17.9.06

Angka: Segalanya?

Baca SWA beberapa bulan lalu tentang pertarungan bebuyutan antar aperusahaan besar membuatku berpikir, kenapa semua harus selalu tentang angka?

Angka (seakan) adalah segalanya.

Bersekolah, rangking menjadi patokan. Sedikit yang mampu mengingat nilai rata-rata yang tercantum di dalam buku rapot. Lulus sekolah, kembali angka NEM menjadi patokan. Angka rupiah yang harus keluar guna meng-upgrade angka tersebut menjadi tidak masalah, selama NEM impian ada di tangan.

Bekerja, seringkali angka gaji pun menjadi patokan. Bo, orang hidup butuh duit gitu loh. Biarpun orang tersebut menderita bekerja di tempat tersebut, selama angka yang ditawarkan akan diterima di setiap bulannya dianggap memadai, semua keluh kesah lebih baik ditelan sajalah. Pernah berpikir berapa gaji orang-orang disekitar anda? Maaf maaf buat yang gak setuju, tapi aku orang yang selalu berupaya tahu tentang gaji, khususnya yang berhubungan dengan pekerjaanku. Pembenarannya, aku bisa ditipu pemberi kerja kalo gak rajin update harga dasar pekerjaanku (dan betul betul pernah kejadian!).

Angka angka dan angka. Huh, secara aku ini puyeng banget ama angka-angka. Memusingkan. Kecuali angka 7 yang bentuknya bagus!

Photobucket - Video and Image HostingSWA menceritakan bagaimana pertaruangan antar perusahaan tersebut adalah angka. Angka omzet dan angka pelanggan (mungkin seharusnya aku menyebut angka pelanggan yang kemudian akan menjadi acuan angka omzet ya?). Salah satunya pertarunganTelkomsel dan XL, dimana – konon – XL gila-gilaan menggenjot angka penjualannya.

Itu membawaku juga ke berita soal apple yang sekarang mulai pake intel. Doh! Minggu lalu, aku ke apple center untuk menukar baterei iBook G4 aku (iya, iya, makasih Wisnu udah ngasih tau musti ngembaliin batere). Aku gak liat iBook yang biasa pamer body di showroom itu. Kata Pak Anto, yang ada tinggal stock lama, sekarang yang dijual udah pakai intel semua. Argkh! Siyal. Padahal aku lagi mikir untuk tukar G4 ini dengan versi baru.

XL sangat aku suka karena pelayanan purna jualnya belum pernah mengecewakan (walaupun sinyal kembang kempis dan waktu masih pra bayar dulu, pernah bermasalah dengan isi pulsa, tapi semua terbayar dengan tanggapan cepat dan manis. Ha!). iBook aku suka karena juga purna jual yang asik banget. Keluhan apapun, selalu ditanggapi cepat dan tepat.

Satu tempat nongkrongku, Potluck. Aku juga terlanjur ketagihan daya pikat tempat ini. Sekarang, mereka tengah bebenah untuk masuk ke tempat baru. Aku yakin, juga untuk mengejar angka kunjungan yang lebih besar.

Angka lagi.

Bagaimana dengan angka yang ada di tangan? Apakah ada artinya? Masihkah mengejar angka yang selalu lebih besar akan selalu menjadi tujuan? Apakah ada artinya satu orang pelanggan yang sama, dengan tingkat kepuasan yang terus berlipat karena pelayanan yang memanjakan pelanggan.

Atau pada akhirnya, bukan cuman angka, tapi pepatah lama itu berlaku, kalau ada yang baru dan lebih muda, yang lama ditinggalkan?

Teringat obrolan dengan Oom Widya - Kopi Aroma (ada yang belum tahu Kopi Aroma Banceuy Bandung?) yang berkata dia tidak memperbesar usahanya, karena ini sudah pas dengan kemampuan dia. Dengan skala sekarang, dia bisa memberi yang terbaik. Dan terutama, dia merasa cukup dengan yang sekarang...

*sigh*