25.7.05

hiperbolis?

Manusia berubah? Semua orang juga tahu. Tapi pas orang lain membuat kita sadar bahwa kita berubah, pada saat kita merasa (dengan sok yakinnya) bahwa kita masih sama, ternyata bikin kaget ya.
Waktu ikut walagri announcer training kemarin (cerita dari training ini seru banget!), Eko Junor, menyanggah dengan santai tapi tegas bahwa aku itu hiperbolis. Menurut dia aku ini tidak hiperbolis, tapi memang intens. Omongan dia langsung aku bantah, dan bantahan dalam hati sih lebih dahsyat lagi,"aduh, Mas, gak tau aku banget deh, aku ini hiperbolis hiperbolis banget banget gitu."
Image hosted by Photobucket.comTapi, semalam aku pikir-pikir *jeder* ternyata aku memang sudah berubah banget. Dulu, teman-temanku suka ngingetin teman-teman lain, hati-hati kalau aku yang cerita tentang misalnya, film, karena pas aku cerita, orang akan merasa film itu rame banget, keren banget, padahal ternyata - menurut mereka - film itu membosankan atau seenggaknya gak seheboh yang aku ceritain. Maap atuh! Cerita perjalanan kantor-rumah yang normal-normal aja bisa jadi heboh dan seru karena kebiasaan hiperbolis. Ditambah bahasa tubuhku yang juga ramai, plus volume suara. Lengkaplah predikat hiperbolis itu.
Sekarang, berhubung teman-teman jauh, jarang musti cerita-cerita. Ehm, sebetulnya bukan jarang musti cerita, tapi kalaupun udah kebelet pengen cerita-cerita, susah, gak bisa ketemuan langsung, palingan lewat sms, telepon atau email. Beda dong! Mana beberapa teman dekatku bukan tipe peng-email atau peng-chatting sejati. Boro-boro bisa cerita dengan gaya hiperbolis, bahkan tingkat kecerewetan juga menurun drastis. Saat ini "curhat" palingan terlampiaskan ke abang, atau nulis di blog. Tersalurkan ke situ deh. Apalagi, kebiasaan abang meneliti, nanya2 ke orang merubah aku untuk ingin lebih tahu tentang orang lain ketimbang diri sendiri.
Aku makin mikir, iya ya, aku ini sudah tidak secerewet yang aku bayangkan. Entah, apa akhirnya ini karena umur ya? Makin sadar ada orang lain yang juga ingin bicara, dan terutama makin malas juga sih untuk cerita-cerita gitu.
Kalau udah gini, aku cuman bisa bilang makasih deh ke Mas Eko, tiba-tiba membuat aku sadar pada satu perubahan di aku.