16.10.05

Pada Waktunya...

Kalimat bahwa “segala sesuatu akan indah pada waktunya” adalah sesuatu yang – setidaknya buat aku – begitu sering terdengar. Aku mempercayainya kok, tapi adalah hal yang berbeda untuk mempercayainya dan betul-betul mempercayainya.

Maksudku, aku bisa saja mengatakan,”aku tahu segala sesuatu akan indah pada waktunya” tapi apakah hati dan seluruh sikapku akan mewujudkan keyakinanku itu? Apalagi ketika kalimat itu ditambahkan dengan, ”Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya, dan segala sesuatunya itu terjadi untuk kebaikan kita”.

Pada waktunya...

Waktu siapakah itu? Kapankah itu? Ketika itu adalah waktu untuk menunggu kabar untuk bisa memperoleh sekolah, memperoleh pekerjaan, memperoleh pasangan, memperoleh anak? Kapankah waktunya itu? Sehari, dua hari? Seminggu, sebulan, setahun? Atau seumur hidup?

Hari ini, aku diingatkan lagi, bahwa ketika aku percaya bahwa “Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya” tentu saja itu menjadi pada waktu Tuhan. Setidaknya kalau mengikuti logika dari kalimat itu, pastinya jadinya waktu-nya Tuhan kan? Kalau itu waktu aku, maka kalimatnya menjadi “aku membuat segala sesuatu indah pada waktunya”.

menungguSialnya (atau untungnya), aku mempercayai, Tuhanlah yang sanggup membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Bukan aku. Sayangnya, aku ini sebagaimana kita pada umumnya (ehm, aku membuat generalisasi nih) sangat tidak sabar melihat hasil dari apapun yang kita tunggu (buktinya, sebagian besar orang bisa mencantumkan “menunggu” sebagai hal yang paling dibenci, kan)

Padahal ketidaksabaran adalah akar penyebab dari menggerutu dan mengeluh. Di mana ada ketidaksabaran, di situ tidak akan ada keyakinan, kan? Tidak ada iman. Sepanjang sejarah, seringkali kita memberikan Tuhan batas waktu, dengan menjerit, "Tuhan, berapa lama lagi kami harus berdoa untuk hal ini? Di manakah engkau? Jika engkau tidak bersegera mengerjakan sesuatu, pasti akan sangat terlambat!"
Tapi, Tuhan kan tidak pernah terlambat. Di sinetron-sinetron pun sekarang sering diulang-ulang, ini pasti ada hikmahnya. Selalu seperti itu! Sesuatu yang begitu mudah diucapkan, tapi superduper sulit untuk meyakininya melalui seluruh sikap kita.

Sore ini, aku mendengar lagu ini

Ku tahu Bapa peliharaku
Dia baik Dia baik
Ku yakin Dia selalu sertaku
Dia baik bagiku

Lewat badai cobaan
Semuanya mendatangkan kebaikan


memujiNyaAku bahagia banget. Aku tahu apa yang harus aku lakukan pada waktu menunggu. Bersyukur. Memuji namaNya. Karena sungguh, berkat dan kasihNya begitu banyak setiap harinya untuk aku.

Setidaknya, aku berpikir aku tahu apa yang harus aku lakukan. Apakah aku kan betul-betul melakukannya itu satu tantangan besar. Aku berharap, aku bisa melakukannya.