30.12.05

Natal


Beberapa hari menjelang Natal, di otak isinya bertanya-tanya. Apa ya yang membuat seseorang begitu teringat dengan Natal? Ada banyak hal yang sangat “Natal”. Mulai dari yang resmi seperti kelahiran Yesus Kristus, sampai warna merah dan hijau, serta pohon Natal komplit dengan kadonya.

Beberapa hari menjelang Natal, aku sangat sensitif setiap mendengar lagu Natal. Dulu, waktu di Belanda juga gitu, setiap denger lagu Natal pasti sedih banget, maklum keluarga jauh di Indonesia sini. Sekarang, aku juga sedih tapi juga gembira setiap mendengar lagu-lagu Natal. Untuk aku sih, lagu memang selalu berperan besar baik untuk bikin senang atau mendukung perasaan melow.

Natal baru saja lewat beberapa hari. Kepanikan beli kado saat terakhir sudah usai. Kehebohan pergi ke gereja beramai-ramai-sambil-takut-terlambat-karena-itu-berarti-tidak-ada-tempat-duduk sudah selesai. Kebaktian tengah malam sambil doa bersama juga akhirnya dilakukan sampai jam 2 pagi, dilanjutkan sambil minum dan bergosip tentunya.

Natal, lagi-lagi terasa sangat cepat dan dilewati dengan cepat, kalau tidak hati-hati, bahkan terlalu cepat sampai tidak disadari kedatangannya.

Dia lahir dengan sangat sederhana, bukan dengan kemewahan.
Dia memakai keluarga yang papa, bukan yang berada.
Kini, Dia pun hadir dalam hatimu, sediakanlah tempat bagiNya.
Selamat Natal kawan!

Selamat Natal by Photobucket.com


Bagaimana Natal kamu?

22.12.05

Ibu


Berat banget siaran hari ini, semua tentang ibu. Berat, karena topik ini bukan topik yang enak buat aku buat cuap cuap, buat ngarang ini itu (ngarang? Ya iyalah emang kalo lagi siaran bukannya cuap cuap ngarang ya? Hehehe).
Aku punya beban banget kalau musti bicara tentang ibu. Cerita panjang di belakang membuat aku tidak begitu nyaman kalau udah musti berurusan dengan kata yang satu itu. Ibu.
Melly and Mom by Photobucket.comAku tidak tahu sebetulnya siapa dan kapan dan kenapa seseorang disebut ibu?

Ibu sendiri? Aku sayang pada mami, itu panggilanku untuknya. Untuk apapun dan biar bagaimanapun, aku sayang padanya. Banget. Tapi bukan berarti ini adalah sesuatu yang bisa aku pahami. Karena aku belum menjadi ibu? Entah...

Selamat hari ibu, untuk teman-temanku para ibu, dan juga seorang ibu yang dalam kesederhanaannya justru sangat menunjukkan kekayaan hatinya...

13.12.05

Bikin SIM

Pernah bikin SIM secara benar – tidak pake calo, tidak pake biro, tidak pake unit kampus, tidak pake kenalan ini itu, tidak pake sambal dan tidak pake kecap. Loh? Ini bikin mie baso atau bikin SIM ya?

Jalur ‘biasa’ aku dan keluarga bikin SIM adalah jalur tinggal dateng, mampir ke ruangan seseorang yang akan menunjuk siapapun yang bisa ditunjuk untuk nganter aku ke ruang foto, bikin foto, nanti tinggal tunggu SIM dianter ke rumah pula. Bayar? Lupa, tergantung ruangan mana yang didatengin, ada yang masih harus ngasih tips (bukan biaya bikin SIM yang juga tidak pernah aku tahu besarnya), ada yang malah langsung ngabur, takut kalo harus nerima tips. Lewat biro atau calo yang biasa nongkrong? Belum pernah. Jadi beneran deh, gak tau berapa sih biaya bikin SIM itu!

Iseng, aku nemuin tulisanku tahun 2003. Waktu itu, karena penasaran, aku menolak jalur biasa dan mau nekad saja coba jalur resmi. Lebih nekad, aku malah gak bawa informasi apapun. Aku pikir, pasti ada informasi musti kemana-mananya dan berapa-berapanya tokh di kantor polisi?

Salah berat! Aku dateng jam 8 pagi ke Jalan Jawa dengan kebingungan tingkat tinggi, belum lagi musti terus berkelit menghindari rayuan gombal (maaf oom gombal!) para calo. Ini nih, penelusuranku…



Image hosted by Photobucket.com



Jadi kalau ditotal, berapa ya untuk bikin SIM itu (10ribu, 8ribu, 57ribu5ratus, 5ribu, 20ribu, 1ribu5ratus). Ntar kalo perpanjangan? Kayaknya nyerah deh kalo ngantri fotonya itu looohhh

ps: Ini, untuk kamu, Na. Sesuai janji kannn