2.8.06

Bernyanyi Secara Maksud Elo!

Xiamen, Cina. Pernah denger namanya? Shangai, Beijing dan bisa jadi Guangzhou adalah kota-kota yang lebih dikenal daripada Xiamen. Terletak 10 jam perjalanan bus dari Guangzhou (tau persis, wong dari Guangzhou-Xiamen ditempuh bus pake ekstra berhenti 3 jam karena macet pula!), kota ini secara mengejutkan berhasil mengambil hatiku. Bersih. Itu kesan pertamaku.

IyusPenting banget kesan pertama itu, soalnya aku menghabiskan waktu 2 minggu disana. Bukan cuman buat sekedar berlibur pula. Pergi bersama Paduan Suara ITB untuk ikutan world choir games a.k.a choir olympics. Gaya banget ya :D Pertandingan paduan suara tingkat dunia (sebuah media nasional menterjemahkannya menjadi perlombaan paduan suara gereja tingkat dunia, sebegitu dekatnyakah church dan choir?).

Sebuah perjalanan yang penuh warna dan penuh perhitungan (duit tentunya). Keterbatasan membuat penempatan akomodasi, makan, dan banyak hal menjadi serba belibet dan harus begitu kalau mau tetap bertahan. Ketika dapat info bahwa akomodasi dari panitia itu ada di Middle School No. 8 alias SMP 8 yang kemudian lebih dikenal dengan nama Middle Eight Number School, terbayang kursi dan meja dijejerin dan dijadikan tempat tidur. Buset. Gak beda dengan ospek atau diklatsar kali ya. Maklum bayangan sekolahan, SMP pula, pasti gak jauh bedalah dengan SMP di Indonesia sini. Eala, ternyata yang namanya SMP itu keren banget deh. Ternyata pula SMP itu punya dormitori, sebuah kamar dengan 5 tempat tidur, meja belajar, lemari pakaian, 2 wastafel besar dan kamar mandi. Kalau ternyata harus naik ke lantai 4, namanya takdir. Kasur boleh jadi tipis, tapi kamar sudah dengan dispenser air minum, pendingin ruangan dan tentu saja housekeeping tersayangnya teman-teman. Seru juga sih, SMP itu disulap jadi desa paduan suara, choir village. Ada banyak tim paduan suara tinggal disana (dan tentu saja ada juga paduan suara-paduan suara lain yang tinggal di hotel berbintang, semua balik ke kemampuan kantong deh). Ada cafetaria, ada mini market, kantor pos, tempat penukaran uang sampai klinik kesehatan. Lengkap banget. Sayang banget, aku hanya sempat menginap semalam disana, dan gak gitu bisa menikmati desa itu di malam hari (konon sih seru banget tuh, soalnya suka ada keramaian yang biasanya melibatkan mereka yang berdarah O misalnya Latino, Philipino, dan Manado!).

Aku memang gak nginep disana, tapi nginep di sebuah inn, namanya J-inn yang lagi lagi secara mengejutkan merupakan inn yang sangat bersih, nyaman dengan kasur ekstra besar. Untuk dua orang, ada satu kasur King Size dan satu kasur lain ukuran single tapi yang agak besaran, entah apa namanya. J-inn berlokasi diantara toko-toko bunga a la wastukencana dan berbagai tempat makan enak (termasuk warung langganan 1 dan warung langganan 2), murah (lengkap dengan yang haram-haram) dan sebuah toko CD, DVD yang membuat kantongku jebol (secara mereka jualan berbagai DVD klasik dan jazz seharga 10 ribuan saja, surga banget). Tinggal di J-inn membuat aku pengalaman banget naik bus gratisan. Eh, sebetulnya bus-nya gak gratis, tapi ternyata walikota Xiamen sudah bekerja sama entah bagaimana, tinggal nunjukin name tag world choir games, maka urusan bayar-bayaran dianggap beres alias gak perlu bayar aja gitu.

Name tag sakti! Beneran deh. Coba aja mau keluar masuk SMP 8 tanpa name tag, silahkan saja berhadapan dengan para petugas yang super-duper-keukeuh-sampe-mampus-dan-selalu-butuh-penjelasan-panjang- lebar-untuk-segala-sesuatunya. Atau kalau lebih beruntung anda akan berhadapan dengan para volunteer a.k.a panitia tidak bergaji yang akan segera mengeluarkan sejuta pertanyaan dalam bahasa Inggris yang butuh penterjemah khusus dan diakhiri dengan peraturan baru hasil interogasi. Buset ya. Di saat awal, saat name tag tidak ada, rasanya kayak tahanan. Gak bisa kemana-mana banget. Lega banget rasanya bisa pake name tag berwarna merah jambu plus tali yang yang terus menerus butuh perlakuan khusus karena asik rusak kena angin dan perlakuan tak senonoh (abis aku terlalu lasak, jadi talinya sering putus). Herannya selang beberapa hari, selalu saja ada seseorang yang ketnggalan, hilang, dan tidak bisa menemukan name tag loh. Mungkin name tag-nya senang jalan-jalan, ngikutin yang punya.

di GulangyuNamanya juga di negeri orang, urusan jalan-jalan gak pernah boleh ketinggalan banget. Masa reses, antara part 1 ke part 2, diisi dengan jalan-jalan ke Gulangyu. Sebuah pulau kecil, 15 menit perjalanan dengan feri dari Xiamen. Cukup jalan kaki seharian bisa mengelilingi pulau ini. Ada jajaran toko-toko yang sangat menggoda (dan terbukti manjur menggoda seluruh tim dan menguras isi dompet, maklum harga murah meriah dan barang lucu-lucu kayak gitu kan gak bisa dilewatkan begitu saja dong), ada pantai yang walaupun kecil dan superduper panas, tetap saja pantai, ada bebatuan besar menakjubkan, ada kebun-kebun cantik, ada museum piano buat para pecinta musik dan tentu saja pemusik, ada gereja-gereja katolik berikut paduan suaranya, ada rumah rumah unik yang mencuri perhatian mereka yang tertarik dengan arsitektur. Lengkap. Hanya dengan uang sekitaran 8 ribu untuk naik feri bolak balik tuh (kami, tentu saja gratisan, kan pakai name tag. Buset ya). Aku sih cuman sekali kesana, tapi ada beberapa orang yang kesana lebih dari satu kali. Alasan mulia adalah untuk nonton gala concert – penampilan juara-juara sebelumnya tapi ada juga alasan sejuta umat yaitu berbelanja dong, apalagi!

Memang para pegila belanja menemukan surga di Cina. Secara harga-harga bisa bikin jantung berdebar, mata kalap, adrenalin naik dan tentu saja, kantong kempes. Bayangin barang-barang di ITC ambasador, misalnya, dengan harga setengahnya, atau malah lebih murah. Menawar adalah halal dan wajib hukumnya. Saking biasa lihat harga satuan, paling pol belasan, melihat harga puluhan itu rasanya terlalu mahal. Padahal bisa jadi bahkan harga puluhan itu pun masih tergolong murah di Indonesia. Belanja sepatu baru sampai 5 pasang. Sah! Apalagi kalau itu untuk oleh-oleh. Soalnya sepatunya lucu-lucu, modelnya unik-unik, dan harganya bukan cuman dibawah 100 ribu tapi bahkan di bawah 50 ribu. Hanya, kalau kaki anda ukuran besar, maap maap saja, silahkan cari sampai mampus ya. Mau beli tas dari ukuran mini sampai maksi silahkan. Mau beli barang elektronik, wah bisa sampe ngiler abis deh, walaupun dengan kualitas WDYE (what do you expect) ya. Tidak heran kalau sampai ada yang harus beli koper tambahan dong! Alasan apapun sah untuk berbelanja, dan tingkat keahlian berbelanja ditentukan oleh kemampuan menawar (aku: Nol besar), kemampuan kantong (aku: juga Nol besar), dan kemampuan untuk mengubah segala sesuatu menjadi tempat belanja (aku: lagi lagi Nol besar). Juara belanja alias juara shoppang (atau Chopin ya? Kekekek) tentu saja dipegang para sahabat yang telah berbaik hati menawarkan berbagai barang dan membuat aku lebih mengerti arti kata shopaholic ketimbang penjelasan dari Bloomwood.

DorothyUntuk belanja, tampaknya aku musti berlatih banyak. Sebanyak latihan kami selama di Xiamen, latihan nyanyi maksudnya ya. LO pertama kami, Rain sampai geleng-geleng kepala melihat bagaimana kami berlatih. Rupa-rupanya LO kami tersayang sampai dikenal dengan nama Rehearsal, saking seringnya dia meminta ruang latihan buat kami. Entah apa yang dilakukan oleh tim lain, sampai-sampai kesannya hanya kami yang gila berlatih, padahal rasanya frekuensi latihan kami wajar wajar aja kok. Kalau agak cerewet urusan ruang latihan, wajar aja. Susah banget sih dapet ruang latihan itu. Apalagi di masa-masa pdkt awal dengan para LO, Rain dan Dorothy, begitu banyak masalah muncul.Rain Kesalahpamahaman, ketidakmengertian, kekesalan dan ditutup berbagai peraturan absurd yang selalu muncul setelah satu peristiwa muncul. Apapun itu, terimakasih banget deh Neng Rain dan Oot (nama beken Dorothy) buat ruang latihannya. Kelas kosong, yang kadang pakai piano, kadang tidak berikut kursi yang kadang tinggi, kadang kursi mini-super-pendek- bikin-suara-susah-keluar. Herannya, ada loh tim yang bisa duduk pletat pletot (mungkin sambil melakukan imaginary pedicure menicure) tapi suara yang keluar bisa begitu bening, bersih, indah dengan power yang oke banget.

Pertandingannya sendiri seru. Sayang tidak bisa banyak mengintip penampilan tim lain. Secara agak sedikit sok-ngartis banget. Datang beberapa saat menjelang tampil, dan langsung cabut begitu selesai tampil. Pernah sekali waktu, aku terlambat keluar ruangan setelah penampilan ITB, aku jadi tertahan di dalam. Agak bersyukur karena jadi bisa liat penampilan tim dari Mongol itu, walaupun aku dan beberapa teman sampai harus dijemput dan ternyata teman-teman lain sudah menunggu di bus. Entah berapa lama. Sedih juga, cuman sempat lihat penampilan tim lain yang tampil sebelum kita (kalau kita bukan penampil pertama), atau pada waktu mereka tengah pemanasan (biasanya suka bikin tambah senewen, karena rasanya power tim lain lebih okelah, dan banyak hal lain deh).

Senewen juga muncul terutama kalau masuk di final. Beda dengan babak kualifikasi yang punya jadwal yang jelas, di babak final urutan penampilan tidak diketahui. Bahkan lolos atau tidak dari kualifikasi itupun baru bisa diketahui via LO. Aneh ya. Deg degan menunggu telepon dari para LO terbayar ketika mendengar bahwa tim Mixed Youth Choir kami lolos kualifikasi, dan lebih terbayar ketika mendengar tim folklore kami lolos kualifikasi dan bahkan jadi juara kualifikasi dengan nilai 27 skala 30. Langsung teriak-teriak deh. Begitu juga di part 2, rasanya tidak percaya waktu tim Chamber kami lolos kualifikasi, maklum para penyanyi merasa penampilan saat itu tidak terlalu baik. Well, untuk “tidak terlalu baik” kami ada di peringkat 2 di kualifikasi, dan tentu saja bahagia juga waktu tahu tim Mixed Choir lolos ke final. Serasa dikasih kesempatan kedua untuk tampil lebih baik lagi.

Urusan “penampakan” di penampilan itu biasa, urusan turun-turun sedikit kayak turun harga lagi acara diskon juga suka muncul. Apapun, penampilan terbaik sudah diberikan. Jangan tanya deh, bagaimana persiapan dandan untuk final folkore. All out. Jangan tanya improvisasi kostum di saat terakhir untuk chamber dan mixed choir. Semua untuk yang terbaik kan. Tampil bersaing dengan berbagai paduan suara dari berbagai kelas, semua berupaya menampilkan yang terbaik.

Dua medali emas di Mixed Youth dan Mixed Choir, dan dua medali perak (maap ama yang protes, udah aku betulin, bukan perunggu euy!) di Folkore dan Mixed Chamber Choir, sang partai tambahan disambut dengan sorak sorai (untukku pribadi, folklorenya udah superduper emas deh). Udah berasa selebriti banget, waktu Mas Indra Listiyanto, kondutor tersayang kami muncul di tivi lokal, atau waktu beberapa dari antara kami diminta mengulang tereakan IN DO NE SIA untuk di syut (shoot atau syuuut ya?) tivi lokal. Seru. Menyanyikan Indonesia Raya (nebeng Elfa), mengibarkan bendera Merah Putih di Seaside Hall.

Lima puluh sembilan orang, 58 penyanyi dan 1 konduktor, yang sebelumnya berlatih bersama selama lebih dari 8 bulan. Sebagian bahkan dengan setia menyisakan waktu dan uang mereka untuk selalu datang ke Bandung dari Jakarta di setiap akhir pekan untuk latihan. Rapat-rapat panjang panitia (sok tahu banget nih , and glad that I’m not one of them). Usaha mengontak para sponsor (intense sms dan chatting dengan Sahat dan Rino dari Banda Aceh sana) plus nodong nodong kiri kanan untuk seperak dua perak demi keberangkatan semua. Mengurus administrasi seperti visa, passport, tiket dan akomodasi semua orang (jangan tanya aku, tapi coba tanya Sahat, Lisa dan gerombolannya deh). Lelah lelah berlatih menari dengan Budi (dengan asisten khusus Ira dan Cimol). Dari yang tidak kenal sama sekali, sampai akhirnya merasa begitu dekat (walaupun tetap hanya mengenal nama panggilan, kayaknya sampai detik ini juga masih pusing kepala kalau disodori nama asli seluruh penyanyi). Melihat konduktor berevolusi dan berperan multi ganda. Bagaimana tidak, Mas Indra bukan hanya konduktor, pelatih tapi juga penterjemah dan interpreter (setia banget mendampingin proses belanja, menterjemahkan keinginan kami maupun penjual, kalau masih salah-salah paham, itu mah nasib. Mohon maklum, cari orang bisa berbahasa Inggris itu betul betul doa dan perjuangan). Konduktor yang berhasil menciptakan level penampilan dari tingkat naon, maksud elo dan secara (penjelasan dari setiap tingkat disediakan berdasarkan permintaan). Terbayar sudah.

---dengan bangga kami sebut namamu, deh---


Foto Foto di Xiamen China

Beberapa tulisan yang lebih rinci liat aja
http://sahathutajulubo.blogs.friendster.com/gor3sangre5an_h4ri/
http://walkofcredo.blogspot.com/2006/07/chapter-2-china-here-i-come.html