20.10.06

Beta Lihat Ambon Manise

Ambon Manise sulit lagi disebut manise karena konflik berkelanjutan yang dimulai di tahun 1999. Rasanya mereka yang pergi ke Aceh itu mau perang, ikutan terlibat di konflik tersebut entah berupaya menenangkan atau malah memanasi suasana.

Kalau saja, Ambon tidak berhenti berkonflik, aku tidak akan punya kesempatan merasakan kecantikan Ambon. Beneran. Pulau yang indah, dan aku hanya menjelajahi setengah bagian dari pulau itu.

Photobucket - Video and Image HostingPantainya betul betul membuat aku superduper rela menjadi gosong (padahal gosong bekas main ke China dan juga perjalanan ke Aceh beberapa waktu lalu, belum lagi pulih). Gimana gak rela, airnya jernih sekali. Sebagian besar bukan pantai berpasir putih, kecuali di Natsepa di Maluku Tengah, sebagian besar pantai adalah pantai karang. Tidak usah kuatir bakalan babak belur kena karang dong. Kebetulan, selama hampir seminggu aku berkeliling, air tengah surut. Berarti, aku bisa berjalan-jalan di atas karang-karang dan pasir pasir batu indah itu. Harus agak hati-hati sih, karena banyak sekali mahluk hidup di antara karang tersebut. Ada berbagai ikan yang indah (musti nanya kaufik nih untuk urusan nama-nama ikan tersebut), ada berbagai mahluk laut lainnya. Apalagi aku berjalan dengan Head-ku yang setia, sepatu seperti itu sekali injek bisa bikin kerang kecil dan bintang laut superduper gepeng. Tidak perlu snorkelling, lupakan diving, aku bisa berjalan telanjang kaki melihat berbagai keindahan laut tersebut. Memang sih, kalau mau puas silahkan snorkeling (tunggu pasang deh, dan arus yang asik supaya dapat daerah pandang yang jernih), atau menyelam (belum bisa diving karena arus terlalu kuat). Disini ada taman laut cantik, dan bahkan gua di bawah laut yang malah tidak diketahui keberadaannya oleh penduduk sekitar. Aku tahu ini, dari seorang bule yang sejak Februari mangkal di Pantai Namalatu (calon instruktur divingku, seandainya saja arus cukup bersahabat).

Bayangkan lansekap berikut. Di sebelah kanan ada Laut Banda, di sebelah kiri ada gunung yang sebagian besar terdiri dari karang. Berjalan di atas gunung, seperti jalan di Puncak, Jawa Barat. Tapi, bukan disuguhi tanaman teh, justru hamparan pantai karang dengan laut yang jernih. Bahkan dari ketinggian pun, karang-karang di bawah air masih tampak jelas, bisa dilihat menembus air laut yang hijau kebiruan itu. Aku pikir, kalau ada orang Jakarta, jangan-jangan udah ada bejibun bangunan vila di kawasan ini, sebagaimana Puncak menjadi kawasan vila. Indah sekali. Ada beberapa bagian mengingatkan aku sama Danau Toba, Samosir dan Prapat, tapi sekali lagi, ini laut bukan danau.

HateleHanya satu dua pantai yang memungut bayaran, itu pun biasanya masuk kas gereja. Sebagian besar pantai di Ambon adalah miliki gereja atau keluarga. Kecuali Pantai Namalatu yang konon sudah dibeli oleh Pemerintah Propinsi. Memang sebagian besar masih belum memiliki fasilitas seperti WC. Tapi gak perlu kuatir, rumah penduduk terbuka lebar untuk itu. Dan, pssttt, bahkan WC yang terlihat kumuh dan buruk dari luar, sungguh-sungguh bersih didalam. Ini satu hal yang paling aku suka di Ambon. WC yang bersih. Air di baknya bersih. Lantainya bersih. Buset, aku gak pernah nemuim kondisi kayak gini di banyak bagian di Indonesia. Gak usah kuatir kalau musti ngetuk pintu penduduk kalau udah kebelet. Menurut aku, orang Ambon adalah orang yang paling ramah dan tulus yang aku temui di Indonesia. Mereka mempersilahkan aku memakai WC dengan ramah. Bahkan, mereka tersenyum dengan tulus ketika melihatku. Senyuman, sapaan dan penerimaan mereka masih sangat kuat melekat di ingatanku.

Ambon kaya akan legenda menarik, yang sayangnya, tidak banyak diketahui orang setempat. Hanya satu dua penggal cerita. Untuk cerita lengkap, aku harus menunggu kepala museum Siwalima yang sedang melakukan perjalanan dinas ke Belanda. Padahal itu menarik sekali, secara nama-nama tempat di Kota Ambon seperti Gunung Nona, Kuda Mati dan banyak lagi itu punya kaitan satu sama lain.

Photobucket - Video and Image HostingTapi, tempat favoritku justru bukan pantai-pantai indah itu, tetapi sebuah tempat di atas bukit (atau gunung?) namanya Soya. Begitu perjalanan menanjak yang melelahkan itu selesai, aku terhenyak. Melihat sebuah gereja kecil yang begitu indah, rumah-rumah yang nyaman tanpa ada yang dikunci (pintu dan jendela terbuka begitu saja), diantara pepohonan, rasanya menemukan tempat yang superduper PW. Bikin aku ingin duduk terdiam, menulis, atau melamun, atau sekedar mensyukuri betapa Tuhan itu begitu baik dan begitu besar. Bel rumah adalah gonggongan anjing. Gak usah kuatir, ianjing-anjing ini hanya memberitahu yang punya rumah, bahwa ada tamu. Begitu ada orang datang, mereka diam kok. Rasanya di tempat ini, waktu seakan berhenti. Begitu tenang dan damai. Sayang, hanya sekejap. Seandainya rumah-rumah itu mau menerima tamu menginap, aku langsung deh teken kontrak untuk menginap beberapa saat.

Jangan salah, banyak tempat yang indah itu sebetulnya rusak pada waktu konflik. Dibakar. Begitu mereka memberitahukanku. Sebagian besar memang sudah dipugar, walaupun masih banyak lagi yang masih seperti kondisi baru terbakar. Mungkin yang punya bangunan masih berada di luar Ambon, atau seperti juga Pak Ben supir kami waktu itu, belum punya cukup uang untuk memperbaiki. Menurut Pak Ben, beta musti jual beta punya mobil dan lari hanya dengan baju di badan, beta punya buku dan barang-barang peninggalan sudah habis entah dibakar atau diambil orang.

Photobucket - Video and Image HostingSungguh, tidak mungkin aku bisa merasakan apa yang dirasakan orang Ambon pada waktu konflik. Aura kengerian masih bisa aku tangkap waktu aku berjalan malam hari, diantara bangunan-bangunan rusak di kawasan Mardika atau sekitaran jalan Patty dan seputaran Amplas (Ambon Plasa). Tapi aku tidak kuatir, karena aku tahu, orang Ambon begitu tulus hatinya, begitu terbuka, aku merasa begitu nyaman. Alam yang indah dan ketulusannya membuat aku tidak sabar menunggu kesempatan selanjutnya untuk mengunjungi Ambon kembali. Aku masih ingin mengintip di bawah lautnya, sukur-sukur bisa sambil meneguk air kelapa muda 2000 perak itu, aku masih ingin mengintip desa-desanya, aku masih ingin membawa kainnya, aku masih penasaran dengan udangnya, aku masih ingin ngobrol dengan Oma pembuat rujak natsepa yang mantap banget itu, dan aku masih ingin mencicipi kopi di Warung Kopi Joas yang bikin ketagihan itu. Mau ikut?

1 comment:

  1. Sungguh.. Ambon telah jadi jutaan kali lebih indah dalam tulisan ini..
    kalo ke Ambon lagi, mampir ke kos-an aku dan kita jelajah Ambon sama2 ya... ^_^

    lebih seru lagi kalo sekalian nginjungi kepulauan Banda :-)

    ReplyDelete