26.9.06

10 yang Aku Benci di Bulan Puasa

Ada 10 hal yang aku benci dari bulan puasa:
  1. Menjelang bulan puasa, semua kegiatan dipadatkan. Atas dasar pertimbangan: sudah mau bulan puasa, semua harus diselesaikan sebelum bulan puasa dimulai? Haaa?!?
  2. Jam kerja yang berubah. Di atas kertas loh, alias kenyataannya, tetep aja pulang sore dan gak akan diitung lembur kan. Lebih menyebalkan karena tiba-tiba urusan menelepon instansi lain, apalagi pemerintah, jadi perlu penyesuaian besar-besaran, dan gak jarang berimplikasi ke urusan jadi agak (banyak) terbengkalai
  3. Acara tivi yang tiba tiba menjadi begitu (sok) religius. Tidak ada pilihan, kecuali berlangganan tivi kabel. Bahkan acara gosip berubah jadi absen artis. Hal yang ditanya: kegiatan selama bulan puasa. Emang musti berubah ya?
  4. Tempat makan tutup. Untungnya tinggal di kota (masuk kategori) besar. Banyak tempat makan buka, walaupun acara makan menjadi seperti melakukan kejahatan, sembunyi-sembunyi dan ditutup-tutupi (walaupun kayaknya korupsi sih udah gak pake sembunyi dan ditutup-tutupi ya)
  5. Tidak boleh makan dan minum sembarang. Pada hari pertama, aku betul betul lupa, dan aku betul betul haus, dan minum di dalam mobilku sendiri. Selamatlah, seluruh mata memandangku seakan-akan aku ini melakukan dosa besar (aku gak tau, dosa besar itu apa ya?). Soalnya (katanya) aku harus toleransi. Coba aja ya, kalau pas di kantor kantor, terus ada yang minta duit pelicin, juga dipelototin abis-abisan, pasti seru! (Biasanya malah ditanggep dengan senyum basa basi).
  6. Rumah makan menjelang jam berbuka jadi ramai gila-gilaan, apalagi yang terkenal. Orang rela banget nungguin dari jam 5 demi dapat tempat duduk. Pastinya untuk acara buka puasa bersama dong! Sebetulnya acara buka puasa bersama ini satu-satunya hal paling ngangenin dari bulan puasa. Sangat aku suka. Soalnya, entah kenapa di bulan puasa kayaknya orang lebih rela meluangkan waktu untuk bisa berbuka bersama, makan malam bersama, padahal di 11 bulan lainnya pasti sulit sekali untuk berkumpul bersama.
  7. Tempat hiburan malam tutup. Aku sendiri gak pernah lagi maen maen ke dunia gemerlap itu, tapi aku inget banget bagaimana salah satu temenku keteteran finansial karena tidak dapat pemasukan selama bulan puasa, padahal dia mau ngirim duit buat lebaranan.
  8. Banyak sekali pengemis, tukang minta-minta dan semacamnya.
  9. Macet gila-gilaan menjelang jam berbuka, tiba-tiba semua orang seakan-akan kebelet pipis atau apalah. Kebelet berbuka puasa sih. Heran deh, dimana tuh "menahan hawa nafsu"nya? Bisa ambil jalur seenaknya (terutama motor, kan bisa nyelap nyelip sembarangan, dan atas nama sabar, kalo keserempet sampe tergores-gorespun mohon disabarkan sajalah!). Perhatiin deh muka-muka orang di kendaraan menjelang berbuka puasa, apakah menunjukkan kesabaran? Ah, jangan bilang itu kelakukan sebagian kecil orang, kalau itu kelakukan sebagian kecil orang, gak akan ada macet gila-gilaan di setiap jam menjelang buka (setidaknya di Bandung dan Jakarta nih)
  10. Semua orang (katanya) harus lebih sabar dan menahan hawa nafsu, tapi di bulan puasa gini, berani-berani nulis sesuatu seperti ini pasti udah di haramjadah (aku yakin, aku bakal disumpah-sumpahin gara gara ini). Sebetulnya yang gak puasa kayaknya jauh harus lebih menahan diri (mana gak dapet pahala lagi kan?). Yup. Walaupun aku sangat sangat suka buka puasa bersama dan tajil (ohh, aku jatuh cinta prosesi makan tajil deh), tapi tetap saja, 10 hal ini bikin aku enek.

17.9.06

Angka: Segalanya?

Baca SWA beberapa bulan lalu tentang pertarungan bebuyutan antar aperusahaan besar membuatku berpikir, kenapa semua harus selalu tentang angka?

Angka (seakan) adalah segalanya.

Bersekolah, rangking menjadi patokan. Sedikit yang mampu mengingat nilai rata-rata yang tercantum di dalam buku rapot. Lulus sekolah, kembali angka NEM menjadi patokan. Angka rupiah yang harus keluar guna meng-upgrade angka tersebut menjadi tidak masalah, selama NEM impian ada di tangan.

Bekerja, seringkali angka gaji pun menjadi patokan. Bo, orang hidup butuh duit gitu loh. Biarpun orang tersebut menderita bekerja di tempat tersebut, selama angka yang ditawarkan akan diterima di setiap bulannya dianggap memadai, semua keluh kesah lebih baik ditelan sajalah. Pernah berpikir berapa gaji orang-orang disekitar anda? Maaf maaf buat yang gak setuju, tapi aku orang yang selalu berupaya tahu tentang gaji, khususnya yang berhubungan dengan pekerjaanku. Pembenarannya, aku bisa ditipu pemberi kerja kalo gak rajin update harga dasar pekerjaanku (dan betul betul pernah kejadian!).

Angka angka dan angka. Huh, secara aku ini puyeng banget ama angka-angka. Memusingkan. Kecuali angka 7 yang bentuknya bagus!

Photobucket - Video and Image HostingSWA menceritakan bagaimana pertaruangan antar perusahaan tersebut adalah angka. Angka omzet dan angka pelanggan (mungkin seharusnya aku menyebut angka pelanggan yang kemudian akan menjadi acuan angka omzet ya?). Salah satunya pertarunganTelkomsel dan XL, dimana – konon – XL gila-gilaan menggenjot angka penjualannya.

Itu membawaku juga ke berita soal apple yang sekarang mulai pake intel. Doh! Minggu lalu, aku ke apple center untuk menukar baterei iBook G4 aku (iya, iya, makasih Wisnu udah ngasih tau musti ngembaliin batere). Aku gak liat iBook yang biasa pamer body di showroom itu. Kata Pak Anto, yang ada tinggal stock lama, sekarang yang dijual udah pakai intel semua. Argkh! Siyal. Padahal aku lagi mikir untuk tukar G4 ini dengan versi baru.

XL sangat aku suka karena pelayanan purna jualnya belum pernah mengecewakan (walaupun sinyal kembang kempis dan waktu masih pra bayar dulu, pernah bermasalah dengan isi pulsa, tapi semua terbayar dengan tanggapan cepat dan manis. Ha!). iBook aku suka karena juga purna jual yang asik banget. Keluhan apapun, selalu ditanggapi cepat dan tepat.

Satu tempat nongkrongku, Potluck. Aku juga terlanjur ketagihan daya pikat tempat ini. Sekarang, mereka tengah bebenah untuk masuk ke tempat baru. Aku yakin, juga untuk mengejar angka kunjungan yang lebih besar.

Angka lagi.

Bagaimana dengan angka yang ada di tangan? Apakah ada artinya? Masihkah mengejar angka yang selalu lebih besar akan selalu menjadi tujuan? Apakah ada artinya satu orang pelanggan yang sama, dengan tingkat kepuasan yang terus berlipat karena pelayanan yang memanjakan pelanggan.

Atau pada akhirnya, bukan cuman angka, tapi pepatah lama itu berlaku, kalau ada yang baru dan lebih muda, yang lama ditinggalkan?

Teringat obrolan dengan Oom Widya - Kopi Aroma (ada yang belum tahu Kopi Aroma Banceuy Bandung?) yang berkata dia tidak memperbesar usahanya, karena ini sudah pas dengan kemampuan dia. Dengan skala sekarang, dia bisa memberi yang terbaik. Dan terutama, dia merasa cukup dengan yang sekarang...

*sigh*

8.9.06

Tidak Tetap yang Menetap

Aku kangen perasaan menunggu hari gajian. Beberapa hari sebelum hari gajian, biasanya kantong receh menjadi sahabat baik. Itu loh, uang lima-ratusan, seribuan, atau bahkan seratus perak yang kadang berceceran di tas, kantong celana, meja kerja dan mobil. Makan diirit-irit, parkir yang harus bayar dihindari sebisa mungkin, pergi nongkrong dijauhin dan diganti ketemuan di kantor atau rumah seseorang. Kere berat, tapi tahu pasti dalam 3-4 hari kondisi akan berubah, soalnya hari gajian!

amplop gajianHari gajian terakhirku adalah sekitar 3 tahun yang lalu, bahkan lebih. Sisanya, hari gajianku bisa terjadi kapanpun. Tidak bisa diprediksi dan tergantung kecepatan aku menyelesaikan pekerjaan dan tergantung kecepatan yang memberi uang dalam menyetujui pekerjaanku untuk kemudian mencairkan gaji aku itu.

Bukan cuman gak inget rasanya nunggu amplop yang rutin datang tiap bulan, tapi aku sudah tidak tahu, bagaimana ya rasanya punya meja kerja di sebuah kantor, dengan teman-teman kerja tetap dan tentu saja gak ketinggalan bergosip soal politik kantor-nya. Samar-samar masih aku ingat, keharusan datang jam 8 setiap hari, ketidakmampuanku menolak perintah untuk bekerja lewat dari jam kerja atau datang di luar hari kerja untuk menyelesaikan pekerjaan. Terkadang, aku masih bisa ingat, saat-saat makan siang yang pas banget untuk berbagi cerita a.k.a gossip di seputar kantor. Boss yang selalu saja menyebalkan, teman kerja yang rese, teman kerja yang baik, proyek yang terhambat, duit yang gak turun-turun, dan terutama rapat rutin yang lebih sering aku pergunakan untuk melamun (ups!).

Satu hal yang pasti, kenyamanan dan kepastian dari bekerja di tempat-tempat dengan hari gajian yang pasti datang setiap bulannya. Nyaman karena
1) bertemu dengan orang yang sudah kita kenal baik tabiat baik buruknya; 2) Boss dengan perintahnya sudah dapat kita interpretasikan dengan tepat (setelah melalui proses panjang berliku yang melibatkan senior dan administrasi, tentunya); 3) admin sudah diakrabi abis, dan itu berarti kemudahan urusan administrasi maupun keuangan; 4) meja kerja yang tiap cowet dan bolongnya sudah kita ketahui, termasuk bagaimana mengakali pintu laci yang sulit dibuka;
5) komputer sudah kita kuasai dan bukan sebaliknya, termasuk segala trik untuk mengatasi sifat buruknya; 6) selalu dapat tempat parkir yang sudah disiapkan satpam yang bageur nan asik; 7) OB yang udah cingcay banget urusan jajan pengganjal perut sampai meramu mie instan sesuai lidah

Kerja di TekoSudah hampir 4 tahun ini, semua itu hanya kenangan. Rekor paling lama kerja di satu kantor adalah 3 bulan. Bukan karena keluar atau dipecat, tapi memang aku dikontrak hanya untuk waktu tersebut. Kalau dihitung, rentang waktu kerja “kantoran-plus- meja-setengah-tetapku” itu berkisar antara 1 bulan sampai 3 bulan. Sisanya, kantorku berada dimana mood aku berada. Di kamar tidur (dengan tempat tidur yang sering menggoda), di perpustakaan umum, di kereta api, di kantor papi, di kantor adik, di Potluck (yang lagi tutup untuk buka lagi di tempat baru, dan membuat aku kebingungan cari tempat pe-we untuk bekerja nih! Buruan buka ya) dan juga (sekarang) di radio. Sampai-sampai beberapa waktu lalu Lala, partnerku di siaran pagi bilang, kalo aku datang pasti yang dicari adalah meja kosong dan steker listrik buat meletakkan peralatan perangku dan mulai mengetik! (sebetulnya ada sih pekerjaan tidak tetap yang aku tekuni selama 3 tahun di tempat yang sama, tapi tetep, statusnya tidak tetap loh)


Waktu bekerjaku adalah 24-7. Karena seringkali aku diserahkan pekerjaan yang sudah-harus-segera-dikumpulkan-tapi-kantor-kami-gak-sanggup-gak-ada-orang wajar kalo aku sering kerja kayak sinetron kejar tayang. Photobucket - Video and Image HostingAku bisa mulai bekerja jam 5 pagi (paling enak nih, sialnya kepotong siaran), jam 8 pagi, jam 10 pagi, jam 2 siang atau jam 8 malam. Pilih aja yang paling pas. Aku bisa kerja hanya 1 jam sehari, 8 jam sehari, atau di pol-in 24 jam dalam sehari (kalau udah gini, orang satu rumah sampai gak sadar sebetulnya aku ada di rumah atau enggak, soalnya pasti ngendon seharian di kamar). Sesudahnya aku akan menghabiskan waktu tidur, juga bisa sampai 24 jam sehari. Tanpa telepon, tanpa internet, tanpa komputer, hanya tempat tidur.

rapatDengan gayaku sekarang, beradaptasi adalah satu-satunya hal rutin yang aku lakukan. Bahkan jika harus bekerja dengan teman atau boss lama, tetap saja harus selalu beradaptasi lagi. Adaptasi sampai bego. Setiap penempatan berarti kembali ke titik nol untuk tahu kemana WC, bagaimana ambil minum, kemana makan siang dan hal-hal praktis lainnya. Gak usah urusan substansi deh, yang gini gini ini loh yang suka bikin canggung di tempat baru, kan. Udah kebelet, tapi bingung WC dimana. Udah haus, tapi OB gak keliatan. Mau ngeprint bingung caranya. Ngadepin yang kayak gini, aku mah udah tambeng. Cuek saja. Walhasil, aku memang sangat cepat beradaptasi, baik dengan orang-orang, lingkungan kerja maupun substansi kerjaan. Gimana gak cepat, wong kerjaan habis dalam sebulan. Kelamaan adaptasi mah benjol, atuh.

Hasilnya, buku alamat telepon sudah lewat limit dari kapan tahun. Walhasil, tiap ada nomer baru, aku selalu cari-cari nama untuk dihapus *duh*. Aku gak mau menghapus nama, karena seringkali aku menelepon nama-nama itu, biarpun hanya sekedar untuk tahu kabar.

Ihhh ya ampun, aku bisa menulis panjang lebar tentang ini ya? Barangkali ini gara gara Lala (yang kayaknya udah pusing liat aku berkeluh kesah tiap mau siaran *la, gue belon tidur nih*) bilang,”Mel, elu mah bilang pusing urusan kerjaan, tapi pasti elu sebenernya seneng dan malah pusing kalau gak kebanyakan kerjaan ya,”

*GUBRAK*
beneran, aku sama sekali bukan pecandu kerja. Tapi apa iya sih, aku jadi di-cap sulit berkomitmen?


1.9.06

Pertanda

Peristiwa berubah-tanpa-ijin kata sandi yahoo aku, membuat aku mengingat-ingat beberapa hal di belakang, khususnya yang berhubungan dengan tanggal yang aku pakai itu. Tepatnya, aku teringat pada seorang laki-laki.

Photobucket - Video and Image HostingKejadian itu membuat aku teringat satu hal lain, beberapa hari sebelumnya, tanpa sengaja aku menemukan foto-foto aku dan dia, bersama dengan teman-teman lain, sedang kumpul-kumpul, bermain bersama. Beberapa tahun setelah kami berpisah, tapi kami masih bersahabat. Sangat baik. Karena, dia memang (pernah menjadi?) seorang sahabat terbaikku, di luar embel-embel mantan.

Beberapa waktu terakhir, setidaknya setahun terakhir, hubungan kami memburuk. Rasanya sampai ke titik terendahnya. Tidak hanya aku dan dia, tetapi hubungan dia dengan aku dan orang-orang lain yang ada di foto foto yang aku temukan minggu kemarin itu. Penyebabnya? Keegoisan dan rasa sayang yang terlalu berlebihan di semua individu yang bersahabat tersebut. Dia seakan terlempar keluar lingkaran pertemanan.

Ketika aku mengingat tanggal sang kata sandi, aku teringat dia.

Apakah ini tanda? Foto lama. Tanggal itu. Tanggal hari ini (selamat ulang tahun ya!).

Tanda untuk sesuatu yang lebih baik dari pertemanan yang sudah berlangsung sekian lama tersebut?

Kayak kata seorang laki-laki tua kepada seorang anak laki-laki di Alchemis-nya Paolo Coelho: God has prepared a path for everyone to follow. You just have to read the omens that He left for you. (Shut, baru nyadar itu buku juga bisa ada di tanganku karena campur tangan dia, loh).

Hai kamu, kalau kebetulan kamu mampir (karena aku tahu, kamu juga suka blogwalking), aku ada banyak berita tentang teman-teman kita untuk kamu. Apa kamu masih ingin tahu?