17.11.06

Miss Ring Ring Kepentok Limit

Photobucket - Video and Image HostingAku memang miss ring-ring. Dari jaman telepon lima angka di akhir tahun 1980-an, aku suka bertelepon. Selalu diprotes karena itu bukan kebiasaan bagus (katanya), dan selalu bikin bokek. Berbeda dengan 15-10 tahun lalu ketika bertelepon lebih banyak dipakai untuk membicarakan kecengan *tsah, bahasa menunjukkan generasi bukan?* atau aturan orang tua yang aneh-aneh, saat ini urusan terbesar penggunaan telepon adalah pekerjaan. Apalagi dengan pekerjaan model aku, yang gak kenal kantor.

Aku pengguna XL sejak, hmmm, lama deh. Nomer ponselku masih 10 angka. Seringkali, ketika aku selesai menyebutkan nomer ponselku, orang masih siap mencatat nomer lanjutannya. Aku harus bilang, sudah segitu aja kok nomernya. Nomer cantik, kata orang-orang. Buat aku sih, provider-nya yang cantik

Awalnya ini adalah nomer pra-bayar. Aku sampai akrab dengan mba mba di XL Dago sana, untuk isi pulsa tentunya. Bisa jadi karena aku sering banget berkunjung ke tempat ini, sampai-sampai aku bisa nitip duit saja tuh untuk isi pulsa kalau antrian disana panjang banget karena sedang tidak online. Gak perlu ngantri deh, walaupun memang pulsa tidak akan mungkin terisi saat itu juga.

Seorang mba disana kemudian menganjurkan aku pindah ke pasca bayar. Dia mungkin kasihan atau bosan melihat aku bolak balik ke tempat itu. Aku juga aneh sih, gak pernah pindah ke tempat lain beli pulsa. Abis kapok sih, dan aku juga jatuh cinta pada keramahan dan kesigapan pelayanannya.

Urusan isi pulsa selalu bisa dibereskan oleh mereka. Sekali waktu, sebuah pekerjaan mengharuskan aku dalam perjalanan yang superduper padat, berpindah kota tiap 3 hari, dan selalu berada dari hotel ke hotel dan harus berada di hotel tersebut seharian penuh. Walhasil, mengisi pulsa adalah sesuatu yang semakin sulit aku lakukan (mBCA-ku tidak aku aktifkan lagi setelah ponsel pernah sempet menghilang oleh si pencuri jahanam itu). Padahal, aku harus tetap berhubungan dengan orang, dan sebetulnya aku sudah mengisi pulsa. Seratus ribu! Walhasil selama 5 hari, aku mati kutu, tidak bisa mengirim kabar apapun keluar. Mau gila rasanya.

Iya ketergantungan aku sama telepon itu besar. Aku dan Ratna sepakat, kami sih butuh bukan buat ditelepon tapi lebih untuk bisa menelepon. Jadi, sejak peristiwa itu, dan karena bujuk rayu si mba ritel Dago, aku ngalah, pindah ke pasca bayar.

Memang sangat menyenangkan tidak perlu pusing cari pulsa. Bisa menelepon kapan saja, dan waktu itu, masih hanya Xplore yang dihitung per detik. Jatuh-jatuhnya, lebih murah menelepon ketimbang sms, tapi perlu 10 sms supaya urusan beres kan jatuhnya mahal (secara aku sering bales sms hanya dengan OK, dan kata orang itu pemborosan). Sekedar informasi, aku tidak suka sms-an, dan seringkali aku lupa loh membalas sms yang masuk. Niatnya nanti aku bales, terus biasanya aku lupa. Gak jarang, aku milih menelepon ketimbang bales sms, gak tahan aja *tersipu nih*.

Tapi sekali waktu, aku di Sabang, akhir pekan, dan ternyata penggunaan telepon aku sudah lewat limit. Pekerjaan sialan! Aku sudah bayar lewat klikBCA, tapi ternyata butuh waktu 3 hari sampai XL menerima laporan. Buset. Aku butuh bertelepon dan aku malas mengganti nomer karena aku menunggu beberapa telepon penting. Untungnya customer service yang top begete itu mau memberi ekstra limit sementara sampai mereka menerima pembayaran setelah aku mengirim bukti pembayaran lewat internet itu (Lewat fax atau email, tapi jangan tanya bagaimana usaha cari fax atau email di Sabang. Horor banget)

Dan hari ini, kejadian lagi. Aku melewati limit. Panik. Aku buru-buru bayar -lagi lagi- via internet, dan konfirmasi ke customer service. Setelah menunggu 15 menitan, akhirnya mereka berkenan ngasih ekstra limit lagi. Miss Ring Ring lagi deh.

Maka itu, aku jatuh cinta pada XL, walaupun sinyalnya tidak ada di Ambon, tidak ada di Pidie, dan bahkan kadang di dalam kota pun sulit. Cinta itu buta katanya. Halah halah. Lebih karena kebiasaan gak bisa ngerem mulut nih!

Cuman, kapan nih para pemberi pekerjaan mau mengganti ulang semua biaya telepon ini ya?