9.3.07

Di Palu Semua Orang Tahu Semua Orang!

Aku baru sadar kalau Palu begitu dekat dengan teluk ketika pesawat yang berfungsi sebagai ruang sauna hendak mendarat. Untunglah, kesan pertama itu cukup baik. Maklum menghabiskan perjalanan dengan menjadikan kartu instruksi keselamatan penerbangan sebagai kipas angin membuat aku kehabisan oksigen. Komentar Pak Ahlis yang menjemput aku, kenapa naik Lion, itu sama saja dengan naik metromini, AC pasti mati. Wah, salah banget nih Pak Ahlis, soalnya metromini masih ada angin, lah, naik pesawat mau angin darimana lagi?

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketBegitu dijemput, aku sadar bahwa penjemputku selalu menemui orang yang dikenal dia, dimanapun kami berada. Di bandara, di hotel bahkan di restoran tempat dia mengundang aku makan malam. Bukan itu saja, dua orang yang kebetulan pesan makanan untuk bawa pulang pun akhirnya duduk bersama kami. Total 6 orang, bergosip tentang hampir semua orang. Betul deh, mau gosip apa tentang Kota Palu, bolehlah tanya aku *so sombong dikitlah*.

Bu Nuti, yang logatnya menjadi Sunda pas ngobrol ama aku, dan berubah Palu ketika ngobrol ama orang lain membuat aku cukup kerasan.

Kalau aku musti tinggal di kota kayak gini, aku milih siaran terus deh, seru, aku bener bener kenal kali ama seluruh pendengarku dan bisa mendapat supply gossip yang yahud!

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketBayangkanlah kota, terletak di teluk Palu, dengan pegunungan berbukit-bukit di sekelilingnya, ada sungai di tengah-tengah. Mau liat kota, bisa dilakukan dengan keliling-keliling dari atas, dari daerah Universitas Tadulahu, atau kalau malam, bisa juga duduk-duduk di Taman Ria, menikmati pisang gepe dan sabara, minuman jahe gitu. Enak banget. Makan ikan bakar, sudah pasti harus dilakukan, pakai sambal kacang dan dabu-dabu. Nikmat banget. Gak akan nyangka satu ikan bisa habis loh!

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketOya aku juga sempat jalan ke Parigi Moutong, ke arah Poso. Melewati jalan yang berkelak-kelok. Percaya gak, yang bawa aku sampai khusus beli plastik hitam karena yakin aku akan muntah. Untungnya aku lolos audisi, perjalanan 2 jam itu berjalan lancar. Di Parigi, walaupun sebentar, aku sempat ngintip pantainya, sambil makan ikan bakar dengan harga yang superduper bersahabat. Ayolah mau ditraktir ikan bakar disini sih aku sanggup, asal jangan pake biaya tiket pesawat ya.

Satu-satunya yang aku sesali, aku gak sempet ke Donggala, aku gak sempet menyicipi lebih banyak makanan lokal, dan aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan bekerja di kota ini.

1 comment:

  1. senang membaca komentar orang tentang kampung halamanku

    ReplyDelete