31.7.05

Tato

Setelah beberapa kali tato permanen yang gak asik itu, aku memutuskan untuk bikin tato beneran. Gak tahan, udah beberapa tahun menggantung di kepala, kayaknya pengen segera diwujudin deh.
Udah ada gambaran lokasi dan bentuk (untuk yang bakal ngerjain, juga udah lebih pasti, tinggal nagih janji untuk yang ini, mah), tapi gak salah kan nanya-nanya?
Jadi, kalian punya usulan gak?

26.7.05

Buku (Baton)

Huiii, dapet "baton" nih, sekarang ada book baton dari Intan.. seneng deh, soalnya emang suka buanget ama buku. Isinya tuh ini:

Total number of books owned:
Image hosted by Photobucket.comWadoh, susah ngitungnya nih. Apalagi kalo musti ngitung dari buku pertama yang aku punya. Gila aja. Pokoknya buku2 pertama yang aku punya itu buku2nya Enid Blyton yang Lima Sekawan. Kumplit (dulu, sekarang mah udan tinggal sisa-sisa kejayaan deh). Sampai terus nambah dengan Pasukan Mau Tahu (tidak bersisa), Malory Towers dan St Claire (masih ada semua - thanks to ominum!), dan rasanya hampir semua Enid Blyton sampe yang buku tunggal aku punya. Ditambah Trio Detektif (makin sadar, kenapa aku pengen jadi mata-mata atau detektif dalam khayalanku), dan masih banyak lagi. Mulai pindah ke Tintin (yang juga kumplit, tapi sekarang juga sudah hilang entah kemana), sampai akhirnya seleraku pindah ke Agatha Christie (juga sudah banyak yang menghilang), kungfu boy, dan masih banyak lagi. Sekarang buku-buku koleksi yang tersisa tinggal kungfu boy, Harry Potter (yang terbaru bakal diambil hari ini...hore), Michael Chrichton, Pramoedya Ananta Toer, Paulo Coelho. Semuanya dalam satu baris rak yang mengambil jatah salah satu dindin kamarku dari atas sampai bawah, dari ujung kiri ke ujung kanan. Di rak lain ada buku-buku tentang perencaan kota dan wilayah, yang didominasi buku-buku tentang urban design dan tourism planning, dan public policy. Terus ada buku-buku tentang Belanda dan Rotterdam yang berderet, mulai dari buku yang berisi foto sampai buku tentang sejarah, dari bahasa Inggris sampai yang bahasa Belanda. Terus ada rak lain, isinya buku-buku rohani, dengan beragam topik dari doa sampai kuasa penyerahan diri. Terus ada buku-buku agak agak filsafat, sebagian buku abang, sebagian bukuku sampai buku-buku tentang lifestyle seperti barbie culture, buku-buku tentang feminisme, buku-buku tentang ekonomi (berhubung baru mau mulai ngajar di ekonomi nih), buku-buku tentang research methods, baik yang sangat teknis sampai yang teori-nya. Terus ada buku-buku tentang manajemen perusahan, bussiness plan untuk keperluan kantorku. Belum lagi ada buku-buku komputer dan graphic design (sebagian bukunya Dindin nih). Jumlahnya? Susah euy, yah, bayangin kamar dengan dinding setinggi 3 meter lebar 4 meter, penuh dengan buku, itu kira-kira adalah 500-600an buku, ditambah yang ada di kamar kerja satu lagi, dengan jumlah hampir mirip, ditambah dengan buku-buku yang akhirnya disimpan di perpustakaan kantor.

The last book I bought:
Sang Maestro - teori-teori ekonomi modern: Mark Skousen (Prenada)
Harry Potter terbaru - JK Rowling
Merebut Negara - Hans Antlov, R. Yande Zakaria
Attraction, Theories, Trade, Investor - Hermawan Kartajaya
Dana Alokasi Umum: konsep, hambatan dan prosep di era otonomi daerah - Dr. Mahmud Sidik

Book reading right now:
Sang Maestro - teori-teori ekonomi modern: Mark Skousen (Prenada)
Collecting & Interpreting Qualitative Methods
Harry Potter and the half blood Prince
(satu dibaca di kamar tidur, satu dibawa-bawa, satu dibaca di Potluck)

Five books that mean a lot to me:
Seri: Lima Sekawan, Malory Towers, St Claire - Enid Blyton. Plus seri-nya Agatha Christie. Terlepas dari ada yang terasa udah agak garing, yang pasti buku-buku itu membentuk aku banget.
The Alchemist - Paulo Coelho
Globalization and Its Discontent - Josepf E Stiglitz
Kuasa Penyerahan Diri - Jerry White
Marketing Asian Places - Kotler
Five people to whom become the next victims:
Abang (walopun sebagian besar bukunya ada disini), Dindin, Patsy, Hera, Dinda
tambahan gak penting: foto-foto training kemarin ada disini ya

25.7.05

hiperbolis?

Manusia berubah? Semua orang juga tahu. Tapi pas orang lain membuat kita sadar bahwa kita berubah, pada saat kita merasa (dengan sok yakinnya) bahwa kita masih sama, ternyata bikin kaget ya.
Waktu ikut walagri announcer training kemarin (cerita dari training ini seru banget!), Eko Junor, menyanggah dengan santai tapi tegas bahwa aku itu hiperbolis. Menurut dia aku ini tidak hiperbolis, tapi memang intens. Omongan dia langsung aku bantah, dan bantahan dalam hati sih lebih dahsyat lagi,"aduh, Mas, gak tau aku banget deh, aku ini hiperbolis hiperbolis banget banget gitu."
Image hosted by Photobucket.comTapi, semalam aku pikir-pikir *jeder* ternyata aku memang sudah berubah banget. Dulu, teman-temanku suka ngingetin teman-teman lain, hati-hati kalau aku yang cerita tentang misalnya, film, karena pas aku cerita, orang akan merasa film itu rame banget, keren banget, padahal ternyata - menurut mereka - film itu membosankan atau seenggaknya gak seheboh yang aku ceritain. Maap atuh! Cerita perjalanan kantor-rumah yang normal-normal aja bisa jadi heboh dan seru karena kebiasaan hiperbolis. Ditambah bahasa tubuhku yang juga ramai, plus volume suara. Lengkaplah predikat hiperbolis itu.
Sekarang, berhubung teman-teman jauh, jarang musti cerita-cerita. Ehm, sebetulnya bukan jarang musti cerita, tapi kalaupun udah kebelet pengen cerita-cerita, susah, gak bisa ketemuan langsung, palingan lewat sms, telepon atau email. Beda dong! Mana beberapa teman dekatku bukan tipe peng-email atau peng-chatting sejati. Boro-boro bisa cerita dengan gaya hiperbolis, bahkan tingkat kecerewetan juga menurun drastis. Saat ini "curhat" palingan terlampiaskan ke abang, atau nulis di blog. Tersalurkan ke situ deh. Apalagi, kebiasaan abang meneliti, nanya2 ke orang merubah aku untuk ingin lebih tahu tentang orang lain ketimbang diri sendiri.
Aku makin mikir, iya ya, aku ini sudah tidak secerewet yang aku bayangkan. Entah, apa akhirnya ini karena umur ya? Makin sadar ada orang lain yang juga ingin bicara, dan terutama makin malas juga sih untuk cerita-cerita gitu.
Kalau udah gini, aku cuman bisa bilang makasih deh ke Mas Eko, tiba-tiba membuat aku sadar pada satu perubahan di aku.

22.7.05

Proses atau Produk

Kamu tipe orang lebih memilih mementingkan prosesnya atau output alias produknya sih

  • Tugas: proses bikin tugas atau nilai tugas (hehehe, ngacung deh pada jawab nilai
  • Pekerjaan: proses ngerjain proyek atau atau produk proyeknya (katakanlah produknya itu sebuah buku, seperti buku rencana tata ruang...huh!)
  • Baca buku: proses membaca bukunya, atau buku selesai dibaca (terserah mau nyerep di otak atau enggak, mau inget atau enggak, yang penting selesai baca)
  • Makan: proses makannya atau bisa kenyangnya (duh, bo, kalo ditanya ama orang kelaperan tingkat tinggi emang terlalu jelas ya jawabannya)
  • Dapet duit: proses bisa memperoleh duit atau yang penting dapet duit (atau yang lebih penting lagi, berapa dapetnya? hehehehehe)
  • Nge-blog: proses bikin blog, nulis, update atau terserah caranya gimana asal punya blog dan asal dilihat orang sebanyak-banyaknya? (ehm)
  • Suami/ istri: proses mendapatkannya (aneh banget ya, kok proses mendapatkan? lebih tepat proses berkenalan a.k.a pacaran kali ya) atau yang penting dapet suami/ istri?

Seberapa besar penghargaan untuk sebuah proses, dan seberapa penting output harus menjadi pertimbangan?

Aku percaya proses. Kalau kamu?

19.7.05

Copy Paste

Image hosted by Photobucket.comTadi untuk pertama kalinya, ngasih ujian lisan untuk anak-anak Unpas. Sesuatu yang bikin dosen lain geleng-geleng kepala. Kaget aja, melihat niat aku untuk "mengurusi" anak-anak itu. Soalnya ujian lisan itu muncul karena aku marah besar setelah melihat tugas harian kelas ternyata disepelekan. Alias, lebih dari setengah kelas mencontek ke satu atau dua sumber. Mereka, jelas-jelas meng-'copy paste' tugas orang lain.

Duh, teknologi copy-paste itu memang sudah terlalu membudaya ya.

Aku juga dimanja banget dengan fasilitas Ctrl C dan Ctrl V itu. Pernah, karena males dan pegel, aku copy paste sebuah email pribadi, tapi lupa mengganti nama *kesalahan gak perlu banget, aku tahu* walhasil temanku yang dapat hasil kopi-an itu ngamuk dong.

Konon, pernah juga ada rencana tata ruang yang dibuat dengan cara copy paste. Gebleknya, seperti aku, nama kota atau nama daerahnya tidak diganti. Duh, miris banget, cermin kebobrokan yang lain lagi nih. Kebayang dong, kalau di Bandung, misalnya, tiba-tiba ada satu konsep jalan di pinggir pantai...bengong dong walikota yang ngasih tu proyek! Rasanya untuk kasus yang satu ini, yang menjadi taruhan jelas rakyat banyak.

Tapi itu terjadi dimana-mana, bahkan sms pun kita sering copy paste, terutama untuk acara-acara khusus seperti ulang tahun atau hari raya. Ah, aku tidak terlalu ambil pusing, karena itu memang tidak perlu dipusingkan, tokh perhatian dari pengirim sms itu yang penting.

Image hosted by Photobucket.comBalik ke urusan tugas...tunggu dulu deh. Copy paste itu sesuatu yang sangat tidak aku suka. Aku ingat, jaman kuliah pun, file tugas aku sering dipinjam untuk di-copy dan kemudian di-paste oleh siapapun itu. Aku agak-agak pilih orang deh, tapi aku tahu pasti, teman-teman kuliahku itu tidak pernah copy paste blek lek blek, palingan cuman ambil ide dasar, atau bahkan kalimat awal *yang konon paling susah dilakukan*. Malah di tingkat 1 sih, asisten praktikum mata kuliah dasar umum, masih mengharuskan tugas ditulis tangan. Duh, kalau jaman sekarang harus ditulis tangan, aku juga gempor. Udah ga biasa, udah dimanja dengan berbagai fasilitas, dan yang terbaru setelah ada PDA, praktis jarang sekali menulis pakai tangan di kertas apapun. Makanya aku heran sekali melihat setengah kelas bisa mengcopy tanpa merubah apapun, bahkan merubah jenis font sekalipun! Aku tahu, karena hasil pekerjaan lebih dari 5 halaman itu, blek blek blek sama bahkan sampai kesalahan tulisnya yang gak cuman satu dua. Duh, please deh...

Mau tahu yang lebih dahsyat?

Ada yang hasil tugas adalah fotokopi-an, lengkap dengan kertas yang agak kehitaman karena hasil fotokopian(!). mBo, ya ntar-ntar kalau foto kopi juga di tempat yang bagus gitu loh...nyontek tuh yang kreatif dan cerdik dikit susah amat!.

15.7.05

handuk

Aku suka sekali wangi yang muncul dari orang yang baru mandi. Segar.
Sebetulnya banyak hal yang aku suka dari urusan mandi. Tapi satu hal yang aku agak rewel adalah urusan handuk. Aku suka sekali handuk putih, yang masih hangat, besar, lembut, dan wangi. Duh, enaknya. Memang kalau di rumah agak keterlaluan mengharapkan selalu wangi. Masak harus dicuci setiap hari ya? Kalau di hotel, itu dia, senang banget kalo hotel itu menyediakan handuk kayak gitu. Sekarang udah jarang. Apalagi kalo handuknya udah dempet. Ihh, males banget. Untungnya gak perlu lagi ngalamin dapat handuk yang udah mah kering dan kasar, kecil dan warnanya itu tidak jelas antara putih coklat abu gitu. Itu cukuplah terjadi di tempat itu, di suatu hotel di pedalaman Kalimantan.
Sialnya handuk putih itu rentan kotor. Tapi gak masalah dong, kan udah ada pemutih. Jadi handuk untuk mandi, handuk untuk dibawa-bawa dan handuk untuk fitness, semuanya tetap harus wangi, hangat, dan lembut....

hmmmm

13.7.05

Teman Teman

Satu-satu teman pergi meninggalkan Bandung, untuk pekerjaan, untuk keluarga, atau untuk hal lainnya. Teman-teman baru berdatangan. Tapi tentu saja, tidak bisa menggantikan tempat di hatiku yang kosong ketika satu per satu teman-temanku pergi. Bukan berarti mereka tidak seberarti yang sebelumnya, mereka menempati tempat baru di hati.Tempat yang kosong akan tetap selalu kosong, untuk teman baru, ada tempat baru. Mudah-mudahan masih cukup tersedia banyak tempat untuk itu. Aku pikir hati itu bersifat elastis kok, tidak seperti kotak kayu yang bisa penuh terisi.Image hosted by Photobucket.com

Memang, justru kepergian mereka membuat aku mendapat banyak teman baru, dari tempat-tempat yang tidak disangka. Kalau pertemanan dulu itu kan karena tetanggaan, atau terutama satu sekolah, entah karena satu kelas atau satu jurusan, atau satu kegiatan ekstrakulikuler ataupun kegiatan unit. Maklum, energiku sedikit berlebih, jadi musti ikut ini itu supaya tersalurkan. Sudah ikutan aja, masih cerewet begini loh!

Kenapa tempatnya tetap kosong? Karena mereka mengisi hatiku dengan caranya masing-masing yang tidak bisa tergantikan oleh keberadaan orang lain. Ada saat-saat kekosongan itu begitu terasa, tapi bukan tidak mungkin itu kembali terisi, walaupun sesaat, di saat waktu dan kesempatan memungkinkan.

Memang, menyenangkan sekali punya kehidupan yang rutin, dengan kegiatan yang cenderung tetap. Sekolah, kuliah atau bahkan bekerja tetap. Punya putaran sosialisasi yang tetap (eh, enggak juga kali ya, aku jadi beruntung punya teman dari mana-mana dan bisa ada kapanpun).

9.7.05

Logika atau Rasa?

Kenapa dua orang memutuskan menikah? Entahlah, masih misteri untuk aku yang belum menikah ini. Kemarin, temanku bilang, pada akhirnya dia menikah karena pertimbangan logika dan bukan cinta. Karena cinta itu, menurut dia, ada antara dia dan salah seorang mantannya.

Betul ya?

Image hosted by Photobucket.comPantesan saja, banyak film atau buku yang memunculkan bagaimana cinta bisa mengatasi segala hal. Ujung dari film atau buku tersebut adalah dua orang yang jatuh cinta itu akhirnya berpacaran atau menikah. Mungkin cerita seperti itu begitu banyak karena pada dunia nyata, hal itu memang tidak terjadi? Tidak perlulah disebut judul-judul film seperti itu. Terlalu banyak. Dari yang udah sehari mau menikah dengan entah siapa itu, akhirnya batal karena bertemu entah orang baru atau mantan pacar. Apapun yang kemudian menegaskan bahwa cinta akan menemukan jalan dan sebuah hubungan terjadi karena cinta.

Itu semua akhirnya memang hanya di dunia khayalankah? Betulkah akhirnya memang logika yang lebih bermain waktu seseorang memutuskan menikah (eh, dua orang dong ya yang memutuskan menikah).

Pertimbangan logis, aku pikir selama ini memang perlu, tapi aku masih menginginkan cinta menjadi motivasi untuk menikah.

Ngaco ya?