17.10.06

Dicari: 7 Anjing Pendamping

Silahkan pilih kategori berikut:
  1. Seperti Ice yang dengan harus keburu pergi dalam waktu cepat
  2. Seperti D*ru, yang terpaksa diberikan kepada orang lain karena desakan orang rumah
  3. Seperti Belo, yang karena usia tua, harus pergi di awal tahun ini. Sampai sekarang aku masih kangen banget sama semua dari dia yang serba hitam. Bulunya lebat, warna hitam, matanya belo warna hitam tentunya. Lucunya, di saat saat akhirnya, kayaknya dia mulai ubanan deh.
  4. Brownie yang hilangSeperti Brownie, kesayangan seluruh keluarga. Dapat kehormatan untuk tinggal di dalam rumah dan bukan di halaman belakang, karena dia selalu tidak bisa bersaing dengan yang lain dalam urusan makan. Biarpun punya tempat makan sendiri, selalu saja, jatahnya direbut oleh anjing lainnya. Agak buta, agak tuli. Tapi aku sayang sekali pada Brownie yang selalu ikut bobo sama aku. Kangen dengar suara gemerincing kalung di lehernya yang dipasang karena dia gak pernah bisa nyahut kalo dipanggil. Jadi, lonceng di lehernya menjadi petunjuk keberadaan dia. Duh, kangen banget ama Brownie. Entah kenapa, suata waktu dia keluar rumah, dan gak kembali lagi. Dan, beberapa kali, ada satu dua mobil yang berhenti mau ambil Brownie. Serius, kalau ada yang nemuin kembali, kami semua superduper bahagia nerimanya, bahkan kalau yang ngembaliin butuh ongkos pengganti. Pengganti apapun. Ayahku sampai sekarang, masih sering nengok foto dia. Kami semua seperti itu.
  5. Seperti Coco, yang begitu tangguh, kuat dan lama menemani kami. Gonggongannya selalu terdengar setiap salah satu dari kami membunyikan klakson mobil. Tidak pernah pilih-pilih makanan, dan selalu saja bersemangat. Tapi entah kenapa, dia tiba tiba tidak bersemangat, mendadak kurus dalam waktu singkat, dan justru setelah disuntik dokter langsung tidak mampu bangun, berdiri dan berjalan. Coco masih maksa suka jalan, tapi akhirnya Senin lalu, dia mati juga.
  6. Kris dengan Marbel, Biang dan BrownieSeperti Marbel, yang kembaran Brownie: pendek, panjang, bulu lebat, kuping lebat, tetapi juga musuh bebuyutan coco: selalu bertengkar. Herannya, gak lama setelah Coco mati, dia mengikuti jejaknya. Kurus, gak bisa makan, begitu diinfus, tidak bisa ngapa2in lagi. Sepulang aku dari Aceh – sabtu lalu – terus menerus aku peluk. Nonton, makan, tidur bersama Marbel, yang lemas gak bisa bangun, yang harus disuapin, tapi bisa menggoyangkan ekornya setiap aku panggil dan setiap dia melihat aku. Tapi Minggu subuh, dia tidak sanggup bertahan lagi. Setelah membangunkan aku jam 2 pagi, minta minum, pipis, dia pun pergi. Aku langsung menangis sejadinya.
  7. Bisa menemani Biang, satu-satunya yang tersisa. Si kecil yang paling manja, paling berisik, paling bandel, paling kecil, tapi paling pinter. Biang, anjing yang ada menyambut aku pulang sekolah sekitaran 5 tahun yang lalu. Biang yang selalu memilih pojokan di bantal kepalaku, dan yang selalu suka coklat, atau makanan apapun yang mahal. Dia sekarang sendiri. Kehilangan dua rekannya dalam waktu 1 minggu, bukan cuman dia yang termewek-mewek, sampai sekarang, aku masih suka nangis-nangis.

Ada yang mau gentiin?