29.8.05

harapan


Beberapa hari ke belakang ini, aku kehilangan sebuah harapan. Harapan yang lama dipegang. Sudah setahun kebelakang. Mungkin bahkan sesungguhnya sebuah harapan yang sudah ada lebih lama dari setahun, lebih jauh ke belakang.

Gak ada harapan lagi! Kalau dokter yang bilang kayak gitu, tau dong apa kesimpulan pasien atau keluarga pasien. Lemas. Sedih.
Untukku, vonis tidak ada harapan datang dari aku sendiri, sih. Aku sudah mengambil sebuah keputusan, yang aku juga bingung, apakah karena keputusan itu maka harapan hilang, atau memang aku sudah semakin menyadari harapan itu semu dan karena itu aku membuat keputusan? Entahlah.

Tunggu dulu, aku ingat, waktu ibuku sakit kanker rahim stadium superduper lanjut lebih dari 15 tahun yang lalu, dokter berkata gak ada harapan lagi. Puji Tuhan, ibuku masih bersama-sama kami hingga saat ini.

…demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih…

harapankuKarena itu jugalah, aku masih menyimpan harapan untuk Indonesia yang lebih baik, untuk suatu masa dimana orang bisa beribadat dengan tenang tanpa harus dipusingi oleh sejumlah birokrasi demi mewujudkan tembok-tembok tempat ibadat, tanpa ada kekuatiran akan kepungan, tanpa ada kekuatiran akan adanya perintah penutupan atau bahkan pembongkaran. Ketika ada yang bisa dengan mudah beribadah, membuat tempat ibadah bukan hanya di rumah, tapi dimanapun, aku berharap itu akan dirasakan semua pihak. Kemudahan yang sama…