23.12.07

Rindu Natal

Desember selalu menjadi salah satu bulan yang paling aku tunggu. Natal dan Tahun Baru merupakan puncaknya.

Di keluargaku ritual dimulai dengan memasang pohon natal di awal bulan, biasanya diikuti dengan kegiatan bersih-bersih. Gorden yang diturunkan dan dicuci bersih, terkadang sampai membuat aku heran kok bisa aku tidak sadar warna gorden itu bisa seputih itu! Setiap anak akan mulai membereskan kamar masing-masing. Ini kegiatan penuh keringat, dan tidak jarang berakhir dengan keputusasaan pemilik kamar untuk membereskan kamar. Kondisi kamar sudah berantakan, tapi energi sudah habis di proses "ngeberantakin". Untuk kue-kue, ibuku sudah lama meninggalkan kebiasan membuat kue sendiri. Aku tidak bisa ingat, kapan terakhir kami masih membuat kue sendiri. Semua kue datang dalam kotak, dengan kuitansi pembayaran di atasnya. Kalau beruntung, kue-kue itu datang dalam keranjang cantik dengan kartu ucapan.

Sampai sekitar sepuluh tahun lalu, aku masih membuat secara khusus setiap kartu natal. Tidak membeli. Setiap orang memperoleh kartu yang aku buat dengan membayangkan orang tersebut. Inipun kebiasaan yang sudah lama ditinggalkan. Aku lebih banyak membeli kartu dan membubuhkan tandatangan sebelum mengirimkan lewat pos. Aku masih suka melakukan ini, sampai tahun lalu. Tidak jarang, ini juga bagian pekerjaan menjadi anak. Untuk mengirimkan kartu ucapan dari keluarga kepada sanak famili dan rekan kerja orangtuaku. Ibuku termasuk orang yang sulit menulis apapun di kartu apapun. Tulisan yang buruk selalu menjadi alasan klasik. Aku sendiri, tidak terlalu sabar melayani permintaan ibuku untuk urusan kartu natal. Adik perempuanku menjadi korban untuk menyelesaikan semua itu.

Bulan Desember adalah bulan yang ramai. Khususnya untuk isi kulkas. Beragam makanan akan mengisi setiap ruang di dalam lemari pendingin itu. Bukan hanya daging dan sayur mayur, tetapi beragam buah, es krim dan tentu saja minuman ringan mulai dari Coca Cola, Fanta, dan Bir Bintang dan sesekali ditambah botol wine. Semua menjadi menu wajib.

Pagi hari akan diisi dengan lagu-lagu natal. Lumayan bikin pekak telinga. Ibuku tampaknya bertekad menjadikan lagu-lagu ini menjadi weker di pagi hari. Volume maksimal yang menjamin lagu itu bisa didengar oleh orang-orang yang melintas di depan rumah. Untungnya selama beberapa tahun terakhir, kami anak-anaknya bisa mempengaruhi pilihan lagu natal dengan penyanyi-penyanyi yang lebih "sekarang". Lebih untung lagi karena koleksi itu terus bertambah. Bayangkan kalau harus mendengar 2 buah CD diputar berulang-ulang selama sebulan penuh!

Ibuku memang salah satu yang paling bersemangat menghadapi natal. Salah satunya adalah semangat berbelanja. Waktu kecil dulu, membeli pakaian baru menjadi agenda utama. Termasuk membeli sepatu. Aku selalu menolak, tapi tak pernah kuasa. Kalau tidak mau ribut, lebih baik turuti saja keinginan ibuku untuk membelikan aku ini itu. Ini masih menjadi rutinitas sampai beberapa waktu lalu. Barangkali usia kami yang sudah lewat 20 membuat kami lebih mampu menolak dan juga membuat kami lebih merasa tidak perlu memperlengkapi diri dengan pakaian serta sepatu baru untuk ke gereja dan merayakan natal.

Beberapa tahun terakhir, kegiatan yang selalu membuat heboh di keluarga kami adalah perburuan kado natal. Sebetulnya, proses ini agak lucu. Karena kami tidak berbelanja dengan uang kami. Ayahku akan memberikan uang sama besar kepada kami semua untuk membeli kado natal untuk semua. Beberapa di antara kami akan menambahkan dengan uang masing-masing, tapi ada juga sih yang malah membuat strategi pembelian kado sedemikian rupa supaya uang jatah masih bisa bersisa. Namanya juga usaha.

Ini adalah kegiatan yang paling aku suka, walaupun juga yang paling bikin senewen. Bayangkan, kami sekeluarga ada tujuh, eh sekarang sih delapan orang. Tahun lalu, sampai tanggal 24, kami semua belum membeli kado. Kami pergi ke sebuah tempat. Kami semua, di satu tempat, berburu kado. Terkadang, ayah dan ibuku harus diam di sebuah tempat kopi, aku dan adik-adikku berburu kado untuk mereka. Di lain waktu, salah satu adikku mengajak aku, mencari kado untuk adikku yang lain sambil memasang mata, jangan sampai dia melihat kami membeli kado untuknya. Sambil minum kopi, dua adikku saling berbisik memikirkan kado terbaik untuk aku. Rusuh, tapi seru. Ramai sekali. Kami pulang dengan kantong-kantong belanjaan. Buat kami bukan nilai rupiah yang menjadi patokan dalam membeli kado. Justru proses membeli kado, memikirkan memberi yang terbaik sambil hitung-hitung jumlah rupiah di dompet, berdiskusi dengan anggota keluarga lain, pergi kesana dan kesini, merupakan bagian terindah. Selama proses itu berlangsung, kami bisa saling ngobrol, cela-mencela, dan tertawa-tawa.

Tahun ini semua berbeda. Salahkan pekerjaan kalau memang perlu cari kambing hitam. Adik iparku harus tetap bekerja sampai tanggal 24, di luar kota Bandung. Sama dengan adik bungsuku yang masih harus "ngamen" di sebuah tempat, juga bukan di Bandung. Untuk pekerjaan ini, adik bungsuku sudah minta ijin beberapa bulan sebelumnya. Adik perempuanku masih asik membangun jaringan pertemanan dengan entah siapa lagi. Pekerjaanku menumpuk, semua dengan catatan tanggal 27 sudah harus siap.

Pagi ini, rasanya sepi sekali. Tidak ada lagu natal berkumandang, karena CD player ibuku rusak dan tidak ada yang punya cukup waktu dan usaha untuk memperbaiki atau mengganti dengan player lain. Ibuku belum berbelanja karena tidak ada yang bisa mengantar. Ayahku tidak sanggup cukup santai untuk menghadapi banyak hal, termasuk rumah yang tengah direnovasi dan belum selesai-selesai sampai sekarang.

Aku punya harapan, salah satunya untuk bisa menikmati natal ini. Tidak hanya sekedar beramai-ramai kumpul, tetapi untuk mengingat betapa DIA sudah begitu baik padaku. Bahwa DIA sudah datang, untuk kemudian mati dan bangkit untukku, dan juga kamu.

Selamat Natal, dengan siapapun kamu habiskan natal kali ini.


Keajaiban Natal
Natal di 2005
Romantisme Natal

19.12.07

Janji Seribu Janji

Bayangkan, berapa juta kali aku mendengar janji "nanti akan saya berikan". Nanti dalam definisi super luas. Salah satu definisi nanti yang aku kenal darinya adalah "tidak pernah". Bahkan ketika aku mendapatkan janji bahwa besok aku akan mendapatkan apa yang aku cari, lebih sering itu berarti besok-besok.

Sekarang, posisi sedikit terbalik. Sedikit, karena sebetulnya posisi tetap sama, hanya saja dia butuh sesuatu dariku untuk bisa memenuhi janji lain. Sebuah kertas terdiri dari 6 butir penjelasan harus aku print untuknya. Sial, aku menghadapi masalah dengan printer. Kira-kira 10 menit aku habiskan untuk memperbaiki sambil bolak balik liat monitor.

Harusnya, sebagai orang yang mengerti arti "tunggu" dan "sebentar lagi", ia akan menjadi lebih sabar. Oh, ternyata hal itu membuat aku harus ditunggui sampai mata ketemu mata dan bahkan dengan seenak-enaknya memasuki wilayah aku tanpa ijin!

Ah, selama satu tahun terakhir aku musti bersabar-sabar menghadapi orang yang tidak bisa sabar 10 menit untuk sesuatu yang kemudian dikomentari,"udah, segini aja tokh".

Jedeng. Jedeng. Jedeng. Kepala bertemu tembok!

Blah. Ujian mental yang menyebalkan.

10.12.07

Buku di Akhir Pekan

Akhir pekan yang diisi dengan kedatangan abang, oleh-oleh buku, kopi, dan obrolan menyenangkan tentang banyak hal! Sekilas, tidak banyak yang istimewa. Rutinitas akhir pekanku hampir selalu diisi dengan hal-hal seperti itu. Tetapi, pada saat hal-hal "biasa" tersebut betul-betul dinikmati dan disyukuri, dia berubah menjadi hal yang tidak biasa.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketDua buku yang menemani kami adalah karangan Naomi Klein. Entah bagaimana ceritanya, kami sama-sama membeli buku itu. Hanya saja, aku membeli No Logo, dan abang membeli The Shock Doctrine. Tidak janjian. Kebetulan malah. Aku tidak menyangka menemukan buku itu sewaktu mencari kado ulang tahun mba tersayang, dan abang juga menemukan buku itu justru karena ada penundaan keberangkatan pesawat.

Buku memang selalu mengisi hari-hari kami dalam banyak hal walaupun sebetulnya sih, selera kami tidak terlalu sama. Apalagi kalau aku sedang kejar tayang membaca buku-buku fiksi yang sama sekali bukan selera abang (mungkin Iron Heel dan juga tetralogi Pramoedya bisa jadi perkecualian). Biasanya, dia hanya bisa terheran-heran saja dengan semangat dan kecepatan aku membaca buku-buku fiksi yang mehek-mehek itu. Ah, tidak apa-apa. Kami masih bisa tetap menikmati buku bersama-sama.

Dan, akhir pekan kemarin menjadi begitu menyenangkan.


ps: delayed jadwal pesawat kayaknya jadi teman sejati, hari ini giliran aku kena tunda jadwal, mudah-mudahan nanti ketemu buku-buku asik di bandara.

3.12.07

I love (this) Monday

Senin adalah hari menyebalkan. Bangun pagi lagi, setelah dua hari bisa bangun agak siang. Mulai kembali bekerja setelah Sabtu dan Minggu dihabiskan dengan berlibur. Bertemu kemacetan dan juga tumpukan pekerjaan sisa-sisa minggu sebelumnya. Tidak heran, orang lebih suka berteriak "I hate Monday".

Senin menjadi lebih menyebalkan kalau minggu sebelumnya dihabiskan berjalan-jalan untuk pekerjaan sampingan sambil setengah berlibur. Selama 7 hari, ritual yang dilakukan adalah bangun siang, berenang, makan pagi super lengkap, kopi panas yang membangkitkan semangat dan ditutup dengan makan malam di berbagai tempat. Membayangkan akan kembali memulai hari Senin dengan bekerja di ibu kota bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketUntunglah tawaran untuk minum kopi pagi-pagi di rumah kopi langganan tidak kutolak. Janjian paling pagi yang pernah aku lakukan. Jam 7 pagi saja! Siapa takut, deh. Kenikmatan spesial phoenam itu sudah terbayang di depan mata. Mengalahkan rasa kantuk dan malas yang muncul di setiap Senin pagi. Memampukan aku membawa kendaraan di saat matahari masih mengendap-ngendap.

Hasilnya adalah pagi yang super menyenangkan. Pagi-pagi mendung-mendung ditemani hangat-hangat kopi dan roti bakar. Pagi yang penuh semangat! Bersama dia -teman minum kopi yang menyenangkan sekali- bercerita ngalor ngidul tentang ini itu selama seminggu terakhir, ditemani kopi susu panas, nasi kuning dan roti sarikaya. Kamu, biar kata kantor jauh, nanti gabung ya dan kamu cepet sembuh biar bisa segera sarapan bareng dan kamu juga, kapan-kapan bergabung ya!

Awal pekan yang menyenangkan dan tampaknya perlu sering dilakukan sebagai dopping dan mood-booster!


Kamu sendiri, apa yang dilakukan kalau "I hate Monday" mulai nongol?

30.11.07

Kembali keluar dari rutinitas. Kembali melakukan perjalanan. Dari satu kota ke kota lain. Untuk urusan pekerjaan yang lebih membuat aku terus menerus berbicara dan bertemu begitu banyak orang dalam satu hari. Menyenangkan sekali.

Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya.

Setahun sekali, dalam 5 tahun terakhir aku melakukan perjalanan ini. Bergerak dari kota ke kota. berpindah dari hotel ke hotel. Packing, unpacking. Bus dan pesawat menjadi sahabat yang akrab.

Aku masih menikmati Yogya. Bangun pagi, jalan kaki, berbelanja di Pasar Beringharjo melewati jalan-jalan belum pernah kulewati.

Sebentar lagi aku akan berangkat ke Surabaya, nanti aku tulis lebih banyak lagi.

22.11.07

Tidak Tepat Waktu

Justru di saat aku harus menunggu selama 3 jam, aku mendapat informasi ini


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

21.11.07

Mental Proyek

  • Setiap pekerjaan diartikan sebagai proyek. Ini berarti ada sekumpulan uang yang siap dipergunakan.
  • Tujuan proyek adalah ada uang yang dapat dimanfaatkan. Eh, sudah ditulis ya? Ada tujuan khusus di proposal? Itu semua bisa diatur!
  • Proyek berarti pekerjaan tambahan. Tidak perduli kalau proyek itu sebetulnya merupakan pekerjaan harian yang kebetulan saja mendapat tambahan judul "proyek" karena ada sponsor/ dana tambahan/ pihak lain yang terlibat. Proyek adalah pekerjaan tambahan (walaupun tidak ada yang baru dan ditambah kedalam tugas dan beban kerja!), dan itu berarti gaji tambahan.
  • Proyek ada karena ada orang yang membawa proyek, membuka jalan untuk proyek, memperkenalkan dengan lokasi proyek. Ini berarti ada uang terimakasih yang harus diberikan.
  • Proyek adalah pemberian, dan karena itu, segala aset, perlengkapan, prasarana yang ada bersamaan dengan proyek itu adalah milik orang yang terlibat dengan proyek, langsung atau tidak langsung (ini tergantung tingkat kekuasaan dan daya persuasi).
  • Menyelesaikan proyek harus dengan menciptakan proyek baru. Ini dilakukan demi kesejahteraan bersama.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

14.11.07

Terjemahkan

Aku bukan penterjemah yang baik. Semua tergantung situasi. Ketika pekerjaan lebih banyak menuntut aku untuk menulis dalam Bahasa Inggris, aku menjadi lebih terbiasa. Sebaliknya, ketika Bahasa Indonesia yang menjadi bahasa utama untuk laporan, aku lebih sering menulis dalam Bahasa Indonesia. Di saat-saat seperti itu, kemampuan menulis dalam Bahasa Inggris suka turun, terkadang ke titik terendah.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket Paling berat, kalau menterjemahkan menjadi bagian dari penyusunan laporan. Jujur saja, masih lebih mudah menulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris, ketimbang menterjemahkan. Apalagi kalau diburu-buru. Tapi, sampai sekarang, aku masih menghindari pemakaian software terjemahan yang banyak dipasaran. Hasilnya, aku musti bekerja ekstra untuk menterjemahkan. Wajib hukumnya untuk membaca hasil terjemahan dua sampai tiga kali bahkan lebih. Selalu ada saja yang tidak pas. Begini deh nasib kemampuan bahasa pas-pasan.

Hari ini, aku baru saja terbengong-bengong. Aku menerima sebuah tulisan dalam Bahasa Inggris yang harus aku ulas. Tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku. Jadi sebetulnya tidak ada keharusan untuk melakukan review, tapi tokh aku lakukan juga. Sungguh, aku bingung sekali membaca tulisan itu. Sampai sempat berpikir, apa barangkali kemampuan membacaku juga sekarang jadi jeblok? Semakin aku amati, semakin banyak hal aneh yang aku temukan.

Aku menyerah.

Aku kontak orang yang menyusun tulisan, dan terutama orang yang memberi input untuk tulisan itu. Hasil obrolan sementara membuat aku sampai pada kesimpulan bahwa dia membaca tulisan Bahasa Inggris, kemudian menterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, mencari kata-kata kunci, dan menulis kembali ulang dalam Bahasa Inggris. Dan, ya, terjemahan Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris mempergunakan software.

Sebentar.

"Pertemuan [bahwa/yang] prosedur untuk kembangkan MSP proposal akan bersifat diperumit lebih sempit dibanding [yang] diperlukan untuk proposal" adalah hasil terjemahan software yang kemudian diterjemahkan balik (tetap pakai software) menjadi procedure to develop the MSP proposals would be a little more complicated than required for proposals


Maksud Lo?



Bukan sekedar kualitas terjemahan tetapi, TOLONG, ada yang bisa bantu aku, kenapa tulisan berbahasa Inggris itu harus diterjemahkan ke Bahasa Indonesia untuk kemudian diterjemahkan balik ke Bahasa Inggris?


Ugkh, aku jadi teringat tulisan tentang terjemahan yang lain, nih

7.11.07

Pindahan

Satu minggu kemarin, sibuk bolak balik pindahan rumah. Dari rumah kontrakan kembali lagi ke rumah yang selama 5 bulan terakhir direnovasi. Bukan rumah sendiri tetapi rumah adik yang aku tumpangi. Sebetulnya, yang lebih banyak bolak balik adalah adikkudan keluarga ketimbang aku (yang lebih sering pulang malam karena cari kopi ketimbang pulang malam karena ngangkut barang).

Rumah itu awalnya hanya tempat persinggahan. Kalau ada anggota keluarga yang kebetulan harus bekerja di Jakarta, bisa tinggal disini. Ketika adikku memutuskan untuk tinggal disitu, rumah dirasa tidak cukup menampung anggota keluarga lain yang datang dan pergi ke Jakarta. Ditambah beberapa alasan lain, keputusan dibuat bahwa rumah perlu dibenahi. Renovasi yang memakan waktu dan biaya yang tidak kecil.

Masa-masa melelahkan. Memikirkan apakah rumah bisa seperti yang diinginkan. Kuatir apakah punya cukup biaya. Tidak sabar kapan rumah tersebut selesai dikerjakan. Tetapi ketika semua selesai, tidak sabar memasuki rumah baru dan mendandaninya.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketRumah, adalah dimana hatimu berada. Menurutku, diri sendiri adalah rumah yang paling nyaman. Hanya saja, selalu ada saat dimana rumah itu tidak bisa lagi menampung hal baru yang terjadi dan menjadi tidak lagi nyaman. Rumah tersebut harus bebenah. Itu butuh biaya dan waktu, kan? Barangkali, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki sedikit, ada yang harus diganti, ada yang harus dirubah atau bahkan musti dihancurkan dan membangun yang baru.

Aku mencoba melihat diriku, membandingkannya dengan diriku di tahun-tahun sebelumnya. Ada beberapa hal yang secara sadar aku benahi, ada yang secara tidak sadar berubah untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Seperti renovasi rumah, ada harga yang harus dibayar, ada waktu yang tidak sedikit, ada yang hilang, ada yang berubah, ada yang baru.

Atau barangkali, lebih baik rumah lama dijual dan beli rumah baru saja ya?

1.11.07

Tips Berkonsentrasi

Selama (terutama) 4 tahun terakhir, aku terbiasa bekerja dengan gaya kebut-kebutan, karena pekerjaan yang memang semua harus selesai secepatnya. Kerja 24 jam sudah biasa, tapi paling lama hanya sekitar 2 sampai 3 bulan dan kemudian berlibur (selama sebulan dua bulan juga, jangan sirik ya). Sekarang aku bekerja kantoran (lagi). Bertemu dengan beberapa pekerjaan rutin dan sering kali bertemu pekerjaan dengan target waktu yang tidak selalu mepet. Tidak jarang, aku sendiri yang buat target waktu itu. Catatan: kondisi ini sama sekali tidak berlaku dengan masa-masa laporan kuartal dimana semua "COB TODAY", seperti kata Dias. Bikin pusing kepala, deh.

Biar begitu, enak juga kalau pekerjaan itu sudah "deadline", mau tidak mau musti selesai sesegera mungkin. Bekerja jadi sangat fokus, dan pekerjaan lain bisa dikepinggirkan dengan alasan itu.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketKalau tenggat waktu masih jauh, dan ada beberapa pekerjaan dengan tingkat prioritas sebelas dua belas alias mirip-mirip, baru deh masalah bermunculan. Mana duluan yang mau dikerjakan? (Dulu aku gila jadwal dan ngotot banget bekerja sesuai jadwal, kesering dapat order dadakan membuat jadwal bisa dikesampingkan, deh) Walhasil, badan ada di kantor, duduk di meja kerja, mata menatap monitor komputer, tapi di layar yang terlihat malahan facebook. Hai, jangan ketawa, nanti ketularan, loh!

Kalau sudah kayak begitu, aku ingat beberapa tips dari Matthew Stibbe, terutama tulisan dia tentang cara berkonsentasi dalam menulis. Sebagian besar yang dia tulis, dan komentar terhadap artikel itu berguna sekali. Dari situ aku punya beberapa tips favorit dan ditambah dari pengalaman aku sekarang punya daftar beberapa hal yang bisa dilakukan supaya bisa lebih konsentrasi bekerja
  1. Datang sepagi mungkin ke kantor. Kalau jam kerja adalah jam 8, coba deh datang jam 7. Masih sepi, dan segar (di kantorku ditambah wangi lantai baru dipel). Cara ini cocok dengan pegawai kantor di Jakarta. Jalanan belum berubah jadi neraka jahanam yang menguras energi dan emosi. Kalau kerja di rumah, bisa bangun jam 5 pagi atau jam 6 pagi, tuh.
  2. Datang tidak dengan otak kosong. List pekerjaan sudah disusun di otak selama perjalanan ke kantor yang makan waktu 30 sampai 40 menit.
  3. Pakai metoda 15-5-3 yang aku dapat dari aspiring spirit. Kerja selama 15 menit tanpa interupsi, hadiahi diri sendiri dengan 5 menit break (biasanya aku pakai cek email, bloglines atau facebook), dan ulangi selama 3 kali. Dalam sejam, lumayan tuh ada 45 menit yang terpakai dengan baik. Ini cocok banget dengan aku yang fokusnya terlalu gampang berpindah *tersipu-sipu*. Bisa saja ini dirubah jadi 20 menit atau 30 menit ya.
  4. Tadi aku bilang, kalau break 5 menit aku pilih cek email, blogwalking atau facebook. Ini pilihan kegiatan yang sedikit ambisius memang. Lebih sering niat 5 menit berubah jadi 50 menit. Kalau aku sadar, aku lagi lemah niat, aku memilih 5 menit itu untuk melemaskan otot badan, jalan-jalan ke lantai bawah. Aku menghadiahi diriku dengan facebook di waktu makan siang atau setelah jam 5 sore nanti. Kadang, aku kasih sogokan untuk diri sendiri dengan email satu jam sebelum bekerja. Ini bisa dilakukan kalau aku datang jam 7. Syaratnya, di jam 8 aku sudah harus kembali bekerja.
  5. Beberes meja. Ini terbukti manjur. Terutama ketika konsentrasi betul-betul payah. Pada dasarnya, aku cukup rajin membereskan timbunan kertas, tapi tokh selalu ada ada saja kertas yang sudah tidak terpakai teronggok di atas meja atau bindex. Aku susun ulang kertas-kertas itu. Jangan ambisius membereskan kertas kalau tumpukan kertas itu setinggi satu meter. Bisa-bisa satu hari hanya membereskan kertas. Oya, pernah intip laci meja kerja? Coba lihat, ada berapa banyak sampah atau barang yang tidak pernah digunakan nongkrong disana.
  6. Membuat minuman penambah semangat. Tiap orang berbeda. Untuk aku, pagi hari paling manjur pakai kopi aroma. Kalau cuaca agak mendung, aku lebih memilih segelas hot chocolate, swissmiss pilihan utamaku. Teh (terutama mint) suka juga menemani aku, sayangnya teh mint kan jarang dijual dipasaran.
  7. Pergi berolahraga. Buat keringat sebanyak-banyaknya. Aku biasa memilih jam makan siang untuk kabur ke tempat fitness. Latihan kardio 40 menit biasanya malah membuat aku cespleng. Sehabis latihan, mandi air dingin. Ah, bayangkan jam 1 siang, tapi badan segar sehabis olahraga dan mandi. Siap tempur buat beresin pekerjaan deh.
  8. Kalau sudah mentok, mendingan sore-sore ketemu teman. Ini kegiatan paling menyenangkan yang tidak butuh alasan lagi mentok sama pekerjaan tetap sah dilakukan. Bisa sambil mengeluarkan sumpah serapah dari tempat kerja. Buat aku, ini cukup membuat aku berenergi untuk kembali ke kantor besok paginya, selama pulangnya tidak kemalaman. Tips ini bisa diganti dengan bermain dengan keponakan. Ah!
  9. Kalau masih mentok, cuti saja. Satu hari. Bisa dipakai berjalan-jalan, atau kalau aku bisa juga dipakai bekerja di Bandung. Ini resep personal yang manjur buat diri sendiri.
  10. Tips dari kamu deh. Punya cara favorit biar ada yang dihasilkan dari meja kerja dan bukan cuman menambah aplikasi di facebook?

29.10.07

Kebaktian di Pengkolan Kampung

Aku, baru saja menemukan sebuah tulisan yang ternyata sudah lama antri. Rasanya baru saja kemarin, tapi ternyata sudah 1,5 bulan yang lalu aku tulis. Untungnya, tulisan terakhirku tidak terlalu lama, kok, tapi memang tulisan itu gak penting banget ya.

Pertengahan september lalu, aku kembali mengunjungi Manado. Kali ini, aku memutuskan untuk menyepi. Menginap agak di luar pusat kota Manado, sekitar 1 jam perjalanan dengan mobil pribadi, karena kondisi jalan yang agak macet. Aku memilih Hotel Santika Resor. Foto-foto di website cukup menggoda, dan aku dapat tawaran harga yang lebih bikin menggoda. Sebagai pembenaran, aku pakai kondisi badan yang memang sedang sangat tidak sehat sebagai alasan untuk memilih akomodasi yang sedikit terlalu nyaman (Tidak sepenuhnya pas, karena aku harus bekerja diantara tamu lain yang jelas-jelas sedang menikmati libur, sebagian besar para penyelam, tanpa ada orang Indonesia lain).

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPerjalanan kali ini dilakukan di akhir pekan. Berarti, hari Sabtu dan Minggu aku harus bekerja (bertambah lagi alasan untuk memilih resor sebagai tempat menginap). Minggu, 16 September 2007, aku mengunjungi sebuah gereja kecil kurang lebih 500 meter dari Hotel Santika. Itu sama dengan sepuluh menit berjalan kaki dengan mempergunakan sendal dengan hak kurang lebih 3,5 sentimeter. Serius! Bukan siksaan, karena perjalanan itu menyenangkan sekali. Di kiri kanan ada rumah penduduk, dengan pagar bambu dan bunga-bunga ditanam disisi kiri dan kanan jalan. Aku tidak berjalan sendiri, karena ada beberapa orang yang berjalan kaki, dari pakaian dan buku tebal yang dibawa (Alkitab, sudah pasti), bisa aku tebak bahwa tujuan aku dan mereka sama.

Gereja itu kecil. Setidaknya dibandingkan dengan beberapa gereja yang sering aku datangi di Bandung, atau di Jakarta. Gedung gereja tengah dalam perbaikan. Batu bata merah yang masih telanjang menjadi dindingnya. Itupun sebagian masih bertopang pilar-pilar baja yang sudah ditutup semen. Kerangka untuk jendela di lantai dasar sudah ada, tetapi jendela belum terpasang. Di salah satu sudut, ada seng yang tampaknya diletakkan sebagai pengganti tembok sementara, sayang sekali, seng itu tampak begitu terlalu kecil dibandingkan dengan lubang yang menganga.

Kursi plastik berwarna putih menghiasi ¾ ruangan. Sisanya diisi oleh kursi kayu sederhana, beberapa dicat putih, sebagian dibiarkan berwarna asli kayu, coklat. Lantai semen sedikit berdebu. Tempat sampah. Tidak heran, masih ada anak-anak kecil yang ke gereja sambil makan jajanan mereka yang dibungkus plastik. Untuk jajanan, sama saja kok sama berbagai tempat di Indonesia. Sigh. Urusan yang satu ini, mau warung di pusat kota Bandung, sampai pedalaman Sulawesi, sama saja.

Tiga kotak persembahan diletakkan di ruangan. Pendidikan. Diakonia. Pembangunan. Mengingatkan aku dengan gereja di Banda Aceh, dan juga Rotterdam. Harus berdiri dan berjalan langsung ke depan kotak untuk memberikan persembahan. Seorang bapak pernah memberitahu aku, di sebuah gereja, kegiatan ini menjadi ajang bisik-bisik. Pakaian, atau cerita-cerita tidak penting tentang orang yang sedang berjalan memberi persembahan. Sedih, ya.

Sebuah spanduk terpangpang di mimbar. Rasanya itu spanduk dari pesan akhir tahun PGI. Soalnya itu spanduk yang cukup akrab. Aku melihat tulisan itu di Bandung."Berubahlah oleh pembaruan budimu". Berwarna ungu.

Tidak ada alat musik. Jemaat bernyanyi dipimpin oleh seorang perempuan. Ini dia yang betul-betul seru. Soalnya, untuk aku, terasa sangat aneh. Maklum, aku terbiasa mendengar intro dari piano atau organ sebelum menyanyi. Bagaimana cara tahu kunci yang harus dipakai untuk bernyanyi? Tidak bisa aku bayangkan kalau bisa ada 5 nada dasar, semua bernyanyi pada saat yang sama. Aduh! Bagaimana dengan ketukan? Tapi aku salah besar. Semua berjalan lancar. Aku malah mengagumi kemampuan jemaat bernyanyi dengan cepat, langsung tahu mau bernyanyi di nada apa. Tentu saja, cenderung lebih rendah daripada kalau pakai iringan alat musik. Aku ingat, satu waktu, di sebuah gereja di Bandung, pianis tidak masuk dan sampai setengah kebaktian, kami harus bernyanyi tanpa iringan musik. Mudah diduga, semua kacau balau. Jemaat bingung memulai nyanyian, padahal sudah ada pemimpin nyanyian, loh.

Masih urusan bernyanyi, ternyata sebagian besar jemaat mengandalkan ingatan untuk bisa bernyanyi. Beberapa memang punya buku nyanyian, barangkali harga buku seperti itu tidak murah, jadi lebih baik lagu-lagu itu dihafal saja. punya buku nyanyian atau menghafal. Itupun hanya dinyanyikan bait pertama dari tiap lagu. Untunglah mereka memakai Kidung Jemaat dan Nyanyian Kidung Baru, aku cukup bisa mengingat sebagian besar lagu-lagunya, tapi suara sember membuat aku tidak bisa bernyanyi.

Terus, sebelum dan sesudah kebaktian ada nyanyian kelompok. Ibu pendeta memanggil kolom-kolom tertentu. Aku menduga, kolom ini kelompok-kelompok kecil yang biasanya didasarkan pada tempat tinggal, untuk memudahkan persekutuan rumah tangga dilakukan. Cara mereka bernyanyi begitu sederhana. Mereka maju kedepan, memegang buku lagu, memilih lagu, dan bernyanyi bersama. Iya, seperti itu saja. Tidak ada pembagian suara. Tidak ada iringan musik. Tidak ada aransemen khusus. Seru!

Untungnya tidak ada "pemain tambahan" lain ikut bergabung di kelompok bernyanyi itu. Misalnya anjing. Bukan bermaksud menghina, tapi memang anjing-anjing sekitar bisa keluar masuk dengan santai ke dalam gereja. Aku cuman membayangkan, kalau mendadak anjing itu maju ke depan, dan malah menggonggong. Uh, bisa bubar jalan kebaktian itu.

Hanya saja, khotbahnya panjang sekali. Iya, panjang. Ibu pendeta hanya membacakan ulang catatan khotbahnya. Maaf ibu pendeta, tapi aku tidak sanggup berkonsentrasi mendengar isi khotbah. Bisa jadi, hanya aku saja yang berpikir seperti itu. Jemaat lain cukup serius mendengarkan ibu pendeta.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketSeusai kebaktian, setiap jemaat asik ngobrol dengan jemaat lain. Ya, semua orang tahu semua orang di gereja ini. Aku sudah pasti diidentifikasi sebagai orang baru disana. Berhubung aku ada janji, aku agak menghindar berbasa-basi dan bergegas kembali ke hotel. Cukup menyesal, ini kebiasaan bergereja di Bandung, begitu terburu-buru. Jemaat lain, menikmati hari Minggu mereka di gereja, tokh rumah hanya 5 menit berjalan kaki.

Barangkali ini rasanya punya tempat ibadah di “tiap pengkolan” dalam skala lingkungan. Kesederhanaan, kemudahan, dan kedekatan yang nyata aku rasakan. Kemewahan yang tidak pernah aku punya.

ps: aku tidak punya foto gereja itu, sebagai ganti, aku kasih foto suasana di sekitar Santika ya


5.10.07

Aku Manusia Aneh?

Mia mendorong aku menulis delapan hal yang aneh tentang aku. Sebetulnya, aku sudah pernah tulis lima diantaranya. Jadi, aku musti tambah tiga lagi, atau bikin delapan ya? Buat Mia, aku kasih delapan deh, mumpung bulan puasa (loh? emang ada hubungannya ya?)

  1. Aku malas balas sms, dan lebih suka langsung menelepon. Beberapa teman membuat aku jadi lebih terbiasa untuk ber-sms. Jadi, jangan heran dan jangan marah kalau sms yang dikirim lama direspon. Jangan marah juga kalau responnya hanya: OK.
  2. Tapi, aku sangat suka bertelepon. Kalau pulsa tidak harus bayar, barangkali aku akan menghabiskan sebagian besar waktuku hanya untuk bertelepon! Sekarang, aku sering bertelepon dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah. Menyetir atau tidak menyetir, kegiatan bertelepon tetap dilakukan.
  3. Kalau tidur, aku butuh selimut, setidaknya untuk menutup perutku. Tidak ada selimut, kain apapun jadi.
  4. Aku tidak suka pakai sandal. Di rumah, aku selalu bertelanjang kaki. Sepatu ditinggal di mobil, dan dari mobil ke rumah (juga sebaliknya dari rumah ke mobil) biasanya aku jalan tanpa sepatu. Di kantor, kalau lupa, kadang-kadang berjalan ke meja teman kerja tanpa alas kaki.
  5. Aku selalu bermimpi. Setiap hari. Karena itu, hal pertama yang aku pikirkan waktu bangun adalah,"tadi aku mimpi apa, ya?" Aku tidak bisa mengartikan mimpi, dan mimpiku sebagian besar dapat dipastikan adalah bunga tidur. Oya, ada yang bilang mimpi aku itu "lucid dream" karena aku bisa mengontrol mimpi aku. Kalau sudah bosan, aku tinggal bangun. Kalau dikejar orang, aku bisa terbang atau terkadang aku bisa berubah jadi orang ketiga. Gampang saja. Rasanya ini pernah aku menulis tentang ini, tapi malas mencari tulisan itu.
  6. Aku suka berjalan kaki. Tidak ada penjelasan. Aku hanya suka.
  7. Dalam kondisi normal, aku tidur terlentang, tanpa bantal, tanpa alas kepala. Kalau aku tidur pakai bantal, waktu bangun leherku suka sakit.
  8. Rambutku adalah salah satu hal yang paling sering berubah. Keriting sampai masuk sekolah dasar, lurus sempurna selama sekolah dasar, mengembang bergelombang selama SMP dan SMA, bergelombang di bagian depan ketika kuliah. Saat ini, rambut ini cukup bersahabat, bisa bergelombang atau lurus, sesuai kebutuhan.
Ah, Mia, tidak sesulit yang aku bayangkan. Lebih sulit cari waktu di tengah tagihan-tagihan dari boss *wink*. Sekarang musti cari 8 korban baru ya? Dinda, Dita, Kiki, Sahat, Bie, Geget,Hagi dan Silverlines (translation available..hehehe)

ps: ada dua tulisan terkait dengan tidur, itu sudah jadi pertanda tertentu tidak ya?

25.9.07

Bandung Banting Harga

Salah satu alias Kota Bandung adalah Parisj Van Java. Aku ingat, Paris adalah kota yang juga kerap macet, dan aku pikir yang "Paris" tentang Bandung saat ini hanyalah kemacetan. Selamat tinggal kejayaan Bandung yang mencapai puncak di tahun 1950-an. Tidak ada lagi udara sejuk, kenyamanan, dan keindahan yang menjadi wajah Bandung.

Bandung direncanakan untuk menjadi kawasan plesir. Tempat berlibur orang Belanda yang bekerja di perkebunan di seputaran Bandung. Hal itu menjelaskan jalan yang serba pendek dan banyaknya persimpangan di Kota Bandung. Sampai saat ini, Bandung masih menjadi menjadi pilihan berlibur bagi sebagian orang yang tinggal di sekitar Bandung, terutama dari Jakarta. Akhir pekan dipilih menjadi waktu terbaik menikmati Bandung.

Sayangnya, Bandung seperti toko banting harga untuk meraih pengunjung. Di toko yang sedang banting harga, pengunjung sering panik dan kuatir tidak memperoleh barang yang diinginkan. Mata harus awas mengincar barang idaman. Tidak ada kenyamanan dalam suasana belanja seperti itu.

Dan di Bandung, kenyamanan adalah hal terakhir yang diperoleh mereka yang ada di akhir pekan. Seperti suasana banting harga di pertokoan, Bandung hiruk pikuk dengan berbagai jenis manusia yang umumnya punya satu kesamaan. Haus belanja. Pakaian, makanan, tanaman, dan daftar yang masih terus berlanjut untuk berbagai barang yang bisa dibeli di Bandung.

Manusia berjubel datang mencoba mencicip sedikit Bandung yang tersisa, padahal sudah hampir tidak ada lagi yang tersisa. Bandung semakin penuh, sesak, macet, panas dan mahal!

Lihat Parisj Van Java di kawasan Sukajadi. Nama sebuah pusat perbelanjaan yang terinspirasi dari salah satu julukan Kota Bandung. Cobalah mengujungi PVJ - nama bekennya - pada akhir pekan. Kemacetan sudah menyapa bahkan sebelum masuk ke kawasan PVJ. Antrian untuk mencari tempat parkir pernah membuat aku hampir satu jam tertahan di dalam kendaraan. Maju tidak bisa, mundur pun tidak mungkin. PVJ di malam hari memang begitu memukau, dengan lampu-lampu yang berwarna-warni di seluruh kawasan. Makan malam di restoran yang berjejer menjadi pilihan banyak orang. Mau makanan Indonesia sampai Amerika, semua ada. Tidak sedikit datang sekedar untuk cuci mata. Maklum, pengunjung PVJ itu gaya habis. Aku sendiri sering merasa seperti sedang berada di sebuah runway, menyaksikan peragaan busana. Aku bisa mengetahui apa yang sedang "in" dalam soal pakaian disini, sayangnya beberapa orang betul-betul menjadi korban mode dan akhirnya menjadi korban tertawaan pengunjung lain.

Rasanya Parisj Van Java memang sedikit banyak mewakili Kota Bandung. Kemacetan tidak berhasil meruntuhkan keinginan sebagian besar orang untuk datang kesana. Daya tarik yang cukup kuat, membuat orang rela bersusah-sudah datang dan kemudian menghabiskan uang disana. Perlu diingat, bukan tidak mungkin, satu waktu daya tarik itu hilang. Kalah dengan daya tarik lain, atau sekedar pudar oleh waktu karena tidak mampu mempertahankan daya tarik tersebut.

Ada puluhan studi tentang Bandung, bertumpuk di kampus-kampus favorit yang bertebaran di Kota Bandung, tapi sedikit sekali yang terpakai dan berhasil dimanfaatkan oleh Kota Bandung. Ah, aku merindu Bandung yang lebih baik, yang bisa menjadi tempat tinggal dan tempat berkarya bagi penduduknya, dan bukan sekedar ada untuk melayani pengujung dan bahkan dilakukan dengan banting harga. Lebih baik tahan harga, dan menyortir pengunjung terbaik yang tahu menghargai kualitas.

Selamat Ulang Tahun Kota Bandung!

14.9.07

Menjadi Sahabat

Sahabat adalah salah satu hal terpenting dalam hidupku. Tidak heran, para sahabat sering menjadi inspirasiku dalam menulis.

Persahabatan yang tidak dihitung dari jumlah telepon atau sms yang diberikan perhari, dan juga bukan dari jumlah pertemuan dalam setahun. Persahabatan tidak bisa dibuat dalam hitung-hitungan apapun, karena dalam persahabatan, hati yang punya peranan, dan hati mengatakan apapun yang dia mau.

Berat rasanya, aku kembali harus melepas dua sahabat terbaikku di tahun ini. Bukan putus persahabatan, tetapi karena mereka berdua akan berada beberapa ribu kilometer dari tempat aku berada saat ini. Butuh beberapa juta rupiah untuk bisa menemui mereka setidaknya selama beberapa tahun ke depan. Tidak mudah, walaupun teknologi memungkinkan komunikasi bisa berlangsung dengan lebih mudah ketimbang beberapa tahun lalu.

Aku bersyukur, atas sahabat-sahabat baru yang hadir dalam hidupku. Sahabat memang urusan hati. Sahabat tidak bisa dipaksakan, tidak bisa sengaja dicari, atau sengaja dibuat, sahabat akan menjadi sahabat, tanpa alasan.

Untuk kalian sahabat-sahabatku, aku sayang kalian semua, dan terimakasih sudah menjadi bagian dalam hidup aku (termasuk kamu-kamu yang tidak pernah terlihat disini, tapi justru menjadi sahabat-sahabat terbaikku beberapa bulan kebelakang ini).

Ini sebagian (kecil) tulisan tentang (sebagian) sahabatku :

Sahabat
Teman-Teman
Sahabat (bagian 1)
Sahabat (bagian 2)
Teman Malang
Biar Lambat Asal Bertambat
Muka Baru Teman Lama


31.8.07

Mencari Budiman Bachtiar Harsa

Hari ini, aku menerima email keluh kesah seseorang yang berkunjung ke Malaysia. Budiman Bachtiar Harsa berusia 37 tahun, WNI asal Banten, karyawan BUMN berkantor di Jakarta. Itu adalah paragraf pertama dari hampir 20 paragraf email yang diberi judul Hati2 wisata ke Malaysia! Email ini datang tepat berdekatan dengan suasana yang kembali memanas antara Indonesia dan Malaysia karena kasus TKI, dan pemukulan terhadap Ketua Dewan Wasit Kontingen Karate Indonesia, Donald Luther Colopita.

Email ini menjadi menarik buatku, karena ada kalimat: dari milis Pantau. Aku tergabung dalam salah satu milis Pantau, dan tidak pernah menerima email itu sebelumnya.

Aku punya kebiasaan yang seringkali mengganggu beberapa teman, untuk selalu mencek semua email "fwd" yang diterima. Dan, tulisan Bapak Budiman Bachtiar Harsa ini tidak luput dari keingintahuanku, apakah ini cerita benar atau tidak.

Googling adalah cara paling gampang, dan saya temukan beberapa link dengan kata kunci Budiman Bachtiar Harsa. Sebuah blog pribadi, sebuah blog komunitas, sebuah forum dan sebuah situs berita memuat sebagian dari isi email tersebut. Liputan 6 menulis "Donald ternyata bukanlah korban pertama kekerasan polisi Malaysia. Budiman Bachtiar Harsa, eksekutif sebuah BUMN di Jakarta mengirim e-mail tentang pengalaman pahit berwisata ke Malaysia." Saya jadi bertanya-tanya, mengirim email ke siapa? Ada ketidakyakinan kalau Bapak Budiman mengirimkan email itu langsung ke Liputan 6. Atau, ini kekuatiran berlebihan? Kalau ternyata itu memang email yang langsung diterima redaksi, aku akui, aku salah. Tidak apa-apa. Malah barangkali aku akan dapat cerita dari tangan pertama, tokh?

Sebetulnya, seperti apa ya keakuratan dan kekuatan (?) sebuah email "forward-an" sebagai sumber informasi dalam sebuah berita?

Aku ingin sekali mencek nama itu lewat buku telepon, sayangnya di kantor tidak ada buku telepon. Ingin tahu lebih banyak tentang Bapak Budiman, seorang pegawai BUMN, masih muda (menurut aku 37 tahun itu masih muda loh), waktu itu terbang dengan kelas bisnis menggunakan Malaysia Airlines dan menyewa suite family di Hotel Nikko, dituduh sebagai TKI ilegal dalam acara berjalan-jalan di Malaysia yang dilakukan tahun lalu, 2006. Betul-betul pengalaman pahit. Hmmm, sebetulnya saya menemukan sebuah alamat email dari salah satu link di atas, dan juga menemukan nomer telepon yang aku duga nomer telepon CDMA si Bapak (hmm, yang ini jangan tanya dari mana ya *wink*), tapi sayangnya waktu saya sms tidak ada balasan.

Cerita Pak Budiman memang membuat miris, tapi mencari tahu terlebih dahulu berita yang kita dengar tetap harus dilakukan, tokh? Nanti kalau ada kabar dari Pak Budiman, aku kasih tahu ya. Atau, tolong kasih tahu, kalau aku sedang mencari Budiman Bachtiar Harsa.

Terbaru:
Aku memperoleh email Pak Budiman Harsadipura (well, nama yang sama kok!)

Ibu Mellyana yth, terima kasih atas atensi anda.
Saya juga menerima banyak email yang mempertanyakan kisah saya ini benar atau cuma email hoax saja. Saya tak peduli. Bagi saya, kasus pemukulan sdr Donald sangat mengganggu, terutama karena saya punya pengalaman serupa. Kalau ditanya mengapa baru sekarang saya bercerita, justru karena ada kasus serupa. Dulu, tahun lalu, who care?

Saya tidak menulis ke Pantau. Justru terlebih dahulu saya tujukan pada kawan2 di media. Bicara soal kepastian dan siapa saya, cukup teman2 pers/ media terpercaya yg saya ajak diskusi. Wawancanra TV sementara saya tolak karena saya juga sedang tugas di luar, dan saya ragu tampil di muka umum. Saya bekerja di BUMN, separuh pegawai negeri. Cukup teman2 di "program berita tv teraktual, tercepat, terpercaya" dan dotcom paling banyak di hit yang tahu detil saya.

Saya tidak punya HP cdma. Terima kasih sudah mencari saya, silakan hubungi melalui email bila ada keperluan lain.

Tolong pula suarakan, saya prihatin karena justru banyak yg mempermasalahkan perkara ini sebatas benar tidaknya identitas korban. Saya kira bila media kredibel sudh memuat tentu mereka sudah melakukan cek recheck. Atau ada juga yang mepertanyakan, "karyawan BUMN seusia anda sudah bisa jalan-jalan keluar negeri, pasti korupsi". Beragam memang. Teriam kasih bila pengalaman saya bisa dipandang sebagai cara kita berhati-hati dalam memilih tempat wisata. Itu saja.

Lihat, tidak sulit untuk mencari tahu. Buat aku, wajar kalau orang melakukan cek dan recheck, bahkan ketika itu berita di media kredibel. Menyesal mencari tahu? Tidak, malah puas banget! Terimakasih Fairy dan Lady Day.

24.8.07

Biang Sayang

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketTanpa disengaja, aku menemukan foto ini di PC kantor. Sepertinya terselip sewaktu aku memindahkan beberapa foto dari kamera. Disitu tertulis tanggal pengambilan foto. Tanggal 19 Maret 2007. Kurang dari enam bulan lalu.

Enam tahun yang lalu, di 2001, Biang hadir dalam keluarga kami. Biang adalah hadiah ulang tahun bagi Kris, adikku. Saat itu, kami sudah memiliki dua anjing lain, Belo dan Coco. Biang menjadi anjing terkecil di rumah. Bahkan bertahun-tahun kemudian, dia tetap menjadi anjing terkecil. Biang jenis anjing cihuahua.

Biang berarti anjing dalam Bahasa Batak.

Biang sangat pemilih dalam hal makan. Maunya makanan enak dan terutama mahal. Sekali waktu, ada dua jenis bagelan. Satu bagelan murah, satu lagi bagelan terkenal di Bandung dengan harga yang lebih mahal. Biang memilih bagelan kedua. Ini bukan yang pertama kali.

Biang tidak suka dimandikan. Untungnya, dia kecil. Jadi, mudah saja memandikan dia, walaupun ini berarti yang memandikan harus siap basah kuyup. Tidak apa-apa. Biasanya setelah mandi, dikeringkan dan dijemur di bawah sinar matahari, Biang akan tidur dengan pulas.

Urusan tidur, dia paling suka tidur denganku. Biasanya, dia akan memilih tidur di ujung kakiku. Kalau sedang manja, dia akan mencoba mendekatiku, dan tidur di dekat pinggang aku. Biasanya, tidak lama akan aku pindahkan kembali ke ujung tempat tidur. Lokasi favorit dia, selimut dan bantal. Tokh, aku tidak mempergunakan bantal untuk tidur, jadi bantal itu lebih sering jadi alas tidur Biang ketimbang alas kepalaku.

Mengajak Biang berjalan-jalan adalah perjuangan tersendiri. Biang sepertinya memang punya kebencian luar biasa terhadap kucing. Sepertinya sih karena waktu kecil, dia pernah diserang kucing, dan tidak berhasil melawan. Jadi, kalau waktu jalan-jalan ada kucing lewat, itu adalah malapetaka. Biang akan mengaing-ngaing. Keras. Menyayat hati. Sulit dikontrol. Tiba-tiba dia punya energi 100 kali lipat. Kalau dipelukpun, orang-orang akan mulai melotot ke aku, seakan-akan aku baru saja menyiksa sebuah anjing kecil tidak berdaya di pelukanku. Ah, seandainya mereka tahu!

Biang anjing manja yang tahu pasti bagaimana memperoleh perhatian yang dia inginkan. Seperti ketika salah satu anggota keluargaku marah dengan kelakuannya, dan mengeluarkan Biang dari luar, ditempatkan di halaman belakang, terkadang bahkan di "rumah besi". Biang akan mengaing-ngaing. Suaranya akan lebih keras, ketika melihat aku lewat. Biang punya pengetahuan yang lebih dari cukup, bahwa aku tidak akan tega membiarkan dia ada di luar. Biang betul. Aku akan sembunyi-sembunyi membawa dia ke kamarku.

Biang selalu menyambutku setiap aku pulang. Apalagi kalau aku baru pulang dari luar kota, dan pergi beberapa hari, minggu atau bulan. Tidak ada perasaan yang lebih menyenangkan daripada bermain bersama Biang setiba di rumah.

Satu kali, aku pulang terlalu malam. Tepatnya, subuh. Aku tidak membawa kunci pagar. Semua sudah tidur. Suara bel dan dering telepon tidak cukup untuk membuat orang rumah terbangun. Biang yang kemudian membangunkan semua orang. Dari luar, aku mendengar Biang menggonggong. Keras sekali. Tidak berhenti, selama lebih dari 30 menit. Suaranya terdengar bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Aku yakin, di dalam dia berlari-lari dari pintu ke pintu, dengan gonggongannya, membangunkan adik-adikku. Biang baru berhenti setelah ada yang bangun dan membukakan pintu untukku. Anjing lainnya, semua tertidur.

Beberapa bulan lalu, aku mendapati Biang tidak menyambutku. Aku heran, tapi tidak mencari lebih tahu. Biang, lebih sering berada di kerangkengnya sejak aku berada di Jakarta. Di kamarku, melalui jendela, aku memanggil Biang. Ia tidak menyahut. Aku terdiam. Aku mengingat mimpiku beberapa hari sebelumnya. Tanpa ada yang berkata apapun, aku tahu, Biang sudah mati. Ia sempat sakit sebelum mati, tanpa ada yang sempat merawatnya. Biang menjadi anjing ketujuh yang hilang dari hidup aku dan keluarga, dalam satu tahun terakhir. Biang menjadi yang terakhir bertahan dari penyakit aneh yang menjangkiti beberapa anjing lainnya. Serangan penyakit yang sama, untuk kedua kali, tidak mampu dia tahan.

Melihat fotonya, sore kemarin di kantor, membuat aku rindu Biang.

Dicari: 7 Anjing Pendamping

7.8.07

CLBK - Cinta Lama Bersemi Kembali

Aku jatuh cinta kembali. Dia bukan cinta pertamaku, barangkali yang ketiga. Bahkan sempat aku tinggalkan untuk yang keempat, kelima, keenam dan ketujuh. Tetapi, aku selalu kembali padanya. Terakhir di pertengahan tahun lalu, untuk kemudian merasa bosan luar biasa padanya. Ikatan antara kami, hilang entah kemana.

Hari ini, pagi ini, aku kembali lagi jatuh cinta padanya. Dengan kenyamanan yang dia berikan. Dengan keakraban yang sama. Dengan ketenangan yang bikin kangen. Dan aku bisa menikmati diriku sendiri bersamanya. Melupakan dunia luar. Melupakan banyak hal. Hanya aku dan dirinya. Menghabiskan waktu berjam-jam.

Dia memang telah banyak berubah, dan bahkan sempat berpindah tangan, membuat aku sempat tidak mengenalinya dan membencinya setengah mati. Tapi, aku tidak menyerah, dia yang aku dapat, dan aku akan upayakan sebisa mungkin kembali menemukan kenyamanan dan kehangatan yang selalu aku dapatkan darinya. Bertahun-tahun sebelumnya.

Aku dan dia, dan hubungan yang lebih dari satu dekade.

Kamarku. Kamar tidurku. Kamar dengan 1 tempat tidur, 1 meja rias, 1 meja kerja, 7 rak buku yang memenuhi satu sisi dinding, dan bertumpuk-tumpuk kotak berisi berbagai macam barang milikku.

Ya, aku jatuh cinta pada kamar lamaku di Bandung. Aku tahu, aku akan merindunya.

30.7.07

Singkat Saja

Minggu kemarin diawali dengan huruhara, pusing, gemas dan marah, yang pastinya menghabiskan energi sampai hampir di titik nol. Harus dilanjutkan dengan perjalanan ke Barru, Parepare dan Makassar yang sama-sama menghabiskan energi, tetapi juga menemukan energi baru. Diakhiri dengan perjalanan ke dunia para penyihir.

Bulan purnama kali ini, dihabiskan dengan tenang bersama Harry Potter. Ah!

Nanti ya, ceritanya

18.7.07

Pinjam CV

Buat aku, dan teman-teman (tertentu), pinjam meminjam CV itu jamak. Biasa, untuk keperluan tender. Supaya dapat proyek. Pekerjaan bikin rencana tata ruang atau pekerjaan sejenis.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketMeminjam. Karena CV itu memang diperlukan untuk tender. Konsultan mana, perusahaan mana yang punya orang-orang yang paling tepat, paling berkualitas, dan paling yang lainnya. Sering, dapat tender bukan berarti dapat kerjaan, bagi aku yang CV-nya dipakai. Maksudnya, kalau konsultan itu dapat tender, yang bekerja bisa jadi bukan aku yang CV-nya dipakai, tapi orang lain. Bisa jadi, tender itu bahkan di-subkontrak-kan lagi ke pihak lain. Makanya, istilahnya dipinjam.

Ada beberapa temanku yang ahli "menyulap" CV. Bukan menipu, tapi membuat CV itu terlihat lebih menjual. Mengganti kata, kalimat. Merubah kata kerja. Hal-hal seperti itu. Mereka, bisa melakukan dengan cepat, dan sering tidak lagi butuh konfirmasi, karena bisa menebak dengan jitu pekerjaan yang dilakukan si empunya CV.

Marah CV-nya dipinjam? Tidak. Tokh, aku juga pernah melakukan pekerjaan yang sebetulnya memakai CV orang lain untuk bisa "gol" proyek. Biasanya, aku anggap ini kayak investasi saja. Suatu waktu, biasanya kantor itu bakal kasih kerjaan kok.

Tapi, aku pernah marah besar, ketika CV aku dipinjam tanpa permisi. Pinjam meminjam, butuh etika. Dua perusahaan memakai CV aku, di posisi yang sedikit berbeda. Ricuh. Hanya satu yang permisi, dan tentu saja langsung bertanya kenapa aku tidak bilang kalau aku juga dipekerjakan oleh si pesaing. Jawabanku hanya satu,"aku tidak tahu kalau mereka punya CV aku, bahkan aku tidak tahu siapa mereka." Masalah ini diselesaikan dengan meminjam CV seorang teman, yang punya "jalur kerja dan sekolah" yang sangat mirip dengan aku.

Duh, susah nulis yang ini, sambil marah soalnya!

Setahuku, ada saja institusi pemerintah yang suka "iseng" mencek "konsultan". Dilihat kebenaran data di saat tender dengan pekerjaan. Ada juga tender yang mengharuskan pernyataan pemberi kerja sebelumnya, untuk membuktikan kebenaran CV. Itu hanya sedikit aturan, dan tetap bisa saja diatur.

Hari ini pinjam CV, barangkali suatu saat butuh pinjam hati nurani, moral dan etika?

CV = curriculum vitae, riwayat pekerjaan

10.7.07

Buruan Cium Gue

Sebuah film ABG yang kemudian dilarang beredar. Tidak pernah sempat aku tonton. Minat untuk itu, juga tidak ada, sih.

Buruan, katanya. Hayah, apa sih yang diburu-buru untuk sebuah ciuman?

Cium saja, gih!

Dibawa naik halilintar (yang di Dufan, bukan di angkasa). Dag dig dug. Waswas. Yakin tidak yakin.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPerjalanan awal yang lambat, naik ke atas, juga lambat, sudah mulai deg-degan, tiba-tiba menukik tajam, menyenangkan, sampai naik dengan cepat berputar dan d'oh rasanya semua darah naik ke atas kepala *kiasan dan dalam arti sebenarnya*. Kadar adrenalin jelas meningkat.

Begitu cepat.

"Kok udahan, ya?" menyesal, tuh. Ingin sekali mengulang, sudah pasti. Terus-terusan jangan! Terlalu biasa nanti.


Pencium hebat atau ciuman hebat? Silahkan pilih sendiri petualanganmu.

9.7.07

Berasa Seleb

Kembali ke Bandung. Kembali ke lingkungan lama. Muka lama. Senyum yang sama. Sang rumah. Setia menunggu pemiliknya datang.

Hot Baja. Kopi hitam. Panas. Diseduh dari campuran arabica-robusta 50:50. Dari Aroma.

Potluck. Tempat aku menyelesaikan sebagian besar pekerjaan paruh-waktu. Lebih dari 3 tahun aku menyambanginya. Sekali waktu, aku setengah mondok di teras belakang tempat itu. 8 jam. Sama dengan waktu kerja satu hari pegawai kantoran. Hot chocolate mint dan soto bandung adalah pesanan tetapku.

“Kemana aja, Mba Mel,”pertanyaan yang ia lontarkan. Dia bilang, itu pertanyaan Agung.

Agung, salah satu pegawai yang sudah bekerja disitu sejak sebelum Potluck menempati lokasi baru. Dia suka musik blues, kuliah di UNPAD dan bergabung dengan Palawa. Tidak banyak bicara dan murah senyum.

Colenak panas, kembali dengan segelas kopi hitam. Regular coffee. Kali ini, sebuah tempat baru tidak jauh dari Potluck.

Pojok kiri, ada muka yang tersenyum. “Hai, Bim,”seruku. Bimbim, sahabat Maurice adikku. Rumah kami berdekatan. Orangtua kami bekerja di institusi yang sama. Aku mengenalnya sejak ia masih SMA. Sekarang, ia sedang menyusun skripsi.

Menengok ke kanan, aku kaget,”Hai, apa kabar!”. Kia, sahabatku yang aku kenal lebih dari 20 tahun. Kami pergi ke sekolah minggu yang sama. 15 tahun kemudian, ke kampus yang sama. Kia baru selesai latihan bersama paduan suara ITB. Ada konser di bulan Agustus. Aku mundur dari latihan itu. Kombinasi tidak sempat dan kurang kukuh niat (untuk nekad menyempatkan diri).

Maurice dan dua orang sahabat datang. Jarot dan Muli. Berdua, pernah mengantarku pergi 6 jam keluar Bandung. Mereka tidak lama. Mereka memutuskan pergi ke tempat yang lebih hangat. Belakangan aku tahu, Maurice pulang jam 5 pagi.

Menjelang tengah malam, Dita bersama sekelompok teman datang. Padahal, kami nyaris bersama-sama melewatkan perjalanan Jakarta-Bandung dengan mobil tanpa AC di tengah kemacetan dan hujan deras, Jumat kemarin. Dita, aku kenal di Banda Aceh, sekarang dia juga berkerja di Jakarta. Dita, juga selalu pulang ke Bandung tiap akhir pekan.

Bandung. Selalu ada muka lama di setiap sudutnya. Seakan-akan kota ini terlalu kecil bagiku.

Terlalu beken atau kurang gaul? Bedanya tipis. Setipis.....hmmmm....setipis tissue paseo yang sudah diurai jadi dua. Nah lo!

5.7.07

Lelaki Sejati...

... selalu ingkar janji!

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketJangan salahkan janji yang tidak ditepati. Salahkan lidah yang tidak bertulang. Itu kata orang tua jaman dulu. Setidaknya ibuku senang sekali mengutip kalimat itu, kalau sedang kesal dengan janji 1000 janji ayahku. Janji yang dibuat ketika suasana hati sedang bahagia.

Nanti kita beli tas itu. Nanti kita pergi ke Bali. Nanti aku pulang cepat. Besok, aku akan datang. Minggu depan, aku akan ada untukmu. Silahkan katakan berbagai hal, lengkap dengan kata penunjuk waktu. Biasanya, waktu di masa datang.

Kalau sedang senang, apapun bisa dijanjikan.

Sedikit kesadaran, seringkali membuat janji-janji tersebut tampak lebih realistik...untuk tidak ditepati.




3.7.07

Mobil Pembawa Pesan

Mobilku unjuk rasa. Ia menuntut aku kembali ke Bandung, hari Minggu kemarin. Negosiasiku dengannya hanya berhasil sampai pintu tol Cimahi. Aku dipaksa kembali ke Bandung, setelah berputar di pintu tol Pasirkoja.

Mobilku memaksaku menghabiskan hari Senin di Bandung. Sayangnya, bukan untuk berlibur. Setidaknya, bukan liburan aku, tapi liburan dia. Maklum, hampir 3 bulan, dia tidak memperoleh istirahat dan perawatan yang layak bagi sebuah kendaraan yang harus sering bolak-balik Jakarta-Bandung.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketMobilku berhasil membuat aku panik. Karena kelakuan dia, membuat pekerjaanku di hari Senin terbengkalai. Barangkali, dia tersenyum dan berkata,"siapa suruh selama ini tidak mau menghabiskan waktu buatku." Bahkan ketika ia sudah mendapat beberapa perlengkapan baru, dia masih unjuk rasa. Selamat tinggal suhu adem di dalam mobil! Sampai aku kembali ke Bandung, tidak ada angin dingin. Dan, bayangkan perjalanan Bandung-Jakarta yang dilakukan di dalam ruang sauna. Dua jam (kurang sedikit) yang penuh keringat.

Mobilku bikin aku mau marah dan nangis dan kesal dan stress. Terbayang tumpukan pekerjaan dan laporan yang harus diselesaikan Senin kemarin.

Mobilku bikin aku kuatir akan terlalu banyak hal. Sampai pesan singkat yang panjang itu datang:

+62817230****
03-Jul-07
12:09
Hal kekuatiran.
Yesus berkata pada murid-muridnya. Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Sebab hidup itu lebih penting daripada pakaian. Perhatikanlah burung gagak yang tidak menabur dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah.


Kamu, terimakasih.

Boss, tunggu laporanku sebentar lagi, ya.

1.7.07

8 Jam Bersama Purnama

Waktu yang setara dengan satu hari kerja di kantor-kantor pada umumnya.
Waktu yang setara dengan perjalanan Bandung – Yogyakarta dengan mobil dengan kondisi jalan tidak macet
Waktu tidur yang (konon) dibutuhkan oleh seorang manusia dewasa.

Hanya saja, malam itu, aku tidak berminat menghabisnya dengan tidur. Walaupun aku membutuhkan 8 jam tidur itu lebih dari hal lain. Aku memilih menghabiskannya dengan mata terbuka bersama 2 pasang mata lainnya. Bersama purnama.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketBulan Purnama. Di bulan Juni ia punya banyak nama. Flower Moon, StrawberryMoon, Rose Moon, Hot Moon, Planting Moon, Wat Purnima. Mereka bilang, hal-hal aneh sering terjadi pada saat bulan purnama

Atas nama keanehan, aku memutuskan menemani purnama bersama dua orang perempuan. Sumpah serapah, caci maki menjadi makanan pembuka. Caci maki Tawa, mulai dari senyum masam, sampai tertawa terbahak-bahak yang nyaris membuat air mata menetes, menjadi makanan utama. Kenangan, atas masa lalu dan juga masa kini menjadi makanan penutup yang manis. Full Course. Lengkap.

Bulan depan, purnama masih berminat mampir ke hari-hari kami lagi, kan? Tentu saja, kami akan mempersiapkan pengaman untuk keanehan yang kamu bawa, kok!


Hai, kamu. Masih heran bagaimana kami bisa bertahan selama 8 jam dengan omong kosong itu?


29.6.07

Kompor

13 February 2007
23:50
Ari Rumah
Happy Birthday, semoga selalu diberkati Tuhan dan menjadi Madah bagiNya. Amin. Bahagia selalu ya, Kak. Syalom *hayah, masih kurang 10 menit, ini pasti orang yang jam-nya dipercepat 10 menit!*

14 February 2007
00:47
Osta
Happy Birthday Kakakku Sayang, semoga panjang umur, cepat dapat jodoh, dan sukses selalu. Salam ama semua keluarga ya, kk. GBU

14 February 2007
00:47
Iya
I pray that God grant you a mind fee of worry, heart free of sadness, soul free of sin & body free of sickness. Happy Birthday Tante Mey! *ini pasti titipan dari si cantik Kiran, anak Iya*

14 February 2007
01:07
Arie New
Mel, happy bday. Smg Tuhan selalu memberkati ya. Tadinya mau tel, tp takut elu udah tidur *padahal biasanya suka hajar beybeh, sekarang lebih mikir nih*

14 February 2007
02:19
Pawel Zimnicki
Happy Birthday Sayangku!! I wish you all the best on this day. Remember – You are the best one. Really!!! HUUUUUUUUGs. Lots of love. P. *Ehm, ada yang gak boleh marah dengan sms ini*

14 February 2007
05:27
Lusi
Happy Birthday.. mudah2an selalu dalam lindungan Tuhan.

14 February 2007
06:26
Tye
Happy Birthday my dear…may all de best be w/ u always. Amien

14 February 2007
06:40
Vera
Mellyyy happy birthday yaaa… ada rencana apa hari ini? Enjoy ya, berharap banget gue ada di Bandung hari ini, kangen

14 February 2007
06:41
Uli Walagri
Happy valentine!!! And..happy birthday mel. May all the blessing n love from God will always be with you

14 February 2007
07:07
Yustina Arlini
Happy Birthday. Wish u success and happiness always

14 February 2007
07:07
Tya
Halo Mel, udah bangun? Met ultah ya bo…have a new ‘life’

14 February 2007
07:12
Kiki IHS
Happy belated birthday Mba Melly. I wish God to make you happy, make you smile, grant you wealth, give you health, guide you safety, and most of all through every mile *ehm kayaknya gak belated, deh, Ki*

14 February 2007
07:15
Okol
Selamat ulang tahun butet sayang! Wihs u got everything u wished for and love eases u throughout the year. Love n hugs

14 February 2007
07:24
Ivan Siregar
Mel ulang tahun. Kasih dan berkat Tuhan Yesus menyertai seumur hidupmu.

14 February 2007
07:34
Hera Bar
There’s only one person whose birthday is the same as valentine’s day. So happy birthday, dear. Many happy returns of the day.

14 February 2007
08:08
Reti
Happy Birthday!! Many happy returns & wish u all the best ya. Semoga makin keren, fun n sukses. Hugs, reti.

14 February 2007
08:23
Mega
Selamat pagi mba meli, met ultah ya. Sukses dalam segala hal.

14 February 2007
08:33
Rita Kakak
Selamat ulang tahun ya, Mel! Tambah umur tambah bijaksana, tambah cinta Tuhan dan sesama, juga tetap sehat jasmani dan rohani

14 February 2007
08:35
Ratna
Mel, met ultah  sukses terus ya! Sori ga telp, suara gue sember he2. Kpn nih ketemuan?

14 February 2007
09:00
Ira
Ka Melly, Happy Birthday ya. Wish u all the best! And happy valentine’s day too
Ira&Albert

14 February 2007
09:07
Febby JRO
Mba Melly, Happy Birthday, ya. I wish you luck will be come true

14 February 2007
09:41
Echie
Met ulang taun ya Mel. Semoga panjang umur, murah rezeki, selalu sehat, tambah sukses, dan yang paling penting cepet nikah. Amin. Hehe

14 February 2007
10:17
Dewiika
Happy Birthday Mel. Semoga panjang umur, sehat, sukses, senang ya jeng!

14 February 2007
10:32
Unieng
Dear Melly, selamat ulang tahun yaaaa (bener kan, hari ini?)…Semoga panjang umur dan tetap ‘alive and kicking’. Semangat kamu adalah inspirasi banyak orang…ditambah baek hatinya kamu, bikin banyak sekali yang sayang sama melly lho! Keep going girl! – unieng

14 February 2007
11:25
Credo NDC
Hohoho, ini Credo a.k.a NDC. Ohw, and happy valentine.hehe (the first message had accidentally deleted)

14 February 2007
11:34
Liyanita
Helo teh melly, hepi bersdey to you. Selamat menempuh umur baru, semoga sehat selalu n banyak rejeki. Amin. Kapan nih makan2? Hehehehe

14 February 2007
12:06
Melly, met ultah! Many happy return. semoga tercapai setiap keingan n cita2. Amiin. *Entah dari siapa*

14 February 2007
12:13
Warih
Happy Birthday Tante Melly, semoga panjang umur, selalu dilimpahi kebahagiaan n karunia ilahi, tercapai segala keinginan, dimudahkan langkahnya. Amin. Warih-Tariq-Nagata Yasaskara

14 February 2007
17:17
Dina
Happy Birthday ya Bu. Baru inget ini valentine- plus ultahmu kan? Wish u all d best. Muah!

14 February 2007
17:40
Iman
Happy Birthday! Bener ga?

14 February 2007
18:02
Rino
Melly, hepi palentine nya. Hepi biday juga. GBU always.

14 February 2007
19:08
Jurisna
Met ulang taun Mel. GBU. Sorry kak jus gak ke Cgdg. O ya Mel, tes alergi kira-kira 300 ribu.

14 February 2007
23:10
Prita
Hai mel, happy birthday ya.  Sorry its almost late. Hehe… Semoga semua yang dicita-citakan terkabul ya

14 February 2007
23:25
Okke
Akyu baru dapet notifikasi dari friendster klo dikau ultau. Gelukkig verjaardag, djeng. All the best 4u!

15 February 2007
01:02
Priska
Life growth with love and God blessing. Today, God’s gift you His promise that He still with you each season and conditions. God never let you far from His sight. Happy Birthday my sister mellyana.

15 February 2007
08:55
Golly Kakak
Happy belated birthday. Hope God will fulfil the desire of your heartlove. You always. Kak Golly and her gang

19 February 2007
19:13
Bunda Nuke
Melly. Aduh kemaren ulang tahun ya? Happy birthday girl. Sorry ya telat. Mudah2an semua cita2nya tercapat ya. Wah aku kirim ini berkali-kali mudah2an sukses ya.

Tidak penting buat orang lain, tapi saat ini, sms-sms itu menjadi sesuatu yang penting buatku.

28.6.07

Rindu

Mendengar dering telepon. Melirik ke nomer pengirim. Senang sekali. Papi. Berarti mereka sudah sampai di bandara. Setelah lebih dari 3 hari tanpa komunikasi dengan orangtuaku, dan kurang lebih dua minggu tanpa sempat bercengkerama seperti biasa. Aku kangen mereka.

Salahkan hujan, kalau aku kangen terhadap banyak orang hari ini. Kangen banget. Kangen papi. Kangen mami. Kangen adik-adikku. Kangen abang. Kangen kamu, sahabat-sahabatku yang entah ada dimana saat ini.

Pulang dulu, bertemu mereka. Melepas rindu.

Basah

Hujan, aku sangat suka. Kenanganku terhadap titik-titik air itu sangat kuat. Tapi, kadang hujan memang bisa bikin loyo loh!

Bangun pagi dengar suara hujan membuat aku tersenyum. Menikmati kehangatan kamar. Sambil bersyukur karena semalam sempat menukar jam latihan dari 7.30 menjadi 12.00. Melirik lemari pakaian dan berpikir,"Asik, saatnya bisa pakai baju hangat tebal itu!"

Secangkir coklat panas di atas meja kerjaku, menjadi pengganti kopi hitam aroma. Boleh dong, lain sedikit pagi ini. Hujan soalnya. AC dimatikan. Jaket tidak dilepas. Dan, pakai kaos kaki. Sambil bekerja. Enak loh bekerja selagi hujan, lebih konsentrasi.

Untunglah, aku tidak perlu berada di luar ruangan. Berlari-lari menghindari hujan. Berteduh di bawah atap bangunan. Membatalkan kepergian karena sulit dapat kendaraan umum dan taksi sulit diperoleh. Payung tidak aku butuhkan, selagi aku ada di dalam ruangan ini.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketTapi, kita tidak pernah tahu. Ada saat-saat dimana hujan deras datang disaat kita tidak siap. Karena itu, harus sedia payung sebelum hujan. Dalam hidup, ada saat-saat hal-hal yang kita nikmati (disaat kita siap untuk itu) menjadi hal-hal yang kita hindari (disaat kita sama sekali tidak siap untuk itu). Seperti hujan. Supaya tidak terlanjur basah, harus dihindari dengan berlindung di tempat yang aman. Ah, harus siap payung, dong!



27.6.07

Biar Lambat Asal Bertambat

Ada begitu banyak yang datang dan pergi yang mengambil hatiku. Ada yang secuil saja, ada yang cukup banyak sampai membuat hatiku terluka *tsah* bahasanya gak kuku banget ya.

Ada yang cepat datang dan cepat pergi. Easy come easy go, cepat datang cepat pergi. Ternyata seringkali ini tidak hanya berlaku bagi duit yang bisa cepat datang cepat pergi (boros itu mah), tapi menurut aku juga berlaku untuk orang-orang yang hadir di hati. Ada yang begitu cepat datang, tapi biasanya juga begitu cepat pergi. Bisa meninggalkan kesan, tapi umumnya berlalu begitu saja. Ada satu dua yang butuh waktu lama sampai bisa mencuri hati, dan mengambil tempat khusus di hatiku, ini yang lebih bikin repot, soalnya butuh waktu lama juga buat mereka buat bisa terusir dari hatiku. Hayayayay.

Buat yang cepat-cepat, biasanya memang seringkali cukup membuatku punya rasa ingin tahu yang lebih dan mengaguminya. Sedikit sekali, yang cepat datang tapi kemudian bisa menjadi sahabat-sahabat terbaik, yang punya tempat khusus di hati, tanpa merasa dimalingi! Buat yang lama, biasanya justru melewati masa-masa pertemanan yang menyenangkan, sampai satu titik, aku tidak sadar bahwa dia sudah duduk dengan tenang di pojokan hatiku.