30.8.06

Identitas Yahoo

Photobucket - Video and Image HostingBetapa sebuah yahoo id begitu berharga. Hampir-hampir lebih berharga daripada KTPku. Nomer KTP aja gak pernah hapal, apalagi passport! Tapi sebuah yahoo id, musti hapal di luar kepala termasuk passwordnya dan kalau perlu segala informasi yang sudah diberikan sebelumnya pada waktu kita membuat id tersebut.

Sampai-sampai ketika kemarin karena keteledoranku meng-klik sebuah link yang aku pikir akan berisi foto-foto bagus kawanku ini (gak marah kok, Fik, serius!) ternyata membuat aku kehilangan kata sandi alias password id-ku. Walhasil, janji ngobrol via YM gagal total (konon, aku terlihat online sampai tengah malam itu). Uring-uringan. YM telah menjadi alat komunikasi yang lebih berharga daripada telepon dan ponsel.

ID itu juga aku pakai untuk masuk ke beberapa milis untuk mencari berbagai informasi untuk pekerjaan menulisku saat ini. Muter deh cari 1001 cara lain. Argkh

Pagi ini, belum berhasil menyelesaikan problem tersebut. Aku lupa apa jawaban pertanyaan kunci. Tolol, pertanyaan kunci kok ya anniversary date. Itu sih sama aja bikin aku pusing, anniversary ama yang mana ya *buset sok banget ya*? Arrrgggkkkhhhhhh






Kabar terbaru:

AKHIRNYA,
aku berhasil mengingat tanggal yang manakah yang aku pakai, kuncinya, aku sama sekali tidak memakai format normal untuk menulis tanggal. Tau kan format mm/dd/yyyy justru aku menulis dengan caraku bahwa itu tanggal, dan akhirnya terbukalah jalan. Dasar aku ini, punya logika menulis yang aneh. Oya, waktu aku coba-coba bikin akun baru, gak ada tuh pilihan pertanyaan kunci: anniversary date. Berarti itu karanganku. Gobloknya. Phhffff...gila, lebih dari 24 jam aku terobsesi dengan yang satu ini sampai sampai yu dadah yu bye bye sama urusan kerjaan yang harus didiskusiin dalam waktu kurang dari 8 jam dari sekarang. Pssssttt....kalo perempuan sang mantan tau aku pakai tanggal "kami" untuk kata kunci wah apa gak kebakaran jenggot ya (ups dia gak punya jenggot kok)?

24.8.06

Musik Idol3

Aku memang sangat menyukai musik. Apapun. Selama mengalun nikmat dan bisa aku nikmati.

Photobucket - Video and Image HostingBeberapa waktu lalu, aku nonton Indonesia Idol. Di TV sajalah. Satu acara yang baru aku tonton 3 minggu terakhir. Mohon maklum, selama di Aceh tidak ada TV (karena faktor kerjaan dan tempat tinggal sih), dan kemudian aku juga bepergian mulu. Gak heran,sebetulnya aku gak tau banyak tentang Indonesia Idol. Tapi, karena di rumah penggemar acara tersebut, aku cukup menantikan pertunjukan final dan pertunjukan pengumuman kemarin.

Photobucket - Video and Image HostingDuh, rasanya menyenangkan sekali loh. Menonton sebuah pertunjukan yang dipersiapkan secara serius. Panggungnya, penyanyinya, musiknya, semuanya. Beda banget ama program dari tivi tetangganya, AFI.

Rasanya setiap mendengar musik, aku selalu merasa jauh lebih baik. Entah itu saat aku sedih, aku senang, aku kesal, atau sedang sibuk, musik adalah sahabat setia yang selalu saja datang pada waktu yang pas. Khusus pas nonton Idol kemarin, aku bisa melupakan banyak hal yang bikin aku senewen dan sedih, untuk merasakan suasana dan emosi yang berbeda.

Pastinya, setelah menonton, aku merasa lebih baik, lebih segar dan siap untuk menghadapi minggu yang baru...

19.8.06

Pesawat Terbang dan Pesawat Telepon

Diam di PesawatAku sangat menyukai perjalanan dan terutama, aku sangat menyukai perjalanan dengan pesawat terbang. Biar udah berkali-kali, naik pesawat tetep membuat aku seperti anak kecil melihat permainan yang paling disukainya. Aku bisa menghitung kapan aku tertidur di pesawat. Hanya satu kali. Pertama waktu aku harus ke Banda Aceh naik pesawat pagi yang membuat aku harus berangkat jam 2 pagi dari Bandung, terkatung-katung di bandara selama 3 jam, setelah tidak tidur malam sebelumnya.

Karena aku selalu terjaga setiap naik pesawat, aku selalu memperhatikan orang-orang di sekelilingku. Memang ada saat-saat aku pergi bersama seluruh keluarga, tapi itu bukan berarti gak perduli sekitar, justru yang ada adalah aku dan adik-adikku akan semangat untuk merhatiin orang, untuk jadi bahan gosip dong, tentunya. Ada juga saat aku harus bepergian dengan orang yang membuat aku tidak akan melihat kiri kanan lagi, tapi asik bercerita, melihat matanya, dan sibuk berdua deh (mohon dimaklum dong). Tapi diluar itu, aku selalu memperhatikan sekitarku. Maklum, lebih sering bepergian seorang diri.

Masuk ke pesawat, kelakuan orang itu berbeda-beda (tentunya!). Khususnya untuk urusan menyimpan tas bawaan. Ada yang dengan anggun meletakkannya, ada yang kebingungan untuk buka tempat penyimpanan, ada yang teguh kukuh berlapis baja mencoba memasukkan tas yang menolak dimasukkan karena ukurannya memang terlalu besar. Duh, untuk orang-orang kayak gini aku suka melas, bo, secara di belakang dia banyak orang mau masuk gitu. Terkadang ada juga yang tasnya sulit masuk bukan karena terlalu besar, tapi karena tempatnya sudah penuh. Bukannya mencari tempat lain yang kosong, malah keukeuh untuk nyoba masukin sambil melayangkan pandangan menuduh ke sekeliling. Seakan-akan berkata, sapa neh yang masukin tas paling gede bikin aku gak bisa masukin tas. Pandangan yang seakan-akan ingin membuang tas yang ada di dalam, demi memasukan tas dia. Aku tipe yang cuek bebek urusan tas. Kalo di atas kepala tempat duduk sudah penuh, aku akan cari tempat lain yang kosong dan masukin tas aku disitu. Ealaaa, sekali waktu ada ibu-ibu yang sewot loh. Dia melototin aku. Aku mana peduli sama pelototan mata, kecuali kalo dia berkata sesuatu kepadaku, langsung (yang tentunya akan aku jawab juga dengan 1001 kata kata simpenan). Si ibu ternyata duduk di tempat aku meletakkan tas, dan dia langsung bilang ke keluarganya berbisik – tapi cukup keras untuk didengar, khas pegosip banget – bahwa itu adalah “jatah” mereka. Dia setengah berharap pramugari akan melakukan sesuatu dengan tasku, tapi tentu saja, tidak terjadi apa apa, tasku aman tentram di tempat itu. Memang, ada saat juga, aku gak ambil pusing dan meletakkan tasku di kakiku.

Itu baru kegiatan masuk pesawat. Mau turun pesawat, ceritanya berbeda lagi.

Aku sih suka bingung dengan orang yang terburu-buru turun, tapi ternyata nantinya ketemu di tempat bagasi. Ah, kalau bagasinya banyak mah nyante ajalah, buat apa juga berdiri-berdiri di gang, hanya bikin sesek dan pegel kalau pada akhirnya kecepatan mencapai pintu keluar akan sama dengan yang keluar terakhir dari pesawat? Kecuali mereka yang tidak membawa bagasi dan dalam kondisi rusuh tingkat tinggi, atau mereka yang musti transfer pesawat dalam waktu 15 menit (ngacung deh aku! Sampai harus dikawal khusus keluar pesawat dan tergopoh-gopoh berlari dengan bawaan banyak untuk mengejar pesawat lain di bagian lain bangunan dan harus melihat berbagai sign dalam bahasa yang sama sekali tidak aku kenal).

Nah, kalau udah tiba di penghujung perjalanan, aku ingin tahu, apa sih hal pertama yang dilakukan kamu? Apakah kamu akan buka mata (karena selalu tertidur dalam setiap perjalanan), tutup buku/ koran/ majalan (karena selalu membaca di setiap perjalanan – seperti aku), buka tas kosmetik (karena muka butuh “penyegaran” sebelum kembali ke peradaban)? Atau melakukan sesuatu yang selalu membuat aku berpikir bahwa mereka yang melakukan perjalanan adalah orang superpenting yang setidak detiknya berharga satu milyar: menyalakan telepon dan langsung berteteleponan dengan gaya sibuk!

Beneran deh, suara yang pertama kita dengar saat pesawat mendarat biasanya bukanlah suara pilot atau pramugari tapi suara krang kring dan suara suara opening dari berbagi ponsel yang baru diaktifkan kembali.

18.8.06

Berpisah untuk Bertemu Kembali

Kalau sedang sibuk banget, sampe musti begadangan, kadang kita lupa kalau badan sudah mulai berontak. Seringkali, rasa "capek dan lelah" baru kerasa justru waktu sudah ada waktu tenang untuk tarik napas, biasanya udah di tempat tidur. Herannya kalau udah terlalu capek, justru suka susah tidur. Semua hal yang bikin lelah - entah peristiwa menyenangkan atau menyebalkan - akan melintas.

Ketika harus kembali ke tanah air beberapa tahun lalu, aku bisa menjadi manusia paling diam sedunia. Secara, aku gak bisa ngomong apa apa lagi. Terutama hitungan 24 jam terakhir, aku hanya bisa diam. Begitu sedih berpisah dengan beberapa sahabat terbaik, terutama karena sadar bahwa kemungkinan untuk bertemu kembali begitu tipis, dan bahkan kalau bertemu, segala sesuatu akan berubah. Satu satunya yang tertinggal hanya kenangan manis yang mudah-mudahan gak akan pernah ilang dari ingatan.

Aku benci saat aku harus bilang selamat tinggal. Aku lebih suka bilang, sampai ketemu kembali. Karena - bahkan ketika aku sadar dan tahu pasti bahwa itu adalah sesuatu yang nyaris tidak mungkin - aku selalu berharap aku memang bisa bertemu kembali.

gambar diambil dari getty imagesTapi sayangnya, seringkali kita harus bilang selamat tinggal. Bahkan ketika hati kita tidak menginginkannya. Pada saat tersebut, segala sesuatu akan selalu melintas. Persis saat-saat begitu lelah, sampai tidak bisa tidur, dikala seharusnya aku tertidur kelelahan, yang terjadi malah aku terjaga untuk menonton kilas balik semua hal yang terjadi. Setiap momen, setiap waktu, setiap kebersamaan yang semakin diingat semakin tidak ingin dilupakan malah kalau bisa terulang kembali.

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. termasuk ... ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk..

Ada waktu untuk bertemu dan ada waktu untuk bilang berpisah; tanpa selamat tinggal, tetapi, sampai bertemu kembali.

Kangen Aceh

Aneh. Aku kangen Aceh.

Jal, Nas, Bang Ram, MellyKayaknya aku jadi kangen gara-gara beberapa hari terakhir aku berkali kali musti dengerin lagi SMS. Udah tau lagu ini? Duh, aku gak nemu .mp3-nya. Tertinggal di Banda Aceh. Yah, disana rasanya itu lagu udah beken dari kapan taun. Tapi kayaknya – atau akhirnya – lagu ini beredar ke luar Aceh juga. Hampir setahunan eh, setengah tahun setelah masa jayanya di Aceh sana. Atau ini mah aku aja yang baru ngeh ya kalau lagu itu juga beken di luar Aceh?

Bisa juga sih karena beberapa hari terakhir aku asyik begadang. Kejar tayang. Mirip banget sama model kerja aku disana. Pagi banget, disaat orang lain belon nongol di kantor, aku udah asik bekerja. Tengah malam, malah seringkali lewat tengah malam, dikala orang-orang udah pada pulang (bahkan mereka yang cuman chat juga udah pada pulang), aku masih asik berkutik dengan iBook tersayang. Terkadang sampai tertidur sementara di kantor.

Aku teringat pagi di Banda Aceh. Waktu terbaik dalam sehari. Belum (terlalu) panas, belum (terlalu) berdebu. Maklum, basisnya ada di daerah yang terkena tsunami. Kosong, panas, debu udah jadi santapan. Begitu jam menunjukkan angka 10 pagi, udah deh, selamat datang saja segala kepanasdebuan. Kalau sempat baru mulai bekerja jam segituan, dijamin sulit konsen.

Teringat malam-malam jalan-jalan. Kalau udah bosen, kesel, dan gak bisa mikir lagi, pastinya mendingan jalan-jalan. Cari kopi sanger. Enaknya sih sama Mba Okol. Sambil gosip soalnya.

Tiba-tiba inget jalan-jalan di Banda Aceh, yang seringkali bikin aku uring-uringan kalau sedang nyetir. Soalnya, orang suka seenaknya aja belak belok. Selamat tinggal sein! Selamat tinggal lampu. Soalnya, walaupun malam hari, motor yang berseliweran itu seringkali tidak pakai lampu penerang. Mungkin mereka pikir cukup pakai penerang hati (naon!).

Walaupun harus tidur di kamar 1,5x2,5 yang panas dan minim ventilasi itu, walaupun perutku harus tersiksa dengan gulai-gulai dan makanan yang sudah dipanasin berjuta kali itu, walaupun harus banyak begadang, walaupun selalu senewen kalo udah nerima selalu-musti-segera permintaan dari 2J - para atasanku, suasana disana itu ngangenin.

Atau jangan-jangan, bener kata orang-orang, aku teh berbakat jadi pecandu kerja. Aduh!

Bang sms siapa ini Bang
Bang pesannya pakai sayang sayang
Bang, nampaknya dari pacar abang
Bang, hati ini mulai tak tenang

Kalau bersilat lidah memang abang rajanya
Ternyata abang salah, masih saja bergila
Orang salah kirimlah orang iseng2lah
Orang salah kirimlah orang iseng2lah

tambahan: makasih Mba Okol, dan Okke buat kiriman .mp3-nya. berarti banget banget. terharu :p

17.8.06

Pesta Republik Indonesia?

Buat aku, setiap ulangtaunan adalah berbagai kebahagiaan. Aku menyukai ritual ulangtaunan. Boleh ada yang gak setuju, dan bilang itu hura hura. Boleh kok. Hanya saja, aku menyukainya. Sangat. Paling pas rasanya bersama dengan orang orang yang kita kasihi. Ulangtaunan juga masa yang pas untuk merefleksikan banyak hal. Basi gitu? Yah, basi sih kalo cuman gitu-gitu aja. Tapi rasanya kok aneh sekali, jalan gak sempet mikir, udah di bener gak, udah pas gak, dan seterusnya. Kebayang deh, kalau mau jalan ke satu tempat pasti kita musti mastiin kalo jalurnya bener dan meyakinkan diri kalo kita akan sampai di tempat itu, kan. Hidup juga seperti itu, kan. Apalagi hidup hanya satu kali, alias kalo itu mah perjalanan, kita sendiri belum pernah tau tempat tujuan itu, belum pernah kesana, jadi musti sering nge-cek. Entah nanya ke orang, entah liat peta atau contekan apapun yang kita punya yang ngasih tau cara-cara nyampe ke tempat tujuan itu.

Punya tempat tujuan aja musti cek dan ricek, apalagi yang belum tau mau kemana. Buset, mau muter muter ampe habis bensin? Iihh, enggak banget.

Momen untuk nge-cek sih ada banyak, buat aku paling pas rasanya pas ulangtaunan.

Photobucket - Video and Image HostingItu kalau yang ulang taun diri sendiri, gimana kalo yang ulantaunan adalah satu bangsa? Kepikir gak, kalau ujungnya aja gak ada yang tau mau kemana. Pusing kepala tentunya. Katakanlah ada ujungnya, biar gimana kan musti tetep cek dan ricek. Sialnya kalau tiap individu punya ujung yang beda-beda. Repot. Ada yang mikir ini ujungnya A, ada yang bilang B, ada yang bilang alaaa gak perlu ujung-ujungan deh, karena aku ini adalah penduduk dunia - the world citizen.

Kebayang kan, bisa saling tabrakan dan hancur lebur deh.

Pas banget kalau kemudian ada saat untuk melihat, apa udah di arah yang pas, yang dipengenin. Kalau udah sempet berbelok, yah musti balik lagi dong. Mendingan agak lama dikit tapi tetep ke titik yang sama kan?

Ketika ada yang merayakannya "hanya" dengan balap makan kerupuk, balap kelereng, karung (masih ada gak sih permainan ini semua), panjat pinang dan bagi bagi susu gratis (ini di Pangkal Pinang nih), oke oke ajalah. Bisa jadi itu cara untuk seenggaknya sadar, kita gak sendiri tapi satu sekumpulan besar yang mustinya sehati. Tokh, sehari-haripun gak mungkin kita bisa sehati kalo buat bebersih bareng sajapun gak bisa.

Hanya saja, apa itu semua cukup?


Selamat Ulang Tahun Republik Indonesia....

Selamat Ulang Tahun, Tanah Airku

Iseng-iseng mendaftar saat-saat dimana kerinduan, sayang dan kasihku untuk yang ulang tahun hari ini paling kerasa...

  • Waktu pelantikan paskibra. duh, memegang bendera merah putih gak pernah terasa begitu berat tapi juga membuat semangatku menyala seperti itu
  • Waktu berada jauh dari negeri ini. untuk sekolah. justru di saat tampak begitu banyak hal yang bisa membuat kita makin ngomel-ngomel dengan yang ada di dalam negeri, tapi entah kenapa, justru membuat aku kangen untuk buru-buru balik dan melakukan apapun, untuknya. walaupun sangat kecil.
  • Setiap musti menyanyikan bagimu negeri di sini, dan terutama waktu sedang tidak ada di dalam negeri
  • Waktu menyanyikan Indonesia Raya di Xiamen, China kemarin.

Kamu sendiri?

7.8.06

Hutang Empat Macam.

Oke, Dinda.... Gue terima deh, biarpun tergopoh-gopoh dan lelet banget. Abis ini, segera ditunggu gosipan elu ya..

Four jobs I've had:
1. Dosen
2. Penyiar
3. Event Organizer
4. Konsultan dan Peneliti Segala Macem

Four movies I could watch over and over:
1. The Sound of Music
2. As Good As It Gets
3. Taxi
4. De Lovely

Four places I have lived in:
1. Bandung
2. Jakarta
3. Rotterdam
4. Banda Aceh (yah, lumayanlah, lebih dari sebulan gitu)

Four TV shows I love or loved:
1. Oprah Winfrey Show
2. Friends
3. Insert
4. Film film sitkom-gak-penting-gak-lama-dan-gak-mikir

Four places I have been on vacation (musti lagi liburan kan ya, gak boleh dicampur dengan urusan kerjaan nih, hiks, yang campuran lebih banyak. Cuman empat yang boleh ya? Ya udah negara aja ya, ngaco kan, negara kan bukan "tempat" ya):
1. Krakow, Szeczin, Swinousjie - Poland
2. Paris, France
3. Pattaya, Thailand
4. Yogya, Cirebon, Losari, Siantar, Danau Toba dan Samosir, Indonesia

Four favorite dishes:
1. Mie Baso, mau yang kampung mau yang resto, semua dilahab
2. Ayam Sirapege. Ini menu keluarga banget. Ayam bakar disiwir, makan pake cengek, bawang dan jahe plus sejumput garam. Disuguhi hanya pada saat saat istimewa
3. Tahu. Mau diapa-apain juga doyan banget banget deh. Tapi jangan tahu di luar kota Bandung ya, aneh banget rasanya.
4. Salad a la Pawel, pake keju feta, minyak goreng dan cuka. Dan musti dibikinin ama orangnya. Huh, jauh euy.

Four websites I visit daily :
1. Blog sendiri tentunyah
2. Calvin Hobes di http://www.gocomics.com/calvinandhobbes/
3. Centrin untuk kemudian cari cari berita - kalau daily diartiin sebagai hari kerja ya, bo
4. Rumah Kiri

Four places I would rather be right now:
1. Potluck
2. Belanda (kangen deh ama Dindin, kangen banget, sori ya utang emailnya numpuk)
3. Amed, Bali (rencana diving semakin jauh di mata, mudah2an ntar-ntar dapet tiket, biar bisa maen ke Unieng dan nyelem nyelem)
4. di dalam pelukannya *tsah*

Four bloggers I'm tagging, ini dia yang repot, ah, aku kasihkan saja pada anak anak penyanyi itu, silahkan silahkan dimainkan
1. Credo
2. Geget
3. Sahat
4. Juki

Aku mau lanjutin empat hutang lainnya, nulis email, beli CD dan ngeburn, bales chatting-an orang-orang yang dari tadi dianggurin (maap seribu maap), dan meriksa ujian anak-anak *gubrak*

2.8.06

Bernyanyi Secara Maksud Elo!

Xiamen, Cina. Pernah denger namanya? Shangai, Beijing dan bisa jadi Guangzhou adalah kota-kota yang lebih dikenal daripada Xiamen. Terletak 10 jam perjalanan bus dari Guangzhou (tau persis, wong dari Guangzhou-Xiamen ditempuh bus pake ekstra berhenti 3 jam karena macet pula!), kota ini secara mengejutkan berhasil mengambil hatiku. Bersih. Itu kesan pertamaku.

IyusPenting banget kesan pertama itu, soalnya aku menghabiskan waktu 2 minggu disana. Bukan cuman buat sekedar berlibur pula. Pergi bersama Paduan Suara ITB untuk ikutan world choir games a.k.a choir olympics. Gaya banget ya :D Pertandingan paduan suara tingkat dunia (sebuah media nasional menterjemahkannya menjadi perlombaan paduan suara gereja tingkat dunia, sebegitu dekatnyakah church dan choir?).

Sebuah perjalanan yang penuh warna dan penuh perhitungan (duit tentunya). Keterbatasan membuat penempatan akomodasi, makan, dan banyak hal menjadi serba belibet dan harus begitu kalau mau tetap bertahan. Ketika dapat info bahwa akomodasi dari panitia itu ada di Middle School No. 8 alias SMP 8 yang kemudian lebih dikenal dengan nama Middle Eight Number School, terbayang kursi dan meja dijejerin dan dijadikan tempat tidur. Buset. Gak beda dengan ospek atau diklatsar kali ya. Maklum bayangan sekolahan, SMP pula, pasti gak jauh bedalah dengan SMP di Indonesia sini. Eala, ternyata yang namanya SMP itu keren banget deh. Ternyata pula SMP itu punya dormitori, sebuah kamar dengan 5 tempat tidur, meja belajar, lemari pakaian, 2 wastafel besar dan kamar mandi. Kalau ternyata harus naik ke lantai 4, namanya takdir. Kasur boleh jadi tipis, tapi kamar sudah dengan dispenser air minum, pendingin ruangan dan tentu saja housekeeping tersayangnya teman-teman. Seru juga sih, SMP itu disulap jadi desa paduan suara, choir village. Ada banyak tim paduan suara tinggal disana (dan tentu saja ada juga paduan suara-paduan suara lain yang tinggal di hotel berbintang, semua balik ke kemampuan kantong deh). Ada cafetaria, ada mini market, kantor pos, tempat penukaran uang sampai klinik kesehatan. Lengkap banget. Sayang banget, aku hanya sempat menginap semalam disana, dan gak gitu bisa menikmati desa itu di malam hari (konon sih seru banget tuh, soalnya suka ada keramaian yang biasanya melibatkan mereka yang berdarah O misalnya Latino, Philipino, dan Manado!).

Aku memang gak nginep disana, tapi nginep di sebuah inn, namanya J-inn yang lagi lagi secara mengejutkan merupakan inn yang sangat bersih, nyaman dengan kasur ekstra besar. Untuk dua orang, ada satu kasur King Size dan satu kasur lain ukuran single tapi yang agak besaran, entah apa namanya. J-inn berlokasi diantara toko-toko bunga a la wastukencana dan berbagai tempat makan enak (termasuk warung langganan 1 dan warung langganan 2), murah (lengkap dengan yang haram-haram) dan sebuah toko CD, DVD yang membuat kantongku jebol (secara mereka jualan berbagai DVD klasik dan jazz seharga 10 ribuan saja, surga banget). Tinggal di J-inn membuat aku pengalaman banget naik bus gratisan. Eh, sebetulnya bus-nya gak gratis, tapi ternyata walikota Xiamen sudah bekerja sama entah bagaimana, tinggal nunjukin name tag world choir games, maka urusan bayar-bayaran dianggap beres alias gak perlu bayar aja gitu.

Name tag sakti! Beneran deh. Coba aja mau keluar masuk SMP 8 tanpa name tag, silahkan saja berhadapan dengan para petugas yang super-duper-keukeuh-sampe-mampus-dan-selalu-butuh-penjelasan-panjang- lebar-untuk-segala-sesuatunya. Atau kalau lebih beruntung anda akan berhadapan dengan para volunteer a.k.a panitia tidak bergaji yang akan segera mengeluarkan sejuta pertanyaan dalam bahasa Inggris yang butuh penterjemah khusus dan diakhiri dengan peraturan baru hasil interogasi. Buset ya. Di saat awal, saat name tag tidak ada, rasanya kayak tahanan. Gak bisa kemana-mana banget. Lega banget rasanya bisa pake name tag berwarna merah jambu plus tali yang yang terus menerus butuh perlakuan khusus karena asik rusak kena angin dan perlakuan tak senonoh (abis aku terlalu lasak, jadi talinya sering putus). Herannya selang beberapa hari, selalu saja ada seseorang yang ketnggalan, hilang, dan tidak bisa menemukan name tag loh. Mungkin name tag-nya senang jalan-jalan, ngikutin yang punya.

di GulangyuNamanya juga di negeri orang, urusan jalan-jalan gak pernah boleh ketinggalan banget. Masa reses, antara part 1 ke part 2, diisi dengan jalan-jalan ke Gulangyu. Sebuah pulau kecil, 15 menit perjalanan dengan feri dari Xiamen. Cukup jalan kaki seharian bisa mengelilingi pulau ini. Ada jajaran toko-toko yang sangat menggoda (dan terbukti manjur menggoda seluruh tim dan menguras isi dompet, maklum harga murah meriah dan barang lucu-lucu kayak gitu kan gak bisa dilewatkan begitu saja dong), ada pantai yang walaupun kecil dan superduper panas, tetap saja pantai, ada bebatuan besar menakjubkan, ada kebun-kebun cantik, ada museum piano buat para pecinta musik dan tentu saja pemusik, ada gereja-gereja katolik berikut paduan suaranya, ada rumah rumah unik yang mencuri perhatian mereka yang tertarik dengan arsitektur. Lengkap. Hanya dengan uang sekitaran 8 ribu untuk naik feri bolak balik tuh (kami, tentu saja gratisan, kan pakai name tag. Buset ya). Aku sih cuman sekali kesana, tapi ada beberapa orang yang kesana lebih dari satu kali. Alasan mulia adalah untuk nonton gala concert – penampilan juara-juara sebelumnya tapi ada juga alasan sejuta umat yaitu berbelanja dong, apalagi!

Memang para pegila belanja menemukan surga di Cina. Secara harga-harga bisa bikin jantung berdebar, mata kalap, adrenalin naik dan tentu saja, kantong kempes. Bayangin barang-barang di ITC ambasador, misalnya, dengan harga setengahnya, atau malah lebih murah. Menawar adalah halal dan wajib hukumnya. Saking biasa lihat harga satuan, paling pol belasan, melihat harga puluhan itu rasanya terlalu mahal. Padahal bisa jadi bahkan harga puluhan itu pun masih tergolong murah di Indonesia. Belanja sepatu baru sampai 5 pasang. Sah! Apalagi kalau itu untuk oleh-oleh. Soalnya sepatunya lucu-lucu, modelnya unik-unik, dan harganya bukan cuman dibawah 100 ribu tapi bahkan di bawah 50 ribu. Hanya, kalau kaki anda ukuran besar, maap maap saja, silahkan cari sampai mampus ya. Mau beli tas dari ukuran mini sampai maksi silahkan. Mau beli barang elektronik, wah bisa sampe ngiler abis deh, walaupun dengan kualitas WDYE (what do you expect) ya. Tidak heran kalau sampai ada yang harus beli koper tambahan dong! Alasan apapun sah untuk berbelanja, dan tingkat keahlian berbelanja ditentukan oleh kemampuan menawar (aku: Nol besar), kemampuan kantong (aku: juga Nol besar), dan kemampuan untuk mengubah segala sesuatu menjadi tempat belanja (aku: lagi lagi Nol besar). Juara belanja alias juara shoppang (atau Chopin ya? Kekekek) tentu saja dipegang para sahabat yang telah berbaik hati menawarkan berbagai barang dan membuat aku lebih mengerti arti kata shopaholic ketimbang penjelasan dari Bloomwood.

DorothyUntuk belanja, tampaknya aku musti berlatih banyak. Sebanyak latihan kami selama di Xiamen, latihan nyanyi maksudnya ya. LO pertama kami, Rain sampai geleng-geleng kepala melihat bagaimana kami berlatih. Rupa-rupanya LO kami tersayang sampai dikenal dengan nama Rehearsal, saking seringnya dia meminta ruang latihan buat kami. Entah apa yang dilakukan oleh tim lain, sampai-sampai kesannya hanya kami yang gila berlatih, padahal rasanya frekuensi latihan kami wajar wajar aja kok. Kalau agak cerewet urusan ruang latihan, wajar aja. Susah banget sih dapet ruang latihan itu. Apalagi di masa-masa pdkt awal dengan para LO, Rain dan Dorothy, begitu banyak masalah muncul.Rain Kesalahpamahaman, ketidakmengertian, kekesalan dan ditutup berbagai peraturan absurd yang selalu muncul setelah satu peristiwa muncul. Apapun itu, terimakasih banget deh Neng Rain dan Oot (nama beken Dorothy) buat ruang latihannya. Kelas kosong, yang kadang pakai piano, kadang tidak berikut kursi yang kadang tinggi, kadang kursi mini-super-pendek- bikin-suara-susah-keluar. Herannya, ada loh tim yang bisa duduk pletat pletot (mungkin sambil melakukan imaginary pedicure menicure) tapi suara yang keluar bisa begitu bening, bersih, indah dengan power yang oke banget.

Pertandingannya sendiri seru. Sayang tidak bisa banyak mengintip penampilan tim lain. Secara agak sedikit sok-ngartis banget. Datang beberapa saat menjelang tampil, dan langsung cabut begitu selesai tampil. Pernah sekali waktu, aku terlambat keluar ruangan setelah penampilan ITB, aku jadi tertahan di dalam. Agak bersyukur karena jadi bisa liat penampilan tim dari Mongol itu, walaupun aku dan beberapa teman sampai harus dijemput dan ternyata teman-teman lain sudah menunggu di bus. Entah berapa lama. Sedih juga, cuman sempat lihat penampilan tim lain yang tampil sebelum kita (kalau kita bukan penampil pertama), atau pada waktu mereka tengah pemanasan (biasanya suka bikin tambah senewen, karena rasanya power tim lain lebih okelah, dan banyak hal lain deh).

Senewen juga muncul terutama kalau masuk di final. Beda dengan babak kualifikasi yang punya jadwal yang jelas, di babak final urutan penampilan tidak diketahui. Bahkan lolos atau tidak dari kualifikasi itupun baru bisa diketahui via LO. Aneh ya. Deg degan menunggu telepon dari para LO terbayar ketika mendengar bahwa tim Mixed Youth Choir kami lolos kualifikasi, dan lebih terbayar ketika mendengar tim folklore kami lolos kualifikasi dan bahkan jadi juara kualifikasi dengan nilai 27 skala 30. Langsung teriak-teriak deh. Begitu juga di part 2, rasanya tidak percaya waktu tim Chamber kami lolos kualifikasi, maklum para penyanyi merasa penampilan saat itu tidak terlalu baik. Well, untuk “tidak terlalu baik” kami ada di peringkat 2 di kualifikasi, dan tentu saja bahagia juga waktu tahu tim Mixed Choir lolos ke final. Serasa dikasih kesempatan kedua untuk tampil lebih baik lagi.

Urusan “penampakan” di penampilan itu biasa, urusan turun-turun sedikit kayak turun harga lagi acara diskon juga suka muncul. Apapun, penampilan terbaik sudah diberikan. Jangan tanya deh, bagaimana persiapan dandan untuk final folkore. All out. Jangan tanya improvisasi kostum di saat terakhir untuk chamber dan mixed choir. Semua untuk yang terbaik kan. Tampil bersaing dengan berbagai paduan suara dari berbagai kelas, semua berupaya menampilkan yang terbaik.

Dua medali emas di Mixed Youth dan Mixed Choir, dan dua medali perak (maap ama yang protes, udah aku betulin, bukan perunggu euy!) di Folkore dan Mixed Chamber Choir, sang partai tambahan disambut dengan sorak sorai (untukku pribadi, folklorenya udah superduper emas deh). Udah berasa selebriti banget, waktu Mas Indra Listiyanto, kondutor tersayang kami muncul di tivi lokal, atau waktu beberapa dari antara kami diminta mengulang tereakan IN DO NE SIA untuk di syut (shoot atau syuuut ya?) tivi lokal. Seru. Menyanyikan Indonesia Raya (nebeng Elfa), mengibarkan bendera Merah Putih di Seaside Hall.

Lima puluh sembilan orang, 58 penyanyi dan 1 konduktor, yang sebelumnya berlatih bersama selama lebih dari 8 bulan. Sebagian bahkan dengan setia menyisakan waktu dan uang mereka untuk selalu datang ke Bandung dari Jakarta di setiap akhir pekan untuk latihan. Rapat-rapat panjang panitia (sok tahu banget nih , and glad that I’m not one of them). Usaha mengontak para sponsor (intense sms dan chatting dengan Sahat dan Rino dari Banda Aceh sana) plus nodong nodong kiri kanan untuk seperak dua perak demi keberangkatan semua. Mengurus administrasi seperti visa, passport, tiket dan akomodasi semua orang (jangan tanya aku, tapi coba tanya Sahat, Lisa dan gerombolannya deh). Lelah lelah berlatih menari dengan Budi (dengan asisten khusus Ira dan Cimol). Dari yang tidak kenal sama sekali, sampai akhirnya merasa begitu dekat (walaupun tetap hanya mengenal nama panggilan, kayaknya sampai detik ini juga masih pusing kepala kalau disodori nama asli seluruh penyanyi). Melihat konduktor berevolusi dan berperan multi ganda. Bagaimana tidak, Mas Indra bukan hanya konduktor, pelatih tapi juga penterjemah dan interpreter (setia banget mendampingin proses belanja, menterjemahkan keinginan kami maupun penjual, kalau masih salah-salah paham, itu mah nasib. Mohon maklum, cari orang bisa berbahasa Inggris itu betul betul doa dan perjuangan). Konduktor yang berhasil menciptakan level penampilan dari tingkat naon, maksud elo dan secara (penjelasan dari setiap tingkat disediakan berdasarkan permintaan). Terbayar sudah.

---dengan bangga kami sebut namamu, deh---


Foto Foto di Xiamen China

Beberapa tulisan yang lebih rinci liat aja
http://sahathutajulubo.blogs.friendster.com/gor3sangre5an_h4ri/
http://walkofcredo.blogspot.com/2006/07/chapter-2-china-here-i-come.html

Plesir Kuliner Aceh... (utang lama)

Memang cuman 7 minggu, tetapi dikelilingi orang-orang gila makan, jajan dan jalan serta napsu memburu yang tinggi, membuat aku tidak bisa tinggal diam melewati berbagai tempat wajib kunjung selama di tinggal di Aceh. Tempat-tempat yang sekali dua, menimbulkan rasa kangen.

Tempat makan diurut berdasarkan urutan suka-suka, alias sekeingetnya, jadi gak boleh protes. Mulai dari makan berat ya, kelas kelas resto gitu deh

  1. Restoran Banda, tentu saja untuk kepiting saus aceh-nya. Mantab. Lokasi di Peunayong, deket dengan satu-satunya ATM BCA disana, tapi berseberangan. Sialnya aku cuman sempet makan di tempat itu sekali, itu pun atas kebaikan hati mba Okol tentunya. Hanya, kalau habis makan ingin minum juice terong belanda, coba ke warung sebelahnya aja. Boleh kok pesen ke sebelah (ini satu hal “cool” dari resto/ warung di Aceh). Restoran Banda sendiri memang banyak direkomendasikan orang. Lebih seru makan rame-rame, supaya bayaran bisa bagi bagi rame-rame juga tentunya.
  2. Restoran Padang Bunda. Menjadi istimewa karena bo, susah ya nyari makan padang yang padang gitu. Harga selangit impas dengan rasa, kebersihan dan pilihan makanan di resto yang dipunyai oleh yang punya Pante Pirak.
  3. Melodia. Lokasi di Setui (a.k.a Teuku Umar). Coba deh tom yam udangnya. Buset. Enak banget. Seger banget. Datang ke meja biasanya masih panas, dengan rasa asam, sedikit pedas, sedikit manis. Paling pas kalau udah ada masalah ama tenggorokan dan nafsu makan lagi ada di titik terendah. Tempatnya kecil, jadi cepet penuh apalagi di jam-jam makan. Kalau udah gitu, musti sabar nunggu deh.
  4. Ayam Tangkep di Aceh Rayeuk. Ke arah mau ke bandara atau ke Lampulo. Ada dua sih di jalan itu, aku suka yang pertama dapet (dari arah Banda Aceh). Ayam tangkap atau ayam sampah, entah deh. Ayamnya dipotong kecil kecil gitu, potong 20 kali, atau potong 40 (saking kecilnya), terus digoreng dibakar pake dedaunan dan cabe hijau. Satu porsinya 45 ribu, jadi mendingan di makan rame-rame deh. Cocok banget buat acara acara spesial. Konon ayam kayu – sejenis gulai – juga enak. Hanya saja, untuk alasan yang aku bilang di akhir tulisan, aku gak terlalu nge-fans ama makanan ini.
  5. Imperial Kitchen. Nama berbau Cina, tapi interior serasa ada di Bandung, soalnya Sunda pisan euy. Lagi-lagi yang berbau thai-nya top banget. Sayur-sayurannya nikmat banget. Pas banget kalau datang rame-rame. Secara susah banget menetapkan pilihan mau makan apa (kalau rame-rame bisa saling icip icip kan), terus bisa sharing bayaran doong.
  6. Purnama di Peunayong. Ini sih makanan harian aku. My daily restaurant. Pernah dikecam Febi soalnya sekali waktu pesanan dia tak kunjung tiba (sampe detik ini…kekekekekek). Aku suka semuanya. Menu rutin aku adalah capcay atau cah kangkung plus ikan. Bisa asam manis, bisa di steam, bisa ditumis. Semua enak. Segar karena baru banget dimasak. Favorit aku sih di masakan ikannya deh. Juicenya juga mantap, dan coba deh es telernya. Enak. Paling cocok makan berdua deh, kalau sendiri, kecuali laper agak susah juga ya habisnya.
  7. Pace Bene. Tempat aku makan tuna jera. Sebetulnya sih lebih enak buat minum bir atau wine ditemani langit. Cocok untuk didatangi malam-malam. Bukan kenapa-kenapa, bisa bayaning makan di atap bangunan lantai 3 (atau 4 ya?) siang bolong di Banda Aceh dengan suhu yang terkadang bisa sampai 37 derajat? Terimakasih deh. Cuman kalau datang pas Jumat Malam, musti dateng agak “sore”, maklum tempatnya bakal penuh banget deh. Tips: jangan coba makan tunanya deh, sumpah, mendingan minum-minum aja deh. Enak banget. Tempatnya mengingatkan aku sama potluck! Satu hal lain, disini expat bule atau lokal gak mendapat perlakuan beda. Kenapa begitu? Silahkan coba sendiri ya.
  8. Resto Sunda apalah namanya, deket Kodam. Baru buka banget. Punya nasi timbel unik yang disajikan di nampah! Enak banget. Memuaskan kekangenan ama lalab, ama ikan goreng. Disini, mau coba juice sawi nanas juga bisa kok! Febi atau Mba Okol, tolong dong, aku lupa banget namanya.
  9. Resto khusus yang gak halal. Wah kalo yang ini, kontak aku langsung buat dapat nasi campur dan kuetiaw yang bikin napsu makan banget itu yaaa…kekekek
  10. Sate di Setui. Tempat tepatnya musti nanya Rakel nih. Satenya enak banget, walopun tempatnya suka penuh bange (plus asap lagi). Saos kacangnya pas. Ayamnya juga enak. Kecil-kecil sih potongan dagingnya. Bisa pake lontong. Buset, nulisnya aja bikin laper!
  11. Nasi Gurih deket Mie Razali. Nasi gurihnya sebetulnya biasa aja, kayak nasi uduk di-rames deh, tapi lumayan sih buat makan pagi.
  12. Nasi Gurih Pak Rasyid di depan Baiturahman, gak sempet nyoba euy.
  13. Ikan bakar di dekat jembatan Surabaya. Bisa ditawar, pilih sendiri ikannya, tawar menawar harga terus tinggal pilih mau dibakar atau digoreng. Ada hanya di malam hari ya.
  14. Tropicana, di Peunayong. Gak sempet juga nyoba. Oke buat seafoodnya, kata orang-orang loohh.
  15. Rumah Makan Siang Malam katanya punya es teler yang enak. Sial, belum sempet kesana. Ada yang tau dimana?
  16. Restoran Turki (kalo kata mereka yang kesana: restoran turkiyeh). Enak, selama perut sudah diganjal makanan lain. Maklum, menunggu pesenan itu sempet kali ke Jakarta dulu pake pesawat (hiperbolis oh hiperbolis)
  17. Kafe PP, lagi-lagi belum sempet kesana. Mohon bantuan petunjuk lokasi juga nih kepada para penguasa kuliner Banda Aceh.

Secara aku punya kegilaan ama mie dan babasoan, ini daftar selanjutnya

  1. Mie ayam blower. Terletak setelah blang padang atau apa ya? Arah mau ke Ulee le. Agak masuk sih, musti pede untuk masuk ke dalam. Kalau udah lewat lapangan, dari arah balai kota ya, nanti di sebelah kiri ada DinSos, udah langsung belok kiri di belokan pertama. Ikutin aja jalan utama itu. Sekitaran 5-10 menit dari situ, pasti nyampe. Lokasinya di sebelah kiri. Biasanya gampang keliatan, wong rame kok. Rasanya jawa banget…kekekeke. Tipsnya, minta kuahnya dikittt aja, dan pake basa basi basa Jawa saja ya, siapa tau dapat bonus. Bonus apa? Ada aja :)
  2. Mie baso Sari Rasa. Namanya Sunda banget ya. Terletak di Lamprit, sebelahan ama dokter beken itu tuh, di Cempaka Lima itu. Aku sih suka yang bihun basonya, biasanya dengan Tahu Baso Gorengnya. Sekilas rasa sih mirip baso malang, tapi tampilannya jauh. Boleh banget dicoba kalau agak males makan dan cuman pengen ngemil.
  3. Mie baso deket Simpang Lima, depan bekas kolam renang. Enak kalo kuahnya juga dikit kali ya. Lebih jawa dan agak berasa baso kampung gitu.
  4. Mie baso depan resto Purnama, masih di Peunayong, deket banget Rex depan hotel itu. Enak deh, beneran, seger gitu. Baso kecilnya lumayan. Apalagi bisa sambil makan kerang gitu disitu. Juice terong belandanya, kalo gak salah disini lumayan seger deh. Disini enaknya makan itu sore ke malem sih, mudah2an masih ada.
  5. Mie pangsit di Peunayong deket Tropicana. Yang jual cici. Mirip banget ama mie pangsit/ mie campur di Sabang yang enak itu. Rasanya seger dengan seledrinya, sebetulnya kuahnya gak macem-macem. Justru itu kenikmatannya. Aku juga jadi inget mie pangsit Siantar deh makan disini. Bukti kenikmatannya: Pak Ramli bisa makan mie ini dua mangkok sekaligus loh.
  6. Mie kepiting di Rex, letaknya pas di pojokan ke arah Pace Bene. Enak banget deh. Pedes, nikmat. Makan sambil duduk di tempat duduk yang kayak mau bikin jatoh itu, sambil beratapkan langit (tsah). Enaknya sih laper banget, cuman bocoran kalau mau beli juice terong belanda jangan yang di deket situ deh, gak gitu seger.
  7. Mie kocok 88 Lamprit. Belum pernah sempat coba, tapi cukup direkomendasikan oleh banyak orang, walaupun dengan tips: jangan bayangin mie kocok bandung yaaa
  8. Mie baso di Neusu, persis deket lapangan situ, pas di pengkolan.
  9. Baso urat, wah yang ini musti nanya lebih jauh ke Kang Osa ya. Maklum, aku bukan fans baso urat, jadi gak terlalu ngotot untuk bisa mampir ke tempat ini.
  10. Mie kepiting Siman. Uh, musti nanya Pak Pingky untuk tau lokasi tepatnya, atau mungkin (lagi-lagi) Febi, sebagai “ibu kos” yang baik yang sering mengajak berwisata kuliner.

Ngupi-ngupi, nongkrong-nongkrong:

  1. Caswell, untuk masa-masa kaya alias banyak duit. Maklum kopi seharga Rp 25.000 jelas bukan barang normal di Banda Aceh. Biarpun gitu, tempat ini menjadi penyelamat di kala otak mampet. Aku biasa ngabur disini untuk kerja tenang, sepi sambil minum pepermint tea-nya. Terkadang pake cheese cake-nya, yang, serius, enak banget. Rasanya meleleh gitu di mulut (emang enak atau karena barang langka jadi terasa berkali lipat enaknya ya?). Untuk perokok lebih baik ke lantai 2 karena di lantai dasar gak bisa merokok. Suasananya emang enak banget buat menyepi, buat curhat (sampe ter-mewek-mewek loh). Mau makan juga oke, tapi porsinya superduper besar loh.
  2. Ulee Kareng, tentu saja Jasa Ayah. Tempat kopi sangir paling nikmat yang bikin ketagihan. Tempatnya biasa banget, dan lebih enak pas musim bola, pas lagi jam main bola, disana agak sepi. Jadi bisa ngobrol. Biasanya, ngobrolnya musti teriak-teriak. Kopi sangir pahit seharga 3000 perak, yang katanya udah mahal (karena biasanya seribu perak udah dapet kopi enak kok, kopi itam enak). Disini juga bisa beli oleh oleh kopi ule kareng yang terkenal itu. Jajanan pasar disini banyak, termasuk sarikaya yang bener bener legit. Emang jangan lebih dari satu mangkok sih nyobanya.
  3. Ule Kareng, ke restoran terapungnya. Tempat-tempat ini rasanya lebih banyak disukai oleh orang lokal, seperti para surveyor tersayangku. Model-model kafe di Bandung sih, tapi entah ya, buat aku kopinya masih lebih asik Jasa Ayah, tapi untuk duduk-duduk sih enak, lagian ada pilihan makanan beratnya.
  4. Chek Yuke, juga untuk kopi, terletak dekat banget dengan Mesjid Raya. Mirip ama Jasa Ayah. Lebih sering dikunjungi karena lokasinya di pusat keramaian, lebih mudah dateng kesini daripada Ule Kareng. Pilihan tetap ke sangir pahit kok.
  5. Pocut Baren, warung kopi agak gede yang paling deket kantor dan rumah. Pertama kesini dengan Kang Maman dan Kang Osa. Langsung ngabisin 4 potong roti pakai selai srikaya yang enak banget. Emang sih waktu itu laper. Pocut Baren punya kopi dan jajajan mirip Jasa Ayah. Kalau gak nyempet ke Ule Kareng, main aja kesini. Letaknya di jalan Pocut Baren, dekat gereja GPIB.
  6. Warkop Dirgantara. Aku diajak Rakel ama Richard. Boss yang punya pernah tinggal di Bandung di daerah Cicaheum. Disini sangir agak tidak dikenal, tapi kopinya tetep mantep. Roti disini, kayak roti bakar Bandung. Lokasinya ada di Peunayong, deket Banda Resto.
  7. Warung kopi lainnya. Letaknya biasa ada di setiap perempatan, satu yang menjadi tempat “dugem” anak-anak URDI aja terletak dekat rumah, di perempatan dengan tampilan luar yang sama sekali tidak menggoda deh. Tapi kopinya tetap mantep. Karena ritual minum kopi yang kuat, dimanapun, warung kayak apapun, rasanya kopinya tetap mantep. Beneran deh, kangen banget ama kopi-murah-tapi-enak-dengan-kursi-yang- menenggelamkan itu.

Beberapa tempat di luar Banda Aceh yang bisa dikunjungi adalah kafe Vina di Calang. Lucu ya namanya. Tempat favoritku sih ada di Sabang, mie pangsit yang ada di jalan utama yang banyak tokonya itu. Buset, sampe males kenal tempat lain deh. Enak banget, porsinya juga pas.

Rasanya masih banyak yang gak ketulis, apalagi kalo tempat ngupi ngupi ya. Kalau mau tanya-tanya lebih lanjut silahkan, mau tambahin boleh banget. Untuk makan sehari-hari, aku memang mengalami kesulitan, entah kenapa bahkan sampai saat ini, aku masih trauma dengan makanan bergulai. Buset deh. Disana, rempahnya tajam. Kalau pedas doang sih gak masalah, tapi tajam banget. Kalau perut lagi bermasalah, maag kambuh, bener bener bukan sahabat terbaik. Belum lagi urusan menunggu, bener bener bukan buatan deh urusan nunggu, kadang bisa lama banget. Terus secara umum, jarang ada makanan segar dalam artian semua baru dimasak. Ini sih pengamatan terhadap “warteg” dan “kantin” disana ya.