30.4.07

Alat Kendali

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketKeluargaku lebih sering ngomel, kalau aku pegang remote control TV. Wajar dong, pegang remote control berarti pegang kendali. Ya, suka-suka aku mau nonton apa, bahkan kalo ternyata cuman ganti-ganti program TV karena bosan atau gak ada yang menarik. Iklan? Pasti cari channel lain. Gak mau rugi dong. Kecuali kalau kelamaan gak nonton TV, yang dicari biasanya justru iklan.

Enak memang punya kontrol terhadap sesuatu. Enak-enak pusing sih sebetulnya.

Sehari-hari, apa (atau siapa?) yang mengontrol hidupmu?

1. Kerja? Dimana seluruh jadwal kegiatan sangat dipengaruhi pekerjaan. Nomer 1 adalah pekerjaan. Nomer 2 juga pekerjaan. Bahkan mungkin tidak ada opsi lain selain kerja dan kerja. Coba deh liat, kalau buku alamat kamu didominasi orang-orang dari tempat bekerja. Atau jangan-jangan kamu berharap hidup 24 jam, 7 hari seminggu semua untuk bekerja. Bahkan, diajak ngobrol pun yang dibicarakan hanya tentang pekerjaan.

2. Karir adalah segalanya. Terkait dengan #1. Hanya saja, menurut aku, untuk #1 bisa saja orang tersebut tidak gila karir, tapi untuk #2 karir lebih penting. Aku suka membayangkan, jangan-jangan di pikiran dia, setiap ketemu orang, selalu melihat orang tersebut karirnya ada dimana. Untuk membandingkan. Syukur-syukur kalau karir orang lain dibawah dirinya sendiri. Jegal kiri kanan, sikut kiri kanan demi karir yang melejit, seringkali jadi sah.

3. Rupiah rupiah rupiah. Segala sesuatunya tentang uang. Hidup yang dikontrol oleh jumlah uang yang dimiliki. Segala sesuatu yang dikerjakan ditujukan untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya, dan barangkali juga, membelanjakan sebanyak-banyaknya. Rupiah menjadi penentu kualitas manusia untuk tipe yang seperti ini.

4. Penampilan nomer satu. Bahwa bentuk fisik menjadi alat kendali hidup. Penampilan yang tidak sesuai akan bikin sakit kepala. Entah itu terlalu kurus, terlalu gemuk, terlalu kecil, terlalu besar, terlalu tinggi, terlalu pendek, dan 1001 macam lainnya. Fitness habis-habisan. Jaga makan, kalau perlu bayar berjuta-juta untuk menjaga bentuk tubuh. Semua kegiatan mengikuti jadwal aktivitas menjaga penampilan. Ke salon setiap hari untuk menjaga tatanan rambut yang oke pun bisa dijalani dengan senang hati.

5. Kata orang menjadi penting. Setiap saat kepala menjadi pusing karena disini, "apa kata orang" memegang kendali. Mau kerja lepas? Apa kata orang, nanti. Mau bikin tato dimana-mana? Apa kata orang menjadi pertimbangan. Mau ini mau itu selalu dipusingkan dengan perkataan orang. Hmm, mirip-mirip sama ini, adalah hidup dikontrol pacar. Ah, gubrak sajalah kalau itu sih.

6. Internet *ehm*. Pernah ada masa dalam hidupku, yang pertama kali aku lakukan setelah bangun adalah memencet tombol on komputer. Boooo! Hidup betul betul dikendalikan oleh email keluar masuk inbox banget. Entahlah bagaimana caranya masa masa itu berakhir (dan barangkali digantikan dengan dikendalikan blog..kekekek).

Entahlah, siapa yang pegang remote control untuk hidupmu. Tidak ada sama sekali? Hidup tanpa kontrol apapun? Waw!

Untukku sekarang, aku menyerahkan remote control ke DIA yang memberi aku hidup.

26.4.07

5 Langkah Gagal PDKT

Menurut aku, cara ini sukses berat bikin - setidaknya aku - ilfeel, ilang feeling.
  1. Berbicara tentang kepribadianmu. Terutama mobil pribadi, rumah pribadi, investasi pribadi, atau lebih jauh belanja pribadi terakhirmu yang entah berapa puluh juta itu. Itu, bisa jadi dibutuhkan waktu berhadapan dengan calon (ingat: CALON) mertua yang ngebet punya menantu banyak duit. Aku, bukan PB (Personal Banker) kamu, jadi, tolong deh, itu rekening koran dijauhkan sajalah.
  2. Terutama setelah melakukan #1, kamu minta bon makan dipisah. Ugh, lupa, dibayar bersama, bukan dipisah. Bayar masing-masing sih biasa, kok. Bayarin makan kamu juga tidak apa apa, sekali dua ini. Aku baru sadar, mengeluarkan sekian puluh juta masih lebih mudah ketimbang mengeluarkan sekian puluh ribu. Aku pikir, keduanya sama-sama investasi loh.
  3. Kirim sms setelah bertemu, tentang penampilan fisik, yang kamu lakukan "hanya bercanda, lucu-lucuan gitu loh". Oya, aku lupa ya, ini kan tips menggagalkan PDKT, pendekatan. Lain halnya kalau tujuan kamu sebaliknya. Karena, kamu hanya boleh memberi pujian. Maaf. Masih PDKT loh, kalau sudah tahunan kenal sih, cela-celaan mah makanan sehari-hari.
  4. Berani mencela pacar. Bayangin, berani PDKT ke orang yang resminya gandengan orang lain, itu aja udah langkah besar yo. Lebih besar lagi, karena berani membandingkan diri dengan gandengan itu. Yakin bener ya!
  5. Tidak pernah berbicara tentang isi pikiran kamu. Atau, memang tidak ada isi-nya?

24.4.07

Hormat Para Atasan, Grak.

Aku adalah si anak papi. Kemana-mana, menjadi buntut ayahku. Mengajar, rapat, menerima bimbingan, seminar, dan kegiatan lainnya.

Masuk ke ruang dosen, pasti diajak ngobrol oleh para oom dan tante yang tentunya dosen-dosen di kampus itu. Kemudian aku tahu, mereka dosen senior dan beberapa bahkan dikenal sebagai dosen "pembunuh". Aku pikir, pengalaman ini mengajarkan aku melihat dosen, apapun label yang melekat padanya, sebagai manusia biasa. Bisa salah. Senang bergosip, terutama tentang mahasiswanya.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketDiajak ke kantor departemen atau kementrian, aku selalu malas. Bosan. Gedung pemerintah umumnya bangunan lama yang lembab. Walhasil, aku lebih banyak menghabiskan waktu berkeliaran dari satu ruangan ke ruangan lain. Kalau bosan, dengan tanpa rasa bersalah aku akan masuk ke ruangan tempat pertemuan ayahku dengan siapapun orang di kantor itu. Biasanya, orang tersebut punya ruangan sendiri dengan sofa yang nyaman dan cemilan ringan yang menggoda. Bisa ditebak kan, posisi apa di sebuah kantor yang punya fasilitas disitu. Untuk aku saat itu, mereka adalah oom dan tante, teman ayahku. Sesederhana itu. Aku kemudian juga menduga, ini yang membuat aku punya kecenderungan bersikap agak "kurang ajar" menurut beberapa pihak, ketika aku harus masuk ke ruangan pejabat pemerintah.

Mereka semua adalah manusia biasa. Jabatan atau titel atau apapun yang membuat mereka seakan lebih tinggi dari sebagian besar orang adalah sesuatu yang sementara. Itu adalah -biasanya- bagian dari pekerjaan mereka.

Kesantunan dalam bersikap adalah suatu kewajiban. Tanpa memandang jabatan atau titel. Kesantunan, dilakukan tanpa pamrih. Aku sungguh beruntung, bekerja dengan atasan yang aku kagumi dan aku sangat respek dengan setiap gaya mereka. Di luar itu, sungguh, sulit sekali buat aku untuk hormat dan tunduk kepada pejabat, boss, atasan, dosen senior, staf senior atau apapun namanya. Kelemahan atau kelebihan ya?

18.4.07

Kritik Kritis

Apa yang akan kamu lakukan ketika berhadapan dengan orang yang akan terus menerus mengkritik (atau mencela?) sebuah pekerjaan yang sebetulnya adalah pekerjaaan bersama (baca: juga pekerjaan orang yang mengkritik tersebut)?

Pilihan:
(a). Diam, tetapi tidak melakukan apapun yang dia bilang
(b). Diam, dan menuruti apapun yang dia bilang
(c). Menyerang balik dengan pertahanan abis-abisan
(d). Menyerang balik dengan menelanjangani kontribusi orang tersebut terhadap pekerjaan itu (sudah biasa kalo ternyata kontribusinya nol!)
(e). Tidak satupun pilihan diatas
(f). Semua pilihan di atas, dengan urutan tindakan menurut pilihan masing-masing

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketKritik itu sangat dibutuhkan. Kritik harus dapat dilakukan dengan kritis. Tujuan kritik seharusnya untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik. Mampu menerima kritik membutuhkan latihan. Perlu pikiran jernih, kesadaran bahwa tidak ada yang sempurna dan keinginan untuk terus memperbaiki diri.

Di sisi lain, melakukan kritik juga butuh latihan. Beban memberi kritik lebih berat. Harus mampu menunjukkan bahwa kritik diberikan untuk perbaikan. Kebayang dong, dikritik oleh orang yang pekerjaannya tidak pernah ada hasilnya (itu pun dengan catatan dia memang bekerja loh!).

Pilihanku menghadapi kondisi di atas? Diskusi. Setelah (biasanya), 30 menit, aku memilih diam, menyerap semua kritik. Membiarkan obrolan lebih dari 30 menit bisa mendorong obrolan sanggah menyanggah berkepanjangan yang sangat tidak berguna. Menahan kesal. Menyusun ulang pekerjaan. Itu upayaku untuk membuatnya diam. Membuat catatan untuk diri sendiri bahwa aku harus juga belajar kritis membuat kritik setiap saat.



ssstttt: di saat dua tanduk jahat di kepalaku keluar, aku ingin sih berkata, silahkan lakukan apapun yang kamu lakukan, aku minta hasilnya dalam satu jam, tertulis!

16.4.07

Klepto Barang (di) Kantor

Satu tren masa SD yang aku ingat adalah label nama. Dibuat dari kertas sticker, dengan bentuk persegi (biasanya warna latar emas, tulisan hitam gitu), sampai yang pake tema walt disney atau tema tokoh kartun lainnya. Cukup nama dan alamat. Waktu itu, telepon rumah aja belum ada, apalagi nomer telepon genggam atau bahkan email. Delapan puluhan gitu loh.

Sebagian besar label nama itu ditempel hampir di seluruh barang milikku. Buku sekolah, sampai ke pensil dan pulpen. Semua ditempel label nama. Sebagian dari label nama itu ditukar dengan label nama orang lain.

Sayang, sekarang aku sudah tidak punya label nama lagi. Butuh banget. Maklum baru diingetin nih dengan satu ciri bekerja kantoran. Itu loh, barang seperti bolpen atau pensil itu sering sekali menghilang (dan terkadang muncul lagi sih, pada waktu tidak terduga di tempat tidak terduga). Barusan, bahagia banget bertemu dengan spidol-spidol tersayangku. Lokasi penemuan: tetangga sebelah (pssssttt, jangan bilang-bilang, aku embat balik diem-diem sih). Jangan tanya deh, berapa kali dalam sebulan, aku harus ambil pensil atau bolpen dari admin.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketYah, kalau pensil atau bolpen menghilang masih bisa diterima deh. Tapi mudah-mudahan mug(-mug) tersayangku ini jangan ikut hilang, deh. Mug tinggi untuk air putih itu hadiah dari salah satu toko sepatu dan mug super kecil mungil untuk minum kopi, hadiah dari sobatku.

ps: iseng-iseng gak berhadiah. coba deh cek ada gak barang (pensil, pulpen, penghapus, gunting atau apapun deh) yang bukan milik sendiri di meja kerja?

Rapat di Hotel

"Kamu belum tahu ya, kalau pertemuan mereka itu biasanya sampai malam banget. Biasa tuh, kalau orang atas yang ngadain pertemuan. Lagian, mumpung mereka pada ada loh, sekalian aja sampe malem"

Itu komentar admin ke aku, waktu dia melihat agenda yang aku susun untuk satu pertemuan.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketAku tahu, seringkali ada diskusi atau pertemuan yang dimulai dari pagi hari dan berakhir di tengah malam. Karena itu, biasanya pertemuan diadakan di hotel. Tidak perlu pulang ke rumah. Langsung tidur di hotel. Eits! Itu kalau bisa tidur, loh.

Aku tahu, seringkali ada begitu banyak agenda dalam satu pertemuan, dan karena itu waktu 8 jam sehari seringkali tidak cukup. Aku tahu, seringkali peserta tersebut punya kesibukan tingkat tinggi atau berasal tidak dari satu kota, sehingga "mumpung ketemu" semua dihajar beybeh biar selesai.

Tapi, sebetulnya seberapa efektif pertemuan yang berlangsung sampai tengah malam itu?

Apakah seseorang baru terlihat bekerja (keras) ketika dia pulang malam? (Katakanlah, paling cepat pulang jam 10 malam) Apakah pertemuan baru bisa dinilai sukses ketika itu dilakukan seharian dan menghasilkan catatan hasil pertemuan setebal beberapa puluh centimeter?

Jangan salah. Aku pernah berada di sebuah kamar hotel, bersama beberapa orang, harus berdiskusi tentang satu kegiatan, sampai lewat tengah malam. Kondisi menuntut aku berbuat seperti itu. Aku hanya ada di kota itu selama 2 malam, untuk kemudian terus berpindah kota sedangkan ada begitu banyak hal yang harus dilakukan. Tapi pertemuan itu sendiri memang baru berlangsung lewat makan malam. Sepanjang siang, aku harus bertemu dengan lebih banyak orang yang hanya bisa ditemui pada jam kerja normal.

Rapat, seminar, pelatihan dan begitu banyak bentuk lain sepatutnya dipersiapkan dengan lebih baik. Bahan pertemuan harus disiapkan jauh sebelum hari H dan sudah dibaca dan dipahami pada saat pertemuan. Kalau memang tidak cukup semalam, dan tidak ada hambatan untuk dibuat tiga malam, kenapa harus ngoyo menjadikannya pertemuan semalam? (kecuali kalau, itu bisa jadi alasan supaya tidak masuk kantor besoknya...huhuy)

12.4.07

Rindu Bandung

Minggu ini, aku rindu banget Bandung.
Rindu hidupku di Bandung.
Rindu tinggal di Bandung.

Hasilnya, konsentrasi berada di tingkat paling rendah, dan mengantuk mengambil peringkat pertama di minggu ini.

Bawaanku mikir, kenapa bisa ya? Apa mungkin:
  1. Liburan akhir pekan kepanjangan. Haaaaa? Libur itu gak pernah terlalu lama kan ya, yang ada selalu kurang. Tapi hipotesisku, libur terlalu lama membuat mood liburan terlalu lama bercokol dan untuk menyalakan kembali sistem-sistem penting untuk bisa bekerja ternyata butuh waktu panjang.
  2. Aku tidak sempat punya hari tidur. Biasanya libur cuma 2 hari. Di hari kedua, hari Minggu, aku menghabiskannya hanya untuk tidur. Memang sih, liburnya lebih lama satu hari. Hanya saja, aku terlalu banyak mau. Yah, jadinya lebih banyak sibuk ini itu, niat ketemu ini itu. Tidur seharian? Mana mungkin.
  3. Bandung macet dan terlalu banyak mau adalah komposisi yang tepat untuk menghasilkan sakit kepala berkepanjangan. Soalnya banyak janji gak kesampaian. Banyak kegiatan batal dilakukan. Walhasil, aku uring-uringan sepanjang akhir pekan kemarin.

Dooh, Jakarta-Bandung memang hanya 2 jam jauhnya, bukan berarti gak boleh homesick kan?

11.4.07

Hidup Untuk Mati


Manusia, pada akhirnya mati. Bernard Jacobs, konglomerat teater berpengaruh, berkata, "Dari semua hal di dunia, saya paling tak memikirkan hal yang terjadi setelah kematian. Mati ya mati." Apakah setelah hidup, mati hanyalah mati atau tidak, itu tergantung kepercayaanmu.

Betapa sia-sianya hidup, ketika hidup untuk mati begitu saja. Maka itu kita berusaha berbuat sebisa mungkin entah kebaikan (selagi masih hidup), atau bahkan kejahatan (juga dengan alasan sama, mumpung masih bisa ngejahatin orang).

Hanya saja, apa jadinya kalau kita hidup memang harus mati. BUkan sekedar akan mati. Tetapi hidup tersebut justru baru semakin bermakna ketika mati! Itu yang aku dengar. Sepenggal kalimat dari sebuah lagu yang dikumandangkan di Jumat Agung yang lalu. He was born to die.

Satu pesan singkat dari seorang kawan berbunyi demikian: Jika biji tidak mati, maka biji tersebut tinggalah biji. Bila ia musnah, maka ia berbuah berlimpah-limpah.

Biji itu mati, untuk hasil yang berlimpah.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketDia, memang harus mati. Untuk kemudian bangkit dan mengalahkan maut. Supaya kita yang saat ini hidup bisa berbuat lebih banyak lagi, dan berbuah lebih banyak.


Kita mungkin tak tahu, kita tak dapat menceritakan
Sakit yang harus dirasakan-Nya;
Tetapi kita percaya Dia melakukan-Nya
Di salib bagi kita, menderita di sana. --Alexander


Selamat Paskah yang tertunda.

ps: mencoba mencari gambar dengan kata kunci paskah, yang keluar hanyalah telur dan telur!

2.4.07

Surat Untukmu

Hari ini, sudah lebih dari 24 jam sudah tanpa komunikasi apapun. Aku tidak bisa lagi berkomunikasi dengan kamu. Tidak ada telepon. Tidak ada sms. Tidak ada email. Tidak ada pesan yahoo. Tidak ada apapun. Sampai kapanpun.

Memang, kita sudah jarang sekali bertemu. Apalagi untuk bertemu hanya aku dan kamu, berdua. Aku yang memutuskan itu. Ditambah lokasi kantorku saat ini, untuk bertemu langsung memang tambah sulit.

Tahukah kamu, ada begitu banyak hal yang ingin aku ceritakan. Ada banyak tawa, tangis, marah dan sukacita yang ingin aku bagikan. Seribu satu rasa tersebut menjadi tidak berarti, karena hanya berarti untuk diriku sendiri.

Aku ingin memberi tahumu, betapa film Nagabonar jadi 2 itu betul-betul bagus. Aku ingin bercerita kalau aku ternyata tidak lagi sanggup menghabiskan satu porsi kepiting. Aku ingin mengirimkan pesan, aku pusing memelototi angka-angka dalam berbagai posisi ini. Aku ingin terus dan terus memberitahumu banyak hal.

Aku hanya tahu, bahwa kamu dan aku akan baik-baik saja. Kamu pasti berbahagia sekarang. Kamu tidak lagi perlu memikirkan aku dan segala cerita-tidak-pentingku.

Selamat tinggal untuk kamu. Aku tidak akan berhenti mendoakan kamu.



Jehovah Rophe, You are my Healer
Jehovah Shammah, always with me
Jehovah Sabaoth, strong Deliverer
And I worship You because of who You are (taken from here)