tiap bulan. Mau ada atau gak ada kerjaan, tiap bulan terima amplop. Enak ya. Loh, iyalah enak. Giliran lagi tidak ada proyek, tidak ada tugas khusus, apa sih yang dikerjakan. Googling, blogging, chatting, gossiping (ehm).

Makanya (mungkin) orang ingin kerja tetap di kantoran dengan amplop uang yang selalu tetap tiap bulan. Biarpun ngomel gaji kekecilan, kerjaan kebanyakan, tokh sebagian besar dari kita bertahan. Tidak ada pilihan tapi butuh pemasukan tetap, adalah salah satu alasan diantara banyak alasan lain.

Enaknya sih, kalau seperti pegawai negeri sipil. Kepastian tingkat tinggi. Pasti dapat gaji. Pasti dapat pensiun. Lebih asik kalau dapat tambahan dari kiri kanan. Gimana gak asik, rapat dapat duit tambahan, kunjungan lapangan dapat duit tambahan, bikin notulensi dapat duit tambahan. Apa-apa ada duit tambahan.

Mau protes? Pegawai negeri terpaksa melakukan itu karena gaji yang kecil? Pegawai negeri terpaksa melakukan itu karena tidak ada biaya operasional, sehingga sah saja memotong honor jatah pegawai lepasan untuk membiayai kegiatan operasional?

Soal gaji, bukankah dari awal daftar jadi pegawai negeri sipil sudah tahu berapa besar gaji yang diperoleh. Kalau merasa terlalu kecil, ya jangan daftar deh. Aneh.

Atau memang, lebih baik kalau pegawai negeri tidak usah terima gaji bulanan. Sekalian kecil saja, hanya untuk uang absen, uang duduk tiap hari. Sisanya dibayar sesuai output. Rapat dibayar per jam. Perjalanan dinas dibayar per hari. Ketikan dibayar per halaman. Apapun dibayar menurut output. Aturan dibuat di Menteri Keuangan. Beres perkara. Aku tidak pusing untuk menerima tanggapan seperti,"mohonlah dimengerti, darimana duit kami, kan lumayan bisa dapat sedikit tambah-tambah uang dapur".




hai teman-temanku dan kakak-kakakku PNS di luar sana, setiap pilihan pasti ada harga yang harus dibayar bukan. hang on, ya!

10.5.07

Yang Terhormat Anggota Dewan

Sepenggal kalimat yang begitu sering aku dengar selama seminggu kemarin. Di Bitung, di Barru, di Parepare.

Gemes banget. Sampe aku gak tahan untuk tidak mengirimkan sms berisi kekesalan dan berjuta pertanyaan yang tidak sanggup aku lontarkan di dalam forum.

Untuk bisa duduk bersama dengan mereka yang merupakan anggota DPRD setempat, adalah sebuah kemewahan. Bagian dari pekerjaan yang tengah aku lakukan antara lain untuk mendorong hal itu mungkin dilakukan.

Salah satu ketentuan dalam kegiatan ini adalah tidak ada honor untuk menghadiri kegiatan. Penggantian transportasi memang diberikan. Jumlahnya tidak besar. Hanya 75 ribu rupiah.

Seorang pegawai Bappeda Kota Bitung berkata,"Bu, malu aku hanya kasih 75 ribu ke anggota dewan, mana bisa seperti itu, Bu."

Seorang bapak lain berkata,"Ibu ini yang benar saja, masak anggota Dewan hanya dibayar segini," sambil menunjukkan angka yang tercantum dalam RAB kegiatan.

*GEDUBRAK*

Menurut aku, nilai itu memang terlalu kecil. Tapi itu buat nelayan yang harus datang ke kegiatan ini. Buat dia, tidak melaut sehari ditambah biaya kapal dari pulau tempat dia tinggal ke Bitung itu membuat dia "hilang" duit lebih dari 75 ribu rupiah.

Tetapi untuk seorang anggota Dewan?

Aku pernah menulis berapa sih gaji mereka. Belum lagi tunjangan segede-gede gaban. Dengan kondisi seperti itu, apalah arti 75 ribu rupiah. Apalagi ini adalah bagian dari pekerjaan, untuk datang ke kegiatan seperti itu.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Mungkin, itu untuk membeli kehormatan seorang anggota dewan, sehingga dia harus dipanggil sebagai yang terhormat anggota dewan. Jelas angka 75 ribu itu tidak cukup untuk membeli kehormatan. Tidak akan pernah cukup. Tetapi, dia membutuhkan itu. Panggilan untuk membesarkan hati, bukan panggilan yang menyatakan fakta. Karena tanpa itu, tidak ada kehormatan.

8.5.07

Penampilan Untuk Penilaian

Kalau kamu harus duduk diantara dua orang, selama beberapa jam, dan satu diantaranya adalah orang yang super-duper-keren-wangi-dan-bersih sedangkan yang satunya lagi adalah orang yang agak kumuh dengan campuran bebauan yang diproduksi badan di saat keringat dengan pakaian yang rombeng, mana yang akan kamu pilih untuk menitipkan barang bawaanmu?

Aku pasti pilih si keren. Please deh! Kalau aku kemudian harus mengobrol, aku juga pilih si keren.

Di pesawat, siapa juga yang gak ingin punya teman duduk yang menurut kita oke. Tidak usah diajak ngobrol, tapi setidaknya orang sebelah itu penampilannya baik. Lumayan kan, gak ganggu mata.

Dalam pesawat dua hari lalu, aku harus duduk bersebelahan dengan seorang laki-laki yang berbaju kumal dan berbau aneh belum lagi muka yang garang. Untung aku duduk di sisi jendela (selalu meminta dong). Ketika ia tiba, aku hanya menengok sekilas untuk kembali membaca tulisan Lauren Weisberger, Everyone Worth Knowing, sambil mendengar lagu-lagu Kirk Franklin dari iPod tersayang. Dalam hati, aku mengeluh.

Sepuluh menit setelah lepas landas, di saat aku tengah menikmati pemandangan Menado dari udara, aku menengok sekilas ke samping kiri, dan laki-laki itu tengah mendongkakan kepala, mencoba melihat jendela pesawat, menikmati pemandangan yang sama denganku. Aku langsung malu. Malu sekali. Aku tidak merasa kasihan pada dia, aku merasa malu pada diri sendiri yang begitu mudah menilai orang hanya karena penampilan dan bebauan yang memang jauh dari oke. Betapa aku sudah begitu egois dan bodoh menilai dia. Penumpang yang juga sama sama membeli tiket dan punya hak yang sama dengan aku untuk berada di pesawat dan diterbangkan ke Makassar.

Apa salah dia sampai aku harus menganggap dia seakan-akan lebih rendah dari aku. Tunggu, bukan apa salah dia, tapi siapa sih aku, sampai berani menilai orang hanya karena dia sangat tidak sedap dipandang dan diciumi dalam artian menghirup bebauan dari dia ya (bukan cium seperti cium bibir ke bibir. Oh, tidak, kalau yang itu aku tidak mau membayangkannya!)

Padahal, bukan sekali dua kali aku juga marah diperlakukan semena-mena atau dipandang sebelah mata karena penampilanku. Entah itu terlalu muda, terlalu perempuan, terlalu menarik (oh tolong narsisku keluar), atau biasanya dianggap tidak punya cukup duit alias terlalu kere atau terlalu miskin. Sekali waktu, adik iparku bercerita bahwa seseorang yang dia kenal pernah ditegur pegawai toko sebuah merek jeans beken yang berkata,"mba, jeans itu harganya 500 ribu," ketika melihat-lihat dan memegang celana yang tergantung di rak. Seandainya pegawai itu tahu, berapa banyak uang yang dimiliki oleh pengunjung itu!

Aku masih harus banyak belajar. Penampilan seringkali penting, tetapi bukan segalanya, kan?

Mendadak (Jadi) Mayoritas

Jadi minoritas, itu sih biasa. Beragama minoritas. Berasal dari etnik minoritas (setidaknya selamat aku berada di Bandung). Di tempat kerja, sering aku menjadi perempuan satu-satunya diantara para laki-laki. Ini juga membuat aku biasa jadi minoritas.

Tetapi di Manado, tiba-tiba aku menjadi mayoritas!

Melihat salib dimana-mana (konon, sampai memperoleh penghargaan MURI untuk jumlah salib terbanyak). Berdoa bersama menjadi kebiasaan. Tidak perlu diam-diam berdoa sebelum makan. Justru aku sampai heran ketika teman makan siangku melipat tangan, menutup mata dan berdoa, sebelum makan! Bisa mendengar lagu rohani dimanapun. Rutinitas kebaktian di tingkat lokal, disini dikenal dengan istilah ibadah, merupakan kegiatan biasa yang dimengerti oleh semua orang. Sampai bahkan lupa kalau teman seperjalananku masih harus melakukan sembahyang lima waktu.

Itulah kesanku untuk Manado.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketSayang, pantainya nyaris tidak bersisa. Dikalahkan oleh bangunan ruko yang sudah dan sedang dan masih akan terus berlangsung. Rasanya, ruko berada hampir di seluruh garis pantai kota. Bangunan dengan desain dan warna yang jelek, masih ditambah dengan berbagai papan iklan yang menutupi muka bangunan. Pantai ditimbun. Begitu istilah Ibu Syaloom yang mengantar aku. Tidak ada lagi pantai gratisan. Perhatikan gambar ruko disamping ini, pantai terletak persis di belakang deretan ruko ini. Minimal, harus bayar parkir dulu. Duh, mending kalau jajaran ruko itu menarik dilihat. Padahal aku berpikir aku akan disuguhi pemandangan pantai dan orang-orang yang duduk-duduk di pinggir pantai. Harapan yang terlalu romantis dan jauh dari kenyataan.

Hotel tempat aku menginap berada di atas area yang dulunya adalah laut. Hotel ini dibangun di bebatuan dan pasir yang dengan sengaja ditimbun di lokasi itu. Di depan hotel, pemandangan hotel terhalang oleh jajaran warung makan dengan berbagai warna, dan sebagian besar makanan yang tidak halal yang tentu saja pemandangan langka di Bandung.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketUntukku, bagian paling menarik justru kota lama Menado. Mungkin tidak terlalu istimewa. Hampir semua kota di Indonesia punya karakter yang mirip. Bangunan lama, berwarna-warni, berdesak-desakan. Sebagian besar difungsikan sebagai toko. Berbagai jenis toko. Kemacetan menjadi kawan akrab kota tua atau "downtown", kalau memakai istilah Ibu Syaloom. "Beberapa ruas jalan sudah bebas kemacetan", kata Ibu, "walikota berhasil memindahkan pedagang kaki lima", itu penjelasan tambahannya. Memindahkan atau mengusir atas nama kelancaran lalu lintas dan pemandangan yang lebih baik? Tipis batasnya.

Pemandangan menarik justru dari kembang kota, perempuan di Menado. Menurut aku, sedikit sekali kota di luar Bandung yang bisa mengalahkan "kesegaran" mojang parahyangan! Menado, jelas tandingan yang tidak bisa dianggap sepele. Bisa jadi, kulit putih, muka manis, dan keberanian membuat perempuan di Menado menarik untuk dilihat, dan modis. Terlihat bersih. Mata sefa

Bisa jadi, ini sebersih kota Menado dan bahkan sampai ke Bitung. Betul, bersih sekali. Sampai aku dapat bocoran, kalau pada hari ini akan ada penilaian untuk piala Adipura dan bahkan di Kota Bitung, Walikota menghimbau warga untuk kerja bakti. Oya, aku sebetulnya lebih banyak menghabiskan waktu di Kota Bitung. Ada pelabuhan alam yang tidak sempat aku lihat lebih dekat. Pabrik semen besar berada di lingkungan pelabuhan tersebut. Aneh, melihat silinder-silinder berukuran besar berada di pinggiran pelabuhan. Sayang sekali aku tidak sempat ambil foto, hujan gerimis dan jadwal kegiatan yang padat membuat aku sulit mengambil waktu untuk berkeliling dan ambil gambar.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketUntungnya aku sempat ambil gambar makanan ini. Itu juga sudah dalam kondisi nyaris habis. Untuk urusan perut, lidahku cocok dengan makanan Menado. Ikan. Pedas. Bumbu kuat. Favoritku justru pada sambal dabu-dabunya. Pedas dan segar. Campuran tomat, cabai dan cuka dengan irisan bawang. Cocok dengan ikan bakar, ikan sayur atau apapun makanannya. Rasanya aku makan dabu-dabu dengan lauk pauk, bukan makan nasi dengan bumbu dabu-dabu.

Berjalan-jalan di Menado dan sekitarnya, membuat aku teringat Ambon. Barangkali, karena bangunan gereja yang mendominasi pemandangan. Belum lagi, sisa-sisa perayaan Paskah yang masih kental. Hampir di setiap sudut kota ada salib merah dalam berbagai ukuran. Beberapa dalam ukuran besar, tinggi sekitar 1 sampai 1-5 meter, lengkap dengan tulisan Selamat Paskah. Kata Paskah ditulis pada kolom vertikal, berpotongan dengan kata Selamat yang ditulis horizontal.

Ya, aku tidak sempat banyak melihat dan merasakan kehangatan dan senyum Menado. Tapi, aku tahu, ketika aku ingin kembali mencicipi kemewahan sebagai mayoritas,aku tahu kemana aku harus pergi.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

3.5.07

Kursus Narasi

Kesenanganku membaca blog membawa aku ke blog Andreas Harsono. Aku terpikat. Pada tulisannya. Pada kejelasan tulisannya. Pada kemampuannya membuat aku membaca satu artikel penuh, walaupun itu cukup panjang untuk ukuran blog yang biasa (dan bisa) aku baca.

Aku memutuskan untuk ikut kursus narasi. Awalnya aku senang sekali diberi kesempatan ini. Kemudian, aku gamang. Apa betul aku bisa. Ketika Dinda bilang,"booo, serius," (atau kata-kata yang agak mirip, lupa, Din) waktu dia melihat silabus kursus, aku panik. Bagaimana mungkin aku nekad mengambil kursus, yang bukan saja mahal untuk ukuran kantong aku, tapi juga menuntut kedisplinan untuk membaca, dan terutama karena akan berlangsung selama 4-5 bulan.

Kursus adalah kegiatan yang paling aku hindari karena aku cepat bosan. Coba kursus Bahasa Belanda, hanya bertahan 3 minggu. Sisanya, aku memilih nonton sinetron bahasa Belanda. Tidak heran, aku hanya mampu mengucapkan angka dan beberapa kalimat standar dalam Bahasa Belanda. Pernah mau ikut komputer, hanya 2 kali aku bosan. Menurut aku, kelas komputer itu terlalu lambat. Kursus vokal, justru berhasil aku lakukan ketika aku menggantikan orang yang sebetulnya kursus. Ketika aku yang mengambil kursus, bahkan untuk datang pun aku gagal (Rin, malu banget untuk bikin pengakuan ini).

Jadi, ketika aku harus pergi ke Pantau, di lokasi yang tidak aku ketahui berbekal peta sederhana tanpa skala, aku berusaha menekan semua perasaan yang ada. Senang, penasaran, takut, gamang, semuanya aku redam. Aku harus pergi kesana. Ketika aku dengan ceroboh melewati satu belokan yang harusnya aku ambil, dan nyasar ke satu jalan buntu, aku melihatnya sebagai tantangan untuk berhasil mencari jalan keluar. Berbekal instruksi via telepon, dan "feeling" terhadap arah yang harus aku tempuh, aku berhasil keluar dari kompleks dengan banyak kata simpruk, menuju permata hijau dan akhirnya sampai ke Pantau.

Dua jam aku jalani tanpa rasa bosan sedikitpun. Malah, aku tidak sadar kalau 2 jam sudah berlalu. Satu-satunya yang ingin aku ulang di pertemuan pertama itu adalah saat aku harus memperkenalkan diri. Aku tidak akan berkata seperti apa yang aku katakan saat itu. Aku hanya akan bilang, aku bukan wartawan dan bukan jurnalis. Aku hanya senang menulis. Karena itu aku ikut Kursus Narasi.


Tulisan ini, awalnya, tidak akan aku masukkan kesini, mau bikin pojok khusus untuk cerita-cerita kursus. Sial, di Manado ini, koneksi internet superduper tidak bersahabat, jadi daripada lupa, aku posting disini dulu aja.

1.5.07

Kerja (Tak) Paksa di Abad 21

Sepakatkah kalau bekerja, berarti pergi ke sebuah gedung yang dinamakan kantor pagi-pagi buta, dan pulang tengah malam menuju bangunan yang disebut rumah? Atau bekerja adalah ketika kita sudah menerima sejumlah uang atas apa yang kita lakukan dalam kurun waktu tertentu, berarti kita sudah bekerja?

Mempergunakan waktu yang ada untuk melakukan sesuatu yang berguna baik untuk diri sendiri, dan lebih baik lagi kalau bisa berguna buat orang lain, dan lebih banyak orang. Berpikir dengan otak, digabung dengan beberapa pekerjaan otot.

Wikipedia menulis seperti ini buruh profesional - biasa disebut buruh kerah putih, menggunakan tenaga otak dalam bekerja sedangkan buruh kasar - biasa disebut buruh kerah biru, menggunakan tenaga otot dalam bekerja.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketAku? Bekerja dengan keduanya, dalam proporsi yang berbeda untuk tiap fase pekerjaanku. Ada masa dimana otakku lebih keras bekerja, tetapi ada juga saat-saat dimana ototku harus lebih berperan (booo, mengetik itu pakai otot juga loh!). Jadi, aku buruh kerah biru muda?

Aku tidak akan memaparkan berbagai teori mengenai bekerja, maupun buruh. Silahkan main ke pojok sebelah.

Betapa bersyukur, orang yang bisa bekerja karena mereka mencintai apa yang dilakukan, dan bisa membuat bukan hanya hidupnya menjadi lebih baik tetapi hidup orang lain. Bekerja bukan semata-mata untuk memperoleh segenggam rupiah, mendapat kehormatan, atau bahkan sekedar menghabiskan waktu. Bekerja untuk berkarya. Membuat karya. Menciptakan karya.

Tapi, sebagian besar dari kita, mulai dari yang gaji dibawah standar sampai yang berpuluh-puluh kali lipat dari standar, terkukung dalam pekerjaan (dalam berbagai bentuk) bukan?

Selamat hari pekerja internasional.
Kehidupan dan masa depan kaum pekerja, ada di tangan kaum pekerja sendiri, bukan?

psssttt...sedikit catatan: kalau tidak mau kena macet karena aksi hari ini, putuskan untuk tetap berada di kantor dan jangan keluar jalan protokol untuk makan siang atau janji ketemu orang.