4.4.06

Khayalan Rumah

Salah satu cara untuk menghilangkan sedih, bete, atau perasaan gak pararuguh adalah dengan melewati rumah-rumah favoritku. Ngelewatinnya aja udah bisa bikin hepi!

Image hosting by PhotobucketAda yang pernah aku lewati kalau jalan kaki pulang ke rumah di jaman SD dulu (buset), ada yang masih bisa ditengok, ada yang udah gak bisa dilihat karena itu ada di dalam gang sempit yang gak pernah aku lewati. Ada juga yang merupakan hasil temuan tidak disengaja yang untuk bisa melewatinya agak susah karena ada di kompleks perumahan yang tertutup banget.

Ada satu yang selalu aku suka, tidak pernah berubah. Terletak di kawasan Dago. Gampang dilewati dan sangat manjur untuk menghilangkan kabut kabut di otakku.

Terkadang aku ngayal, tiba tiba orang yang punya rumah ngundang aku masuk untuk sekedar ngeliat dalamnya. Khayalan lebih gila: dikasih rumah itu dong, secara aku ini suka banget sama rumah itu. Namanya juga khayalan dong, suka suka akulah!

Gila memang ketika khayalan itu bisa menjadi kenyataan. Namanya juga khayalan, tau pasti itu gak bakal kejadian. Tiba-tiba, tanpa gue ngerti, kok bisa, keinginan gue tampak di depan mata. Seenggaknya untuk menengok ke rumah itu. Khayalan itu bisa terwujud dengan cara aneh.

Gak ada angin gak ada ujan (walopun sekarang angin lagi kenceng dan sering ujan rintik gak puguh), ada seorang laki-laki memaksa masuk dalam hidup aku. Begitu saja muncul di siang bolong. Sayang sekali, aku lebih ketakutan daripada seneng, maklum cara dia masuk betul betul mengerikan. Sampai, beberapa waktu lalu, aku mengetahui, bahwa laki-laki ini tinggal di sebelah rumah favoritku itu. Haaaaaa...kok bisa?!?

Oh Anehnya