8.9.06

Tidak Tetap yang Menetap

Aku kangen perasaan menunggu hari gajian. Beberapa hari sebelum hari gajian, biasanya kantong receh menjadi sahabat baik. Itu loh, uang lima-ratusan, seribuan, atau bahkan seratus perak yang kadang berceceran di tas, kantong celana, meja kerja dan mobil. Makan diirit-irit, parkir yang harus bayar dihindari sebisa mungkin, pergi nongkrong dijauhin dan diganti ketemuan di kantor atau rumah seseorang. Kere berat, tapi tahu pasti dalam 3-4 hari kondisi akan berubah, soalnya hari gajian!

amplop gajianHari gajian terakhirku adalah sekitar 3 tahun yang lalu, bahkan lebih. Sisanya, hari gajianku bisa terjadi kapanpun. Tidak bisa diprediksi dan tergantung kecepatan aku menyelesaikan pekerjaan dan tergantung kecepatan yang memberi uang dalam menyetujui pekerjaanku untuk kemudian mencairkan gaji aku itu.

Bukan cuman gak inget rasanya nunggu amplop yang rutin datang tiap bulan, tapi aku sudah tidak tahu, bagaimana ya rasanya punya meja kerja di sebuah kantor, dengan teman-teman kerja tetap dan tentu saja gak ketinggalan bergosip soal politik kantor-nya. Samar-samar masih aku ingat, keharusan datang jam 8 setiap hari, ketidakmampuanku menolak perintah untuk bekerja lewat dari jam kerja atau datang di luar hari kerja untuk menyelesaikan pekerjaan. Terkadang, aku masih bisa ingat, saat-saat makan siang yang pas banget untuk berbagi cerita a.k.a gossip di seputar kantor. Boss yang selalu saja menyebalkan, teman kerja yang rese, teman kerja yang baik, proyek yang terhambat, duit yang gak turun-turun, dan terutama rapat rutin yang lebih sering aku pergunakan untuk melamun (ups!).

Satu hal yang pasti, kenyamanan dan kepastian dari bekerja di tempat-tempat dengan hari gajian yang pasti datang setiap bulannya. Nyaman karena
1) bertemu dengan orang yang sudah kita kenal baik tabiat baik buruknya; 2) Boss dengan perintahnya sudah dapat kita interpretasikan dengan tepat (setelah melalui proses panjang berliku yang melibatkan senior dan administrasi, tentunya); 3) admin sudah diakrabi abis, dan itu berarti kemudahan urusan administrasi maupun keuangan; 4) meja kerja yang tiap cowet dan bolongnya sudah kita ketahui, termasuk bagaimana mengakali pintu laci yang sulit dibuka;
5) komputer sudah kita kuasai dan bukan sebaliknya, termasuk segala trik untuk mengatasi sifat buruknya; 6) selalu dapat tempat parkir yang sudah disiapkan satpam yang bageur nan asik; 7) OB yang udah cingcay banget urusan jajan pengganjal perut sampai meramu mie instan sesuai lidah

Kerja di TekoSudah hampir 4 tahun ini, semua itu hanya kenangan. Rekor paling lama kerja di satu kantor adalah 3 bulan. Bukan karena keluar atau dipecat, tapi memang aku dikontrak hanya untuk waktu tersebut. Kalau dihitung, rentang waktu kerja “kantoran-plus- meja-setengah-tetapku” itu berkisar antara 1 bulan sampai 3 bulan. Sisanya, kantorku berada dimana mood aku berada. Di kamar tidur (dengan tempat tidur yang sering menggoda), di perpustakaan umum, di kereta api, di kantor papi, di kantor adik, di Potluck (yang lagi tutup untuk buka lagi di tempat baru, dan membuat aku kebingungan cari tempat pe-we untuk bekerja nih! Buruan buka ya) dan juga (sekarang) di radio. Sampai-sampai beberapa waktu lalu Lala, partnerku di siaran pagi bilang, kalo aku datang pasti yang dicari adalah meja kosong dan steker listrik buat meletakkan peralatan perangku dan mulai mengetik! (sebetulnya ada sih pekerjaan tidak tetap yang aku tekuni selama 3 tahun di tempat yang sama, tapi tetep, statusnya tidak tetap loh)


Waktu bekerjaku adalah 24-7. Karena seringkali aku diserahkan pekerjaan yang sudah-harus-segera-dikumpulkan-tapi-kantor-kami-gak-sanggup-gak-ada-orang wajar kalo aku sering kerja kayak sinetron kejar tayang. Photobucket - Video and Image HostingAku bisa mulai bekerja jam 5 pagi (paling enak nih, sialnya kepotong siaran), jam 8 pagi, jam 10 pagi, jam 2 siang atau jam 8 malam. Pilih aja yang paling pas. Aku bisa kerja hanya 1 jam sehari, 8 jam sehari, atau di pol-in 24 jam dalam sehari (kalau udah gini, orang satu rumah sampai gak sadar sebetulnya aku ada di rumah atau enggak, soalnya pasti ngendon seharian di kamar). Sesudahnya aku akan menghabiskan waktu tidur, juga bisa sampai 24 jam sehari. Tanpa telepon, tanpa internet, tanpa komputer, hanya tempat tidur.

rapatDengan gayaku sekarang, beradaptasi adalah satu-satunya hal rutin yang aku lakukan. Bahkan jika harus bekerja dengan teman atau boss lama, tetap saja harus selalu beradaptasi lagi. Adaptasi sampai bego. Setiap penempatan berarti kembali ke titik nol untuk tahu kemana WC, bagaimana ambil minum, kemana makan siang dan hal-hal praktis lainnya. Gak usah urusan substansi deh, yang gini gini ini loh yang suka bikin canggung di tempat baru, kan. Udah kebelet, tapi bingung WC dimana. Udah haus, tapi OB gak keliatan. Mau ngeprint bingung caranya. Ngadepin yang kayak gini, aku mah udah tambeng. Cuek saja. Walhasil, aku memang sangat cepat beradaptasi, baik dengan orang-orang, lingkungan kerja maupun substansi kerjaan. Gimana gak cepat, wong kerjaan habis dalam sebulan. Kelamaan adaptasi mah benjol, atuh.

Hasilnya, buku alamat telepon sudah lewat limit dari kapan tahun. Walhasil, tiap ada nomer baru, aku selalu cari-cari nama untuk dihapus *duh*. Aku gak mau menghapus nama, karena seringkali aku menelepon nama-nama itu, biarpun hanya sekedar untuk tahu kabar.

Ihhh ya ampun, aku bisa menulis panjang lebar tentang ini ya? Barangkali ini gara gara Lala (yang kayaknya udah pusing liat aku berkeluh kesah tiap mau siaran *la, gue belon tidur nih*) bilang,”Mel, elu mah bilang pusing urusan kerjaan, tapi pasti elu sebenernya seneng dan malah pusing kalau gak kebanyakan kerjaan ya,”

*GUBRAK*
beneran, aku sama sekali bukan pecandu kerja. Tapi apa iya sih, aku jadi di-cap sulit berkomitmen?