24.11.05

Sahabat (bagian II)

Apa yang membuat persahabatan?
Ingatanku terhadap temanku yang satu ini cukup lucu. Aku mengenalnya sebagai seorang perempuan dengan seragam abu-abu yang mirip dengan aku, di sebuah angkutan kota warna merah jambu ngejreng yang setia aku tunggu setiap paginya (atau, aku gak sampe-sampe kali ke sekolahan). Ternyata, beberapa waktu kemudian, dia, aku lihat di antrian pendaftaran jurusan, waktu aku baru saja menjadi mahasiswa di kampus itu.

Dia ini temanku dalam berbagi hal. Senang-senang, sedih-sedih, waktu jatuh cinta, waktu patah hati, waktu sehat, waktu sakit dan herannya itu sering terjadi pada waktu yang hampir bersamaan. Problem pacaran yang pernah mirip mirip (sering miripnya kali ya?) sampe sampe IP yang akhirnya kok berakhir pada angka angka yang sama (kok ya bisa begitu banget ya?)

Malam-malam curhat di Cigadung atau Sukabumi atau pojokan lain. Cekakak cekikik. Bolor-boloran bareng waktu harus nyetir Sukabumi-Bandung subuh-subuh, Jakarta-Bandung tengah malam (maklum kalo udah gelap gulita, kami berdua sama-sama punya masalah dengan nyetir malam, apalagi kalau pakai cerita wiper rusak dan musti lewat jalan tol, ADUH!). Air mata dan gelak tawa, kumplit.

Kontak gak terputus ketika aku harus berangkat begitu jauh untuk ngelanjutin sekolah. Justru dia masih terus memberikan informasi terkini (baca: gosip hehehe). Dan kemudian, gak lama ketika aku memutuskan untuk kembali, ia memutuskan untuk nekad ke Jakarta (kualat oh kualat ini judulnya ya, secara Jakarta sempat dicela-cela begitu rupa). Sama-sama mencoba mengenali jalan-jalan di Jakarta (yang mana kalo sekarang sih jelas dia lebih gape daripada aku deh urusan menjelajah Jakarta), dan bahkan akhirnya pernah bekerja di gedung yang sama walaupun untuk waktu yang sempit.

Senang sekali, ketika beberapa bulan lalu, dia bilang mau menikah.

Kemarin, itu yang aku ingat, awal-awal ngobrolin soal kawinan. Bikin checklist dan ngobrolin banyak hal.

Kemarin, aku senang sekali, bisa main ke Bogor, bisa ikut melihat dan menemani dia melewati satu hari besar dalam hidupnya.

Dia ini temanku dalam banyak hal. Ketika aku sedang berbunga-bunga dan kasuat-suat, ketika aku berurai air mata tangis bombay, ketika aku begitu malu gak tau musti cerita ke siapa, dan bahkan seringkali tanpa musti aku kabari, dia sering membuat aku merasa lebih baik.

Selamat menempuh hidup baru, Lus. Tuhan jaga elu dan Mas Agung ya. Aku sih belum bisa ngasih tips soal kawinan, tapi aku bisa manjatin doa sih. Mudah-mudahan persahabatan kita masih bisa terus dan terus (dan tentu saja kebersamaan elu dan Mas Agung).


Seserahan, Akad dan Resepsi Lusi