20.5.06

Gak Ngopen!

Itu ungkapan yang seringkali muncul dari bibir Bang Ramadhan, supir kami selama perjalanan mengelilingin Aceh Besar dan Piddie.

Bang RamadhanCeloteh Bang Ramadhan menemani perjalananku melintasi Gunung Seulawah. Melewati Muara Tiga,’'ini dulu daerah konflik, di sebelah sana TNI di sebelah situ GAM, mereka asik tembak2an, kebon ini semua baru, dulu hanya orang perempuan yang ada disini'’, menemani aku memandangi daerah perkebunan baru, bertemu perempuan yang tengah membawa hasil kebun, bersepeda atau sekedar berjalan dari satu tempat ke tempat lain untuk keperluan yang tidak ingin aku tebak. Bertemu beberapa pria yang tengah memperrbaiki jembatan,’ah ini nih tentra boongan, mereka ini eks GAM’. Tidak jarang aku lihat anak-anak kecil pulang sekolah bersama-sama.

Di belakang, sayup sayup terdengar,”bang, sms siapa ini bang", sebuah lagu dangdut yang katanya,” beken kali di Meulaboh sana, semua orang minta radio putar sms,”. Dalam kondisi normal gak mungkin aku anteng mendengarkan lagu itu selama perjalanan Jantho-Sigli.

Semua dikomentari, mulai dari supir bus yang okem itu,”liat itu udah naik-naik itu mobil, tapi memang bawa bus itu seperti itu, enak kali, serasa besar, gak kayak bawa mobil ini, rasanya kecil kali lah, kayak bawa mobil mainan,” sampai ke ibu tukang jualan di pinggir jalan,”itu kakak iparku"

Photobucket - Video and Image HostingPerjalanan yang menyenangkan, tidak saja karena bukit barisan yang biru di seberang sana, bukan karena monyet monyet yang berkeliaran sepanjang jalan, bukan karena persaingan jalan dengan para lembu, dan tentu saja bukan karena papasan dengan gajah segede gede bagong di tengah jalan. Perjalanan yang membuat imajinasiku juga berjalan, mencoba membayangkan situasi ketika,”konflik terjadi,” tapi rasanya tetap sulit untuk dibayangkan. Bersyukurlah aku bisa melewati tempat itu sekarang ini, mlihat wajah-wajah orang laki, perempuan, tua dan muda di sepanjang jalan (dan tentu saja mobi mobil ‘double cabin’ lengkap dengan stiker organisasi atau lembaga internasional segede-gede gajah yang asik berseliweran sepanjang jalan)

Mudah-mudahan selama perjalanan ini, walaupun perutku asik memberrontak entah karena apa (mungkin menjerit dengan menu padang-aceh yang tiada henti), aku tidak akan dikomentari Bang Ramadhan dengan,”si melly itu gak ngopen kali lah orangnya. Apapun arti dari “gak ngopen” itu…

9.5.06

Menu Malam ini: Tuna Jera

Sore itu, supir sudah kami antar ke rumahnya. Seharusnya, kami langsung kembali ke rumah, tapi kami memutuskan berputar sedikit. Cari yang 'dingin-dingin' (secara disini panas banget bo). Teringat es teler tarang di deket rumah Mba ini, kami memutuskan berbalik arah ke Lapang Nesu. Baru nyampe, udah di telepon si Mba, yang langsung mendorong kami untuk tidak mencoba-coba bereksperimen sama makanan di tempat itu. Gak enak. Gitu katanya.

Yo wes, tawaran lebih menarik diberikan, buat makan di PeceBene. Makan di atap gitu, eh di lantai paling atas, udah kayak atap-atap di film Hongkong gitu deh. Sapa yang mau nolak dong hay. Secara, aku lagi pengen makan di tempat yang rada manusiawi (ha!).

Ngebel, naik tangga, dan langsung disamper sama papan berdiri. Maksudnya papan tulis yang dipegang oleh yang berdiri. Soalnya menunya ada disitu. Pilihanku Pasta Tuna Rogout, yang lain mencoba Chef Salad dan sesuatu dengan bayam aku lupa.

Tapi ada menu ekstra rupanya, tuna sesuatulah, yang kemudian aku namakan tuna jera. Maklum, gak inget namanya. Rasanya? Jangan tanya. Untuk seluruh makanan, aku sampai lupa ada dimana. Secara beberapa hari di sini, semua pasti pedas, kering, tapi "penuh" gitu deh, inimah kayaknya lupa narok bumbu. Plain se-plain-plain-nya. Persis makanan jaman sekolahan dulu.

Nah, kalo tuna jera, bukan cuman "rasanya" yang butuh interpretasi sendiri, tapi juga efek yang dikasih ekstra spesial deh. Soalnya sesudah makan, tinggal tunggu beberapa menit, muka dan seluruh bagian badan memerah. Sa' merah-merahnya. Terus badan menghangat. Jantung lebih berdebar. Puyeng. Terakhir, mulut agak kebas. Untuk yang ini, bersyukur banget deh. Akhirnya sariawan-sariawan yang lama bertengger bisa tidak aku rasakan. Hurray.

Mau coba? Silahkan mampir kesini, jangan lupa bawa CTM dengan Panadol sebagai penangkal tangguh. Aku sih cukup berterimakasih kalau harus coba Tuna Jera lagi. Tapi untuk main kesana lagi mah mau banget. Secara tempatnya enak banget, nyaman, tersembunyi, dan punya kursi mirip di Potluck (ampun deh). Tapi kali ini, saya minta wine aja ya. Hmmmm...enaknya

(tunggu deh foto2nya ya)

1.5.06

Sepinya Jakarta

JakartaAneh memang, tapi Jakarta, seringkali menjadi tempat aku retreat, kabur dari keramaian, menyepi dan menenangkan diri! Disini, terkadang terasa lebih adem ayem. hal ini berlangsung sejak SMA, waktu itu aku sering ke Jakarta, karena di rumah, aku sulit dihubungi, dan bisa bermalas-malasan di rumah tanpa banyak tuntutan.

Ini juga yang terjadi sekarang. Tidur di rumah adikku, hanya untuk sekedar mencari tempat dimana aku tidak terganggu ini dan itu dan bisa dengan tenang, berdiam diri, tidur, atau sekedar tidak melakukan apa-apa.

Aneh sih, di kota yang begitu hiruk pikuk ini, aku menyepi....
(dan catet, hari ini hari demo...tapi betapa damai dan tenangnya disini)