25.5.05

Kawin Yok


Persiapan sebuah pernikahan (secara hukum sih harusnya disebut perkawinan, karena kita punyanya UU Perkawinan dan bukan UU Pernikahan) memang selalu bikin pusing. Setelah mengalah dan berdiam diri, akhirnya aku menjadi "tertutuk" juga. Semakin dekat ke hari H (sekarang sudah tinggal 10 hari lagi) semua orang semakin senewen.

Aku tidak mengerti, kalau sebuah pernikahan adalah satu momen bahagia, kenapa begitu banyak air mata yang harus keluar?

Aku juga tidak begitu mengerti, kenapa berbagi kebahagiaan dengan orang lain kok malah seperti memberi berbagai kepusingan ke pihak yang katanya berbahagia.

Aku sering heran, melihat orang berbuat apa saja untuk sebuah pesta pernikahan supaya bisa megah, besar, mentereng dan hal-hal yang seperti itu.

Tapi memang sulit ya, apalagi kalau sudah berhubungan dengan orang tua. Banyak orang bilang, resepsi pernikahan memang bukan acara mempelai tapi justru orang tua mempelai.

Biasalah, menjelang H-7 banyak deadline menunggu, banyak tagihan yang harus dilunasi, banyak hal yang harus di re-confirm. Orang-orang mulai menghujani dengan berbagai peringatan seperti: hati-hati sama katering, suka ada yang nakal dan nilep makanan (haaaa??), hati hati nanti urusan kotak uang suka hilang, hati-hati ini, hati-hati itu. Edan. Bikin tambah panik orangtua padahal maksudnya membantu. Memang susah, batas antara membantu dan bikin pusing itu memang tipis.

Atau, ada yang punya tips dan trik, "hati-hati" yang lain, juga nasihat-nasihat tentang apa-apa saja yang harus diperhatikan nih untuk acara pemberkatan atau resepsi?
ps: it's my lil' brother's wedding, aku...hanya bertindak sebagai kakak...ikut membantu :)