24.4.07

Hormat Para Atasan, Grak.

Aku adalah si anak papi. Kemana-mana, menjadi buntut ayahku. Mengajar, rapat, menerima bimbingan, seminar, dan kegiatan lainnya.

Masuk ke ruang dosen, pasti diajak ngobrol oleh para oom dan tante yang tentunya dosen-dosen di kampus itu. Kemudian aku tahu, mereka dosen senior dan beberapa bahkan dikenal sebagai dosen "pembunuh". Aku pikir, pengalaman ini mengajarkan aku melihat dosen, apapun label yang melekat padanya, sebagai manusia biasa. Bisa salah. Senang bergosip, terutama tentang mahasiswanya.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketDiajak ke kantor departemen atau kementrian, aku selalu malas. Bosan. Gedung pemerintah umumnya bangunan lama yang lembab. Walhasil, aku lebih banyak menghabiskan waktu berkeliaran dari satu ruangan ke ruangan lain. Kalau bosan, dengan tanpa rasa bersalah aku akan masuk ke ruangan tempat pertemuan ayahku dengan siapapun orang di kantor itu. Biasanya, orang tersebut punya ruangan sendiri dengan sofa yang nyaman dan cemilan ringan yang menggoda. Bisa ditebak kan, posisi apa di sebuah kantor yang punya fasilitas disitu. Untuk aku saat itu, mereka adalah oom dan tante, teman ayahku. Sesederhana itu. Aku kemudian juga menduga, ini yang membuat aku punya kecenderungan bersikap agak "kurang ajar" menurut beberapa pihak, ketika aku harus masuk ke ruangan pejabat pemerintah.

Mereka semua adalah manusia biasa. Jabatan atau titel atau apapun yang membuat mereka seakan lebih tinggi dari sebagian besar orang adalah sesuatu yang sementara. Itu adalah -biasanya- bagian dari pekerjaan mereka.

Kesantunan dalam bersikap adalah suatu kewajiban. Tanpa memandang jabatan atau titel. Kesantunan, dilakukan tanpa pamrih. Aku sungguh beruntung, bekerja dengan atasan yang aku kagumi dan aku sangat respek dengan setiap gaya mereka. Di luar itu, sungguh, sulit sekali buat aku untuk hormat dan tunduk kepada pejabat, boss, atasan, dosen senior, staf senior atau apapun namanya. Kelemahan atau kelebihan ya?

No comments:

Post a Comment