18.12.06

Cara Jitu Dipenjara: Diskusi

Banyak hal bisa membuat kita masuk penjara. Melanggar lampu lalu lintas (walaupun ada 1001 cara lain untuk memastikan penjara adalah sesuatu yang sangat jauh ketika itu terjadi), mencuri barang milik orang lain (walaupun juga ada 1001 cara untuk memastikan hal itu tidak diketahui, atau hal itu adalah sah), bahkan membunuh orang. Hanya saja, tahukah kamu, bahwa belajar bisa membuat seseorang masuk ke penjara.

Photobucket - Video and Image HostingKamis malam kemarin, semua itu terjadi. Sebuah telepon membuat aku keluar dari ruangan perayaan Natal. “DISKUSI FILSAFAT SOSIAL DAN EKONOMI POLITIK, Gerakan Marxist Internasional Kontemporer, Perkembangan dan Masa Depan Gerakan Marxist di Dunia, dan Sekilas Tantang Organisasi dan Gerakan Buruh di Kanada” dibubarkan oleh sekelompok orang yang menamakan diri Forum Anti Komunis, hanya sekitar 10 menit setelah diskusi dimulai.

Aku tidak terlalu kaget, dan tidak panik, tetapi jelas bukan karena berharap itu terjadi! Tetapi karena:

  • Empat hari sebelum diskusi, Bilven dan Sadikin ditelepon oleh pihak intel kapolwiltabes Bandung bertanya tentang diskusi yang akan diselenggarakan tanggal 14 Desember 2006 tersebut. Sejak itu, berbagai telepon gelap masuk bertanya tentang diskusi yang justru baru dipublikasikan Selasa, 12 Desember
  • Tiga hari sebelum diskusi, pihak Intel Polwiltabes Bandung pada hari Senin, 11 Desember 2006 (2 orang) mendatangi toko buku Ultimus dan menanyakan izin kegiatan tersebut, untuk mengantisipasi maka pihak panitia memasukkan surat pemberitahuan (bukan permoohonan) yang dialamatkan kepada KaPolwiltabes Bandung mengenai diadakannya acara tersebut.
  • Dua hari sebelum diskusi, kembali pihak Intel Polwiltabes Bandung mendatangi Toko Buku Ultimus yang terletak di Jl. Lengkong No. 127 Bandung. Mereka mengaku dari bagian “Urusan Imigrasi” (entah maksudnya gimana), mananyakan tentang status kewarganegaraan Marhaen Soeprapto (Pembicara). Termasuk beberapa kali ULTIMUS didatangi oleh orang bertubuh tegap, dengan usia separuh baya, mendatangi ULTIMUS dengan menanyakan bagian buku-buku Berbau KIRI, dimana ULTIMUS memproduksi dan menjual buku-buku tersebu
  • Satu hari menjelang diskusi, kembali pihak Intel Polwiltabes Bandung mendatangi Toko Buku Ultimus dan meminta Sadikin (ketua panitia) untuk menemui Waka Intel Polwiltabes Bandung pada pukul 10.00 WIB untuk dimintai keterangan berkaitan dengan diskusi tersebut. Namun atas saran kawan-kawan lainnya, meminta agar Sadikin tidak memenuhi panggilan tersebut karena bersifat lisan.

Perayaan Natal di Sabuga malam itu jelas tidak bisa aku nikmati, karena harus bolak balik keluar ruangan dengan charger ditangan untuk terus menerus menelepon atau ditelepon. Sadikin dan Marhaen sudah ditangkap, diborgol oleh ormas tertentu dan dibawa ke polwiltabes. Suasana kacau. Lebih malam lagi, diketahui lebih banyak lagi orang ditangkap.

Diskusi baru saja berlangsung 10 menit. Masih ada banyak orang yang dalam perjalanan ke Ultimus untuk ikut acara tersebut. Mereka hanya menemukan police-line di lokasi kejadian. Beberapa orang malah sudah memperoleh informasi tentang pembubaran tersebut dan mengurungkan niat datang ke Ultmus.

Mengapa ke-11 orang tersebut ditangkap. Polisi mengatakan:

  1. Kegiatan tersebut tidak ada ijin
  2. NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia
  3. Keamanan. Dan untuk alasan keamanan, pihak kepolisian berhak melakukan apapun. Dan bahwa kegiatan ini merupakan tindakan preventif yang sudah dikoordinasikan
  4. Karena ada sekelompok orang yang tidak menyukai kegiatan tersebut (!)

Photobucket - Video and Image Hosting

Aku tidak bisa tidur sepanjang malam itu. Setelah memutuskan melakukan kunjungan tengah malam ke rumah sepupuku hingga menjelang pagi, aku terjaga untuk tetap saling bertukar sms dengan Abang. Jumat sore, aku kecapekan dan hanya bisa terdiam. Lelah membalas pertanyaan teman-teman yang membaca berita baik dari internet, media cetak maupun yang telah melihat peristiwa tersebut di berita-berita di televisi nasional. Ketika akhirnya polisi memutuskan membebaskan ke 11 orang tersebut, aku hanya bisa bilang, terimakasih Tuhan.

Polisi memutuskan membebaskan mereka semua karena tidak ditemukan indikasi adanya pengajaran tentang komunisme!

Sebuah kata yang begitu dahsyat. Lebih dahsyat dari sebuah bomb yang dirakit khusus dengan perencanaan matang. Cukup sebuah kata, komunisme, dan semua orang akan ketakutan. Jangankan kata komunisme, segala sesuatu yang berbau Marx, sosialis, dan apapun yang bersifat kiri menjadi sesuatu yang menakutkan.

Sebuah ajaran telah begitu kuat melekat, untuk menjadi takut karena sebuah kata tersebut. Tanpa harus mengetahui lebih lanjut tentang itu semua, kita diajar untuk takut. Tidak usah banyak tanya, jauhilah segala sesuatu yang bersifat kiri.

Kiri, sebuah ungkapan yang hanya bisa diterima dengan tenang dan diucapkan dengan bebas, ketika kamu mengucapkannya kepada supir angkot, memintanya untuk menepi dan menurunkanmu.


Silahkan main ke rumahkiri, untuk dokumentasi lengkap mengenai pembubaran diskusi.

Pekerja Keliling Memusingkan

Mampus deh, sekarang bener bener lagi susah-susahnya bekerja di tempat orang normal kerja. Tau kan. Meja kerja. Kursi kerja. Suasana kerja (terserah ada yang musti bising ada yang musti sepi). Gak usah sampe jam kerja deh.

Entah kenapa, otakku agak tidak bersahabat sama suasana seperti itu. Kayaknya buntu aja, gak bisa mikir apa-apa. Sejak beberapa bulan lalu, aku menjadi begitu nyaman bekerja di kereta api, jalur Bandung-Jakarta tentu saja. Menikmati mengetik di dalam pesawat, apalagi kalau jarak jauh, seperti Bandung-Ambon beberapa waktu lalu (wah, kalau jauhnya sampe ke Belanda mendingan tidur atau nonton film kali ya). Dan bahkan di ruang tunggu di manapun, termasuk di bandara.

Mungkin karena aku ini keseringan bepergian sampai agak lupa rasanya menetap di satu tempat? Shadyra bilang, dia sendiri udah menyebut kamar hotel sebagai rumahnya. Karena dia musti bepergian gila2an kali. Aku sih gak segila itu, tapi betul, sialnya begitu sambil nunggu, langsung lancar mau nulis.

Photobucket - Video and Image HostingJangan bayangin ini kelihatan keren. Nenteng laptop kemana-mana, terlihat (sok) sibuk bekerja di manapun. Booo, gak ada enak-enaknya, yang ada capek. Kalau dulu biasanya waktu luang sekecil apapun selalu aku manfaatin untuk tidur, sekarang juga sih, tapi khusus di tempat piblik, dimanfaatkan untuk bekerrja. Makanya aku suka sirik banget liat orang orang nenteng2 laptop di tempat tempat umum – biasanya yang ada wifi – untuk friendster-an atau sekedar chatting.

Untuk itu, terimakasih iBook G4 tersayang. Kamu bener bener investasi terbaikku.