15.6.05

Sahabat

Ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara
(Amsal 18:24)
Selama persiapan perkawinan adikku, dan bersamaan dengan masa-masa kritis Ema’ di rumah sakit (yang berakhir dengan dipanggil pergi beliau ke hadirat yang Kuasa), aku belajar banyak tentang Amsal 18:24 itu.

Saudara memang punya hubungan darah dengan kita, tapi tidak jarang, hubungan yang katanya tidak tergantikan itu hanya berhenti sampai disitu. Tak jarang, aku merasa sebuah hubungan yang begitu kental malah lebih banyak memberi kerumetan di otak ketimbang kelegaan. Saudara, dimana aku bayangkan akan selalu ada dalam suka dan duka, ternyata punya persepsi sendiri atas apa yang namanya hubungan persaudaraan. Sebuah perhatian persaudaraan punya bentuk yang berbeda, yang seringkali diwujudkan dalam tuntutan-tuntutan atas nama persaudaraan. Aneh ya. Ketika begitu banyak hal yang seharusnya bisa dirasakan lebih ringan karena dipikul bersama, justru terasa lebih berat karena semakin banyak saudara kok rasanya semakin banyak beban yang harus dipikul.

Di lain pihak, sahabat yang tidak terduga datang disaat-saat sulit. Mereka yang tidak punya hubungan darah, mereka yang dikenal karena pertemuan di satu titik, ternyata sering kali selalu ada dalam suka dan duka. Para sahabat yang siap mendukung kita, dan tidak segan memberikan uluran tangan dalam kondisi apapun. Mereka ini, sahabat ini, kadang muncul dari tempat-tempat tidak terduga.

Buat aku sendiri, aku bersyukur atas sahabat-sahabat yang ada di sekitarku, dari sahabat lama maupun sahabat baru. Tanpa mereka, rasanya sulit bisa melewati banyak hal yang terjadi selama ini. Betul banget kalau ditulis kayak gini: ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara. Kamu sendiri gimana?