11.4.07

Hidup Untuk Mati


Manusia, pada akhirnya mati. Bernard Jacobs, konglomerat teater berpengaruh, berkata, "Dari semua hal di dunia, saya paling tak memikirkan hal yang terjadi setelah kematian. Mati ya mati." Apakah setelah hidup, mati hanyalah mati atau tidak, itu tergantung kepercayaanmu.

Betapa sia-sianya hidup, ketika hidup untuk mati begitu saja. Maka itu kita berusaha berbuat sebisa mungkin entah kebaikan (selagi masih hidup), atau bahkan kejahatan (juga dengan alasan sama, mumpung masih bisa ngejahatin orang).

Hanya saja, apa jadinya kalau kita hidup memang harus mati. BUkan sekedar akan mati. Tetapi hidup tersebut justru baru semakin bermakna ketika mati! Itu yang aku dengar. Sepenggal kalimat dari sebuah lagu yang dikumandangkan di Jumat Agung yang lalu. He was born to die.

Satu pesan singkat dari seorang kawan berbunyi demikian: Jika biji tidak mati, maka biji tersebut tinggalah biji. Bila ia musnah, maka ia berbuah berlimpah-limpah.

Biji itu mati, untuk hasil yang berlimpah.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketDia, memang harus mati. Untuk kemudian bangkit dan mengalahkan maut. Supaya kita yang saat ini hidup bisa berbuat lebih banyak lagi, dan berbuah lebih banyak.


Kita mungkin tak tahu, kita tak dapat menceritakan
Sakit yang harus dirasakan-Nya;
Tetapi kita percaya Dia melakukan-Nya
Di salib bagi kita, menderita di sana. --Alexander


Selamat Paskah yang tertunda.

ps: mencoba mencari gambar dengan kata kunci paskah, yang keluar hanyalah telur dan telur!