2.8.06

Bernyanyi Secara Maksud Elo!

Xiamen, Cina. Pernah denger namanya? Shangai, Beijing dan bisa jadi Guangzhou adalah kota-kota yang lebih dikenal daripada Xiamen. Terletak 10 jam perjalanan bus dari Guangzhou (tau persis, wong dari Guangzhou-Xiamen ditempuh bus pake ekstra berhenti 3 jam karena macet pula!), kota ini secara mengejutkan berhasil mengambil hatiku. Bersih. Itu kesan pertamaku.

IyusPenting banget kesan pertama itu, soalnya aku menghabiskan waktu 2 minggu disana. Bukan cuman buat sekedar berlibur pula. Pergi bersama Paduan Suara ITB untuk ikutan world choir games a.k.a choir olympics. Gaya banget ya :D Pertandingan paduan suara tingkat dunia (sebuah media nasional menterjemahkannya menjadi perlombaan paduan suara gereja tingkat dunia, sebegitu dekatnyakah church dan choir?).

Sebuah perjalanan yang penuh warna dan penuh perhitungan (duit tentunya). Keterbatasan membuat penempatan akomodasi, makan, dan banyak hal menjadi serba belibet dan harus begitu kalau mau tetap bertahan. Ketika dapat info bahwa akomodasi dari panitia itu ada di Middle School No. 8 alias SMP 8 yang kemudian lebih dikenal dengan nama Middle Eight Number School, terbayang kursi dan meja dijejerin dan dijadikan tempat tidur. Buset. Gak beda dengan ospek atau diklatsar kali ya. Maklum bayangan sekolahan, SMP pula, pasti gak jauh bedalah dengan SMP di Indonesia sini. Eala, ternyata yang namanya SMP itu keren banget deh. Ternyata pula SMP itu punya dormitori, sebuah kamar dengan 5 tempat tidur, meja belajar, lemari pakaian, 2 wastafel besar dan kamar mandi. Kalau ternyata harus naik ke lantai 4, namanya takdir. Kasur boleh jadi tipis, tapi kamar sudah dengan dispenser air minum, pendingin ruangan dan tentu saja housekeeping tersayangnya teman-teman. Seru juga sih, SMP itu disulap jadi desa paduan suara, choir village. Ada banyak tim paduan suara tinggal disana (dan tentu saja ada juga paduan suara-paduan suara lain yang tinggal di hotel berbintang, semua balik ke kemampuan kantong deh). Ada cafetaria, ada mini market, kantor pos, tempat penukaran uang sampai klinik kesehatan. Lengkap banget. Sayang banget, aku hanya sempat menginap semalam disana, dan gak gitu bisa menikmati desa itu di malam hari (konon sih seru banget tuh, soalnya suka ada keramaian yang biasanya melibatkan mereka yang berdarah O misalnya Latino, Philipino, dan Manado!).

Aku memang gak nginep disana, tapi nginep di sebuah inn, namanya J-inn yang lagi lagi secara mengejutkan merupakan inn yang sangat bersih, nyaman dengan kasur ekstra besar. Untuk dua orang, ada satu kasur King Size dan satu kasur lain ukuran single tapi yang agak besaran, entah apa namanya. J-inn berlokasi diantara toko-toko bunga a la wastukencana dan berbagai tempat makan enak (termasuk warung langganan 1 dan warung langganan 2), murah (lengkap dengan yang haram-haram) dan sebuah toko CD, DVD yang membuat kantongku jebol (secara mereka jualan berbagai DVD klasik dan jazz seharga 10 ribuan saja, surga banget). Tinggal di J-inn membuat aku pengalaman banget naik bus gratisan. Eh, sebetulnya bus-nya gak gratis, tapi ternyata walikota Xiamen sudah bekerja sama entah bagaimana, tinggal nunjukin name tag world choir games, maka urusan bayar-bayaran dianggap beres alias gak perlu bayar aja gitu.

Name tag sakti! Beneran deh. Coba aja mau keluar masuk SMP 8 tanpa name tag, silahkan saja berhadapan dengan para petugas yang super-duper-keukeuh-sampe-mampus-dan-selalu-butuh-penjelasan-panjang- lebar-untuk-segala-sesuatunya. Atau kalau lebih beruntung anda akan berhadapan dengan para volunteer a.k.a panitia tidak bergaji yang akan segera mengeluarkan sejuta pertanyaan dalam bahasa Inggris yang butuh penterjemah khusus dan diakhiri dengan peraturan baru hasil interogasi. Buset ya. Di saat awal, saat name tag tidak ada, rasanya kayak tahanan. Gak bisa kemana-mana banget. Lega banget rasanya bisa pake name tag berwarna merah jambu plus tali yang yang terus menerus butuh perlakuan khusus karena asik rusak kena angin dan perlakuan tak senonoh (abis aku terlalu lasak, jadi talinya sering putus). Herannya selang beberapa hari, selalu saja ada seseorang yang ketnggalan, hilang, dan tidak bisa menemukan name tag loh. Mungkin name tag-nya senang jalan-jalan, ngikutin yang punya.

di GulangyuNamanya juga di negeri orang, urusan jalan-jalan gak pernah boleh ketinggalan banget. Masa reses, antara part 1 ke part 2, diisi dengan jalan-jalan ke Gulangyu. Sebuah pulau kecil, 15 menit perjalanan dengan feri dari Xiamen. Cukup jalan kaki seharian bisa mengelilingi pulau ini. Ada jajaran toko-toko yang sangat menggoda (dan terbukti manjur menggoda seluruh tim dan menguras isi dompet, maklum harga murah meriah dan barang lucu-lucu kayak gitu kan gak bisa dilewatkan begitu saja dong), ada pantai yang walaupun kecil dan superduper panas, tetap saja pantai, ada bebatuan besar menakjubkan, ada kebun-kebun cantik, ada museum piano buat para pecinta musik dan tentu saja pemusik, ada gereja-gereja katolik berikut paduan suaranya, ada rumah rumah unik yang mencuri perhatian mereka yang tertarik dengan arsitektur. Lengkap. Hanya dengan uang sekitaran 8 ribu untuk naik feri bolak balik tuh (kami, tentu saja gratisan, kan pakai name tag. Buset ya). Aku sih cuman sekali kesana, tapi ada beberapa orang yang kesana lebih dari satu kali. Alasan mulia adalah untuk nonton gala concert – penampilan juara-juara sebelumnya tapi ada juga alasan sejuta umat yaitu berbelanja dong, apalagi!

Memang para pegila belanja menemukan surga di Cina. Secara harga-harga bisa bikin jantung berdebar, mata kalap, adrenalin naik dan tentu saja, kantong kempes. Bayangin barang-barang di ITC ambasador, misalnya, dengan harga setengahnya, atau malah lebih murah. Menawar adalah halal dan wajib hukumnya. Saking biasa lihat harga satuan, paling pol belasan, melihat harga puluhan itu rasanya terlalu mahal. Padahal bisa jadi bahkan harga puluhan itu pun masih tergolong murah di Indonesia. Belanja sepatu baru sampai 5 pasang. Sah! Apalagi kalau itu untuk oleh-oleh. Soalnya sepatunya lucu-lucu, modelnya unik-unik, dan harganya bukan cuman dibawah 100 ribu tapi bahkan di bawah 50 ribu. Hanya, kalau kaki anda ukuran besar, maap maap saja, silahkan cari sampai mampus ya. Mau beli tas dari ukuran mini sampai maksi silahkan. Mau beli barang elektronik, wah bisa sampe ngiler abis deh, walaupun dengan kualitas WDYE (what do you expect) ya. Tidak heran kalau sampai ada yang harus beli koper tambahan dong! Alasan apapun sah untuk berbelanja, dan tingkat keahlian berbelanja ditentukan oleh kemampuan menawar (aku: Nol besar), kemampuan kantong (aku: juga Nol besar), dan kemampuan untuk mengubah segala sesuatu menjadi tempat belanja (aku: lagi lagi Nol besar). Juara belanja alias juara shoppang (atau Chopin ya? Kekekek) tentu saja dipegang para sahabat yang telah berbaik hati menawarkan berbagai barang dan membuat aku lebih mengerti arti kata shopaholic ketimbang penjelasan dari Bloomwood.

DorothyUntuk belanja, tampaknya aku musti berlatih banyak. Sebanyak latihan kami selama di Xiamen, latihan nyanyi maksudnya ya. LO pertama kami, Rain sampai geleng-geleng kepala melihat bagaimana kami berlatih. Rupa-rupanya LO kami tersayang sampai dikenal dengan nama Rehearsal, saking seringnya dia meminta ruang latihan buat kami. Entah apa yang dilakukan oleh tim lain, sampai-sampai kesannya hanya kami yang gila berlatih, padahal rasanya frekuensi latihan kami wajar wajar aja kok. Kalau agak cerewet urusan ruang latihan, wajar aja. Susah banget sih dapet ruang latihan itu. Apalagi di masa-masa pdkt awal dengan para LO, Rain dan Dorothy, begitu banyak masalah muncul.Rain Kesalahpamahaman, ketidakmengertian, kekesalan dan ditutup berbagai peraturan absurd yang selalu muncul setelah satu peristiwa muncul. Apapun itu, terimakasih banget deh Neng Rain dan Oot (nama beken Dorothy) buat ruang latihannya. Kelas kosong, yang kadang pakai piano, kadang tidak berikut kursi yang kadang tinggi, kadang kursi mini-super-pendek- bikin-suara-susah-keluar. Herannya, ada loh tim yang bisa duduk pletat pletot (mungkin sambil melakukan imaginary pedicure menicure) tapi suara yang keluar bisa begitu bening, bersih, indah dengan power yang oke banget.

Pertandingannya sendiri seru. Sayang tidak bisa banyak mengintip penampilan tim lain. Secara agak sedikit sok-ngartis banget. Datang beberapa saat menjelang tampil, dan langsung cabut begitu selesai tampil. Pernah sekali waktu, aku terlambat keluar ruangan setelah penampilan ITB, aku jadi tertahan di dalam. Agak bersyukur karena jadi bisa liat penampilan tim dari Mongol itu, walaupun aku dan beberapa teman sampai harus dijemput dan ternyata teman-teman lain sudah menunggu di bus. Entah berapa lama. Sedih juga, cuman sempat lihat penampilan tim lain yang tampil sebelum kita (kalau kita bukan penampil pertama), atau pada waktu mereka tengah pemanasan (biasanya suka bikin tambah senewen, karena rasanya power tim lain lebih okelah, dan banyak hal lain deh).

Senewen juga muncul terutama kalau masuk di final. Beda dengan babak kualifikasi yang punya jadwal yang jelas, di babak final urutan penampilan tidak diketahui. Bahkan lolos atau tidak dari kualifikasi itupun baru bisa diketahui via LO. Aneh ya. Deg degan menunggu telepon dari para LO terbayar ketika mendengar bahwa tim Mixed Youth Choir kami lolos kualifikasi, dan lebih terbayar ketika mendengar tim folklore kami lolos kualifikasi dan bahkan jadi juara kualifikasi dengan nilai 27 skala 30. Langsung teriak-teriak deh. Begitu juga di part 2, rasanya tidak percaya waktu tim Chamber kami lolos kualifikasi, maklum para penyanyi merasa penampilan saat itu tidak terlalu baik. Well, untuk “tidak terlalu baik” kami ada di peringkat 2 di kualifikasi, dan tentu saja bahagia juga waktu tahu tim Mixed Choir lolos ke final. Serasa dikasih kesempatan kedua untuk tampil lebih baik lagi.

Urusan “penampakan” di penampilan itu biasa, urusan turun-turun sedikit kayak turun harga lagi acara diskon juga suka muncul. Apapun, penampilan terbaik sudah diberikan. Jangan tanya deh, bagaimana persiapan dandan untuk final folkore. All out. Jangan tanya improvisasi kostum di saat terakhir untuk chamber dan mixed choir. Semua untuk yang terbaik kan. Tampil bersaing dengan berbagai paduan suara dari berbagai kelas, semua berupaya menampilkan yang terbaik.

Dua medali emas di Mixed Youth dan Mixed Choir, dan dua medali perak (maap ama yang protes, udah aku betulin, bukan perunggu euy!) di Folkore dan Mixed Chamber Choir, sang partai tambahan disambut dengan sorak sorai (untukku pribadi, folklorenya udah superduper emas deh). Udah berasa selebriti banget, waktu Mas Indra Listiyanto, kondutor tersayang kami muncul di tivi lokal, atau waktu beberapa dari antara kami diminta mengulang tereakan IN DO NE SIA untuk di syut (shoot atau syuuut ya?) tivi lokal. Seru. Menyanyikan Indonesia Raya (nebeng Elfa), mengibarkan bendera Merah Putih di Seaside Hall.

Lima puluh sembilan orang, 58 penyanyi dan 1 konduktor, yang sebelumnya berlatih bersama selama lebih dari 8 bulan. Sebagian bahkan dengan setia menyisakan waktu dan uang mereka untuk selalu datang ke Bandung dari Jakarta di setiap akhir pekan untuk latihan. Rapat-rapat panjang panitia (sok tahu banget nih , and glad that I’m not one of them). Usaha mengontak para sponsor (intense sms dan chatting dengan Sahat dan Rino dari Banda Aceh sana) plus nodong nodong kiri kanan untuk seperak dua perak demi keberangkatan semua. Mengurus administrasi seperti visa, passport, tiket dan akomodasi semua orang (jangan tanya aku, tapi coba tanya Sahat, Lisa dan gerombolannya deh). Lelah lelah berlatih menari dengan Budi (dengan asisten khusus Ira dan Cimol). Dari yang tidak kenal sama sekali, sampai akhirnya merasa begitu dekat (walaupun tetap hanya mengenal nama panggilan, kayaknya sampai detik ini juga masih pusing kepala kalau disodori nama asli seluruh penyanyi). Melihat konduktor berevolusi dan berperan multi ganda. Bagaimana tidak, Mas Indra bukan hanya konduktor, pelatih tapi juga penterjemah dan interpreter (setia banget mendampingin proses belanja, menterjemahkan keinginan kami maupun penjual, kalau masih salah-salah paham, itu mah nasib. Mohon maklum, cari orang bisa berbahasa Inggris itu betul betul doa dan perjuangan). Konduktor yang berhasil menciptakan level penampilan dari tingkat naon, maksud elo dan secara (penjelasan dari setiap tingkat disediakan berdasarkan permintaan). Terbayar sudah.

---dengan bangga kami sebut namamu, deh---


Foto Foto di Xiamen China

Beberapa tulisan yang lebih rinci liat aja
http://sahathutajulubo.blogs.friendster.com/gor3sangre5an_h4ri/
http://walkofcredo.blogspot.com/2006/07/chapter-2-china-here-i-come.html

Plesir Kuliner Aceh... (utang lama)

Memang cuman 7 minggu, tetapi dikelilingi orang-orang gila makan, jajan dan jalan serta napsu memburu yang tinggi, membuat aku tidak bisa tinggal diam melewati berbagai tempat wajib kunjung selama di tinggal di Aceh. Tempat-tempat yang sekali dua, menimbulkan rasa kangen.

Tempat makan diurut berdasarkan urutan suka-suka, alias sekeingetnya, jadi gak boleh protes. Mulai dari makan berat ya, kelas kelas resto gitu deh

  1. Restoran Banda, tentu saja untuk kepiting saus aceh-nya. Mantab. Lokasi di Peunayong, deket dengan satu-satunya ATM BCA disana, tapi berseberangan. Sialnya aku cuman sempet makan di tempat itu sekali, itu pun atas kebaikan hati mba Okol tentunya. Hanya, kalau habis makan ingin minum juice terong belanda, coba ke warung sebelahnya aja. Boleh kok pesen ke sebelah (ini satu hal “cool” dari resto/ warung di Aceh). Restoran Banda sendiri memang banyak direkomendasikan orang. Lebih seru makan rame-rame, supaya bayaran bisa bagi bagi rame-rame juga tentunya.
  2. Restoran Padang Bunda. Menjadi istimewa karena bo, susah ya nyari makan padang yang padang gitu. Harga selangit impas dengan rasa, kebersihan dan pilihan makanan di resto yang dipunyai oleh yang punya Pante Pirak.
  3. Melodia. Lokasi di Setui (a.k.a Teuku Umar). Coba deh tom yam udangnya. Buset. Enak banget. Seger banget. Datang ke meja biasanya masih panas, dengan rasa asam, sedikit pedas, sedikit manis. Paling pas kalau udah ada masalah ama tenggorokan dan nafsu makan lagi ada di titik terendah. Tempatnya kecil, jadi cepet penuh apalagi di jam-jam makan. Kalau udah gitu, musti sabar nunggu deh.
  4. Ayam Tangkep di Aceh Rayeuk. Ke arah mau ke bandara atau ke Lampulo. Ada dua sih di jalan itu, aku suka yang pertama dapet (dari arah Banda Aceh). Ayam tangkap atau ayam sampah, entah deh. Ayamnya dipotong kecil kecil gitu, potong 20 kali, atau potong 40 (saking kecilnya), terus digoreng dibakar pake dedaunan dan cabe hijau. Satu porsinya 45 ribu, jadi mendingan di makan rame-rame deh. Cocok banget buat acara acara spesial. Konon ayam kayu – sejenis gulai – juga enak. Hanya saja, untuk alasan yang aku bilang di akhir tulisan, aku gak terlalu nge-fans ama makanan ini.
  5. Imperial Kitchen. Nama berbau Cina, tapi interior serasa ada di Bandung, soalnya Sunda pisan euy. Lagi-lagi yang berbau thai-nya top banget. Sayur-sayurannya nikmat banget. Pas banget kalau datang rame-rame. Secara susah banget menetapkan pilihan mau makan apa (kalau rame-rame bisa saling icip icip kan), terus bisa sharing bayaran doong.
  6. Purnama di Peunayong. Ini sih makanan harian aku. My daily restaurant. Pernah dikecam Febi soalnya sekali waktu pesanan dia tak kunjung tiba (sampe detik ini…kekekekekek). Aku suka semuanya. Menu rutin aku adalah capcay atau cah kangkung plus ikan. Bisa asam manis, bisa di steam, bisa ditumis. Semua enak. Segar karena baru banget dimasak. Favorit aku sih di masakan ikannya deh. Juicenya juga mantap, dan coba deh es telernya. Enak. Paling cocok makan berdua deh, kalau sendiri, kecuali laper agak susah juga ya habisnya.
  7. Pace Bene. Tempat aku makan tuna jera. Sebetulnya sih lebih enak buat minum bir atau wine ditemani langit. Cocok untuk didatangi malam-malam. Bukan kenapa-kenapa, bisa bayaning makan di atap bangunan lantai 3 (atau 4 ya?) siang bolong di Banda Aceh dengan suhu yang terkadang bisa sampai 37 derajat? Terimakasih deh. Cuman kalau datang pas Jumat Malam, musti dateng agak “sore”, maklum tempatnya bakal penuh banget deh. Tips: jangan coba makan tunanya deh, sumpah, mendingan minum-minum aja deh. Enak banget. Tempatnya mengingatkan aku sama potluck! Satu hal lain, disini expat bule atau lokal gak mendapat perlakuan beda. Kenapa begitu? Silahkan coba sendiri ya.
  8. Resto Sunda apalah namanya, deket Kodam. Baru buka banget. Punya nasi timbel unik yang disajikan di nampah! Enak banget. Memuaskan kekangenan ama lalab, ama ikan goreng. Disini, mau coba juice sawi nanas juga bisa kok! Febi atau Mba Okol, tolong dong, aku lupa banget namanya.
  9. Resto khusus yang gak halal. Wah kalo yang ini, kontak aku langsung buat dapat nasi campur dan kuetiaw yang bikin napsu makan banget itu yaaa…kekekek
  10. Sate di Setui. Tempat tepatnya musti nanya Rakel nih. Satenya enak banget, walopun tempatnya suka penuh bange (plus asap lagi). Saos kacangnya pas. Ayamnya juga enak. Kecil-kecil sih potongan dagingnya. Bisa pake lontong. Buset, nulisnya aja bikin laper!
  11. Nasi Gurih deket Mie Razali. Nasi gurihnya sebetulnya biasa aja, kayak nasi uduk di-rames deh, tapi lumayan sih buat makan pagi.
  12. Nasi Gurih Pak Rasyid di depan Baiturahman, gak sempet nyoba euy.
  13. Ikan bakar di dekat jembatan Surabaya. Bisa ditawar, pilih sendiri ikannya, tawar menawar harga terus tinggal pilih mau dibakar atau digoreng. Ada hanya di malam hari ya.
  14. Tropicana, di Peunayong. Gak sempet juga nyoba. Oke buat seafoodnya, kata orang-orang loohh.
  15. Rumah Makan Siang Malam katanya punya es teler yang enak. Sial, belum sempet kesana. Ada yang tau dimana?
  16. Restoran Turki (kalo kata mereka yang kesana: restoran turkiyeh). Enak, selama perut sudah diganjal makanan lain. Maklum, menunggu pesenan itu sempet kali ke Jakarta dulu pake pesawat (hiperbolis oh hiperbolis)
  17. Kafe PP, lagi-lagi belum sempet kesana. Mohon bantuan petunjuk lokasi juga nih kepada para penguasa kuliner Banda Aceh.

Secara aku punya kegilaan ama mie dan babasoan, ini daftar selanjutnya

  1. Mie ayam blower. Terletak setelah blang padang atau apa ya? Arah mau ke Ulee le. Agak masuk sih, musti pede untuk masuk ke dalam. Kalau udah lewat lapangan, dari arah balai kota ya, nanti di sebelah kiri ada DinSos, udah langsung belok kiri di belokan pertama. Ikutin aja jalan utama itu. Sekitaran 5-10 menit dari situ, pasti nyampe. Lokasinya di sebelah kiri. Biasanya gampang keliatan, wong rame kok. Rasanya jawa banget…kekekeke. Tipsnya, minta kuahnya dikittt aja, dan pake basa basi basa Jawa saja ya, siapa tau dapat bonus. Bonus apa? Ada aja :)
  2. Mie baso Sari Rasa. Namanya Sunda banget ya. Terletak di Lamprit, sebelahan ama dokter beken itu tuh, di Cempaka Lima itu. Aku sih suka yang bihun basonya, biasanya dengan Tahu Baso Gorengnya. Sekilas rasa sih mirip baso malang, tapi tampilannya jauh. Boleh banget dicoba kalau agak males makan dan cuman pengen ngemil.
  3. Mie baso deket Simpang Lima, depan bekas kolam renang. Enak kalo kuahnya juga dikit kali ya. Lebih jawa dan agak berasa baso kampung gitu.
  4. Mie baso depan resto Purnama, masih di Peunayong, deket banget Rex depan hotel itu. Enak deh, beneran, seger gitu. Baso kecilnya lumayan. Apalagi bisa sambil makan kerang gitu disitu. Juice terong belandanya, kalo gak salah disini lumayan seger deh. Disini enaknya makan itu sore ke malem sih, mudah2an masih ada.
  5. Mie pangsit di Peunayong deket Tropicana. Yang jual cici. Mirip banget ama mie pangsit/ mie campur di Sabang yang enak itu. Rasanya seger dengan seledrinya, sebetulnya kuahnya gak macem-macem. Justru itu kenikmatannya. Aku juga jadi inget mie pangsit Siantar deh makan disini. Bukti kenikmatannya: Pak Ramli bisa makan mie ini dua mangkok sekaligus loh.
  6. Mie kepiting di Rex, letaknya pas di pojokan ke arah Pace Bene. Enak banget deh. Pedes, nikmat. Makan sambil duduk di tempat duduk yang kayak mau bikin jatoh itu, sambil beratapkan langit (tsah). Enaknya sih laper banget, cuman bocoran kalau mau beli juice terong belanda jangan yang di deket situ deh, gak gitu seger.
  7. Mie kocok 88 Lamprit. Belum pernah sempat coba, tapi cukup direkomendasikan oleh banyak orang, walaupun dengan tips: jangan bayangin mie kocok bandung yaaa
  8. Mie baso di Neusu, persis deket lapangan situ, pas di pengkolan.
  9. Baso urat, wah yang ini musti nanya lebih jauh ke Kang Osa ya. Maklum, aku bukan fans baso urat, jadi gak terlalu ngotot untuk bisa mampir ke tempat ini.
  10. Mie kepiting Siman. Uh, musti nanya Pak Pingky untuk tau lokasi tepatnya, atau mungkin (lagi-lagi) Febi, sebagai “ibu kos” yang baik yang sering mengajak berwisata kuliner.

Ngupi-ngupi, nongkrong-nongkrong:

  1. Caswell, untuk masa-masa kaya alias banyak duit. Maklum kopi seharga Rp 25.000 jelas bukan barang normal di Banda Aceh. Biarpun gitu, tempat ini menjadi penyelamat di kala otak mampet. Aku biasa ngabur disini untuk kerja tenang, sepi sambil minum pepermint tea-nya. Terkadang pake cheese cake-nya, yang, serius, enak banget. Rasanya meleleh gitu di mulut (emang enak atau karena barang langka jadi terasa berkali lipat enaknya ya?). Untuk perokok lebih baik ke lantai 2 karena di lantai dasar gak bisa merokok. Suasananya emang enak banget buat menyepi, buat curhat (sampe ter-mewek-mewek loh). Mau makan juga oke, tapi porsinya superduper besar loh.
  2. Ulee Kareng, tentu saja Jasa Ayah. Tempat kopi sangir paling nikmat yang bikin ketagihan. Tempatnya biasa banget, dan lebih enak pas musim bola, pas lagi jam main bola, disana agak sepi. Jadi bisa ngobrol. Biasanya, ngobrolnya musti teriak-teriak. Kopi sangir pahit seharga 3000 perak, yang katanya udah mahal (karena biasanya seribu perak udah dapet kopi enak kok, kopi itam enak). Disini juga bisa beli oleh oleh kopi ule kareng yang terkenal itu. Jajanan pasar disini banyak, termasuk sarikaya yang bener bener legit. Emang jangan lebih dari satu mangkok sih nyobanya.
  3. Ule Kareng, ke restoran terapungnya. Tempat-tempat ini rasanya lebih banyak disukai oleh orang lokal, seperti para surveyor tersayangku. Model-model kafe di Bandung sih, tapi entah ya, buat aku kopinya masih lebih asik Jasa Ayah, tapi untuk duduk-duduk sih enak, lagian ada pilihan makanan beratnya.
  4. Chek Yuke, juga untuk kopi, terletak dekat banget dengan Mesjid Raya. Mirip ama Jasa Ayah. Lebih sering dikunjungi karena lokasinya di pusat keramaian, lebih mudah dateng kesini daripada Ule Kareng. Pilihan tetap ke sangir pahit kok.
  5. Pocut Baren, warung kopi agak gede yang paling deket kantor dan rumah. Pertama kesini dengan Kang Maman dan Kang Osa. Langsung ngabisin 4 potong roti pakai selai srikaya yang enak banget. Emang sih waktu itu laper. Pocut Baren punya kopi dan jajajan mirip Jasa Ayah. Kalau gak nyempet ke Ule Kareng, main aja kesini. Letaknya di jalan Pocut Baren, dekat gereja GPIB.
  6. Warkop Dirgantara. Aku diajak Rakel ama Richard. Boss yang punya pernah tinggal di Bandung di daerah Cicaheum. Disini sangir agak tidak dikenal, tapi kopinya tetep mantep. Roti disini, kayak roti bakar Bandung. Lokasinya ada di Peunayong, deket Banda Resto.
  7. Warung kopi lainnya. Letaknya biasa ada di setiap perempatan, satu yang menjadi tempat “dugem” anak-anak URDI aja terletak dekat rumah, di perempatan dengan tampilan luar yang sama sekali tidak menggoda deh. Tapi kopinya tetap mantep. Karena ritual minum kopi yang kuat, dimanapun, warung kayak apapun, rasanya kopinya tetap mantep. Beneran deh, kangen banget ama kopi-murah-tapi-enak-dengan-kursi-yang- menenggelamkan itu.

Beberapa tempat di luar Banda Aceh yang bisa dikunjungi adalah kafe Vina di Calang. Lucu ya namanya. Tempat favoritku sih ada di Sabang, mie pangsit yang ada di jalan utama yang banyak tokonya itu. Buset, sampe males kenal tempat lain deh. Enak banget, porsinya juga pas.

Rasanya masih banyak yang gak ketulis, apalagi kalo tempat ngupi ngupi ya. Kalau mau tanya-tanya lebih lanjut silahkan, mau tambahin boleh banget. Untuk makan sehari-hari, aku memang mengalami kesulitan, entah kenapa bahkan sampai saat ini, aku masih trauma dengan makanan bergulai. Buset deh. Disana, rempahnya tajam. Kalau pedas doang sih gak masalah, tapi tajam banget. Kalau perut lagi bermasalah, maag kambuh, bener bener bukan sahabat terbaik. Belum lagi urusan menunggu, bener bener bukan buatan deh urusan nunggu, kadang bisa lama banget. Terus secara umum, jarang ada makanan segar dalam artian semua baru dimasak. Ini sih pengamatan terhadap “warteg” dan “kantin” disana ya.