28.12.06

Wewangi Pemikat

Wangi favoritku sepanjang masa adalah wangi seseorang yang baru mandi. Segar banget. Tidak perduli dia mandi pakai sabun apa atau mandi dimana. Biasanya terutama memang kalo wewangian pas mandi adalah wewangian buah-buahan yang segar-segar itu. Mandi juga jadi seru deh.

Photobucket - Video and Image HostingUntuk urusan bikin kasuat-suat, ada dua wewangianku yang membuat aku melamun. Pertama wangi white musk. Oh, wangi yang satu ini bisa membuat aku teringat kamar tersayang di Weenapad, masa-masa sekolah dulu, dan termasuk pesta-pesta bawah tanahnya. Duh. Satu lagi, wangi yang juga datang dari masa yang sama, masih dari wangi parfum, kali ini wangi hugo boss hijau yang untuk laki-laki. Sempat aja ada laki-laki lewat dengan wangi itu, aduh aduh, keleper keleper deh. Kok bisa? Ada aja (ehm).

Walaupun aku sangat tidak suka asap rokok dan tidak merokok, tapi entah kenapa wangi laki-laki (biasanya tangannya sih) setelah merokok (jangan langsung, tapi katakanlah 2 atau 3 jam setelah merokok) juga menggoda. Sebetulnya agak tidak suka dengan godaan yang satu ini, abis berarti harus selalu cari perokok dong?

Wangi ruangan yang baru saja di pel, tapi jangan di pel pakai karbon ya, itu sih wangi obat (walaupun aku juga gak gitu anti ama wangi obat sih). Apalagi yang di pel pake detol, terus lantainya masih lantai jaman dulu yang warna abu-abu. Wangi segar sekali. Membuat aku teringat pagi.

Mirip-mirip dengan itu, wangi tanah setelah diguyur hujan, wangi rumput kena embun, wangi udara pegunungan yang segar adalah wewangian yang sulit dibuat dengan cara apapun. Bisa menghirupnya merupakan keberuntungan.

Dulu, waktu SD, aku suka sekali wangi buku-buku baru. Setiap awal tahun pelajaran, ibu guru akan membagikan buku baru yang sudah dipesan di awal liburan panjang. Aku masih inget membuka setiap halaman dan membauinya. Khas. Membuat aku ingin belajar.

Wangi handuk, selimut, seprei yang baru saja dijemur di matahari yang hangat. Membuat ingin memeluk barang-barang itu. Membuat mandi lebih seru, dan tidur lebih pulas.

Dan tentu saja, salah satu wangi yang begitu "nendang" adalah wangi kopi di pagi hari. Ini merupakan pembuka hari yang paling oke. Membuat bersemangat dan rasanya seluruh nyawa langsung terkumpul deh.

Kamu sendiri, wangi apa yang paling disuka?

26.12.06

20 Adegan Untuk Film Terminal Ala Pojok Hablay

Sekarang, aku lagi di bandara, sedang bikin film Terminal a la Melly.
Mau tau bagaimana skenarionya:
  1. Pastikan kalau kamu punya jadwal pesawat yang super duper pagi
  2. Pastikan kalau kamu tidak bermalam di Jakarta. Ambil Bandung biar sama persis ama aku
  3. Buat skenario gedar gedor pintu di tengah malam buta, tepatnya jam 1 pagi. Skenario didasarkan janji surga untuk mengantar dimalam sebelumnya. Tentunya tidak ada satupun pintu yang terbuka, dan pastinya ada 1001 alasan yang bisa diciptakan untuk itu dan terpercaya.
  4. Kalau kasus # 3 terjadi, pastikan punya ayah superduper baik untuk rela bangun dan mengantar (papiku itu!)
  5. Buatlah sebuah cerita yang tidak masuk di akal, di menit-menit terakhir keberangkatan travel jam 2 pagi itu. Misalnya, tiba tiba seluruh pintu kendaraan tidak bisa dibuka dengan cara apapun, tentu saja dengan mempergunakan kunci yang biasa dipake.
  6. Biar tambah melas, tambah dengan adegan telpon travel memohon perpanjangan waktu 10 menit. Tapi,
  7. Percayalah, biarpun sehari-hari travel tersebut sering terlambat 5-15 menit, sebagaimana film film yang beredar, pagi itu si travel memutuskan tidak ada perpanjangan waktu
  8. Lima menit yang menentukan sisa hari, buat ini sebagai subtitle dari judul film terminal a la Pojok Hablay.
  9. Pastikan pemeran utama memiliki telepon yang punya pulsa karena akan ada kesempatan untuk telpon sana sini, menelpon penerangan dan berbagai travel untuk mencari kendaraan, hanya untuk mendapati semua baru ada jam 4 pagi, yang mana berarti jam 8 di Bandara, dan itu pun penuh.
  10. Ini nih, adegan mati gaya yang asik. Tidur gak bisa, kerja gak bisa, yang ada musti ekspresi kedinginan (bayangkan jam 3-4 pagi di Bandung yang baru diguyur hujan)
  11. Pastikan punya stasiun kereta yang ada jadwal jam 5 pagi, dan keberuntungan sedikit diberikan, kalau gak terlalu stress. Misalnya, berhasil mendapatkan tiket bisnis terakhir yang terjual! Keren kan
  12. Karena ini jaman modern, percakapan lewat telepon genggam harus selalu ada. Dalam hal ini, menelepon rekan seperjalanan yang sudah ada di bandara dan bingung, menelepon sejumlah rekan untuk cari info pesawat alternatif, menelepon sejumlah orang lain yang berkenan disuruh suruh nyari penerbangan alternatif itu
  13. Kali ini, supaya tampak nyata, kereta tentunya harus terlambat 30 menit yang berarti
  14. Kelewat lagi untuk naik pesawat jam 9 yang sebetulnya ada kursi untuk menjadi penumpang cadangan di jam 1 siang
  15. Photobucket - Video and Image HostingInilah adegan resmi "terminal" dimulai, menghabiskan waktu di terminal Cengkareng, Soekarno Hatta. Untungnya bisa sedikit lebih gaya dari Tom Hanks di Terminal, masih ada laptop, wifi, telepon genggam, roti boy dan hot chocolate royal oh la la.
  16. Menit-menit penentuan di jam 1 siang, harus diisi oleh sekumpulan mahluk yang membuat sumpah serapah bisa dikeluarkan. Bisapakai nama seperti Pak Sukahar yang gahar. Adegan mengantri bisa menunjukkan kekuatan manusia Indonesia dalam menjebol antrian seperti apapun dengan berbagai gaya, kicep atau kertas kertas bernomor yang dikeluarkan Bank Indonesia
  17. Supaya terminal-nya berlangsung agak lama, gak cuman 4 jam, pastikan tidak memperoleh tiket. Misalnya karena kurang gaya, tidak pakai safari, tidak punya dompet tebal dan tidak punya relasi. Silahkan pilih salah satu
  18. Berikan sesuatu yang baik disini, misalnya ada tiket untuk keesokan harinya, di pagi hari, yang harus dibeli jam 1 siang itu juga, masih bisa dibeli walaupun udah agak lewat, karena kebaikan hati petugas yang mau nunggu ambil duit ke ATM dulu.
  19. Tambahkan sedikit kebahagiaan, misalnya masih bisa masuk ke dalam bandara walaupun kertas waiting list menunjukkan waktu pesawat jam 1, tapi entah bagaimana bisa tidak terlihat dan berhasil lolos.
  20. Akhiri dengan adegan menulis untuk blog dengan judul 20 Adegan Film Terminal Ala Pojok Hablay di depan terminal F sekian, sambil mengisi batere laptop
Perbedaan utama antara aku dan Tom Hanks adalah ada Abang, seorang ibu, teman tukang berburu sekolah, teman tukang nulis & foto, teman tukang bikin peta, teman kerja, dan keluarga tersayang yang membuat aku merasa tetap ada yang menemani perjalananku.

Moral cerita: hati-hati dengan yang kamu harapkan. (Lho?!?)

Nah, menurut kamu, perlu ada yang ditambah, dikurangi atau bentuk modifikasi lain? Atau ada yang berminat memfilmkan?


24.12.06

Keajaiban Natal

Aku menyukai bulan Desember. Sampai beberapa waktu lalu, aku selalu berhasil menjamin bahwa aku menikmati Desember dengan santai. Bekerja super ekstra untuk menyelesaikan segala sesuatunya, kalau bisa sebelum 1 Desember, paling tidak seminggu menjelang Natal aku sudah bebas tugas. Tapi tidak untuk Desember 2006 ini!

Sejak tanggal 1 Desember, aku seperti sedang syuting sinetron kejar tayang. Beban pekerjaan. Laporan berbagai pekerjaan. Perjalanan dari kota ke kota.

Tiba tiba sudah tanggal 24, sudah malam Natal. Aku bingung, apa yang sudah aku persiapkan ya? Tidak ada. Alamat kejar tayang beli kado siang ini, sambil tetap kepikiran pekerjaan.

Pada akhirnya, barangkali ini untuk yang terbaik, sehingga aku tidak berpikir yang macem-macem menjelang Natal. Tidak bernapsu untuk lebih banyak membeli ini itu dengan alasan Natal. Tidak juga berupaya mengkhayalkan ini itu dengan alasan Natal. Barangkali juga tidak berpikir banyak tentang keajaiban Natal! Bukankah Natal yang sering diidentikan dengan keajaiban. Adakah itu? Tetapi pagi ini, aku diingatkan lagi. Ketika saat teduh, ketika mampir ke sepupu-tempatcurhatku-Priska

Mudah-mudahan aku sempat mempersiapkan hati, untuk bersyukur dan memuji Tuhan, karena kasihNya yang begitu besar dan tidak masuk di akal. Karena Yesus yang telah dikirim untuk manusia. Karena keselamatan yang telah diberikan.

Bapa yang baik, terimakasih. Aku bersyukur atas Yesus, Juruselamatku.

Photobucket - Video and Image Hosting

Selamat Natal!

catatan foto: iya ini foto dua tahun lalu, di Jakarta, ditunggu aja ya foto terbarunya segera....

18.12.06

Cara Jitu Dipenjara: Diskusi

Banyak hal bisa membuat kita masuk penjara. Melanggar lampu lalu lintas (walaupun ada 1001 cara lain untuk memastikan penjara adalah sesuatu yang sangat jauh ketika itu terjadi), mencuri barang milik orang lain (walaupun juga ada 1001 cara untuk memastikan hal itu tidak diketahui, atau hal itu adalah sah), bahkan membunuh orang. Hanya saja, tahukah kamu, bahwa belajar bisa membuat seseorang masuk ke penjara.

Photobucket - Video and Image HostingKamis malam kemarin, semua itu terjadi. Sebuah telepon membuat aku keluar dari ruangan perayaan Natal. “DISKUSI FILSAFAT SOSIAL DAN EKONOMI POLITIK, Gerakan Marxist Internasional Kontemporer, Perkembangan dan Masa Depan Gerakan Marxist di Dunia, dan Sekilas Tantang Organisasi dan Gerakan Buruh di Kanada” dibubarkan oleh sekelompok orang yang menamakan diri Forum Anti Komunis, hanya sekitar 10 menit setelah diskusi dimulai.

Aku tidak terlalu kaget, dan tidak panik, tetapi jelas bukan karena berharap itu terjadi! Tetapi karena:

  • Empat hari sebelum diskusi, Bilven dan Sadikin ditelepon oleh pihak intel kapolwiltabes Bandung bertanya tentang diskusi yang akan diselenggarakan tanggal 14 Desember 2006 tersebut. Sejak itu, berbagai telepon gelap masuk bertanya tentang diskusi yang justru baru dipublikasikan Selasa, 12 Desember
  • Tiga hari sebelum diskusi, pihak Intel Polwiltabes Bandung pada hari Senin, 11 Desember 2006 (2 orang) mendatangi toko buku Ultimus dan menanyakan izin kegiatan tersebut, untuk mengantisipasi maka pihak panitia memasukkan surat pemberitahuan (bukan permoohonan) yang dialamatkan kepada KaPolwiltabes Bandung mengenai diadakannya acara tersebut.
  • Dua hari sebelum diskusi, kembali pihak Intel Polwiltabes Bandung mendatangi Toko Buku Ultimus yang terletak di Jl. Lengkong No. 127 Bandung. Mereka mengaku dari bagian “Urusan Imigrasi” (entah maksudnya gimana), mananyakan tentang status kewarganegaraan Marhaen Soeprapto (Pembicara). Termasuk beberapa kali ULTIMUS didatangi oleh orang bertubuh tegap, dengan usia separuh baya, mendatangi ULTIMUS dengan menanyakan bagian buku-buku Berbau KIRI, dimana ULTIMUS memproduksi dan menjual buku-buku tersebu
  • Satu hari menjelang diskusi, kembali pihak Intel Polwiltabes Bandung mendatangi Toko Buku Ultimus dan meminta Sadikin (ketua panitia) untuk menemui Waka Intel Polwiltabes Bandung pada pukul 10.00 WIB untuk dimintai keterangan berkaitan dengan diskusi tersebut. Namun atas saran kawan-kawan lainnya, meminta agar Sadikin tidak memenuhi panggilan tersebut karena bersifat lisan.

Perayaan Natal di Sabuga malam itu jelas tidak bisa aku nikmati, karena harus bolak balik keluar ruangan dengan charger ditangan untuk terus menerus menelepon atau ditelepon. Sadikin dan Marhaen sudah ditangkap, diborgol oleh ormas tertentu dan dibawa ke polwiltabes. Suasana kacau. Lebih malam lagi, diketahui lebih banyak lagi orang ditangkap.

Diskusi baru saja berlangsung 10 menit. Masih ada banyak orang yang dalam perjalanan ke Ultimus untuk ikut acara tersebut. Mereka hanya menemukan police-line di lokasi kejadian. Beberapa orang malah sudah memperoleh informasi tentang pembubaran tersebut dan mengurungkan niat datang ke Ultmus.

Mengapa ke-11 orang tersebut ditangkap. Polisi mengatakan:

  1. Kegiatan tersebut tidak ada ijin
  2. NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia
  3. Keamanan. Dan untuk alasan keamanan, pihak kepolisian berhak melakukan apapun. Dan bahwa kegiatan ini merupakan tindakan preventif yang sudah dikoordinasikan
  4. Karena ada sekelompok orang yang tidak menyukai kegiatan tersebut (!)

Photobucket - Video and Image Hosting

Aku tidak bisa tidur sepanjang malam itu. Setelah memutuskan melakukan kunjungan tengah malam ke rumah sepupuku hingga menjelang pagi, aku terjaga untuk tetap saling bertukar sms dengan Abang. Jumat sore, aku kecapekan dan hanya bisa terdiam. Lelah membalas pertanyaan teman-teman yang membaca berita baik dari internet, media cetak maupun yang telah melihat peristiwa tersebut di berita-berita di televisi nasional. Ketika akhirnya polisi memutuskan membebaskan ke 11 orang tersebut, aku hanya bisa bilang, terimakasih Tuhan.

Polisi memutuskan membebaskan mereka semua karena tidak ditemukan indikasi adanya pengajaran tentang komunisme!

Sebuah kata yang begitu dahsyat. Lebih dahsyat dari sebuah bomb yang dirakit khusus dengan perencanaan matang. Cukup sebuah kata, komunisme, dan semua orang akan ketakutan. Jangankan kata komunisme, segala sesuatu yang berbau Marx, sosialis, dan apapun yang bersifat kiri menjadi sesuatu yang menakutkan.

Sebuah ajaran telah begitu kuat melekat, untuk menjadi takut karena sebuah kata tersebut. Tanpa harus mengetahui lebih lanjut tentang itu semua, kita diajar untuk takut. Tidak usah banyak tanya, jauhilah segala sesuatu yang bersifat kiri.

Kiri, sebuah ungkapan yang hanya bisa diterima dengan tenang dan diucapkan dengan bebas, ketika kamu mengucapkannya kepada supir angkot, memintanya untuk menepi dan menurunkanmu.


Silahkan main ke rumahkiri, untuk dokumentasi lengkap mengenai pembubaran diskusi.

Pekerja Keliling Memusingkan

Mampus deh, sekarang bener bener lagi susah-susahnya bekerja di tempat orang normal kerja. Tau kan. Meja kerja. Kursi kerja. Suasana kerja (terserah ada yang musti bising ada yang musti sepi). Gak usah sampe jam kerja deh.

Entah kenapa, otakku agak tidak bersahabat sama suasana seperti itu. Kayaknya buntu aja, gak bisa mikir apa-apa. Sejak beberapa bulan lalu, aku menjadi begitu nyaman bekerja di kereta api, jalur Bandung-Jakarta tentu saja. Menikmati mengetik di dalam pesawat, apalagi kalau jarak jauh, seperti Bandung-Ambon beberapa waktu lalu (wah, kalau jauhnya sampe ke Belanda mendingan tidur atau nonton film kali ya). Dan bahkan di ruang tunggu di manapun, termasuk di bandara.

Mungkin karena aku ini keseringan bepergian sampai agak lupa rasanya menetap di satu tempat? Shadyra bilang, dia sendiri udah menyebut kamar hotel sebagai rumahnya. Karena dia musti bepergian gila2an kali. Aku sih gak segila itu, tapi betul, sialnya begitu sambil nunggu, langsung lancar mau nulis.

Photobucket - Video and Image HostingJangan bayangin ini kelihatan keren. Nenteng laptop kemana-mana, terlihat (sok) sibuk bekerja di manapun. Booo, gak ada enak-enaknya, yang ada capek. Kalau dulu biasanya waktu luang sekecil apapun selalu aku manfaatin untuk tidur, sekarang juga sih, tapi khusus di tempat piblik, dimanfaatkan untuk bekerrja. Makanya aku suka sirik banget liat orang orang nenteng2 laptop di tempat tempat umum – biasanya yang ada wifi – untuk friendster-an atau sekedar chatting.

Untuk itu, terimakasih iBook G4 tersayang. Kamu bener bener investasi terbaikku.

17.11.06

FWD: aku benci

Photobucket - Video and Image HostingAku tidak suka email "fwd" terutama itu berupa surat yang mengatakan barang gratisan, iming-iming hadiah, ataupun yang mengatasnamakan penyakit untuk memperoleh tandatangan, duit atau apapun. Aku adalah tipe orang yang memang -mungkin- kurang kerjaan dan selalu mencek terlebih dahulu email-email seperti itu. Biasanya kemudian itu hoax.

Hasil dari maen ke tempat Enda, aku kembali sampe ke tempat ngecek email itu hoax atau enggak, sampai akhirnya aku nemu versi Indonesianya. Gak terlalu banyak tuh yang maen ke versi Indonesia, bahkan di salah satu tulisannya malah ada yang mempertanyakan kritikan si penulis terhadap sebuah hoax. Halah.

Kemarin, ketika surat tentang Bush beredar, setelah yang kesekian kali, aku memutuskan untuk merespon. Capek sih. Tentu saja untuk kemudian di respon balik dengan pernyataan, kalau gak suka tinggal diapus saja tokh!

Benar banget, menghadapi email-email gak penting (setidaknya menurut aku), kita bisa tinggal menghapus. Repot amat. Tapi pernah gak sih terbayang di benak kamu, bahwa aku bisa saja sedang mencek email dari telepon genggam, hanya karena aku sedang harus membaca pesan penting yang kemudian terhambat hanya karena aku juga harus mengunduh email-email gak penting itu? Masih untung kalau bentuknya bukan attachment dan tidak besar (bukan file .ppt misalnya dan tanpa foto foto), cuman gondok aja kan pas harus buka itu email.

Bayangkan situasi dimana mencari internet sangat susah, padahal sinyal ponsel juga tidak ada, ketika menemukan satu tempat untuk mencek email dengan kondisi lambat, aku harus menunggu sekian lama hanya untuk mencek satu email yang terimpit email-email gak penting itu.

Unsubscribe saja, kata temanku. Iya, kalau itu milis, aku tinggal unsubscribe atau setidaknya formatnya aku ganti webmail only, jadi aku masih dapat informasi penting dari milis itu tanpa harus kerepotan menerima email-email gak pentingnya. Lah, kalau itu dikirim personal? Apa aku harus punya alamat email khusus untuk orang-orang tertentu saja (hmm, tampaknya sih iya).

Aku suka kok email-email joke yang bikin tertawa, atau tulisan-tulisan yang menyentuh hati dan membuat aku merenung. Tapi aku sangat suka jika tulisan itu dibuat khusus untuk aku, setidaknya ada tambahan tulisan dari si pengirim, walaupun one-liner (yang juga sebetulnya sangat tidak dianjurkan). Dan, bukankah kita sudah diberitahu, bahwa surat yang menyuruh kita meneruskan sebuah surat dengan embel-embel demi keberuntungan atau kita akan sial adalah surat berantai? Dan surat berantai harus dihentikan! Kalau memang tulisannya menarik dan ingin dibagi dengan orang, ya tolong deh, hapus saja embel embel "keberantaiannya". Gak apa apa, kan? Ini juga untuk sms berantai, kalaupun aku teruskan, hapus saja bagian ancam-ancaman itu.

Photobucket - Video and Image HostingAku bukan ahli etika, apalagi jagoan urusan internet. Tapi setidaknya aku berusaha untuk membuat email yang dikirim itu memang personal, berguna dan tetap santun, plus mempertimbangkan kemampuan koneksi si penerima (apalagi untuk kamu-kamu yang mempergunakan koneksi gratisan fasilitas kantor yang kenceng banget itu, atau yang beruntung berada di negara yang tepat untuk berkirim email ber-size segede bagong).

Coba deh mampir kesini ya:
http://etiket.wordpress.com/tag/netiquete
http://www.inet.bg/faq/netiquete.html

dua dari sekian alamat yang membantu kita mempergunakan surat elektronik menjadi lebih berguna!

Miss Ring Ring Kepentok Limit

Photobucket - Video and Image HostingAku memang miss ring-ring. Dari jaman telepon lima angka di akhir tahun 1980-an, aku suka bertelepon. Selalu diprotes karena itu bukan kebiasaan bagus (katanya), dan selalu bikin bokek. Berbeda dengan 15-10 tahun lalu ketika bertelepon lebih banyak dipakai untuk membicarakan kecengan *tsah, bahasa menunjukkan generasi bukan?* atau aturan orang tua yang aneh-aneh, saat ini urusan terbesar penggunaan telepon adalah pekerjaan. Apalagi dengan pekerjaan model aku, yang gak kenal kantor.

Aku pengguna XL sejak, hmmm, lama deh. Nomer ponselku masih 10 angka. Seringkali, ketika aku selesai menyebutkan nomer ponselku, orang masih siap mencatat nomer lanjutannya. Aku harus bilang, sudah segitu aja kok nomernya. Nomer cantik, kata orang-orang. Buat aku sih, provider-nya yang cantik

Awalnya ini adalah nomer pra-bayar. Aku sampai akrab dengan mba mba di XL Dago sana, untuk isi pulsa tentunya. Bisa jadi karena aku sering banget berkunjung ke tempat ini, sampai-sampai aku bisa nitip duit saja tuh untuk isi pulsa kalau antrian disana panjang banget karena sedang tidak online. Gak perlu ngantri deh, walaupun memang pulsa tidak akan mungkin terisi saat itu juga.

Seorang mba disana kemudian menganjurkan aku pindah ke pasca bayar. Dia mungkin kasihan atau bosan melihat aku bolak balik ke tempat itu. Aku juga aneh sih, gak pernah pindah ke tempat lain beli pulsa. Abis kapok sih, dan aku juga jatuh cinta pada keramahan dan kesigapan pelayanannya.

Urusan isi pulsa selalu bisa dibereskan oleh mereka. Sekali waktu, sebuah pekerjaan mengharuskan aku dalam perjalanan yang superduper padat, berpindah kota tiap 3 hari, dan selalu berada dari hotel ke hotel dan harus berada di hotel tersebut seharian penuh. Walhasil, mengisi pulsa adalah sesuatu yang semakin sulit aku lakukan (mBCA-ku tidak aku aktifkan lagi setelah ponsel pernah sempet menghilang oleh si pencuri jahanam itu). Padahal, aku harus tetap berhubungan dengan orang, dan sebetulnya aku sudah mengisi pulsa. Seratus ribu! Walhasil selama 5 hari, aku mati kutu, tidak bisa mengirim kabar apapun keluar. Mau gila rasanya.

Iya ketergantungan aku sama telepon itu besar. Aku dan Ratna sepakat, kami sih butuh bukan buat ditelepon tapi lebih untuk bisa menelepon. Jadi, sejak peristiwa itu, dan karena bujuk rayu si mba ritel Dago, aku ngalah, pindah ke pasca bayar.

Memang sangat menyenangkan tidak perlu pusing cari pulsa. Bisa menelepon kapan saja, dan waktu itu, masih hanya Xplore yang dihitung per detik. Jatuh-jatuhnya, lebih murah menelepon ketimbang sms, tapi perlu 10 sms supaya urusan beres kan jatuhnya mahal (secara aku sering bales sms hanya dengan OK, dan kata orang itu pemborosan). Sekedar informasi, aku tidak suka sms-an, dan seringkali aku lupa loh membalas sms yang masuk. Niatnya nanti aku bales, terus biasanya aku lupa. Gak jarang, aku milih menelepon ketimbang bales sms, gak tahan aja *tersipu nih*.

Tapi sekali waktu, aku di Sabang, akhir pekan, dan ternyata penggunaan telepon aku sudah lewat limit. Pekerjaan sialan! Aku sudah bayar lewat klikBCA, tapi ternyata butuh waktu 3 hari sampai XL menerima laporan. Buset. Aku butuh bertelepon dan aku malas mengganti nomer karena aku menunggu beberapa telepon penting. Untungnya customer service yang top begete itu mau memberi ekstra limit sementara sampai mereka menerima pembayaran setelah aku mengirim bukti pembayaran lewat internet itu (Lewat fax atau email, tapi jangan tanya bagaimana usaha cari fax atau email di Sabang. Horor banget)

Dan hari ini, kejadian lagi. Aku melewati limit. Panik. Aku buru-buru bayar -lagi lagi- via internet, dan konfirmasi ke customer service. Setelah menunggu 15 menitan, akhirnya mereka berkenan ngasih ekstra limit lagi. Miss Ring Ring lagi deh.

Maka itu, aku jatuh cinta pada XL, walaupun sinyalnya tidak ada di Ambon, tidak ada di Pidie, dan bahkan kadang di dalam kota pun sulit. Cinta itu buta katanya. Halah halah. Lebih karena kebiasaan gak bisa ngerem mulut nih!

Cuman, kapan nih para pemberi pekerjaan mau mengganti ulang semua biaya telepon ini ya?

13.11.06

Terlarang Itu Nikmat

Sesuatu itu semakin tidak boleh bisanya semakin menggoda untuk dibolehkan ya? Ngobrol ama Dita, membuat aku diingetin betapa kadang kita bisa asik melakukan ngoprek komputer bukan untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah harus selesai secepat-cepatnya, tapi justru untuk hal lain-lain.

Misalnya nih:

Chatting. Aku tuh bukan tipe chatting-an (ini juga kata beberapa teman lama), tapi kalau lagi ada kerjaan, kok kayaknya chatting tuh menggoda banget, dan herannya biasanya justru yang asik-asik juga lagi online pada saat saat kayak gitu. Bisa anteng ngeliatin friendsternya orang-orang, padahal udah berminggu-minggu gak disentuh-sentuh tuh (sampai sempat lupa password friendster!).

Photobucket - Video and Image HostingBeresin file-file komputer. Perlu dilakukan, tapi kan gak penting banget dilakukan disaat boss sudah order laporan! Bisa loh, sudah duduk di depan komputer, niatnya sih udah mantep, beresin kerjaan. Terus, buka windows explorer, dan ealaaa, bukannya buka folder yang tepat, malah buka folder lain-lain yang entah kenapa menjadi sangat menarik untuk diintip. Pernah loh, udah mah ada orderan di depan mata, aku iseng ngutak ngatik setting-an komputer sampe akhirnya mati! Bener bener iseng membawa bencana.

Bahkan, sinetron-sinetron ajaib juga bisa menjadi acara menarik. Kayak misalnya waktu harus beresin TA (tugas akhir, atau skripsi), aku bisa menghabiskan waktu nontonin sinetron dari satu sinetron ke sinetron lain dengan anteng, padahal aku tahu aku musti ngerjain TA.

Coba aja TA selesai, laporan juga beres, dan ada waktu luang yang bisa dimanfaatin suka-suka, tiba tiba bingung mau ngapain. Liat komputer, gak ada yang menarik. Online, juga membosankan. Nonton tivi, males.

Jadi sebetulnya, emang kebetulan yang online asik-asik, atau sinetronnya lagi seru, atau karena itu sebetulnya gak boleh dilakukan jadinya lebih seru ya? Tidak, aku musti beresin semuanya, kalau enggak, Didhoy bakal ngomel nih.

Tuh kan Kak, mungkin memang ada virus yang membuat orang yang terinfeksi jadi penikmat segala sesuatu yang terlarang *wink wink* dan aku sudah terinfeksi tingkat super akut dan kronis.

12.11.06

Bersin si Pertanda

Sebel banget, barusan mendadak mau bersin tapi gak jadi. Pernah gak ngalamin kayak gitu. Pernah ada yang bilang, kalau mau bersin tapi kayaknya bakal gak jadi, buru-buru liat matahari. Lah, gimana mau liat matahari, secara sekarang udah jam 8 malam aja. Aku coba liat lampu, gak ngefek apa-apa.

Photobucket - Video and Image HostingMakanya, aku tuh paling suka kalo udah bisa bersin. Lega banget rasanya. Untungnya sih, bersin aku gak pernah pakai suara aneh-aneh atau suara khas, atau dengan kekerapan yang khas. Kayak Mas Agungnya Lusi yang kalo gak salah tiap bersin pasti tiga kali, dan sekarang si anak yang lagi lucu-lucunya - halo Malik! - mulai kelihatan mengikuti jejak sang bapak.

Baru beberapa tahun lalu, aku ketularan kebiasan untuk bilang,"God bless you" pada orang yang bersin. Aku baru tahu loh ada kebiasaan seperti itu di beberapa negara. Asal usulnya darimana, entahlah. Aku suka kebiasaan itu. Bentuk doa, kan.

Mungkin karena katanya kalau mau bersin itu pertanda sakit, eh, atau kalau gak jadi bersin, katanya sakitnya bakal jadi. Halah halah. Tapi kalau bersin tiga kali, katanya ada yang kangen *gubrak*.

Kalau barusan aku gak jadi bersin, apa berarti sakitnya yang bakal jadi ya? Yang pasti, beberapa hari kena gejala flu dan batuk sih, tapi baik flu dan batuknya gak jadi, yang ada suaraku hilang. Kayak orang kecapekan (dan kayak waktu abis ngospek *tersipu-sipu*). Kata Iwing, itu tuh sebetulnya flu-nya. Halah, teori baru? Lapor bos suara ilang, Tya bilang suaranya jadi seksi *halah! tapi ribet aja musti siaran kayak gini*

Ah, terus humming, dengan harapan jam 10 malem suara membaik dan besok pagi biasa siaran (bos nyuruh ngasih kabar jam 10 malem). Tapi, kalau gak salah, jantung kita manusia itu kan berhenti berdetak ya pas bersin?

8.11.06

Muka Baru Teman Lama

Apa yang selalu ada ketika kita bertemu teman-teman, apalagi teman lama:

1. Pelukan hangat, sapaan hangat, yang seringkali berbicara lebih dari kata-kata (dan sering membuat aku sadar, betapa aku rindu pada mereka semua)

2. Gosip. Biar kata gosip gosip evil thing, untuk kali ini dimaafkan, maklum sudah terlalu lama tidak tahu (atau tidak mau tahu?) kabar teman-teman lama, pastinya pada waktu bertemu selalu diawali dengan apa kabar, dan tentu saja, sejumlah pertanyaan a la infotainment dong *wink wink* (belum, aku belum menikah dan masih wara wiri kiri kanan dan oya, kamu tuh ternyata sudah pindah kerja lagi tokh)

3. Tuker-tukeran nomer telepon. Apalagi yang setia dengan telepon genggam dengan kapasitas ingatan terbatas model yang aku punya. Kartu nama sih gak terlalu laku, cukup sebut nomer telepon, dan jadilah. Urusan apakah akan saling telepon, itu urusan belakangan tokh?

4. Makanan. Sungguh, aku gak bisa mengingat pertemuan cekakak cekikik gak jelas tanpa makanan. Restoran atau rumah makan seringkali jadi pilihan, tapi cara potluck juga bisa jadi alternatif oke, selama kompakan dulu tentunya. kebayang dong, ada 20 orang sama sama membawa kacang hijau misalnya. Suka sih, tapi 20 porsi hanya kacang hijau, duh, makasih deh ya. Untungnya kalau penyelenggaranya tok cer. Walhasil bisa menikmati mie baso kampung enak, plus makaroni skutel, plus puding coklat yang bikin ketagihan, plus brownies kukus, plus buah-buahan, plus asinan Bogor, plus berbagai kue lainnya.

5. Pasangan dan atau anak. Ini nih, perkembangan terbaru dari pertemuan terakhir dengan teman teman PL. Yup, tiba tiba begitu banyak celoteh anak anak kecil, mulai dari yang usia 5 tahun, sampai yang baru berumur 2 bulan.

Photobucket - Video and Image Hosting
Aku senang sekali bisa bertemu dengan teman teman lamaku, tidak perlu ada agenda obrolan khusus, hanya menikmati waktu yang ada. Sayang, kamera tidak bisa dipakai, tapi sisi baiknya, bisa ngembat kamera Boss. Jadi, mau lihat cerita lengkap dan ngintip foto seru, main ke rumah Boss dan Dias saja ya.


30.10.06

S O S · · · - - - · · ·

Begitu banyak hal di kepalaku, tetapi tidak pernah berhasil aku tuliskan. Inilah yang terjadi selama beberapa bulan ke belakang, bahkan mungkin enam bulan ke belakang, atau setahun belakangan ini. Anehnya justru di kala aku punya fasilitas yang membuat aku (seharusnya) dapat menulis kapanpun. Malah, ada beberapa tulisan yang tampak berulang kali muncul. Urusan kemacetan dan urusan marah-marah di jalan, juga urusan kerja tidak tetap. Urusan terakhir ini, kayaknya memang favorit banget.

Sebetulnya kenapa juga ini terjadi? Apa karena hilangnya api, gairah, cinta, kekuatan dari dalam diri aku ya? Kebosanan? Entahlah. Aku merasa tidak begitu nyaman bekerja di ruangan tempat aku bekerja sekarang. Sesek. Panas. Sumpek. Berat.

Atau bisa jadi, karena pekerjaan yang menumpuk. Ini selalu jadi kambing hitam favorit. Maaf, banyak pekerjaan. Maaf, harus konsentrasi ke pekerjaan. Maaf, sudah terlalu capai gara-gara bekerja, dan pengen langsung tidur. Kasihan sekali si pekerjaan. Udah mah kalau gak ada, dicari-cari setengah hidup, begitu ada, sering banget dijadikan kambing hitam untuk banyak hal yang tidak mampu kita lakukan.

Berarti ini semua bukan karena pekerjaan yang datang silih berganti? *tsah belagu banget ya? biarlah, biar gaya* Sesungguhnya, aku berharap aku bisa menyalahkan pekerjaan-pekerjaanku, jadinya aku tidak perlu menyalahkan diri sendiri, jadinya aku tidak perlu melakukan evaluasi diri untuk berusaha mencari jawab.

20.10.06

Beta Lihat Ambon Manise

Ambon Manise sulit lagi disebut manise karena konflik berkelanjutan yang dimulai di tahun 1999. Rasanya mereka yang pergi ke Aceh itu mau perang, ikutan terlibat di konflik tersebut entah berupaya menenangkan atau malah memanasi suasana.

Kalau saja, Ambon tidak berhenti berkonflik, aku tidak akan punya kesempatan merasakan kecantikan Ambon. Beneran. Pulau yang indah, dan aku hanya menjelajahi setengah bagian dari pulau itu.

Photobucket - Video and Image HostingPantainya betul betul membuat aku superduper rela menjadi gosong (padahal gosong bekas main ke China dan juga perjalanan ke Aceh beberapa waktu lalu, belum lagi pulih). Gimana gak rela, airnya jernih sekali. Sebagian besar bukan pantai berpasir putih, kecuali di Natsepa di Maluku Tengah, sebagian besar pantai adalah pantai karang. Tidak usah kuatir bakalan babak belur kena karang dong. Kebetulan, selama hampir seminggu aku berkeliling, air tengah surut. Berarti, aku bisa berjalan-jalan di atas karang-karang dan pasir pasir batu indah itu. Harus agak hati-hati sih, karena banyak sekali mahluk hidup di antara karang tersebut. Ada berbagai ikan yang indah (musti nanya kaufik nih untuk urusan nama-nama ikan tersebut), ada berbagai mahluk laut lainnya. Apalagi aku berjalan dengan Head-ku yang setia, sepatu seperti itu sekali injek bisa bikin kerang kecil dan bintang laut superduper gepeng. Tidak perlu snorkelling, lupakan diving, aku bisa berjalan telanjang kaki melihat berbagai keindahan laut tersebut. Memang sih, kalau mau puas silahkan snorkeling (tunggu pasang deh, dan arus yang asik supaya dapat daerah pandang yang jernih), atau menyelam (belum bisa diving karena arus terlalu kuat). Disini ada taman laut cantik, dan bahkan gua di bawah laut yang malah tidak diketahui keberadaannya oleh penduduk sekitar. Aku tahu ini, dari seorang bule yang sejak Februari mangkal di Pantai Namalatu (calon instruktur divingku, seandainya saja arus cukup bersahabat).

Bayangkan lansekap berikut. Di sebelah kanan ada Laut Banda, di sebelah kiri ada gunung yang sebagian besar terdiri dari karang. Berjalan di atas gunung, seperti jalan di Puncak, Jawa Barat. Tapi, bukan disuguhi tanaman teh, justru hamparan pantai karang dengan laut yang jernih. Bahkan dari ketinggian pun, karang-karang di bawah air masih tampak jelas, bisa dilihat menembus air laut yang hijau kebiruan itu. Aku pikir, kalau ada orang Jakarta, jangan-jangan udah ada bejibun bangunan vila di kawasan ini, sebagaimana Puncak menjadi kawasan vila. Indah sekali. Ada beberapa bagian mengingatkan aku sama Danau Toba, Samosir dan Prapat, tapi sekali lagi, ini laut bukan danau.

HateleHanya satu dua pantai yang memungut bayaran, itu pun biasanya masuk kas gereja. Sebagian besar pantai di Ambon adalah miliki gereja atau keluarga. Kecuali Pantai Namalatu yang konon sudah dibeli oleh Pemerintah Propinsi. Memang sebagian besar masih belum memiliki fasilitas seperti WC. Tapi gak perlu kuatir, rumah penduduk terbuka lebar untuk itu. Dan, pssttt, bahkan WC yang terlihat kumuh dan buruk dari luar, sungguh-sungguh bersih didalam. Ini satu hal yang paling aku suka di Ambon. WC yang bersih. Air di baknya bersih. Lantainya bersih. Buset, aku gak pernah nemuim kondisi kayak gini di banyak bagian di Indonesia. Gak usah kuatir kalau musti ngetuk pintu penduduk kalau udah kebelet. Menurut aku, orang Ambon adalah orang yang paling ramah dan tulus yang aku temui di Indonesia. Mereka mempersilahkan aku memakai WC dengan ramah. Bahkan, mereka tersenyum dengan tulus ketika melihatku. Senyuman, sapaan dan penerimaan mereka masih sangat kuat melekat di ingatanku.

Ambon kaya akan legenda menarik, yang sayangnya, tidak banyak diketahui orang setempat. Hanya satu dua penggal cerita. Untuk cerita lengkap, aku harus menunggu kepala museum Siwalima yang sedang melakukan perjalanan dinas ke Belanda. Padahal itu menarik sekali, secara nama-nama tempat di Kota Ambon seperti Gunung Nona, Kuda Mati dan banyak lagi itu punya kaitan satu sama lain.

Photobucket - Video and Image HostingTapi, tempat favoritku justru bukan pantai-pantai indah itu, tetapi sebuah tempat di atas bukit (atau gunung?) namanya Soya. Begitu perjalanan menanjak yang melelahkan itu selesai, aku terhenyak. Melihat sebuah gereja kecil yang begitu indah, rumah-rumah yang nyaman tanpa ada yang dikunci (pintu dan jendela terbuka begitu saja), diantara pepohonan, rasanya menemukan tempat yang superduper PW. Bikin aku ingin duduk terdiam, menulis, atau melamun, atau sekedar mensyukuri betapa Tuhan itu begitu baik dan begitu besar. Bel rumah adalah gonggongan anjing. Gak usah kuatir, ianjing-anjing ini hanya memberitahu yang punya rumah, bahwa ada tamu. Begitu ada orang datang, mereka diam kok. Rasanya di tempat ini, waktu seakan berhenti. Begitu tenang dan damai. Sayang, hanya sekejap. Seandainya rumah-rumah itu mau menerima tamu menginap, aku langsung deh teken kontrak untuk menginap beberapa saat.

Jangan salah, banyak tempat yang indah itu sebetulnya rusak pada waktu konflik. Dibakar. Begitu mereka memberitahukanku. Sebagian besar memang sudah dipugar, walaupun masih banyak lagi yang masih seperti kondisi baru terbakar. Mungkin yang punya bangunan masih berada di luar Ambon, atau seperti juga Pak Ben supir kami waktu itu, belum punya cukup uang untuk memperbaiki. Menurut Pak Ben, beta musti jual beta punya mobil dan lari hanya dengan baju di badan, beta punya buku dan barang-barang peninggalan sudah habis entah dibakar atau diambil orang.

Photobucket - Video and Image HostingSungguh, tidak mungkin aku bisa merasakan apa yang dirasakan orang Ambon pada waktu konflik. Aura kengerian masih bisa aku tangkap waktu aku berjalan malam hari, diantara bangunan-bangunan rusak di kawasan Mardika atau sekitaran jalan Patty dan seputaran Amplas (Ambon Plasa). Tapi aku tidak kuatir, karena aku tahu, orang Ambon begitu tulus hatinya, begitu terbuka, aku merasa begitu nyaman. Alam yang indah dan ketulusannya membuat aku tidak sabar menunggu kesempatan selanjutnya untuk mengunjungi Ambon kembali. Aku masih ingin mengintip di bawah lautnya, sukur-sukur bisa sambil meneguk air kelapa muda 2000 perak itu, aku masih ingin mengintip desa-desanya, aku masih ingin membawa kainnya, aku masih penasaran dengan udangnya, aku masih ingin ngobrol dengan Oma pembuat rujak natsepa yang mantap banget itu, dan aku masih ingin mencicipi kopi di Warung Kopi Joas yang bikin ketagihan itu. Mau ikut?

17.10.06

Dicari: 7 Anjing Pendamping

Silahkan pilih kategori berikut:
  1. Seperti Ice yang dengan harus keburu pergi dalam waktu cepat
  2. Seperti D*ru, yang terpaksa diberikan kepada orang lain karena desakan orang rumah
  3. Seperti Belo, yang karena usia tua, harus pergi di awal tahun ini. Sampai sekarang aku masih kangen banget sama semua dari dia yang serba hitam. Bulunya lebat, warna hitam, matanya belo warna hitam tentunya. Lucunya, di saat saat akhirnya, kayaknya dia mulai ubanan deh.
  4. Brownie yang hilangSeperti Brownie, kesayangan seluruh keluarga. Dapat kehormatan untuk tinggal di dalam rumah dan bukan di halaman belakang, karena dia selalu tidak bisa bersaing dengan yang lain dalam urusan makan. Biarpun punya tempat makan sendiri, selalu saja, jatahnya direbut oleh anjing lainnya. Agak buta, agak tuli. Tapi aku sayang sekali pada Brownie yang selalu ikut bobo sama aku. Kangen dengar suara gemerincing kalung di lehernya yang dipasang karena dia gak pernah bisa nyahut kalo dipanggil. Jadi, lonceng di lehernya menjadi petunjuk keberadaan dia. Duh, kangen banget ama Brownie. Entah kenapa, suata waktu dia keluar rumah, dan gak kembali lagi. Dan, beberapa kali, ada satu dua mobil yang berhenti mau ambil Brownie. Serius, kalau ada yang nemuin kembali, kami semua superduper bahagia nerimanya, bahkan kalau yang ngembaliin butuh ongkos pengganti. Pengganti apapun. Ayahku sampai sekarang, masih sering nengok foto dia. Kami semua seperti itu.
  5. Seperti Coco, yang begitu tangguh, kuat dan lama menemani kami. Gonggongannya selalu terdengar setiap salah satu dari kami membunyikan klakson mobil. Tidak pernah pilih-pilih makanan, dan selalu saja bersemangat. Tapi entah kenapa, dia tiba tiba tidak bersemangat, mendadak kurus dalam waktu singkat, dan justru setelah disuntik dokter langsung tidak mampu bangun, berdiri dan berjalan. Coco masih maksa suka jalan, tapi akhirnya Senin lalu, dia mati juga.
  6. Kris dengan Marbel, Biang dan BrownieSeperti Marbel, yang kembaran Brownie: pendek, panjang, bulu lebat, kuping lebat, tetapi juga musuh bebuyutan coco: selalu bertengkar. Herannya, gak lama setelah Coco mati, dia mengikuti jejaknya. Kurus, gak bisa makan, begitu diinfus, tidak bisa ngapa2in lagi. Sepulang aku dari Aceh – sabtu lalu – terus menerus aku peluk. Nonton, makan, tidur bersama Marbel, yang lemas gak bisa bangun, yang harus disuapin, tapi bisa menggoyangkan ekornya setiap aku panggil dan setiap dia melihat aku. Tapi Minggu subuh, dia tidak sanggup bertahan lagi. Setelah membangunkan aku jam 2 pagi, minta minum, pipis, dia pun pergi. Aku langsung menangis sejadinya.
  7. Bisa menemani Biang, satu-satunya yang tersisa. Si kecil yang paling manja, paling berisik, paling bandel, paling kecil, tapi paling pinter. Biang, anjing yang ada menyambut aku pulang sekolah sekitaran 5 tahun yang lalu. Biang yang selalu memilih pojokan di bantal kepalaku, dan yang selalu suka coklat, atau makanan apapun yang mahal. Dia sekarang sendiri. Kehilangan dua rekannya dalam waktu 1 minggu, bukan cuman dia yang termewek-mewek, sampai sekarang, aku masih suka nangis-nangis.

Ada yang mau gentiin?

26.9.06

10 yang Aku Benci di Bulan Puasa

Ada 10 hal yang aku benci dari bulan puasa:
  1. Menjelang bulan puasa, semua kegiatan dipadatkan. Atas dasar pertimbangan: sudah mau bulan puasa, semua harus diselesaikan sebelum bulan puasa dimulai? Haaa?!?
  2. Jam kerja yang berubah. Di atas kertas loh, alias kenyataannya, tetep aja pulang sore dan gak akan diitung lembur kan. Lebih menyebalkan karena tiba-tiba urusan menelepon instansi lain, apalagi pemerintah, jadi perlu penyesuaian besar-besaran, dan gak jarang berimplikasi ke urusan jadi agak (banyak) terbengkalai
  3. Acara tivi yang tiba tiba menjadi begitu (sok) religius. Tidak ada pilihan, kecuali berlangganan tivi kabel. Bahkan acara gosip berubah jadi absen artis. Hal yang ditanya: kegiatan selama bulan puasa. Emang musti berubah ya?
  4. Tempat makan tutup. Untungnya tinggal di kota (masuk kategori) besar. Banyak tempat makan buka, walaupun acara makan menjadi seperti melakukan kejahatan, sembunyi-sembunyi dan ditutup-tutupi (walaupun kayaknya korupsi sih udah gak pake sembunyi dan ditutup-tutupi ya)
  5. Tidak boleh makan dan minum sembarang. Pada hari pertama, aku betul betul lupa, dan aku betul betul haus, dan minum di dalam mobilku sendiri. Selamatlah, seluruh mata memandangku seakan-akan aku ini melakukan dosa besar (aku gak tau, dosa besar itu apa ya?). Soalnya (katanya) aku harus toleransi. Coba aja ya, kalau pas di kantor kantor, terus ada yang minta duit pelicin, juga dipelototin abis-abisan, pasti seru! (Biasanya malah ditanggep dengan senyum basa basi).
  6. Rumah makan menjelang jam berbuka jadi ramai gila-gilaan, apalagi yang terkenal. Orang rela banget nungguin dari jam 5 demi dapat tempat duduk. Pastinya untuk acara buka puasa bersama dong! Sebetulnya acara buka puasa bersama ini satu-satunya hal paling ngangenin dari bulan puasa. Sangat aku suka. Soalnya, entah kenapa di bulan puasa kayaknya orang lebih rela meluangkan waktu untuk bisa berbuka bersama, makan malam bersama, padahal di 11 bulan lainnya pasti sulit sekali untuk berkumpul bersama.
  7. Tempat hiburan malam tutup. Aku sendiri gak pernah lagi maen maen ke dunia gemerlap itu, tapi aku inget banget bagaimana salah satu temenku keteteran finansial karena tidak dapat pemasukan selama bulan puasa, padahal dia mau ngirim duit buat lebaranan.
  8. Banyak sekali pengemis, tukang minta-minta dan semacamnya.
  9. Macet gila-gilaan menjelang jam berbuka, tiba-tiba semua orang seakan-akan kebelet pipis atau apalah. Kebelet berbuka puasa sih. Heran deh, dimana tuh "menahan hawa nafsu"nya? Bisa ambil jalur seenaknya (terutama motor, kan bisa nyelap nyelip sembarangan, dan atas nama sabar, kalo keserempet sampe tergores-gorespun mohon disabarkan sajalah!). Perhatiin deh muka-muka orang di kendaraan menjelang berbuka puasa, apakah menunjukkan kesabaran? Ah, jangan bilang itu kelakukan sebagian kecil orang, kalau itu kelakukan sebagian kecil orang, gak akan ada macet gila-gilaan di setiap jam menjelang buka (setidaknya di Bandung dan Jakarta nih)
  10. Semua orang (katanya) harus lebih sabar dan menahan hawa nafsu, tapi di bulan puasa gini, berani-berani nulis sesuatu seperti ini pasti udah di haramjadah (aku yakin, aku bakal disumpah-sumpahin gara gara ini). Sebetulnya yang gak puasa kayaknya jauh harus lebih menahan diri (mana gak dapet pahala lagi kan?). Yup. Walaupun aku sangat sangat suka buka puasa bersama dan tajil (ohh, aku jatuh cinta prosesi makan tajil deh), tapi tetap saja, 10 hal ini bikin aku enek.

17.9.06

Angka: Segalanya?

Baca SWA beberapa bulan lalu tentang pertarungan bebuyutan antar aperusahaan besar membuatku berpikir, kenapa semua harus selalu tentang angka?

Angka (seakan) adalah segalanya.

Bersekolah, rangking menjadi patokan. Sedikit yang mampu mengingat nilai rata-rata yang tercantum di dalam buku rapot. Lulus sekolah, kembali angka NEM menjadi patokan. Angka rupiah yang harus keluar guna meng-upgrade angka tersebut menjadi tidak masalah, selama NEM impian ada di tangan.

Bekerja, seringkali angka gaji pun menjadi patokan. Bo, orang hidup butuh duit gitu loh. Biarpun orang tersebut menderita bekerja di tempat tersebut, selama angka yang ditawarkan akan diterima di setiap bulannya dianggap memadai, semua keluh kesah lebih baik ditelan sajalah. Pernah berpikir berapa gaji orang-orang disekitar anda? Maaf maaf buat yang gak setuju, tapi aku orang yang selalu berupaya tahu tentang gaji, khususnya yang berhubungan dengan pekerjaanku. Pembenarannya, aku bisa ditipu pemberi kerja kalo gak rajin update harga dasar pekerjaanku (dan betul betul pernah kejadian!).

Angka angka dan angka. Huh, secara aku ini puyeng banget ama angka-angka. Memusingkan. Kecuali angka 7 yang bentuknya bagus!

Photobucket - Video and Image HostingSWA menceritakan bagaimana pertaruangan antar perusahaan tersebut adalah angka. Angka omzet dan angka pelanggan (mungkin seharusnya aku menyebut angka pelanggan yang kemudian akan menjadi acuan angka omzet ya?). Salah satunya pertarunganTelkomsel dan XL, dimana – konon – XL gila-gilaan menggenjot angka penjualannya.

Itu membawaku juga ke berita soal apple yang sekarang mulai pake intel. Doh! Minggu lalu, aku ke apple center untuk menukar baterei iBook G4 aku (iya, iya, makasih Wisnu udah ngasih tau musti ngembaliin batere). Aku gak liat iBook yang biasa pamer body di showroom itu. Kata Pak Anto, yang ada tinggal stock lama, sekarang yang dijual udah pakai intel semua. Argkh! Siyal. Padahal aku lagi mikir untuk tukar G4 ini dengan versi baru.

XL sangat aku suka karena pelayanan purna jualnya belum pernah mengecewakan (walaupun sinyal kembang kempis dan waktu masih pra bayar dulu, pernah bermasalah dengan isi pulsa, tapi semua terbayar dengan tanggapan cepat dan manis. Ha!). iBook aku suka karena juga purna jual yang asik banget. Keluhan apapun, selalu ditanggapi cepat dan tepat.

Satu tempat nongkrongku, Potluck. Aku juga terlanjur ketagihan daya pikat tempat ini. Sekarang, mereka tengah bebenah untuk masuk ke tempat baru. Aku yakin, juga untuk mengejar angka kunjungan yang lebih besar.

Angka lagi.

Bagaimana dengan angka yang ada di tangan? Apakah ada artinya? Masihkah mengejar angka yang selalu lebih besar akan selalu menjadi tujuan? Apakah ada artinya satu orang pelanggan yang sama, dengan tingkat kepuasan yang terus berlipat karena pelayanan yang memanjakan pelanggan.

Atau pada akhirnya, bukan cuman angka, tapi pepatah lama itu berlaku, kalau ada yang baru dan lebih muda, yang lama ditinggalkan?

Teringat obrolan dengan Oom Widya - Kopi Aroma (ada yang belum tahu Kopi Aroma Banceuy Bandung?) yang berkata dia tidak memperbesar usahanya, karena ini sudah pas dengan kemampuan dia. Dengan skala sekarang, dia bisa memberi yang terbaik. Dan terutama, dia merasa cukup dengan yang sekarang...

*sigh*

8.9.06

Tidak Tetap yang Menetap

Aku kangen perasaan menunggu hari gajian. Beberapa hari sebelum hari gajian, biasanya kantong receh menjadi sahabat baik. Itu loh, uang lima-ratusan, seribuan, atau bahkan seratus perak yang kadang berceceran di tas, kantong celana, meja kerja dan mobil. Makan diirit-irit, parkir yang harus bayar dihindari sebisa mungkin, pergi nongkrong dijauhin dan diganti ketemuan di kantor atau rumah seseorang. Kere berat, tapi tahu pasti dalam 3-4 hari kondisi akan berubah, soalnya hari gajian!

amplop gajianHari gajian terakhirku adalah sekitar 3 tahun yang lalu, bahkan lebih. Sisanya, hari gajianku bisa terjadi kapanpun. Tidak bisa diprediksi dan tergantung kecepatan aku menyelesaikan pekerjaan dan tergantung kecepatan yang memberi uang dalam menyetujui pekerjaanku untuk kemudian mencairkan gaji aku itu.

Bukan cuman gak inget rasanya nunggu amplop yang rutin datang tiap bulan, tapi aku sudah tidak tahu, bagaimana ya rasanya punya meja kerja di sebuah kantor, dengan teman-teman kerja tetap dan tentu saja gak ketinggalan bergosip soal politik kantor-nya. Samar-samar masih aku ingat, keharusan datang jam 8 setiap hari, ketidakmampuanku menolak perintah untuk bekerja lewat dari jam kerja atau datang di luar hari kerja untuk menyelesaikan pekerjaan. Terkadang, aku masih bisa ingat, saat-saat makan siang yang pas banget untuk berbagi cerita a.k.a gossip di seputar kantor. Boss yang selalu saja menyebalkan, teman kerja yang rese, teman kerja yang baik, proyek yang terhambat, duit yang gak turun-turun, dan terutama rapat rutin yang lebih sering aku pergunakan untuk melamun (ups!).

Satu hal yang pasti, kenyamanan dan kepastian dari bekerja di tempat-tempat dengan hari gajian yang pasti datang setiap bulannya. Nyaman karena
1) bertemu dengan orang yang sudah kita kenal baik tabiat baik buruknya; 2) Boss dengan perintahnya sudah dapat kita interpretasikan dengan tepat (setelah melalui proses panjang berliku yang melibatkan senior dan administrasi, tentunya); 3) admin sudah diakrabi abis, dan itu berarti kemudahan urusan administrasi maupun keuangan; 4) meja kerja yang tiap cowet dan bolongnya sudah kita ketahui, termasuk bagaimana mengakali pintu laci yang sulit dibuka;
5) komputer sudah kita kuasai dan bukan sebaliknya, termasuk segala trik untuk mengatasi sifat buruknya; 6) selalu dapat tempat parkir yang sudah disiapkan satpam yang bageur nan asik; 7) OB yang udah cingcay banget urusan jajan pengganjal perut sampai meramu mie instan sesuai lidah

Kerja di TekoSudah hampir 4 tahun ini, semua itu hanya kenangan. Rekor paling lama kerja di satu kantor adalah 3 bulan. Bukan karena keluar atau dipecat, tapi memang aku dikontrak hanya untuk waktu tersebut. Kalau dihitung, rentang waktu kerja “kantoran-plus- meja-setengah-tetapku” itu berkisar antara 1 bulan sampai 3 bulan. Sisanya, kantorku berada dimana mood aku berada. Di kamar tidur (dengan tempat tidur yang sering menggoda), di perpustakaan umum, di kereta api, di kantor papi, di kantor adik, di Potluck (yang lagi tutup untuk buka lagi di tempat baru, dan membuat aku kebingungan cari tempat pe-we untuk bekerja nih! Buruan buka ya) dan juga (sekarang) di radio. Sampai-sampai beberapa waktu lalu Lala, partnerku di siaran pagi bilang, kalo aku datang pasti yang dicari adalah meja kosong dan steker listrik buat meletakkan peralatan perangku dan mulai mengetik! (sebetulnya ada sih pekerjaan tidak tetap yang aku tekuni selama 3 tahun di tempat yang sama, tapi tetep, statusnya tidak tetap loh)


Waktu bekerjaku adalah 24-7. Karena seringkali aku diserahkan pekerjaan yang sudah-harus-segera-dikumpulkan-tapi-kantor-kami-gak-sanggup-gak-ada-orang wajar kalo aku sering kerja kayak sinetron kejar tayang. Photobucket - Video and Image HostingAku bisa mulai bekerja jam 5 pagi (paling enak nih, sialnya kepotong siaran), jam 8 pagi, jam 10 pagi, jam 2 siang atau jam 8 malam. Pilih aja yang paling pas. Aku bisa kerja hanya 1 jam sehari, 8 jam sehari, atau di pol-in 24 jam dalam sehari (kalau udah gini, orang satu rumah sampai gak sadar sebetulnya aku ada di rumah atau enggak, soalnya pasti ngendon seharian di kamar). Sesudahnya aku akan menghabiskan waktu tidur, juga bisa sampai 24 jam sehari. Tanpa telepon, tanpa internet, tanpa komputer, hanya tempat tidur.

rapatDengan gayaku sekarang, beradaptasi adalah satu-satunya hal rutin yang aku lakukan. Bahkan jika harus bekerja dengan teman atau boss lama, tetap saja harus selalu beradaptasi lagi. Adaptasi sampai bego. Setiap penempatan berarti kembali ke titik nol untuk tahu kemana WC, bagaimana ambil minum, kemana makan siang dan hal-hal praktis lainnya. Gak usah urusan substansi deh, yang gini gini ini loh yang suka bikin canggung di tempat baru, kan. Udah kebelet, tapi bingung WC dimana. Udah haus, tapi OB gak keliatan. Mau ngeprint bingung caranya. Ngadepin yang kayak gini, aku mah udah tambeng. Cuek saja. Walhasil, aku memang sangat cepat beradaptasi, baik dengan orang-orang, lingkungan kerja maupun substansi kerjaan. Gimana gak cepat, wong kerjaan habis dalam sebulan. Kelamaan adaptasi mah benjol, atuh.

Hasilnya, buku alamat telepon sudah lewat limit dari kapan tahun. Walhasil, tiap ada nomer baru, aku selalu cari-cari nama untuk dihapus *duh*. Aku gak mau menghapus nama, karena seringkali aku menelepon nama-nama itu, biarpun hanya sekedar untuk tahu kabar.

Ihhh ya ampun, aku bisa menulis panjang lebar tentang ini ya? Barangkali ini gara gara Lala (yang kayaknya udah pusing liat aku berkeluh kesah tiap mau siaran *la, gue belon tidur nih*) bilang,”Mel, elu mah bilang pusing urusan kerjaan, tapi pasti elu sebenernya seneng dan malah pusing kalau gak kebanyakan kerjaan ya,”

*GUBRAK*
beneran, aku sama sekali bukan pecandu kerja. Tapi apa iya sih, aku jadi di-cap sulit berkomitmen?


1.9.06

Pertanda

Peristiwa berubah-tanpa-ijin kata sandi yahoo aku, membuat aku mengingat-ingat beberapa hal di belakang, khususnya yang berhubungan dengan tanggal yang aku pakai itu. Tepatnya, aku teringat pada seorang laki-laki.

Photobucket - Video and Image HostingKejadian itu membuat aku teringat satu hal lain, beberapa hari sebelumnya, tanpa sengaja aku menemukan foto-foto aku dan dia, bersama dengan teman-teman lain, sedang kumpul-kumpul, bermain bersama. Beberapa tahun setelah kami berpisah, tapi kami masih bersahabat. Sangat baik. Karena, dia memang (pernah menjadi?) seorang sahabat terbaikku, di luar embel-embel mantan.

Beberapa waktu terakhir, setidaknya setahun terakhir, hubungan kami memburuk. Rasanya sampai ke titik terendahnya. Tidak hanya aku dan dia, tetapi hubungan dia dengan aku dan orang-orang lain yang ada di foto foto yang aku temukan minggu kemarin itu. Penyebabnya? Keegoisan dan rasa sayang yang terlalu berlebihan di semua individu yang bersahabat tersebut. Dia seakan terlempar keluar lingkaran pertemanan.

Ketika aku mengingat tanggal sang kata sandi, aku teringat dia.

Apakah ini tanda? Foto lama. Tanggal itu. Tanggal hari ini (selamat ulang tahun ya!).

Tanda untuk sesuatu yang lebih baik dari pertemanan yang sudah berlangsung sekian lama tersebut?

Kayak kata seorang laki-laki tua kepada seorang anak laki-laki di Alchemis-nya Paolo Coelho: God has prepared a path for everyone to follow. You just have to read the omens that He left for you. (Shut, baru nyadar itu buku juga bisa ada di tanganku karena campur tangan dia, loh).

Hai kamu, kalau kebetulan kamu mampir (karena aku tahu, kamu juga suka blogwalking), aku ada banyak berita tentang teman-teman kita untuk kamu. Apa kamu masih ingin tahu?

30.8.06

Identitas Yahoo

Photobucket - Video and Image HostingBetapa sebuah yahoo id begitu berharga. Hampir-hampir lebih berharga daripada KTPku. Nomer KTP aja gak pernah hapal, apalagi passport! Tapi sebuah yahoo id, musti hapal di luar kepala termasuk passwordnya dan kalau perlu segala informasi yang sudah diberikan sebelumnya pada waktu kita membuat id tersebut.

Sampai-sampai ketika kemarin karena keteledoranku meng-klik sebuah link yang aku pikir akan berisi foto-foto bagus kawanku ini (gak marah kok, Fik, serius!) ternyata membuat aku kehilangan kata sandi alias password id-ku. Walhasil, janji ngobrol via YM gagal total (konon, aku terlihat online sampai tengah malam itu). Uring-uringan. YM telah menjadi alat komunikasi yang lebih berharga daripada telepon dan ponsel.

ID itu juga aku pakai untuk masuk ke beberapa milis untuk mencari berbagai informasi untuk pekerjaan menulisku saat ini. Muter deh cari 1001 cara lain. Argkh

Pagi ini, belum berhasil menyelesaikan problem tersebut. Aku lupa apa jawaban pertanyaan kunci. Tolol, pertanyaan kunci kok ya anniversary date. Itu sih sama aja bikin aku pusing, anniversary ama yang mana ya *buset sok banget ya*? Arrrgggkkkhhhhhh






Kabar terbaru:

AKHIRNYA,
aku berhasil mengingat tanggal yang manakah yang aku pakai, kuncinya, aku sama sekali tidak memakai format normal untuk menulis tanggal. Tau kan format mm/dd/yyyy justru aku menulis dengan caraku bahwa itu tanggal, dan akhirnya terbukalah jalan. Dasar aku ini, punya logika menulis yang aneh. Oya, waktu aku coba-coba bikin akun baru, gak ada tuh pilihan pertanyaan kunci: anniversary date. Berarti itu karanganku. Gobloknya. Phhffff...gila, lebih dari 24 jam aku terobsesi dengan yang satu ini sampai sampai yu dadah yu bye bye sama urusan kerjaan yang harus didiskusiin dalam waktu kurang dari 8 jam dari sekarang. Pssssttt....kalo perempuan sang mantan tau aku pakai tanggal "kami" untuk kata kunci wah apa gak kebakaran jenggot ya (ups dia gak punya jenggot kok)?

24.8.06

Musik Idol3

Aku memang sangat menyukai musik. Apapun. Selama mengalun nikmat dan bisa aku nikmati.

Photobucket - Video and Image HostingBeberapa waktu lalu, aku nonton Indonesia Idol. Di TV sajalah. Satu acara yang baru aku tonton 3 minggu terakhir. Mohon maklum, selama di Aceh tidak ada TV (karena faktor kerjaan dan tempat tinggal sih), dan kemudian aku juga bepergian mulu. Gak heran,sebetulnya aku gak tau banyak tentang Indonesia Idol. Tapi, karena di rumah penggemar acara tersebut, aku cukup menantikan pertunjukan final dan pertunjukan pengumuman kemarin.

Photobucket - Video and Image HostingDuh, rasanya menyenangkan sekali loh. Menonton sebuah pertunjukan yang dipersiapkan secara serius. Panggungnya, penyanyinya, musiknya, semuanya. Beda banget ama program dari tivi tetangganya, AFI.

Rasanya setiap mendengar musik, aku selalu merasa jauh lebih baik. Entah itu saat aku sedih, aku senang, aku kesal, atau sedang sibuk, musik adalah sahabat setia yang selalu saja datang pada waktu yang pas. Khusus pas nonton Idol kemarin, aku bisa melupakan banyak hal yang bikin aku senewen dan sedih, untuk merasakan suasana dan emosi yang berbeda.

Pastinya, setelah menonton, aku merasa lebih baik, lebih segar dan siap untuk menghadapi minggu yang baru...

19.8.06

Pesawat Terbang dan Pesawat Telepon

Diam di PesawatAku sangat menyukai perjalanan dan terutama, aku sangat menyukai perjalanan dengan pesawat terbang. Biar udah berkali-kali, naik pesawat tetep membuat aku seperti anak kecil melihat permainan yang paling disukainya. Aku bisa menghitung kapan aku tertidur di pesawat. Hanya satu kali. Pertama waktu aku harus ke Banda Aceh naik pesawat pagi yang membuat aku harus berangkat jam 2 pagi dari Bandung, terkatung-katung di bandara selama 3 jam, setelah tidak tidur malam sebelumnya.

Karena aku selalu terjaga setiap naik pesawat, aku selalu memperhatikan orang-orang di sekelilingku. Memang ada saat-saat aku pergi bersama seluruh keluarga, tapi itu bukan berarti gak perduli sekitar, justru yang ada adalah aku dan adik-adikku akan semangat untuk merhatiin orang, untuk jadi bahan gosip dong, tentunya. Ada juga saat aku harus bepergian dengan orang yang membuat aku tidak akan melihat kiri kanan lagi, tapi asik bercerita, melihat matanya, dan sibuk berdua deh (mohon dimaklum dong). Tapi diluar itu, aku selalu memperhatikan sekitarku. Maklum, lebih sering bepergian seorang diri.

Masuk ke pesawat, kelakuan orang itu berbeda-beda (tentunya!). Khususnya untuk urusan menyimpan tas bawaan. Ada yang dengan anggun meletakkannya, ada yang kebingungan untuk buka tempat penyimpanan, ada yang teguh kukuh berlapis baja mencoba memasukkan tas yang menolak dimasukkan karena ukurannya memang terlalu besar. Duh, untuk orang-orang kayak gini aku suka melas, bo, secara di belakang dia banyak orang mau masuk gitu. Terkadang ada juga yang tasnya sulit masuk bukan karena terlalu besar, tapi karena tempatnya sudah penuh. Bukannya mencari tempat lain yang kosong, malah keukeuh untuk nyoba masukin sambil melayangkan pandangan menuduh ke sekeliling. Seakan-akan berkata, sapa neh yang masukin tas paling gede bikin aku gak bisa masukin tas. Pandangan yang seakan-akan ingin membuang tas yang ada di dalam, demi memasukan tas dia. Aku tipe yang cuek bebek urusan tas. Kalo di atas kepala tempat duduk sudah penuh, aku akan cari tempat lain yang kosong dan masukin tas aku disitu. Ealaaa, sekali waktu ada ibu-ibu yang sewot loh. Dia melototin aku. Aku mana peduli sama pelototan mata, kecuali kalo dia berkata sesuatu kepadaku, langsung (yang tentunya akan aku jawab juga dengan 1001 kata kata simpenan). Si ibu ternyata duduk di tempat aku meletakkan tas, dan dia langsung bilang ke keluarganya berbisik – tapi cukup keras untuk didengar, khas pegosip banget – bahwa itu adalah “jatah” mereka. Dia setengah berharap pramugari akan melakukan sesuatu dengan tasku, tapi tentu saja, tidak terjadi apa apa, tasku aman tentram di tempat itu. Memang, ada saat juga, aku gak ambil pusing dan meletakkan tasku di kakiku.

Itu baru kegiatan masuk pesawat. Mau turun pesawat, ceritanya berbeda lagi.

Aku sih suka bingung dengan orang yang terburu-buru turun, tapi ternyata nantinya ketemu di tempat bagasi. Ah, kalau bagasinya banyak mah nyante ajalah, buat apa juga berdiri-berdiri di gang, hanya bikin sesek dan pegel kalau pada akhirnya kecepatan mencapai pintu keluar akan sama dengan yang keluar terakhir dari pesawat? Kecuali mereka yang tidak membawa bagasi dan dalam kondisi rusuh tingkat tinggi, atau mereka yang musti transfer pesawat dalam waktu 15 menit (ngacung deh aku! Sampai harus dikawal khusus keluar pesawat dan tergopoh-gopoh berlari dengan bawaan banyak untuk mengejar pesawat lain di bagian lain bangunan dan harus melihat berbagai sign dalam bahasa yang sama sekali tidak aku kenal).

Nah, kalau udah tiba di penghujung perjalanan, aku ingin tahu, apa sih hal pertama yang dilakukan kamu? Apakah kamu akan buka mata (karena selalu tertidur dalam setiap perjalanan), tutup buku/ koran/ majalan (karena selalu membaca di setiap perjalanan – seperti aku), buka tas kosmetik (karena muka butuh “penyegaran” sebelum kembali ke peradaban)? Atau melakukan sesuatu yang selalu membuat aku berpikir bahwa mereka yang melakukan perjalanan adalah orang superpenting yang setidak detiknya berharga satu milyar: menyalakan telepon dan langsung berteteleponan dengan gaya sibuk!

Beneran deh, suara yang pertama kita dengar saat pesawat mendarat biasanya bukanlah suara pilot atau pramugari tapi suara krang kring dan suara suara opening dari berbagi ponsel yang baru diaktifkan kembali.

18.8.06

Berpisah untuk Bertemu Kembali

Kalau sedang sibuk banget, sampe musti begadangan, kadang kita lupa kalau badan sudah mulai berontak. Seringkali, rasa "capek dan lelah" baru kerasa justru waktu sudah ada waktu tenang untuk tarik napas, biasanya udah di tempat tidur. Herannya kalau udah terlalu capek, justru suka susah tidur. Semua hal yang bikin lelah - entah peristiwa menyenangkan atau menyebalkan - akan melintas.

Ketika harus kembali ke tanah air beberapa tahun lalu, aku bisa menjadi manusia paling diam sedunia. Secara, aku gak bisa ngomong apa apa lagi. Terutama hitungan 24 jam terakhir, aku hanya bisa diam. Begitu sedih berpisah dengan beberapa sahabat terbaik, terutama karena sadar bahwa kemungkinan untuk bertemu kembali begitu tipis, dan bahkan kalau bertemu, segala sesuatu akan berubah. Satu satunya yang tertinggal hanya kenangan manis yang mudah-mudahan gak akan pernah ilang dari ingatan.

Aku benci saat aku harus bilang selamat tinggal. Aku lebih suka bilang, sampai ketemu kembali. Karena - bahkan ketika aku sadar dan tahu pasti bahwa itu adalah sesuatu yang nyaris tidak mungkin - aku selalu berharap aku memang bisa bertemu kembali.

gambar diambil dari getty imagesTapi sayangnya, seringkali kita harus bilang selamat tinggal. Bahkan ketika hati kita tidak menginginkannya. Pada saat tersebut, segala sesuatu akan selalu melintas. Persis saat-saat begitu lelah, sampai tidak bisa tidur, dikala seharusnya aku tertidur kelelahan, yang terjadi malah aku terjaga untuk menonton kilas balik semua hal yang terjadi. Setiap momen, setiap waktu, setiap kebersamaan yang semakin diingat semakin tidak ingin dilupakan malah kalau bisa terulang kembali.

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. termasuk ... ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk..

Ada waktu untuk bertemu dan ada waktu untuk bilang berpisah; tanpa selamat tinggal, tetapi, sampai bertemu kembali.

Kangen Aceh

Aneh. Aku kangen Aceh.

Jal, Nas, Bang Ram, MellyKayaknya aku jadi kangen gara-gara beberapa hari terakhir aku berkali kali musti dengerin lagi SMS. Udah tau lagu ini? Duh, aku gak nemu .mp3-nya. Tertinggal di Banda Aceh. Yah, disana rasanya itu lagu udah beken dari kapan taun. Tapi kayaknya – atau akhirnya – lagu ini beredar ke luar Aceh juga. Hampir setahunan eh, setengah tahun setelah masa jayanya di Aceh sana. Atau ini mah aku aja yang baru ngeh ya kalau lagu itu juga beken di luar Aceh?

Bisa juga sih karena beberapa hari terakhir aku asyik begadang. Kejar tayang. Mirip banget sama model kerja aku disana. Pagi banget, disaat orang lain belon nongol di kantor, aku udah asik bekerja. Tengah malam, malah seringkali lewat tengah malam, dikala orang-orang udah pada pulang (bahkan mereka yang cuman chat juga udah pada pulang), aku masih asik berkutik dengan iBook tersayang. Terkadang sampai tertidur sementara di kantor.

Aku teringat pagi di Banda Aceh. Waktu terbaik dalam sehari. Belum (terlalu) panas, belum (terlalu) berdebu. Maklum, basisnya ada di daerah yang terkena tsunami. Kosong, panas, debu udah jadi santapan. Begitu jam menunjukkan angka 10 pagi, udah deh, selamat datang saja segala kepanasdebuan. Kalau sempat baru mulai bekerja jam segituan, dijamin sulit konsen.

Teringat malam-malam jalan-jalan. Kalau udah bosen, kesel, dan gak bisa mikir lagi, pastinya mendingan jalan-jalan. Cari kopi sanger. Enaknya sih sama Mba Okol. Sambil gosip soalnya.

Tiba-tiba inget jalan-jalan di Banda Aceh, yang seringkali bikin aku uring-uringan kalau sedang nyetir. Soalnya, orang suka seenaknya aja belak belok. Selamat tinggal sein! Selamat tinggal lampu. Soalnya, walaupun malam hari, motor yang berseliweran itu seringkali tidak pakai lampu penerang. Mungkin mereka pikir cukup pakai penerang hati (naon!).

Walaupun harus tidur di kamar 1,5x2,5 yang panas dan minim ventilasi itu, walaupun perutku harus tersiksa dengan gulai-gulai dan makanan yang sudah dipanasin berjuta kali itu, walaupun harus banyak begadang, walaupun selalu senewen kalo udah nerima selalu-musti-segera permintaan dari 2J - para atasanku, suasana disana itu ngangenin.

Atau jangan-jangan, bener kata orang-orang, aku teh berbakat jadi pecandu kerja. Aduh!

Bang sms siapa ini Bang
Bang pesannya pakai sayang sayang
Bang, nampaknya dari pacar abang
Bang, hati ini mulai tak tenang

Kalau bersilat lidah memang abang rajanya
Ternyata abang salah, masih saja bergila
Orang salah kirimlah orang iseng2lah
Orang salah kirimlah orang iseng2lah

tambahan: makasih Mba Okol, dan Okke buat kiriman .mp3-nya. berarti banget banget. terharu :p

17.8.06

Pesta Republik Indonesia?

Buat aku, setiap ulangtaunan adalah berbagai kebahagiaan. Aku menyukai ritual ulangtaunan. Boleh ada yang gak setuju, dan bilang itu hura hura. Boleh kok. Hanya saja, aku menyukainya. Sangat. Paling pas rasanya bersama dengan orang orang yang kita kasihi. Ulangtaunan juga masa yang pas untuk merefleksikan banyak hal. Basi gitu? Yah, basi sih kalo cuman gitu-gitu aja. Tapi rasanya kok aneh sekali, jalan gak sempet mikir, udah di bener gak, udah pas gak, dan seterusnya. Kebayang deh, kalau mau jalan ke satu tempat pasti kita musti mastiin kalo jalurnya bener dan meyakinkan diri kalo kita akan sampai di tempat itu, kan. Hidup juga seperti itu, kan. Apalagi hidup hanya satu kali, alias kalo itu mah perjalanan, kita sendiri belum pernah tau tempat tujuan itu, belum pernah kesana, jadi musti sering nge-cek. Entah nanya ke orang, entah liat peta atau contekan apapun yang kita punya yang ngasih tau cara-cara nyampe ke tempat tujuan itu.

Punya tempat tujuan aja musti cek dan ricek, apalagi yang belum tau mau kemana. Buset, mau muter muter ampe habis bensin? Iihh, enggak banget.

Momen untuk nge-cek sih ada banyak, buat aku paling pas rasanya pas ulangtaunan.

Photobucket - Video and Image HostingItu kalau yang ulang taun diri sendiri, gimana kalo yang ulantaunan adalah satu bangsa? Kepikir gak, kalau ujungnya aja gak ada yang tau mau kemana. Pusing kepala tentunya. Katakanlah ada ujungnya, biar gimana kan musti tetep cek dan ricek. Sialnya kalau tiap individu punya ujung yang beda-beda. Repot. Ada yang mikir ini ujungnya A, ada yang bilang B, ada yang bilang alaaa gak perlu ujung-ujungan deh, karena aku ini adalah penduduk dunia - the world citizen.

Kebayang kan, bisa saling tabrakan dan hancur lebur deh.

Pas banget kalau kemudian ada saat untuk melihat, apa udah di arah yang pas, yang dipengenin. Kalau udah sempet berbelok, yah musti balik lagi dong. Mendingan agak lama dikit tapi tetep ke titik yang sama kan?

Ketika ada yang merayakannya "hanya" dengan balap makan kerupuk, balap kelereng, karung (masih ada gak sih permainan ini semua), panjat pinang dan bagi bagi susu gratis (ini di Pangkal Pinang nih), oke oke ajalah. Bisa jadi itu cara untuk seenggaknya sadar, kita gak sendiri tapi satu sekumpulan besar yang mustinya sehati. Tokh, sehari-haripun gak mungkin kita bisa sehati kalo buat bebersih bareng sajapun gak bisa.

Hanya saja, apa itu semua cukup?


Selamat Ulang Tahun Republik Indonesia....

Selamat Ulang Tahun, Tanah Airku

Iseng-iseng mendaftar saat-saat dimana kerinduan, sayang dan kasihku untuk yang ulang tahun hari ini paling kerasa...

  • Waktu pelantikan paskibra. duh, memegang bendera merah putih gak pernah terasa begitu berat tapi juga membuat semangatku menyala seperti itu
  • Waktu berada jauh dari negeri ini. untuk sekolah. justru di saat tampak begitu banyak hal yang bisa membuat kita makin ngomel-ngomel dengan yang ada di dalam negeri, tapi entah kenapa, justru membuat aku kangen untuk buru-buru balik dan melakukan apapun, untuknya. walaupun sangat kecil.
  • Setiap musti menyanyikan bagimu negeri di sini, dan terutama waktu sedang tidak ada di dalam negeri
  • Waktu menyanyikan Indonesia Raya di Xiamen, China kemarin.

Kamu sendiri?

7.8.06

Hutang Empat Macam.

Oke, Dinda.... Gue terima deh, biarpun tergopoh-gopoh dan lelet banget. Abis ini, segera ditunggu gosipan elu ya..

Four jobs I've had:
1. Dosen
2. Penyiar
3. Event Organizer
4. Konsultan dan Peneliti Segala Macem

Four movies I could watch over and over:
1. The Sound of Music
2. As Good As It Gets
3. Taxi
4. De Lovely

Four places I have lived in:
1. Bandung
2. Jakarta
3. Rotterdam
4. Banda Aceh (yah, lumayanlah, lebih dari sebulan gitu)

Four TV shows I love or loved:
1. Oprah Winfrey Show
2. Friends
3. Insert
4. Film film sitkom-gak-penting-gak-lama-dan-gak-mikir

Four places I have been on vacation (musti lagi liburan kan ya, gak boleh dicampur dengan urusan kerjaan nih, hiks, yang campuran lebih banyak. Cuman empat yang boleh ya? Ya udah negara aja ya, ngaco kan, negara kan bukan "tempat" ya):
1. Krakow, Szeczin, Swinousjie - Poland
2. Paris, France
3. Pattaya, Thailand
4. Yogya, Cirebon, Losari, Siantar, Danau Toba dan Samosir, Indonesia

Four favorite dishes:
1. Mie Baso, mau yang kampung mau yang resto, semua dilahab
2. Ayam Sirapege. Ini menu keluarga banget. Ayam bakar disiwir, makan pake cengek, bawang dan jahe plus sejumput garam. Disuguhi hanya pada saat saat istimewa
3. Tahu. Mau diapa-apain juga doyan banget banget deh. Tapi jangan tahu di luar kota Bandung ya, aneh banget rasanya.
4. Salad a la Pawel, pake keju feta, minyak goreng dan cuka. Dan musti dibikinin ama orangnya. Huh, jauh euy.

Four websites I visit daily :
1. Blog sendiri tentunyah
2. Calvin Hobes di http://www.gocomics.com/calvinandhobbes/
3. Centrin untuk kemudian cari cari berita - kalau daily diartiin sebagai hari kerja ya, bo
4. Rumah Kiri

Four places I would rather be right now:
1. Potluck
2. Belanda (kangen deh ama Dindin, kangen banget, sori ya utang emailnya numpuk)
3. Amed, Bali (rencana diving semakin jauh di mata, mudah2an ntar-ntar dapet tiket, biar bisa maen ke Unieng dan nyelem nyelem)
4. di dalam pelukannya *tsah*

Four bloggers I'm tagging, ini dia yang repot, ah, aku kasihkan saja pada anak anak penyanyi itu, silahkan silahkan dimainkan
1. Credo
2. Geget
3. Sahat
4. Juki

Aku mau lanjutin empat hutang lainnya, nulis email, beli CD dan ngeburn, bales chatting-an orang-orang yang dari tadi dianggurin (maap seribu maap), dan meriksa ujian anak-anak *gubrak*

2.8.06

Bernyanyi Secara Maksud Elo!

Xiamen, Cina. Pernah denger namanya? Shangai, Beijing dan bisa jadi Guangzhou adalah kota-kota yang lebih dikenal daripada Xiamen. Terletak 10 jam perjalanan bus dari Guangzhou (tau persis, wong dari Guangzhou-Xiamen ditempuh bus pake ekstra berhenti 3 jam karena macet pula!), kota ini secara mengejutkan berhasil mengambil hatiku. Bersih. Itu kesan pertamaku.

IyusPenting banget kesan pertama itu, soalnya aku menghabiskan waktu 2 minggu disana. Bukan cuman buat sekedar berlibur pula. Pergi bersama Paduan Suara ITB untuk ikutan world choir games a.k.a choir olympics. Gaya banget ya :D Pertandingan paduan suara tingkat dunia (sebuah media nasional menterjemahkannya menjadi perlombaan paduan suara gereja tingkat dunia, sebegitu dekatnyakah church dan choir?).

Sebuah perjalanan yang penuh warna dan penuh perhitungan (duit tentunya). Keterbatasan membuat penempatan akomodasi, makan, dan banyak hal menjadi serba belibet dan harus begitu kalau mau tetap bertahan. Ketika dapat info bahwa akomodasi dari panitia itu ada di Middle School No. 8 alias SMP 8 yang kemudian lebih dikenal dengan nama Middle Eight Number School, terbayang kursi dan meja dijejerin dan dijadikan tempat tidur. Buset. Gak beda dengan ospek atau diklatsar kali ya. Maklum bayangan sekolahan, SMP pula, pasti gak jauh bedalah dengan SMP di Indonesia sini. Eala, ternyata yang namanya SMP itu keren banget deh. Ternyata pula SMP itu punya dormitori, sebuah kamar dengan 5 tempat tidur, meja belajar, lemari pakaian, 2 wastafel besar dan kamar mandi. Kalau ternyata harus naik ke lantai 4, namanya takdir. Kasur boleh jadi tipis, tapi kamar sudah dengan dispenser air minum, pendingin ruangan dan tentu saja housekeeping tersayangnya teman-teman. Seru juga sih, SMP itu disulap jadi desa paduan suara, choir village. Ada banyak tim paduan suara tinggal disana (dan tentu saja ada juga paduan suara-paduan suara lain yang tinggal di hotel berbintang, semua balik ke kemampuan kantong deh). Ada cafetaria, ada mini market, kantor pos, tempat penukaran uang sampai klinik kesehatan. Lengkap banget. Sayang banget, aku hanya sempat menginap semalam disana, dan gak gitu bisa menikmati desa itu di malam hari (konon sih seru banget tuh, soalnya suka ada keramaian yang biasanya melibatkan mereka yang berdarah O misalnya Latino, Philipino, dan Manado!).

Aku memang gak nginep disana, tapi nginep di sebuah inn, namanya J-inn yang lagi lagi secara mengejutkan merupakan inn yang sangat bersih, nyaman dengan kasur ekstra besar. Untuk dua orang, ada satu kasur King Size dan satu kasur lain ukuran single tapi yang agak besaran, entah apa namanya. J-inn berlokasi diantara toko-toko bunga a la wastukencana dan berbagai tempat makan enak (termasuk warung langganan 1 dan warung langganan 2), murah (lengkap dengan yang haram-haram) dan sebuah toko CD, DVD yang membuat kantongku jebol (secara mereka jualan berbagai DVD klasik dan jazz seharga 10 ribuan saja, surga banget). Tinggal di J-inn membuat aku pengalaman banget naik bus gratisan. Eh, sebetulnya bus-nya gak gratis, tapi ternyata walikota Xiamen sudah bekerja sama entah bagaimana, tinggal nunjukin name tag world choir games, maka urusan bayar-bayaran dianggap beres alias gak perlu bayar aja gitu.

Name tag sakti! Beneran deh. Coba aja mau keluar masuk SMP 8 tanpa name tag, silahkan saja berhadapan dengan para petugas yang super-duper-keukeuh-sampe-mampus-dan-selalu-butuh-penjelasan-panjang- lebar-untuk-segala-sesuatunya. Atau kalau lebih beruntung anda akan berhadapan dengan para volunteer a.k.a panitia tidak bergaji yang akan segera mengeluarkan sejuta pertanyaan dalam bahasa Inggris yang butuh penterjemah khusus dan diakhiri dengan peraturan baru hasil interogasi. Buset ya. Di saat awal, saat name tag tidak ada, rasanya kayak tahanan. Gak bisa kemana-mana banget. Lega banget rasanya bisa pake name tag berwarna merah jambu plus tali yang yang terus menerus butuh perlakuan khusus karena asik rusak kena angin dan perlakuan tak senonoh (abis aku terlalu lasak, jadi talinya sering putus). Herannya selang beberapa hari, selalu saja ada seseorang yang ketnggalan, hilang, dan tidak bisa menemukan name tag loh. Mungkin name tag-nya senang jalan-jalan, ngikutin yang punya.

di GulangyuNamanya juga di negeri orang, urusan jalan-jalan gak pernah boleh ketinggalan banget. Masa reses, antara part 1 ke part 2, diisi dengan jalan-jalan ke Gulangyu. Sebuah pulau kecil, 15 menit perjalanan dengan feri dari Xiamen. Cukup jalan kaki seharian bisa mengelilingi pulau ini. Ada jajaran toko-toko yang sangat menggoda (dan terbukti manjur menggoda seluruh tim dan menguras isi dompet, maklum harga murah meriah dan barang lucu-lucu kayak gitu kan gak bisa dilewatkan begitu saja dong), ada pantai yang walaupun kecil dan superduper panas, tetap saja pantai, ada bebatuan besar menakjubkan, ada kebun-kebun cantik, ada museum piano buat para pecinta musik dan tentu saja pemusik, ada gereja-gereja katolik berikut paduan suaranya, ada rumah rumah unik yang mencuri perhatian mereka yang tertarik dengan arsitektur. Lengkap. Hanya dengan uang sekitaran 8 ribu untuk naik feri bolak balik tuh (kami, tentu saja gratisan, kan pakai name tag. Buset ya). Aku sih cuman sekali kesana, tapi ada beberapa orang yang kesana lebih dari satu kali. Alasan mulia adalah untuk nonton gala concert – penampilan juara-juara sebelumnya tapi ada juga alasan sejuta umat yaitu berbelanja dong, apalagi!

Memang para pegila belanja menemukan surga di Cina. Secara harga-harga bisa bikin jantung berdebar, mata kalap, adrenalin naik dan tentu saja, kantong kempes. Bayangin barang-barang di ITC ambasador, misalnya, dengan harga setengahnya, atau malah lebih murah. Menawar adalah halal dan wajib hukumnya. Saking biasa lihat harga satuan, paling pol belasan, melihat harga puluhan itu rasanya terlalu mahal. Padahal bisa jadi bahkan harga puluhan itu pun masih tergolong murah di Indonesia. Belanja sepatu baru sampai 5 pasang. Sah! Apalagi kalau itu untuk oleh-oleh. Soalnya sepatunya lucu-lucu, modelnya unik-unik, dan harganya bukan cuman dibawah 100 ribu tapi bahkan di bawah 50 ribu. Hanya, kalau kaki anda ukuran besar, maap maap saja, silahkan cari sampai mampus ya. Mau beli tas dari ukuran mini sampai maksi silahkan. Mau beli barang elektronik, wah bisa sampe ngiler abis deh, walaupun dengan kualitas WDYE (what do you expect) ya. Tidak heran kalau sampai ada yang harus beli koper tambahan dong! Alasan apapun sah untuk berbelanja, dan tingkat keahlian berbelanja ditentukan oleh kemampuan menawar (aku: Nol besar), kemampuan kantong (aku: juga Nol besar), dan kemampuan untuk mengubah segala sesuatu menjadi tempat belanja (aku: lagi lagi Nol besar). Juara belanja alias juara shoppang (atau Chopin ya? Kekekek) tentu saja dipegang para sahabat yang telah berbaik hati menawarkan berbagai barang dan membuat aku lebih mengerti arti kata shopaholic ketimbang penjelasan dari Bloomwood.

DorothyUntuk belanja, tampaknya aku musti berlatih banyak. Sebanyak latihan kami selama di Xiamen, latihan nyanyi maksudnya ya. LO pertama kami, Rain sampai geleng-geleng kepala melihat bagaimana kami berlatih. Rupa-rupanya LO kami tersayang sampai dikenal dengan nama Rehearsal, saking seringnya dia meminta ruang latihan buat kami. Entah apa yang dilakukan oleh tim lain, sampai-sampai kesannya hanya kami yang gila berlatih, padahal rasanya frekuensi latihan kami wajar wajar aja kok. Kalau agak cerewet urusan ruang latihan, wajar aja. Susah banget sih dapet ruang latihan itu. Apalagi di masa-masa pdkt awal dengan para LO, Rain dan Dorothy, begitu banyak masalah muncul.Rain Kesalahpamahaman, ketidakmengertian, kekesalan dan ditutup berbagai peraturan absurd yang selalu muncul setelah satu peristiwa muncul. Apapun itu, terimakasih banget deh Neng Rain dan Oot (nama beken Dorothy) buat ruang latihannya. Kelas kosong, yang kadang pakai piano, kadang tidak berikut kursi yang kadang tinggi, kadang kursi mini-super-pendek- bikin-suara-susah-keluar. Herannya, ada loh tim yang bisa duduk pletat pletot (mungkin sambil melakukan imaginary pedicure menicure) tapi suara yang keluar bisa begitu bening, bersih, indah dengan power yang oke banget.

Pertandingannya sendiri seru. Sayang tidak bisa banyak mengintip penampilan tim lain. Secara agak sedikit sok-ngartis banget. Datang beberapa saat menjelang tampil, dan langsung cabut begitu selesai tampil. Pernah sekali waktu, aku terlambat keluar ruangan setelah penampilan ITB, aku jadi tertahan di dalam. Agak bersyukur karena jadi bisa liat penampilan tim dari Mongol itu, walaupun aku dan beberapa teman sampai harus dijemput dan ternyata teman-teman lain sudah menunggu di bus. Entah berapa lama. Sedih juga, cuman sempat lihat penampilan tim lain yang tampil sebelum kita (kalau kita bukan penampil pertama), atau pada waktu mereka tengah pemanasan (biasanya suka bikin tambah senewen, karena rasanya power tim lain lebih okelah, dan banyak hal lain deh).

Senewen juga muncul terutama kalau masuk di final. Beda dengan babak kualifikasi yang punya jadwal yang jelas, di babak final urutan penampilan tidak diketahui. Bahkan lolos atau tidak dari kualifikasi itupun baru bisa diketahui via LO. Aneh ya. Deg degan menunggu telepon dari para LO terbayar ketika mendengar bahwa tim Mixed Youth Choir kami lolos kualifikasi, dan lebih terbayar ketika mendengar tim folklore kami lolos kualifikasi dan bahkan jadi juara kualifikasi dengan nilai 27 skala 30. Langsung teriak-teriak deh. Begitu juga di part 2, rasanya tidak percaya waktu tim Chamber kami lolos kualifikasi, maklum para penyanyi merasa penampilan saat itu tidak terlalu baik. Well, untuk “tidak terlalu baik” kami ada di peringkat 2 di kualifikasi, dan tentu saja bahagia juga waktu tahu tim Mixed Choir lolos ke final. Serasa dikasih kesempatan kedua untuk tampil lebih baik lagi.

Urusan “penampakan” di penampilan itu biasa, urusan turun-turun sedikit kayak turun harga lagi acara diskon juga suka muncul. Apapun, penampilan terbaik sudah diberikan. Jangan tanya deh, bagaimana persiapan dandan untuk final folkore. All out. Jangan tanya improvisasi kostum di saat terakhir untuk chamber dan mixed choir. Semua untuk yang terbaik kan. Tampil bersaing dengan berbagai paduan suara dari berbagai kelas, semua berupaya menampilkan yang terbaik.

Dua medali emas di Mixed Youth dan Mixed Choir, dan dua medali perak (maap ama yang protes, udah aku betulin, bukan perunggu euy!) di Folkore dan Mixed Chamber Choir, sang partai tambahan disambut dengan sorak sorai (untukku pribadi, folklorenya udah superduper emas deh). Udah berasa selebriti banget, waktu Mas Indra Listiyanto, kondutor tersayang kami muncul di tivi lokal, atau waktu beberapa dari antara kami diminta mengulang tereakan IN DO NE SIA untuk di syut (shoot atau syuuut ya?) tivi lokal. Seru. Menyanyikan Indonesia Raya (nebeng Elfa), mengibarkan bendera Merah Putih di Seaside Hall.

Lima puluh sembilan orang, 58 penyanyi dan 1 konduktor, yang sebelumnya berlatih bersama selama lebih dari 8 bulan. Sebagian bahkan dengan setia menyisakan waktu dan uang mereka untuk selalu datang ke Bandung dari Jakarta di setiap akhir pekan untuk latihan. Rapat-rapat panjang panitia (sok tahu banget nih , and glad that I’m not one of them). Usaha mengontak para sponsor (intense sms dan chatting dengan Sahat dan Rino dari Banda Aceh sana) plus nodong nodong kiri kanan untuk seperak dua perak demi keberangkatan semua. Mengurus administrasi seperti visa, passport, tiket dan akomodasi semua orang (jangan tanya aku, tapi coba tanya Sahat, Lisa dan gerombolannya deh). Lelah lelah berlatih menari dengan Budi (dengan asisten khusus Ira dan Cimol). Dari yang tidak kenal sama sekali, sampai akhirnya merasa begitu dekat (walaupun tetap hanya mengenal nama panggilan, kayaknya sampai detik ini juga masih pusing kepala kalau disodori nama asli seluruh penyanyi). Melihat konduktor berevolusi dan berperan multi ganda. Bagaimana tidak, Mas Indra bukan hanya konduktor, pelatih tapi juga penterjemah dan interpreter (setia banget mendampingin proses belanja, menterjemahkan keinginan kami maupun penjual, kalau masih salah-salah paham, itu mah nasib. Mohon maklum, cari orang bisa berbahasa Inggris itu betul betul doa dan perjuangan). Konduktor yang berhasil menciptakan level penampilan dari tingkat naon, maksud elo dan secara (penjelasan dari setiap tingkat disediakan berdasarkan permintaan). Terbayar sudah.

---dengan bangga kami sebut namamu, deh---


Foto Foto di Xiamen China

Beberapa tulisan yang lebih rinci liat aja
http://sahathutajulubo.blogs.friendster.com/gor3sangre5an_h4ri/
http://walkofcredo.blogspot.com/2006/07/chapter-2-china-here-i-come.html