26.12.06

20 Adegan Untuk Film Terminal Ala Pojok Hablay

Sekarang, aku lagi di bandara, sedang bikin film Terminal a la Melly.
Mau tau bagaimana skenarionya:
  1. Pastikan kalau kamu punya jadwal pesawat yang super duper pagi
  2. Pastikan kalau kamu tidak bermalam di Jakarta. Ambil Bandung biar sama persis ama aku
  3. Buat skenario gedar gedor pintu di tengah malam buta, tepatnya jam 1 pagi. Skenario didasarkan janji surga untuk mengantar dimalam sebelumnya. Tentunya tidak ada satupun pintu yang terbuka, dan pastinya ada 1001 alasan yang bisa diciptakan untuk itu dan terpercaya.
  4. Kalau kasus # 3 terjadi, pastikan punya ayah superduper baik untuk rela bangun dan mengantar (papiku itu!)
  5. Buatlah sebuah cerita yang tidak masuk di akal, di menit-menit terakhir keberangkatan travel jam 2 pagi itu. Misalnya, tiba tiba seluruh pintu kendaraan tidak bisa dibuka dengan cara apapun, tentu saja dengan mempergunakan kunci yang biasa dipake.
  6. Biar tambah melas, tambah dengan adegan telpon travel memohon perpanjangan waktu 10 menit. Tapi,
  7. Percayalah, biarpun sehari-hari travel tersebut sering terlambat 5-15 menit, sebagaimana film film yang beredar, pagi itu si travel memutuskan tidak ada perpanjangan waktu
  8. Lima menit yang menentukan sisa hari, buat ini sebagai subtitle dari judul film terminal a la Pojok Hablay.
  9. Pastikan pemeran utama memiliki telepon yang punya pulsa karena akan ada kesempatan untuk telpon sana sini, menelpon penerangan dan berbagai travel untuk mencari kendaraan, hanya untuk mendapati semua baru ada jam 4 pagi, yang mana berarti jam 8 di Bandara, dan itu pun penuh.
  10. Ini nih, adegan mati gaya yang asik. Tidur gak bisa, kerja gak bisa, yang ada musti ekspresi kedinginan (bayangkan jam 3-4 pagi di Bandung yang baru diguyur hujan)
  11. Pastikan punya stasiun kereta yang ada jadwal jam 5 pagi, dan keberuntungan sedikit diberikan, kalau gak terlalu stress. Misalnya, berhasil mendapatkan tiket bisnis terakhir yang terjual! Keren kan
  12. Karena ini jaman modern, percakapan lewat telepon genggam harus selalu ada. Dalam hal ini, menelepon rekan seperjalanan yang sudah ada di bandara dan bingung, menelepon sejumlah rekan untuk cari info pesawat alternatif, menelepon sejumlah orang lain yang berkenan disuruh suruh nyari penerbangan alternatif itu
  13. Kali ini, supaya tampak nyata, kereta tentunya harus terlambat 30 menit yang berarti
  14. Kelewat lagi untuk naik pesawat jam 9 yang sebetulnya ada kursi untuk menjadi penumpang cadangan di jam 1 siang
  15. Photobucket - Video and Image HostingInilah adegan resmi "terminal" dimulai, menghabiskan waktu di terminal Cengkareng, Soekarno Hatta. Untungnya bisa sedikit lebih gaya dari Tom Hanks di Terminal, masih ada laptop, wifi, telepon genggam, roti boy dan hot chocolate royal oh la la.
  16. Menit-menit penentuan di jam 1 siang, harus diisi oleh sekumpulan mahluk yang membuat sumpah serapah bisa dikeluarkan. Bisapakai nama seperti Pak Sukahar yang gahar. Adegan mengantri bisa menunjukkan kekuatan manusia Indonesia dalam menjebol antrian seperti apapun dengan berbagai gaya, kicep atau kertas kertas bernomor yang dikeluarkan Bank Indonesia
  17. Supaya terminal-nya berlangsung agak lama, gak cuman 4 jam, pastikan tidak memperoleh tiket. Misalnya karena kurang gaya, tidak pakai safari, tidak punya dompet tebal dan tidak punya relasi. Silahkan pilih salah satu
  18. Berikan sesuatu yang baik disini, misalnya ada tiket untuk keesokan harinya, di pagi hari, yang harus dibeli jam 1 siang itu juga, masih bisa dibeli walaupun udah agak lewat, karena kebaikan hati petugas yang mau nunggu ambil duit ke ATM dulu.
  19. Tambahkan sedikit kebahagiaan, misalnya masih bisa masuk ke dalam bandara walaupun kertas waiting list menunjukkan waktu pesawat jam 1, tapi entah bagaimana bisa tidak terlihat dan berhasil lolos.
  20. Akhiri dengan adegan menulis untuk blog dengan judul 20 Adegan Film Terminal Ala Pojok Hablay di depan terminal F sekian, sambil mengisi batere laptop
Perbedaan utama antara aku dan Tom Hanks adalah ada Abang, seorang ibu, teman tukang berburu sekolah, teman tukang nulis & foto, teman tukang bikin peta, teman kerja, dan keluarga tersayang yang membuat aku merasa tetap ada yang menemani perjalananku.

Moral cerita: hati-hati dengan yang kamu harapkan. (Lho?!?)

Nah, menurut kamu, perlu ada yang ditambah, dikurangi atau bentuk modifikasi lain? Atau ada yang berminat memfilmkan?


No comments:

Post a Comment