15.11.05

te laat

Untuk bicara, kata ibuku, aku terhitung cepet. Kalau percaya ama kisahnya, aku udah bisa ngomong dari umur 6 bulan. Gak heran, kalau sekarang aku terlalu banyak omong, kadang-kadang omongan gak penting dan gak perlu dan loncat-loncat pula.

Untuk membaca, seingatku, aku terhitung agak cepet juga. Aku sudah membaca dari belum sekolah! Mungkin dibandingin anak sekarang, yang umur 3 tahun udah belajar aksara, aku ini gak ada apa-apanya. Tapi di jamanku, rasanya umur 4 udah bisa baca koran, itu agak agak membuat aku merasa berhak agak agak sombong waktu kecil, dan juga menuntut orang tua untuk mulai membelikanku buku cerita.

Tapi untuk banyak hal lain, aku ini ketinggalan.

Ketika teman-temanku udah asik main sepatu roda di lipstick, aku masih main sepatu roda di deket rumah (inginnya sih ikutan kelompok sepatu roda di Surapati situ, tapi karena banyak hal aku gak bisa ikutan).

Ketika teman-temanku udah seneng banget ke SE (yang sekarang udah hidup lagi itu), aku masih berkutat dengan upaya menciptakan 1001 alasan untuk bisa pulang malam. Aku baru menikmati itu semua ketika kuliah, itupun gak dari awal. Memang aku sudah beberapa kali menginjakkan kaki ke tempat cerah ceria di malam hari itu, yang rasanya identik dengan I will survive dan can’t take my eyes off of you itu. Telat ya?

Aku selalu ingin bisa bermain softball. Waktu SMA, aku tidak jadi ikut ekskul yang satu itu, karena bentrok dengan kegiatan ekskul lain, Paskibra (yang juga, dibandingkan teman-teman SMPku, terlambat aku ikuti). Walhasil, aku membiarkan mimpiku itu tenggelam. Hampir tenggelam ding, soalnya ketika kuliah, aku memutuskan untuk mengambil olahraga softball sebagai olahraga pilihanku (maklumlah, anak TPB wajib hukumnya untuk mengambil mata kuliah olahraga).

Sekalipun aku menulis cita-citaku sebagai penyiar ketika SMP, baru hampir 15 tahun kemudian aku wujudkan. Ketika orang-orang mulai siaran dari kuliah, aku malah setelah lulus kuliah, bahkan setelah bekerja, dan meneruskan kuliah lagi. Terlambat banget kan.

Ada rasa tidak percaya ketika akhirnya melakukan sesuatu yang sempat aku pikir tidak pernah akan aku lakukan. Kata orang, kesempatan gak datang dua kali. Beberapa kali aku mengubur beberapa keinginan. Ada rasa ragu ketika hendak memulainya. Bener gitu? Masih bisakah? Masih layakkah dicoba? Terutama, yang sering muncul adalah…apa gak ketuaan aku coba itu sekarang?

Aku sadar, jawaban dari itu semua adalah masih, tidak ada alasan umur, atau alasan lain yang seharusnya mengambat aku untuk mencoba sesuatu. Aku sadar, aku mungkin telat dibandingin beberapa orang lain dalam mencoba sesuatu. Tapi setidaknya aku sudah mencoba dan aku puas.

jangan te laatAda beberapa hal yang ingin aku kerjakan, walaupun orang bisa saja terheran-heran. Mungkin akan ada yang bilang, inget umur Neng, atau duh, buang- buang waktu, atau bisa jadi mereka akan berkata, apa sih yang kamu cari. Aku tidak perduli.

Masih ada beberapa hal lain yang belum berhasil aku lakukan. Main tenis misalnya, yang tampaknya menjadi sebuah olahraga yang gak akan pernah mampu aku lakukan walopun udah usaha sekitar 3-4 kali (belum tahu ya, apa aku bisa main anggar, aku pengen banget bisa!). Aku masih ingin banget naik gunung (kasian ya!) dan wah, daftarnya akan sangat panjang.

Terlambat? Gak masalah, kan. Setidaknya aku tidak penasaran.