19.4.06

Aku: Perempuan

Pernah punya buku tugas? Waktu SD, buku tugasku pernah terbang melayang-layang di sebuah kelas di sebuah sekolah dasar di sekitaran stadion Siliwangi Bandung. Semua itu karena ibu guruku tersayang (aku bener bener sayang loh ama Ibunya temenku ini) mengamuk melihat noda hitam dari tinta parker yang aku bawa-bawa di dalam tas (maklum, di sekolahanku wajib hukumnya pake pulpen tinta, jadi, daripada kehabisan, aku bawa2 itu tinta). Komentar dia,"kamu ini, perempuan tapi kok jorok"

Kejadian lain, adalah kuliah praktek menjahit. Ibu guru praktek-an itu bilang, kita harus ngehemat bahan untuk bikin pola. Dengan semangat aku bikin sehemat mungkin, sampe miring-miring. Demi hemat. Walhasil, si ibu guru menertawakan aku sembari ngedelik. Katanya,"ya ampun, kamu tuh perempuan tapi kok gak ngerti sih bikin pola itu ya harus ngikutin alur benang dong," (bukankah tugas situ untuk ngasih tau ya?)

Itu adalah dua pernyataan yang bisa dibilang mempertanyakan ke-perempuan-an aku, yang untungnya berhasil diatasi tanpa harus mikirin bahwa kalau sekarang aku menjadi manusia dengan catatan superduper rapih plus seneng dan suka menjahit (kemampuan yang sekarang dipertanyakan) itu adalah karena aku perempuan. Murni karena, aku harus bisa mengatasi "tantangan" kedua orang ibu guru itu.

Makin kesini, makin banyak komentar yang dikait-kaitkan kenyataan bahwa aku ini perempuan. Aneh.

Teringat sebuah percakapan dengan sahabat kuliah yang bertemu sekitaran 2 tahun setelah lulus katanya, mel..mel...siapa suruh kau sekolah tinggi-tinggi, berat jodoh tauk, apa kau pikir laki-laki itu gak pada takut ama kau." Bengong gih sana! Terutama karena itu keluar dari seorang kawan, seorang sahabat, yang memang lelaki. Waktu itu, kami semua sedang ngupi-ngupi malam, aku datang bersama pacarku saat itu.

Ternyata obrolan seperti itu hanyalah obrolan kelas ringan karena yang kemudian semakin sering aku denger dan bikin aku tambah terbengong-bengong.

Ketika aku musti bekerja di antara banyak laki-laki yang cukup berumur. Entah kenapa selalu kemudian ter'tutuk' untuk mengurusi urusan tetek bengek. Nyimpen bon/ kuitansi/ tanda bukti pembayaran apapun (secara aku ini ceroboh dan slordig banget gitu loh), mengurusi semua administrasi (terutama kalo kebetulan emang gak ada staf admin), mengurusi urusan perteleponan, dan segala sesuatu yang membutuhkan "pendekatan" personal.

Ketika aku ditanya, bekerja dimana, dan aku bilang di kampus ini dan itu yang akan ditanggapi dengan enteng, di bagian administrasi atau keuangan? (apalagi karena aku menyebutkan jurusan dimana aku ngajar yang notabene teknik dan *katanya* bukan favorit para perempuan)

Ketika aku terbang seorang diri di pedalaman Kalimantan yang selalu mengundang delik tatap aneh dan pertanyaan gak penting dan gak perlu (sendirian aja? Woy, mata dimana, Pak?) atau pas beli kopi-item-gak-pake-susu di kereta api selalu dipandangi dengan tatapan terheran-heran (mas, pengen juga ya?)

Dan yang paling gress adalah peristiwa bios, dimana setiap kali aku musti siaran dengan orang yang satu ini, setiap hal harus diberi komentar gak penting yang setipe-setipe. Yang terbaru adalah bahwa -menurutnya- osteoporosis adalah penyakit yang banyak diderita perempuan, mungkin karena -lagi-lagi menurutnya- seorang perempuan datang bulan alias menstruasi setiap bulan? Atau coba yang ini: apa ada bedanya bentuk payudara kalo bayinya laki dan perempuan, karena - menurut dia - kalau bayinya laki-laki, maka payudara perempuan itu akan mengecil (dan ini ditanyakan ke dokter yang sampe musti senyam senyum nanggepinnya),

Penting ya komentar-komentar seperti itu?


Image hosting by PhotobucketAku tidak mengklaim diri sebagai perempuan super yang bisa ngalahin laki-laki. Tidak. Aku hanya tidak ingin musti ada embel-embel: karena kamu laki-laki atau karena kamu perempuan. Aku juga gak suka kalau ada laki-laki musti dipandang sebelah mata karena: pendidikan dia lebih rendah dari perempuannya, gaji dia lebih rendah dari perempuannya, pekerjaan dia adalah bapak rumah tangga, nama perempuan dia lebih menjulang daripada nama dia. Aduh.

Sayangnya yang lebih sering terjadi, tentu saja kasus-kasus seperti temennya okke itu. Sampe kasus RUU Ape Ape yang beken itu. Terus, yang lebih sering terjadi juga adalah klaim bahwa banyak hal dilakukan demi melindungi perempuan (bukan hanya dalam kasus RUU ya).

Perempuan begitu hebatnya ya. Sampai-sampai ada berbagai tuduhan, caci maki, delikan sirik atau marah, tekanan psikologis termasuk juga perlindungan ini itu dicurahkan untuk perempuan.

Pada akhirnya, ketika ada bocoran bilang perempuan dianggap manusia kelas 2, bisa jadi karena sesungguhnya perempuan lebih dari itu, perempuan tidak bisa diurutkan dalam angka karena dahsyatnya seorang perempuan, dan karena itu, musti diberi perlakuan ini itu.

Kalau bahkan anda musti menerima komentar gak perlu dan gak penting dari - justru - orang terdekat atau orang yang mengklaim menyayangi anda sebagai perempuan, barangkali karena anda begitu sempurna dan karena itu perlu dilakukan sesuatu untuk mengurangi kesempurnaan itu, karena terlalu sempurna agak mengerikan bukan? :)








Jadi jangan salahkan aku, kalau mau parkir (khususnya di Jakarta) aku dan adikku akan bertukar tempat karena -survey membuktikan- lebih mudah dapat tempat parkir kalau perempuan yang nyetir. Kelemahan atau kekuatan?


foto di atas bisa diliat sebagai perlawanan, bisa diliat sebagai kerjasama bukan? terserah deh, mau liat kayak gimana juga